… Salib: Gerak Roh dari Dalam

 

 

 

 

 

Bersaksi tentang Salib: Gerak Roh dari Dalam

Kfr. Hadrianus Tedjoworo, OSC

 

Tulisan ini saya presentasikan dalam Pertemuan Komisi Liturgi dan Spiritualitas OSC, Roma, Maret 2017.

 

 

Spiritualitas

•     Spiritualitas mestinya tidak didefinisikan. Adalah Roh yang menginspirasi dan menggerakkan kita untuk bergerak menuju dunia. Karena Dia adalah suara Allah melalui Ordo, kita hanya perlu bersaksi tentang-Nya.

•     “Spiritualitas Krosier” terdiri atas cara-cara tertentu Krosier bersaksi tentang Salib Yesus Kristus, Tuhan kita. Cara-cara ini diinspirasi oleh Roh Kudus dan Injil, terus menerus ditafsirkan dari dalam berbagai komunitas (dan kultur) lokal. Spiritualitas macam ini bersifat ‘populer’, katakanlah, sebab tidak diajarkan oleh Gereja atau oleh Magister General, dan karenanya menjadi sesuatu yang dimiliki para Krosier sendiri. Ia juga disebut ‘populer’ karena menunjukkan refleksi para Krosier dari hari ke hari, bersifat informal dan familier bagi mereka, selalu relasional, menyentuh hati orang lain, dan mengungkapkan spontanitas, kegembiraan, keriangan, dan kehidupan berkomunitas (dengan meminjam bahasa Peter Phan, 2003).

•     Ekspresi-ekspresi spiritualitas Krosier mesti dilihat sebagai suatu ekspresi kebebasan dalam Tuhan, sebab “Tuhan adalah Roh, dan di mana Roh Tuhan ada, di sana ada kebebasan” (2Cor. 3:17).

•     Mungkin tidak pernah hanya ada satu, tetapi sebenarnya ada banyak spiritualitas OSC di sepanjang sejarah. Menyempitkan spiritualitas Krosier menjadi hanya satu berarti mengabaikan kekayaan tradisi kita yang begitu berharga. Salib Tuhan kita adalah jalan salib, dan kita semua adalah para pengikut Jalan itu, berasal dari berbagai kultur dan belahan dunia.

•     Dalam pengertian ini, spiritualitas Krosier bukan merupakan suatu ajaran (doktrin), melainkan suatu perjalanan.

•     Jalan atau cara Krosier ini berbeda dari spiritualitas-spiritualitas yang lain, karena ini menggerakkan dan mengubah para Krosier dan juga umat beriman yang dilayaninya, dari dalam.

•     Spiritualitas ini bisa dilakukan dan juga mudah diingat oleh para Krosier dan umat beriman dalam berbagai keadaan, sebab spiritualitas ini adalah ‘jalan’ Salib Tuhan kita (Mat. 11:30, “Sebab kuk yang Kupasang itu enak, dan beban-Ku pun ringan…”).

•     Cara-cara kita memaklumkan Salib haruslah menyentuh hingga ke dalam imajinasi setiap orang, agar menjadi tindakan kita berjalan bersama dengan Roh Kudus (Yun. parakletos berasal dari para – kaleo, Dia yang “dipanggil untuk berjalan di samping[kita]”).

•     Berkat pengenalan familier para Krosier atas ungkapan In Cruce Salus, setiap usaha untuk menafsirkan kembali jalan-jalan Salib merupakan suatu tindakan yang perlu bagi umat Kristiani di masa kini.

•     Status Quaestionis: Bagaimana kita sebagai Krosier bersaksi tentang Salib Kristus di masa kini, sehingga orang lain dapat menjumpai keselamatan dalam perjalanan hidup mereka?

 

 

Komunitas

•     Menjadi sebuah komunitas atau hidup dalam sebuah komunitas adalah suatu pengalaman jalan salib, tetapi suatu komunitas Krosier selalu harus melakukan sesuatu dalam kaitan dengan lingkungan sekitarnya.

•     Komunitas-komunitas Krosier terus menerus menawarkan berbagai alternatif dan menciptakan kesempatan kepada lingkungan sekitarnya di hadapan problem dan kesulitan. Dengan cara ini, para Krosier sebagai suatu komunitas menafsirkan kembali keselamatan di dalam dunia yang terus berubah ini.

  • Para Krosier perlu menyadari bahaya ‘spiritualisasi’ dan karenanya mesti mengorganisasi forum atau pertemuan-pertemuan yang mengumpulkan umat dan para Krosier agar masuk ke dalam percakapan yang real.
  • Program-program komunitas tidak dapat diarahkan hanya demi komunitas, tetapi harus mempengaruhi orang lain di luar komunitas dan menghubungkan para Krosier dengan
  • Spiritualitas Krosier diungkapkan oleh para anggota komunitas dengan membuka pertanyaan yang mengundang serta memotivasi. (Mungkinkah perjalanan ke Emaus adalah ‘kelanjutan’ dari Jalan Salib? Yesus membuka percakapan dengan mengajukan pertanyaan; Luk. 24:17).
  • Saling berbagi “Kisah Salib” di antara para Krosier dan umat beriman bisa menjadi suatu cara belajar dari satu sama lain dan cara berbagi kekayaan spiritual bersama (Kis. 2:44).
  • Suatu dialog kehidupan adalah suatu metode relevan bagi para Krosier bersama dengan umat, dan bisa menjadi suatu awal yang simpatik bagi setiap orang untuk mengambil bagian dalam realitas. Dengan cara ini para Krosier bisa mengambil dari warisan kekayaan Ordo dan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari.
  • Komunitas-komunitas Krosier mesti memperhatikan penderitaan yang dominan di masyarakat dan menyumbangkan alternatif untuk meringankan beban itu. Ini bisa menjadi suatu interpretasi sikap bela rasa Tuhan kita pada penderitaan orang lain, juga ketika Ia sedang memanggul salib-Nya sendiri menuju Kalvari.
  • Para Krosier perlu menemukan cara-cara berbagi dengan lingkungannya, yakni berbagi sukacita dan rasa syukur oleh karena telah diberi kesempatan hidup di dalam komunitas, sebab orang lain mungkin tidak mengalami kegembiraan di dalam keluarga mereka sendiri.

 

 

Liturgi

•     Dalam terang In Cruce Salus, liturgi kita perlu difokuskan pada sikap berdoa bagi orang lain, daripada sekadar berdoa bagi diri kita atau komunitas kita sendiri. Kita perlu lebih banyak berdoa untuk umat dan untuk mereka yang tidak Kristiani tetapi tinggal dan hidup di sekitar kita.

•     Ketika liturgi menjadi ekspresi-ekspresi doa, kita tahu bahwa keberadaan serta kehadiran yang lain itu sangatlah penting dalam kehidupan liturgis kita. Tanpa orang-orang lain dalam doa-doa kita, spiritualitas Krosier hanya akan menjadi sebentuk pietisme (praktik kesalehan) atau mistisisme.

  • Sering dikatakan bahwa waktu adalah penting. Kalau demikian, apakah terlalu banyak jika diminta waktu lebih untuk mengingat orang lain dalam liturgi kita? Ini adalah cara kita untuk berada di jalan salib orang lain.

•     Tekanan penting lain ialah saat bagi doa-doa permohonan. Kita secara khusus memohon belas kasih Allah bagi orang-orang yang kita sebutkan namanya dalam doa bersama kita.

•     Ketika para Krosier menyertakan doa-doanya bagi orang lain dalam liturgi, hal ini merujuk pada apa yang bisa disebut sebagai kekuatan transformatif Salib Kristus.

•     Menyebutkan harapan-harapan kita bagi orang lain dapat mencerminkan suatu harapan terdalam dari setiap Krosier bukan hanya untuk mendoakan orang lain, tapi juga bahwa orang lain mungkin mendoakannya juga.

•     Tekanan pada doa permohonan memunculkan nada evangelisasi namun dengan cara Krosier. Bahkan jika doa-doa ini pendek dan spontan, itu tetap akan penuh dengan harapan dan keyakinan.

•     Kita perlu mengembangkan suatu bahasa doa yang memperhitungkan pemilihan kata-kata (diksi) tertentu yang mencerminkan spiritualitas Krosier. Bahasa ini tidak boleh dirumuskan secara abstrak atau terlalu difrasekan secara ‘spiritual’, melainkan mesti realistis dan menyentuh hati orang lain. Bahasa kita mestinya mewakili orang-orang yang real itu.

 

Formasi

  • Formasi membawa paradoks-nya sendiri ketika kita bicara soal “pendidikan spiritualitas”. Roh bekerja dari dalam, sementara formasi sering kali adalah suatu proses pembentukan “dari luar”.
  • Akan tetapi, kalau kita menyadari bahwa spiritualitas Krosier selalu diberikan di sepanjang sejarah Ordo kita, formasi spiritual mestinya dilakukan dengan cara berbagi. Dan di sinilah, kita melihat peran utama seorang formator, yakni, sebagai seorang saksi.

 

Bagaimanakah para formator bertindak lebih sebagai saksi daripada, katakanlah, guru?

  • Seorang formator tidak pertama-tama mengontrol, tetapi berjalan bersama dengan formandi. Dengan demikian, ia menjalani kembali dan mengevaluasi panggilan hidupnya sendiri sebagai Krosier.
  • Dalam hal priorat sebagai suatu “komunitas para formator”, para konfrater yang telah berkaul kekal mesti selalu siap untuk membagikan “Kisah Salib” mereka kepada formandi.
  • Bersaksi tentang Salib Kristus dalam konteks formasi dapat diwujudkan dengan berbagai cara yang mengeksplorasi aspek-aspek keselamatan (salus) dalam kehidupan dan karya real para Krosier.
  • Melibatkan kaum awam (atau Mitra OSC) selalu merupakan suatu pendekatan yang realistis untuk menghubungkan spiritualitas Krosier dengan dunia nyata.

 

Apa saja pandangan ke depan yang perlu kita perhitungkan dalam konteks formasi spiritual berkelanjutan (ongoing)?

•     Formasi berkelanjutan dapat dilakukan dalam kedekatan dengan kehidupan berkomunitas, dan tidak selalu diatur secara individual sebagaimana terjadi selama ini. Dalam hal ini, nilai berbagi dapat diterapkan secara sesuai dengan komunitas yang lain juga sebagai formator.

•     Kita tidak kekurangan bahan-bahan tertulis tentang spiritualitas Krosier, tetapi kebanyakan merupakan hasil refleksi yang rasional kalau bukan dari pemikiran yang abstrak. Dengan menyadari bahwa Roh Kristus yang tersalib bergerak dari dalam, setiap Krosier mesti memotivasi diri untuk menuliskan Jurnal Salib”-nya yang berisi pengalaman-pengalaman real.

•     Masih ada banyak kemungkinan sehubungan dengan formasi berkelanjutan, yakni terkait dengan kultur, kharisma individual, dan konteks-konteks komunal lainnya.

•     Kalau benar bahwa spiritualitas juga terdiri atas informalitas dan keseharian (banalitas), formasi kepada spiritualitas Salib di masa kini mesti mengimajinasikan kembali berbagai tekanan yang disebutkan di atas.

•     Dengan demikian, formasi spiritual Krosier harus mempromosikan kebebasan Roh di dalam diri setiap konfrater – suatu perjalanan Krosier yang bakal mudah diingat, melegakan, dan malah hampir merupakan sesuatu yang menyenangkan.

 

 

Kerasulan

  • Spiritualitas Krosier adalah Roh Kristus yang tersalib, yang menentukan kerasulan kita di sepanjang tradisi Ordo Salib Suci, dan bukan sebaliknya.
  • Dalam terang fenomenologi Salib, keberadaan kita yang dipandang oleh Dia yang Tersalib itu harus mengubah cara-cara kita melayani umat Allah.
  • Dipahami dengan cara demikian, kerasulan kita mesti membebaskan setiap pribadi untuk berpartisipasi, namun juga untuk tidak berpartisipasi, dalam perjumpaan-perjumpaan iman yang kita tawarkan kepada umat beriman.
  • Umat yang kita layani mencerminkan wajah Tuhan yang tersalib, dan karenanya mereka mesti diberi kesempatan untuk mengungkapkan “Kisah-Kisah Salib” mereka sebanyak mungkin dalam persaudaraan, dengan cara-cara mereka sendiri yang sudah selalu kaya secara kultural.

•     Kerasulan Krosier, dalam terang Kasih yang melimpah dari Salib, berbeda dari berbagai kerasulan religius yang lain dalam ‘bahasa’ yang disuarakannya, yakni diksi (pilihan kata, bahasa) yang dipakai oleh umat beriman. (Bdk. Paulus ketika mengatakan bahwa “Roh itu sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan”; Rm. 8:26).

•     Bahasa umat beriman itu penuh dengan gambaran-gambaran konkret dan pengalaman-pengalaman real. Bahasa ini mesti membentuk kerasulan kita sehingga pelayanan kita menjadi semakin realistis dan membebaskan.

  • Para Krosier perlu secara terus menerus menyesuaikan diri mereka dengan kesederhanaan ungkapan-ungkapan iman Kristiani.
  • Kerasulan Krosier mesti menekankan peran kaum awam dalam persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi perjumpaan iman mereka. Peran kita pertama-tama ialah mengaitkan kisah-kisah mereka dengan warisan spiritual Krosier sehingga warisan ini dapat menginspirasi kehidupan mereka dan kehidupan kita juga.
  • Bersaksi tentang Salib dengan cara ini dapat mendorong transformasi di antara umat beriman. Cara ini memicu imajinasi mereka dan memperkuat partisipasi mereka di sepanjang jalan Tuhan yang Tersalib.

 

 

Kaul-Kaul

•     Cinta Tuhan kita yang mengalir dan melimpah dari Salib tidak dapat dinilai (diverifikasi). Salib Kristuslah yang mendefinisikan siapa kita ini sebagai para pengikut Jalan-Nya.

•     Oleh karenanya, menghayati kaul-kaul kita seharusnya tidak muncul dari kesadaran tentang ‘kekurangan’, melainkan tentang kelimpahan. Kesadaran ini akan selamanya mengubah cara kita menjadi Krosier.

•     Dengan mengacu pada Simon yang ditanyai Yesus apakah ia mengasihi-Nya (Yoh. 21:15-17), kita, para Krosier, tidak perlu merasa ‘sedih’ karena pertanyaan yang disampaikan hingga tiga kali itu. Yesus bukan hendak menilai (memverifikasi) kaul-kaul kita, melainkan semata-mata hendak mengatakan bahwa Ia sungguh-sungguh telah mengasihi kita! Kaul-kaul kita adalah suatu tanggapan dari orang yang sudah dicintai sebanyak itu!

•     Dalam kelimpahan Salib, kita dapat membayangkan kembali secara terus menerus tanggapan-tanggapan kita dalam menghayati – persisnya, dalam ‘menyelesaikan’ – kaul-kaul kita setiap hari. In Cruce abundat Amor. Ungkapan ini membahasakan lebih tepat makna kata-kata Yesus pada salib: “Sudah selesai…” (Yun. ‘teleo’, Yoh. 19:30). Kita telah diberi begitu banyak, maka berikanlah!

•     Kaul-kaul religious yang dihayati dalam spiritualitas Krosier dalam kenyataannya ialah kisah-kisah kita bermurah hati setiap hari dalam hidup kita.

•     Kita menghidupi kaul ketaatan dari kelimpahan cinta di Salib dengan cara: memberikan kepercayaan kepada para superior kita, tetap berada dalam sikap respek dan memahami terhadap saudara-saudara kita, dan mengizinkan orang lain mengubah diri kita menjadi saksi-saksi yang lebih sejati tentang Sang Tersalib.

•     Kita menghidupi kaul kemiskinan dari kelimpahan cinta di Salib dengan cara: memberi tanpa berpikir soal menerima atau bahkan mengambil kembali, menawarkan bantuan dan perhatian terutama kepada mereka yang mungkin menolak kita, dan melepaskan hal-hal yang orang lain mungkin lebih membutuhkan daripada kita. Para Krosier sudah menerima banyak sekali dari Salib.

•     Kita menghidupi kaul kemurnian dari kelimpahan cinta pada Salib dengan cara: memandang setiap pribadi sebagai yang juga dikasihi oleh Kristus, menawarkan relasi-relasi yang sehat ke manapun kita pergi sekaligus kita sendiri menjadi teman yang setia bagi orang lain, dan membebaskan setiap orang untuk mengalami persahabatan dengan Sang Tersalib.

•     Tetapi, “Kisah-Kisah Salib” kita tidak akan berakhir. Biarkan Salib – Cinta itu – dari Tuhan kita menafsirkan tanggapan-tanggapan kita dalam kelimpahannya. Biarkan cinta dari Salib itu mewarnai secara berlimpah kehidupan kita sebagai para Krosier dan juga kehidupan umat beriman yang kita layani.

 

 

***