“AKAR YANG MENGUATKAN ADALAH RASA SYUKUR”
(REFLEKSI ATAS PERJALANAN TAHUN ORIENTASI PASTORAL DI CIVITA YOUTH CAMP)
Fr. Josua Siahaan, OSC

Masih cukup terekam jelas perasaan yang muncul ketika pertama kali mendengar pengumuman terkait perutusan Tahun Orientasi Pastoral yang terjadi pada Agustus 2021 lalu. Saat itu saya mengetahui bahwa saya diutus untuk menjalankan masa Tahun Orientasi Pastoral di Rumah Retret Civita Youth Camp. Tidak ada hal yang memberatkan hati, ketika saya mendengar tempat perutusan saya yang baru. Kesan penasaran dan rasa ingin tahu menjadi perasaan dominan saya pada waktu itu. Saya belum mempunyai gambaran yang betul-betul mampu mempersiapkan saya untuk menjalankan tugas pastoral ini. Namun di balik semua perasaan itu, rasa syukur menjadi satu hal yang sangat meyakinkan saya untuk menjalani masa TOP yang akan saya jalani.

 

Tepat pada 9 September 2021, saya menginjakkan kaki di rumah retret Civita Youth Camp untuk pertama kalinya. Sekitar pukul 09:00 WIB, saya bersama Pastor Nana, OSC berangkat dari Skolastikat menuju Civita. Pastinya, hawa panas yang sangat menyengat menjadi kesan pertama saya setibanya di Civita. Namun demikian, perasaan tersebut hilang karena suasana Civita yang dipenuhi oleh pepohonan tinggi serta kesejukan yang muncul dari pemandangan danau Civita. Usut punya usut, danau Civita menjadi ikon yang menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum muda atau bahkan setiap umat yang akan berkunjung ke sana. Saya sendiri pun merasakan kekaguman yang luar biasa ketika turut melihat-lihat pemandangan tersebut. 

Setibanya di Civita, saya disambut oleh Romo Agustinus Suharyadi, SJ bersama dengan komunitas suster-suster Carolus Borromeus. Saya merasa cukup antusias karena momen seperti ini adalah momen yang belum pernah saya alami. Kehangatan yang luar biasa sudah saya rasakan sejak pertama kali hadir di komunitas yang baru ini. Hal ini pun menjadi kekuatan saya untuk cepat beradaptasi dan melakukan berbagai macam hal dan melayani dengan baik bersama komunitas Civita Youth Camp. Saya sangat berharap bisa mengembangkan bakat-bakat dan kemampuan saya melalui berbagai macam tugas di sini. Walaupun tidak mudah, rasa yakin tetap menjadi semangat bagi saya untuk melawan berbagai hambatan yang terjadi. Alhasil, serangkaian adaptasi bisa saya jalankan dengan baik. Sejak awal, pastor Nana sudah meyakinkan saya untuk berfokus pada adaptasi selama satu bulan supaya perjalanan Top selanjutnya bisa berlangsung dengan baik. 

Pendamping Retret Online

Tugas perutusan saya yang pertama adalah membangun hidup bersama di komunitas Civita. Dengan begitu, saya akan sangat berhubungan dengan segala jenis kegiatan dan keperluan yang ada di Civita. Salah satu pelayanan yang dilakukan oleh Civita selama masa pandemi ini adalah retret online. Civita bekerja sama dengan perkumpulan Strada untuk memberikan retret secara online. Awalnya saya cukup bingung, apakah retret ini ini akan berjalan dengan baik? Apakah anak-anak sungguh merasakan manfaat dari retret online ini? Pertanyaan seperti itu banyak sekali muncul dalam diri saya. Oleh karena itu, saya menjalankan tugas pelayanan ini sesuai dengan adaptasi yang sudah saya laksanakan. Secara garis besar, tidak ada kesulitan bagi saya untuk mengisi sesi retret/rekoleksi secara online. Pemahaman tentang penggunaan Zoom sudah saya dapatkan sejak memulai pelajaran daring bersama dengan Fakultas Filsafat. Bahkan, seiring berjalannya waktu, pemahaman teknis pembelajaran online dalam diri saya semakin baik dan berkembang. 

 

Hal yang paling penting dalam proses pelayanan retret online ini adalah sikap tenang dan percaya diri. Itulah sebabnya, saya selalu membahas perkembangan rasa percaya diri dalam refleksi bulanan saya. Pasalnya, pelayanan retret online seperti ini sangat membutuhkan keyakinan atas apa yang saya ucapkan sebelum menyampaikannya kepada peserta retret. Pentingnya latihan pribadi pun menjadi satu hal yang tidak bisa saya lewatkan. Dalam beberapa waktu, saya selalu menyempatkan diri untuk berlatih di depan cermin. Latihan itu menyangkut cara berbicara, mimik wajah, intonasi dan tata bahasa yang saya ucapkan ketika memberikan materi retret/rekoleksi. Saya merasa perlu berlatih karena dalam beberapa kesempatan ada saja kata yang salah pengucapannya. Saya tidak mau hal ini menjadi sumber ketidakpercayaan diri saya. 

Seiring berjalannya waktu, saya mulai mendapat waktu yang cukup banyak untuk memberikan sesi dalam retret online. Dalam situasi tersebut, saya tidak bisa menjamin kebahagiaan selalu terpatri dalam dinamika kehidupan saya. Saya pun turut merasakan kejenuhan yang muncul dalam waktu-waktu tertentu. Menjadi pendamping retret akan berhadapan secara terus-menerus dengan materi refleksi yang sama. Maka dari itu, perlu kesabaran untuk menceritakan dan menjelaskan hal yang sama kepada orang yang berbeda. Semua tergantung cara saya menyampaikan apa yang menjadi pembahasan utama. Sebisa mungkin, saya harus memberikan kesan yang baik kepada anak-anak supaya materi yang disampaikan sungguh-sungguh meresap ke dalam hati mereka masing-masing. Dengan begitu saya yakin bahwa retret ini bukan sekadar dinamika yang mengisi waktu saya. Lebih dari pada itu, retret adalah salah satu kesempatan yang mengajak orang muda masuk dalam kedalaman rohaninya masing-masing. Buktinya, banyak peserta retret yang mendapat kesan yang baik setelah menjalankan retret. Hal itu sekaligus meyakinkan saya untuk semakin giat belajar dan membaca hal-hal yang dapat menambah pengetahuan saya berkaitan dengan materi retret/rekoleksi yang saya sampaikan. Tidak ada hal yang sia-sia bagi mereka yang selalu berusaha memenuhi hidupnya dengan sesuatu yang bermakna. 

Retret/rekoleksi ini sekaligus mengajarkan saya terkait pentingnya kerjasama dan koordinasi sesama tim. Semua akan menjadi mudah, jika dibarengi dengan koordinasi yang baik. Sebaliknya, ketika semuanya berada di luar koordinasi dan kerjasama yang buruk, akan ada banyak kesulitan yang muncul. Sebisa mungkin, harus ada komunikasi antar tim sebelum memulai pemberian materi retret/rekoleksi. Syukur-syukur hal ini menjadi nilai tambahan yang memperkuat relasi dalam komunitas Civita. 

Kesempatan untuk Berpartisipasi dalam Acara Mimbar Agama Katolik

Selain kegiatan rutin yang saya laksanakan di Civita, ada juga berbagai macam kegiatan menarik dan cukup menantang saya. Dalam satu kesempatan, tim Mimbar Agama Katolik memberikan tawaran kepada pihak Civita untuk membuat salah satu seri Mimbar Agama Katolik di Civita Youth Camp. Berhubung karena jadwal retret online sedang kosong, maka kami menyetujui hal tersebut dan dengan senang hati menyiapkan sesuai dengan permintaan pihak TVRI. Saya dan Romo Suhar bergegas untuk membuat naskah dan rundown yang diperlukan untuk shooting Mimbar Agama Katolik edisi kali ini. 

Pertama-tama, kami mempersiapkan tema besar yang akan kami angkat dalam edisi ini. Kami menyiapkan dua tema karena kami dipercaya untuk mengisi dua waktu yang berbeda. Jadi memang tidak cukup mudah untuk mempersiapkan segalanya. Ada hal-hal yang harus kami perhatikan terkait kesinambungan dengan drama dan pengetahuan host sendiri dengan tema yang kami angkat. Persiapan ini tidak cukup hanya dengan sekali atau dua kali pembahasan. Kami takut apabila pada hari pengambilan video, kami tidak siap dan merepotkan crew yang sudah menunggu di depan kami. Dan memang benar, bahwa tampil di hadapan crew TV profesional tidak semudah yang kami bayangkan. Ada hal yang harus kami sampaikan di layar TV masyarakat luas Indonesia. Hal tersebut sekaligus menjadi momok yang cukup menakutkan bagi kami. Seperti ada tuntutan besar yang harus kami penuhi pada saat itu. Saya sendiri masih merasa gugup ketika berhadapan langsung dengan kamera, padahal sudah beberapa kali tampil di hadapan banyak orang. 

Saya bersyukur atas kesempatan yang luar biasa ini. Ini adalah kesempatan yang baik untuk memperkaya diri dengan banyak ilmu. Tidak ada yang mustahil bagi mereka yang berusaha. Pengambilan video kami laksanakan selama satu hari penuh. Perasaan yang muncul sangat campur aduk. Ada rasa jengkel karena harus mengambil ulang videonya. Pun ada rasa lelah yang luar biasa. Saya sendiri merasa sangat lelah pada saat itu. Namun, kerjasama dengan tim dan semangat yang kami dapatkan satu sama lain memberikan kekuatan yang sangat membangun. Saya sendiri berkaca dari tim TVRI yang juga menahan rasa lelah demi menghasilkan gambar yang baik. Kebanyakan dari mereka beragama Islam, namun terlihat begitu antusias untuk mempersiapkan Mimbar Agama Katolik. Sikap profesionalitas mereka mengalahkan rasa egois dan justru dengan rendah hati memberikan usaha yang maksimal. Saya melihat bahwa ini bukan perkara pekerjaan bagi mereka, namun juga menjadi satu bentuk pelayanan dan nilai toleransi beragama yang terwujud secara nyata. 

Penutup

Pengalaman Tahun Orientasi Pastoral merupakan kesempatan yang sangat layak untuk saya syukuri. Saya belajar dan mendapatkan banyak hal baik di tempat ini. Sejak awal proses adaptasi hingga akhir masa Tahun Orientasi Pastoral saya merasa sangat didukung dengan berbagai macam kata motivasi, rekreasi dan fasilitas yang sangat baik. Perjalanan TOP membuat saya merasa kuat dalam perjalanan panggilan hidup saya. Saya diajak untuk melihat sisi kerumitan dalam hidup panggilan, sekaligus juga diajari cara untuk menghadapinya dengan baik dan tenang. Tidak ada yang mudah dalam perjalanan panjang satu tahun ini. Itulah sebab pentingnya menanggalkan egoisme diri, melepas prasangka buruk dan membiarkan pikiran positif berjalan bersama bekal kebaikan yang sudah tertanam sejak masa formasi. Saya tidak ingin mengecewakan banyak orang dalam perjalanan panggilan ini. Harus ada kekuatan yang bisa mengarahkan diri saya untuk berdiscernment. Dengan begitu, saya yakin bisa merasakan sukacita dan kebahagiaan dalam setiap karya dan pelayanan yang saya lalui, hingga akhirnya sampai pada ungkapan syukur atas berkat yang saya rasakan setiap waktu. 

 

 

 

 

 

 

 

 
 

 

 

 

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.