Sumber-Sumber Spiritualitas

 

 

SUMBER-SUMBER SPIRITUALITAS

 

Pastor Anton Rutten, OSC. Foto 2017 by Opticum

 

 

 

Anselm Grun menulis buku tentang spiritualitas berbahasa Jerman yang dalam Bahasa Indonesia berjudul Sumber‐Sumber Spiritualitas. Buku ini memiliki 68 halaman dan diterbitkan pada tahun 2005. Setelah membatasi tema spiritualitasnya pada spiritualitas Kristiani, ia menerangkan secara singkat tentang pengertian spiritualitas yang berarti hidup dari Roh Kristus, hidup yang terinspirasi oleh Yesus Kristus. Upaya seseorang agar semakin dipengaruhi oleh Yesus memerlukan usaha untuk menggali sumber‐sumber spiritualitas. Berikut akan dijelaskan masing-masing sumber spiritualitas tersebut.

 

 

  1. Lectio Divina.

Hal utama untuk menemui Yesus Kristus adalah melalui Kitab Suci. Bapa-bapa Gereja menganggap bahwa  seluruh Kitab Suci – juga Perjanjian Lama ‐ berbicara tentang Yesus.  Santo Benediktus mewajibkan pengikutnya melakukan  Lectio Divina setiap hari selama 3 jam, supaya semakin mengenal Yesus sekaligus juga mengalami suatu proses perubahan karena roh dan karyanya makin terinspirasi oleh kata‐kata Kitab Suci, dan dengan demikian seseorang semakin bersatu dengan Allah. Ada empat tingkat dalam Lectio Divina. Lectio berarti membaca Kitab Suci. Untuk bertemu dengan Allah bukan pertama‐pertama untuk makin mengenal Kitab Suci. Meditatio berarti merenungkan supaya kata‐kata dari kepala  turun ke hati. Ia tidak memikirkan kata‐kata, tetapi membiarkan masuk dalam hati dan menikmatinya. Yesus sendiri ada dalam kata‐kata itu. Oratio berarti doa singkat penuh afeksi sebagai ungkapan dari hasil meditatio untuk makin bersatu dengan Kristus. Contemplatio berarti berdoa  tanpa kata, mencicipi Tuhan tanpa pikiran, tanpa perasaan, dan bayangan. Contemplatio adalah  ‘diam total’. Contemplatio adalah hadiah rahmat Tuhan.

 

 

  1. Ruminatio – Meditatio ‐ Doa Pribadi.

Ruminatio artinya ‘mengunyah’ kembali kata‐kata suci. Mengikuti teladan Yesus yang menjawab ketika digoda oleh setan: “Telah tertulis…..” sampai 3 kali. Ini adalah praktik mengulang kata mutiara dari Kitab Suci terus menerus untuk menolak pikiran yang tidak baik. Doa: ‘Yesus’ sejak abad  keempat makin sering  digunakan. Seseorang menghirup nafas sambil menyebut nama Yesus supaya Yesus masuk di hati dan pada saat menghembuskan nafas, cinta Yesus mewarnai segala‐galanya. Dalam abad keempat, Evragius mengajar cara: ‘Jaga pintu’. Saya duduk di kamar, tidak baca, tidak doa, tidak meditasi, tidak pikir apa‐apa, yang ada adalah saya‐dihadapan‐Tuhan. Saya menunggu pikiran apa yang masuk . . . . . .  yang baik dikembangkan yang jelek tidak dibiarkan masuk. Kita akan makin mengenal diri  pribadi. Doa pribadi harus menjadi pertemuan pribadi  dengan Tuhan dan saya dapat mengatakan yang sebenarnya. Baik bagi seseorang untuk menyediakan latihan setengah jam berbicara kepda Tuhan dengan suara nyaring. Jujur dengan diri sendiri adalah bagian dari doa sebagai pertemuan dengan Tuhan.

 

 

  1. Liturgi

Liturgi adalah salah satu sumber spiritualitas Kristiani yang penting sekali.  Bagi banyak umat, sakramen‐sakramen dan terutama Ekaristi menjadi momen untuk bersatu dengan Kristus secara istimewa. Bapa‐bapa Gereja, diantaranya Benediktus dan Augustinus, menekankan bahwa  mazmur-mazmur dan kidung‐kidung  dalam ibadat harian, mendekatkan kita pada Tuhan secara nyata. Santo Benediktus mengajar bahwa dengan menyanyikan mazmur, kita bergabung dengan para malaikat untuk memuliakan dan mengagungkan Tuhan. Santo  Augus tinus mengajar bahwa kita bergabung dengan Yesus dan bersama Dia memuliakan Tuhan dengan bermazmur. Ekaristi memang adalah momen untuk kita bertemu Kristus dengan mendengar kata‐kata‐Nya serta dalam makan dan minum, bersatu dengan Dia. Pengalaman mistik kebanyakan terjadi  dalam mengikuti Ekaristi karena dirayakan kematian dan kebangkitan Kristus. Para mistikus menyatu dengan Kristus. Ekaristi  juga membawa  perubahan, bukan saja roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus, tetapi juga  kematian menjadi kehidupan dan hidup kita dimurnikan. Persatuan ini menghasilkan spiritualitas.

 

 

  1. Askese.

Askese sesungguhnya adalah hal positif untuk suatu latihan dan training.  Belakangan sering dilihat sebagai sesuatu yang negatif dan diartikan sebagai suatu bentuk pantangan terhadap  kenikmatan hidup. Askese adalah latihan untuk mendapatkan ‘kebebasan intern’. Seseorang memperjuangkan kehidupan dan tidak terbawa nafsu yang bisa menghancurkan atau merugikan kehidupan. Saya  belajar berkembang sebagai manusia utuh dengan menguasai  dan membatasi diri.

 

 

  1. Ritual yang menyembuhkan.

Spiritualitas harus ada wujudnya dalam hidup sehari‐hari. Ritual setiap hari juga menunjang spiritualitas. Apabila saya berlutut atau menyalakan lilin, atau membuat tanda salib pada diri atau anak akan memupuk spiritualitas. Berdoa angelus atau melaksanakan novena pada  waktu tertentu akan mewarnai hidup. Spiritualitas harus menjadi darah dan daging, harus berwujud seperti ‘Sabda Allah’ menjadi manusia (Incarnatio).

 

 

  1. Jalan Mistik

Umumnya, mistik dibagi menjadi dua. Mistik ‘Kesatuan’ dan Mistik ‘Kasih’. Dalam ‘Mistik Kesatuan’, seseorang dalam momen ini mengalami kesatuan dengan Allah, dengan diri sendiri dan dengan segala yang ada. Dalam ‘Mistik Kasih, seseorang ‐ terutama mistikus perempuan ‐  mengalami kasih Kristus sebagai ‘Kekasih’. Kesatuan dan Kasih yang dialami hanya sesaat, sekejap mata. Selanjutnya mengalami keterpatahan dalam kesendirian. Mistik selalu berkaitan dengan  Kitab Suci  atau Liturgi. Hanya dalam kehidupan para rahib, ada  jalan lain yaitu: ‘Selalu Berdoa’ (1 Tes 5, 17).  Doa dikaitkan  dengan  nafas dan dengan denyut  jantung. Selama seseorang bernafas  dan jantung berdetak, hidup  ada  doa.

 

 

  1. Gaya hidup orang Kristen.

Sesuai dengan Khotbah di bukit dalam Injil Matius, seorang pengikut Kristus harus berdamai dengan siapapun (Mat 5: 25). Dalam Injil Markus yang menggambarkan Yesus sedang menyembuhkan, kita diajak datang kepada Dia untuk disembuhkan, dan ia sadar membutuhkan penyembuhan. Dalam bagian kedua injil Markus,  Yesus menyembuhkan dunia melalui kehancuran di salib. Kita menerima  kematian sebagai jalan kepada kehidupan. Injil Lukas mengajar bahwa kita harus mengatur hal duniawi dengan baik dan dengan tanggung jawab, membantu orang miskin dan tidak lekat kepada hal yang duniawi. Injil Yohanes  memberi aksen pada Kasih dalam arti persahabatan. Ciri khas seorang pengikut Kristus adalah Kasih.

 

Sumber  spiritualitas  Kristiani adalah pertemuan dengan Kristus. Kita dapat bertemu dengan Kristus dalam Kitab Suci. Dalam Liturgi, kita mendengarkan Kitab Suci; dalam meditasi kita merenungkannya agar RohNya makin merasuk dalam diri kita.

 

 

 

***