Ordo Monastik, Mendikan, dan Kanonik

 

 

 

OSC berarti Ordo Sanctae Crucis atau dalam Bahasa Indonesia Ordo Salib Suci. Orang-orang di dalamnya biasa disebut Krosier. Sebenarnya apa corak atau jenis dari OSC itu? Apa keunikan OSC itu? OSC termasuk Ordo Kanonik Regulir. Kanonik Regulir adalah istilah yang klasik. Istilah ini muncul sekitar abad ke-2. Sebetulnya istilah Ordo Kanonik Regulir cukup unik. Semua kata tersebut artinya sama yaitu law/rule/aturan. Dari segi usia Ordo Kanonik Regulir adalah ordo paling tua. Nama resminya OSC adalah Canons Regular of the Order of the Holy Cross, Ordo Kanonik Regulir Salib Suci. Kanonik regulir adalah identitas generik OSC. Sebelum memahami lebih lanjut identias OSC perlu diketahui bahwa sebetulnya ada tiga jenis ordo, pertama, Ordo Kanonik Regulir (OSC, dll.), kedua, Ordo Monastik (Benediktin, Trappist, dll.), ketiga, Ordo Mendikan (OFM, OP, OSA, dll.). Lalu apa bedanya?

 

Pertama, Ordo Monastik.  Apa ciri-cirinya? Mereka adalah kelompok religius dimana orang-orang di dalamnya mengucapkan ketiga kaul. Ciri hidup mereka adalah vita contemplativa atau hidup kontemplatif. Melihat hidup doa, mereka menjaga kehidupan doa baik personal maupun komunal. Mereka berdoa rata-rata lima kali dalam sehari. Keseimbangan antara hidup doa dan hidup karya (ora et labora) terjaga dengan baik. Karya studi mereka bertujuan untuk mengalami Allah. Hal ini dapat ditemukan pada teologi spiritual dan teologi mistiknya. Melihat karya fisik, mereka melaksanakan askese, menyangkal diri, mati raga, dan hidup berpantang, puasa, dan tirakat. Tujuan dari askese ini ingin menunjukkan supremasi Allah dalam kehidupan. Dalam kehidupan sehari-hari biasanya supremasi Allah dikalahkan oleh kenikmatan, kemalasan, dan kelemahan manusiawi. Melihat karya manual biasanya anggota Ordo Monastik mengolah tanah, memelihara ternak. Mereka berdikari secara ekonomi baik sandang, pangan, maupun papan. Ciri lain dari ordo ini adalah menjaga ‘solitudo’ atau keheningan. Mereka tidak banyak berbicara. Mereka lebih banyak berbicara di dalam hati dengan dirinya sendiri dan dengan alam (interior life). Ordo ini biasanya separasi, terpisah dengan dunia. Dari sisi lokasi ordo monastik biasanya terpisah dan terpencil. Mereka berada di tempat yang sesunyi mungkin entah di gunung, hutan, atau padang gurun. Biasanya ada clausura  dalam setiap biara monastik. Ini adalah batas pemisah antara anggota biara (insider) dengan bukan anggota (outsider). Contoh ordo-ordo monastik diantaranya adalah; OSB/Ordo Santo Benediktus (Benediktin), OCSO, Cistersian, Kartusian, dll.

 

Kedua, Ordo Mendikan. Anggotanya biasa disebut “friar” atau brother. Apa ciri-ciri dari ordo ini? Cara hidupnya adalah vita activa atau hidup aktif. Ordo ini biasanya disebut ordo pengemis karena semangat kemiskinan mereka, baik kemiskinan institusional maupun kemiskinan personal. Ordo ini hidup berkat pemberian dari orang lain (carity) melalui karya dan pelayanan mereka terhadap umat baik melalui doa, mengajar, berkhotbah, dll. Ordo mendikan masuk dan terjun di dalam masyarakat, hidup di tengah umat, dan berusaha dekat dengan umat beriman. Mereka biasanya mobile, bergerak dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Biasanya mereka disebut “religious army”. Mereka tidak terikat pada lokasi. Ciri khas ordo ini memandang doa pribadi menjadi lebih penting dari doa bersama. Doa menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing. Biasanya doa-doa bersama dipersingkat dan lebih disederhanakan oleh karena mereka lebih memfokuskan pada karya pelayanan kepada umat. Contoh ordo-ordo mendikan antara lain; OP/Ordo Pengkhotbah, Fransiskan, O.Carm, OSA, OAD, dll.

 

Ketiga, Ordo Kanonik. Ordo ini adalah kombinasi antara cara hidup monastik dengan mendikan (vitamixta). Santo Agustinus merumuskan dengan istilah “sanctitatum et clericatum” yang berarti hidup penyucian pribadi dan demi pelayanan kehidupan umat beriman sebagai seorang imam. Ada beberapa persamaan antara hidup kanonik dengan monastik. Diantaranya adalah vita communis (hidup bersama di tempat tertentu), fraternitas dan bonum communae (persaudaraan dan kepemilikan bersama), komunitas yang terbuka bagi umat dalam hal liturgi, ekaristi, dan ofisi (ibadat harian), hospitality (keramahtamahan), keterbukaan pastoral (boleh in dan boleh out).

 

Lalu apa itu arti kanon? Seorang kanon pada umumnya adalah seorang imam. Tetapi, tidak semua imam disebut kanon. Kanon merupakan ciri vita canonica. Kanon punya tanggung jawab melaksanakan hora canonica yaitu melaksanakan ekaristi dan doa ofisi dengan menggunakan pakaian khusus. Ada dua jenis kanon dalam Gereja yaitu kanonik regulir dan kanonuk sekulir. Para kanonik regulir memiliki kewajiban tinggal bersama sebagai satu komunitas religius, mengikuti regula Santo Agustinus, dan hidup berkaul. Sedangkan para kanonik sekulir adalah imam-imam projo.

 

 

Apa perbedaan Ordo dan Konggregasi (companion)?

Ordo dan konggregasi sama-sama komunitas religius, namun ada perbedaannya. Pertama, dari sisi historis ordo lebih tua dari konggregasi. Konggregasi muncul pada zaman modern. Apa batasnya? Batasnya adalah Konsili Trente (1545-1563). Ordo lahir pada masa sebelum konsili Trente, sedangkan konggregasi muncul pada masa setelah Konsili Trente. Kedua, berdasarkan status yuridis. Dalam kaitannya dengan Vatikan, Ordo itu mendapat “excempt” pengecualian dari ordinaris wilayah. Ordo berada diluar otoritas uskup setempat. Ordo langsung berada di bawah kekuasaan Paus, oleh karenanya uskup setempat dimana Ordo berada tidak bisa mengintervensi atau ikut campur mengatur Ordo. Ordo tidak bisa dibubarkan uskup setempat, dan untuk membubarkan suatu ordo perlu persetujuan dan izin dari Vatikan. Ketiga, berdasarkan karya apostolik/kerasulan. Ordo lahir pada masa Eropa mayoritas penduduknya menganut Katolik. Oleh karenanya pada waktu itu kerasulan ke luar tidak begitu banyak. Para anggota ordo hidup bersama sebagai satu komunitas religius. Mereka hidup dalam doa maupun dalam karya di dalam komunitas. Apabila melihat konggregasi, ia didirikan untuk karya kerasulan tertentu. Sebagai contoh konggregasi yang fokus dalam karya pendidikan (Ursulin), kesehatan (Suster Carolus Borromeus), pewartaan, (SVD), Misi (CICM), kaum muda (SDB), keluarga (MSF), dan lain sebagainya. Konggregasi lebih fokus pada karya kerasulan dan pelayanan yang lebih spesifik sedangkan ordo pada mulanya lebih fokus di dalam komunitas. Keempat, berdasarkan status kaul ordo biasanya mengikrarkan kaul agung (solemn), sedangkan konggregasi mengikrarkan kaul yang lebih sederhana (simple vow) dibandingkan anggota Ordo.

 

 

 

***