SALIB: KEKUATAN DALAM MISI

P. Matheu Kuppens, OSC

 

P. Matheu Kuppens, OSC membagikan pengalaman hidupnya sebagai misionaris OSC di Cigugur dan Pulau Nias, 14/9/2017

 

 

Suasana Ibadat hari Raya Salib Suci di Kapel Kabar Gembira Maria, Priorat Sultan Agung, 14/9/2017

Kamis, 14 September 2017 Ordo Salib Suci merayakan Hari Raya Pemuliaan Salib. 14 September pada awalnya tanggal ini diperingati untuk mendedikasikan Basilika Konstantinus dari Makam kudus pada abad ke-4; sesudah perayaan, kayu salib dihormati. Pesta perayaan ini menyebar ke negara Eropa setelah perolehan kembali relikwi salib dari Persia pada abad ke-7. Sebuah pesta Tuhan, untuk merayakan “naiknya” Anak Manusia pada salib, ke dalam kemuliaan, dan paradoks salib sebagai simbol penghinaan dan kematian, akan tetapi sumber dari kemenangan  dan kehidupan. Kanonik Regular OSC menandai hal ini sebagai pesta nama bagi OSC. Pada Hari Raya Salib Suci tahun ini mengambil tema “Salib; Kekuatan Dalam Misi”. Misi menjadi poin refleksi bagi Ordo Salib Suci. Ibadat Pesta Salib diawali lagu “Pokomu” khas  Asmat, dan penutup ibadat diiringi tarian Nias dengan lagu khas Nias. Acara dihadiri Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC, Uskup Bandung, Pastor Basilius Hendra Kimawan, OSC, Provinsial OSC Indonesia, para yubilaris, pastor, suster, frater, mitra krosier dan  tamu undangan. Lectio Crucis diberikan oleh Pastor Kuppens, OSC. Pada kesempatan ini kami hendak membagikan pengalaman Pastor Kuppens, OSC sebagai misionaris OSC. Tulisan ini dipersembahkan kepada seluruh anggota Krosier dan kepada umat beriman sekalian yang tidak sempat menghadiri Perayaan Salib Suci tahun ini. Selamat membaca dan merefleksikan pengalaman Pastor Kuppens, OSC

 

 

Dari mana kekuatan untuk berkarya di tanah misi selama 54 tahun?

 

Saya Beruntung

Saya dilahirkan di dalam keluarga sederhaha, namun harmonis dan sungguh katolik. Jadi, saya orang yang beruntung. Ibu saya meninggal pada waktu saya berumur 15 tahun. Saya sangat kehilangan kasih sayang seorang ibu yang sangat lembut dan dekat dengan saya. Kasih sayang ibu yang sempat hilang saya temukan kembali pada waktu saya di seminari. Di seminari Uden ada kapel Maria. Setiap hari saya datang ke kapel untuk mencari kasih sayang dan penghiburan. Di sana saya bertemu dengan Bunda Maria dan Yesus. Hubungan saya dengan Bunda Maria dan Yesus menjadi semakin kuat, mendalam, dan penuh cinta sampai sekarang. Oleh karena hubungan yang akrab itu, maka keinginan untuk menjadi imam pada waktu itu juga semakin kuat.

 

 

Masa Novisiat

Novisiat bukan merupakan sukses besar bagi saya. Meskipun demikian, masa 2 tahun filsafat di Belgia (Achel) sangat menguatkan kehidupan rohani saya karena kesaksian dan contoh yang baik dari orang-orang penting, antara lain: magister (Moors), prior (S. Aerts), socius (V. Keisteren), dan dosen (P. Swart). Selanjutnya saya memasuki program 4 tahun teologi di St. Agatha. Masa itu penuh dengan ketegangan karena terjadi perbedaan pendapat tentang kehidupan religius sebagai akibat dari banyak pemikiran baru dan pengaruh modernitas. Akan tetapi, di St. Agatha saya menemukan professor yang istimewa dan penuh semangat, antara lain Has Verkuylen yang mengajar Kristologi dan v.d. Elzen yang mengajar Kitab Suci. Mereka membuat saya antusias dan penuh bersemangat dalam belajar. Saya termotivasi untuk membaca banyak buku karena terinspirasi oleh mereka. Mereka berdua berhasil mengantar saya kepada Yesus sehingga pada waktu saya ditahbiskan – sesudah 3 tahun belajar teologi – saya menjadi tahu isi panggilan saya, yaitu meneruskan karya Yesus di mana pun saya ditugaskan.

 

 

Pergi ke Tanah Misi

Saya ditugaskan oleh Bapa General v. Hees untuk berkarya di Missie Indonesia. Perutusan ini membuat saya kembali merasa sebagai orang yang sangat beruntung. Dua orang yang mencintai misi (P.B. Leenders dan P. Jo Bosman) menerima saya dengan senang hati dan memberi saya semangat. Saya ditugaskan di Cirebon.

 

Pada Oktober 1964, saya menerima pendaftaran untuk menjadi Katolik 1650 KK (kira-kira 6000 orang). Pastor Hidayat Sasmita dan saya menerima mereka secara positif dan merasa sangat bergembira. Sebenarnya, paroki Cirebon ragu-ragu dan mau menolak karena mereka curiga jangan-jangan orang-orang itu termasuk anggota komunis (waktu itu dekat gestok dan di daerah Cirebon sering kacau, jadi orang-orang takut). Namun, P. Kooiman dari keuskupan memutuskan untuk menerima mereka.

 

 

Bertugas di Cigugur

5 Januari 1965 saya ke Cigugur. Di sana saya menemukan banyak kesulitan dan ketegangan, baik dengan orang Islam di Kuningan maupun dengan pemerintah. Syukur kepada Allah, ternyata: sekian ribu orang sudah disiapkan oleh pemimpin ADS untuk bertemu dengan Yesus. Mereka menantikan orang yang berpakaian putih (bodas). Sudah diramalkan bahwa orang berpakaian bodas akan menyelamatkan mereka: Yesus Kristus. Hal ini sangat menggembirakan saya karena sangat cocok dengan tugas saya sewaktu saya ditahbiskan, yaitu meneruskan karya Yesus; membawa Yesus kepada sebanyak mungkin orang.

 

Suatu tanda tanya besar: Bagaimana mungkin memberikan pelajaran kepada begitu banyak orang sekaligus? Untuk menjawab pertanyaan ini saya pergi kepada Yesus untuk berbicara: meminta petunjuk, meminta jalan. Saya datang dan bertanya kepada-Nya: Yesus, bagaimana ini….?

 

Mendapatkan jalan:

  1. Kami membentuk kader yang terdiri dari guru-guru. Mereka adalah orang-orang berpendidikan dan mau bekerjasama. Mereka 12 orang. Mereka dididik, dijelaskan maksud dan tujuan, serta diberikan pelajaran agama katolik dalam bahasa Indonesia. Kemudian mereka ini diberi tugas untuk mengajar di blok-blok (lingkungan) di tempat yang dulunya biasa digunakan oleh ADS untuk berkumpul.
  2. Muda-mudi mendapat pelajaran agama secara khusus (juga sering ikut di blok) dan nanti diteruskan di Legio Maria.
  3. Anak-anak mendapat pelajaran dari suster CB di Cigugur dan suster OSU di Cisantana.
  4. Stasi-stasi mendapat pelajaran dari orang-orang yang mengikuti pastor ke stasi: ada guru, suster, dan orang lain yang diajak untuk ikut.
  5. Pegangan: Katekismus disusun dalam dua bahasa (Indonesia dan Sunda). Para pastor dan suster di Cigugur memiliki katekismus yang baik sekali: isinya jelas dan modern.
  6. Diputuskan: Liturgi dalam bahasa Sunda dan bukan Latin (revolusioner).
  7. Fokus karya: pendidikan (sekolah), kesehatan, pertanian,  peternakan, KP, dan karya sosial lainnya.
  8. Pada waktu itu semangat yang tampak luar biasa. Ada begitu banyak orang aktif dan kompak.

 

25 tahun saya boleh berkarya di Cigugur dan membawa anggota ADS kepada Yesus. Tugas itu tidak mudah, namun saya sendiri memiliki jalan supaya saya dapat melaksanakan tugas dengan baik, bertahan, dan tidak burn-out, yaitu:

  1. sering berdoa di depan tabernakel.
  2. Setiap karya saya mulai dengan doa Yesus sehingga kehadiran Yesus mendukung saya, dan membuat saya bergembira (selama 12 tahun saya aktif dalam mempraktikan doa Yesus ini bersama dengan umat di Gereja).
  3. Kadang-kadang pergi ke Gunung Ceremai untuk merenungkan karya dengan lebih tenang.
  4. Saya membiasakan diri untuk bangun tengah malam. Setiap malam saya bangun untuk ‘tinggal’ bersama Yesus: mengungkapkan isi hati serta kegembiraan. Sering juga datang untuk mencari bantuan atas segala masalah pribadi, komunitas, dan paroki. Saya menyadari bahwa untuk mengambil keputusan, saya membutuhkan teman yang menguatkan supaya dapat menghadapi karya yang begitu besar. Segala-galanya saya ungkapkan kepada Yesus dan selalu mendapat kekuatan. Saya merasa dimengerti, dikuatkan, dan diberi ‘jawaban’. Pertemuan itu mengubah diri saya. Saya semakin bersatu dengan Yesus, teman saya: pikiran, perasaan, visi, dan harapan. Persatuan dan kebersamaan dengan Yesus memberi saya energi dan semangat yang luar biasa. Bersama Dia saya bisa menghadapi apa saja. Kebiasaan bertemu dengan Yesus seperti itu berlanjut sampai sekarang.  

 

 

Bermisi ke Nias

Keinginan untuk berkarya di Papua tidak jadi karena ada permintaan dari uskup Sibolga supaya OSC berkarya di keuskupannya. Maka, pada 1 Januri 1990, saya diutus dan berangkat sendirian ke Pulau Nias. Saya tinggal 6 bulan di Tõgizita untuk belajar kultur Nias terutama bahasanya. 6 bulan itu merupakan kenosis. Pada waktu itu saya tinggal sendirian karena pastor yang bertugas di sana jarang ada di pastoran. Masyarakat Nias waktu itu tidak bisa berbahasa Indonesia, sementara saya sendiri belum mengerti bahasa Nias. Akibatnya tidak ada komunikasi. Guru saya orang kampung, tidak tahu apa-apa. Dia tidak tahu tentang kultur Nias. Dia hanya tahu bahasa kampungnya, tetapi tidak bisa menjelaskannya kepada saya. Jadinya saya tidak maju, malah stress berat dan menderita. Syukur bahwa Yesus menemani saya sehingga tidak jadi gila.

 

Pada Juli 1990 saya pindah ke paroki Nias Barat, tepatnya di daerah Sirombu. Ada 56 stasi dengan ribuan orang katolik. Paroki ini dapat dibagi dalam tiga kategori besar, yaitu: 1) Humene (gelap, menakutkan, penuh lumpur, dikuasai oleh para perampok, dan adatnya kuat); 2) Moro’o (terletak di antara Humene dan Lahõmi); 3) Lahõmi (penuh takhyul, adatnya kuat, sedikit lebih maju). Di daerah ini Lowalangi (Tuhan) dari adat disembah. Lowalangi dimengerti sebagai Tuhan yang keras.

 

Melihat situasi dan apa yang harus dihadapi membuat saya shock. Dewan provinsi di Bandung merasa tertipu ketika mendengar apa yang harus kami (Saya, P. Lukas, dan Johan) hadapi waktu itu. Pastor Hardjo mengatakan: “Pulang saja!” Namun, pulang ke Bandung tidak mungkin kami lakukan karena kita OSC. Seorang Krosier harus berani menanggung salib. Maka, setelah banyak berefleksi dan berbicara dengan Yesus, timbul ide cemerlang: Nias Barat yang galak, angker, berlumpur, ada nuansa kebencian dan saling mencurigai, akan kita buat menjadi “surga kecil” milik Yesus, tempat Yesus.

 

Berdasarkan refleksi cemerlang ini, kami langsung membuat rencana pastoral yang cocok untuk situasi umat pada waktu itu. Kegiatan konkret yang kami lakukan, antara lain:

  1. Membentuk tim katekese untuk bergerak dan memperkenalkan Yesus kepada umat. Kami juga membentuk Kelompok Basis Gerejani (KBG). Proyek ini berjalan selama bertahun-tahun.
  2. Mengumpulkan 34 ketua adat. Mas kawin yang mahal diturunkan dan disepakati menjadi Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah), setara dengan 17 ekor babi waktu itu.
  3. Mengadakan kursus persiapan perkawinan untuk 1000 orang.
  4. Mengadakan gerakan keluarga bahagia. Waktu itu ada tim yang terdiri dari 12 orang: 3 katekis + 9 perempuan yang dilatih di rumah ret-ret oleh P. Metodius. Pertemuan untuk ibu-ibu selama seminggu, lalu pada minggu berikutnya giliran bapa-bapa (suami-suami). Temanya sangat menyentuh situasi keluarga dengan semua kekurangannya. Kesimpulan yang dapat diambil ialah: keluarga menjadi bahagia ibu/bapa bila menjadi seperti Yesus. Dapat dirasakan bahwa setiap ret-ret merupakan kesempatan bagi ibu/bapa mencicipi surga. Kami berhasil mengadakan 47 kali ret-ret 6 hari. Jumlah peserta yang mengikuti retret seluruhnya berjumlah 2750 orang. Tim turun ke stasi-stasi: sekali 27 hari dan sekali 18 hari dengan tema yang sama.
  5. Banyak kegiatan rutin dilaksanakan di paroki. Torne-torne ke stasi diadakan menimal 3 kali setahun. Selain itu, kami juga mengadakan bermacam-macam kursus dan pelatihan untuk para petugas pastoral. Kegiatan-kegiatan social pun sangat tinggi terutama perhatian dan pelayanan kepada orang-orang sakit. Kegiatan lain seperti WKRI, Sekami, OMK, dan kategorial yang lain juga berjalan baik dan penuh semangat hingga terjadi musibah tsunami pada 26 Desember 2004.

 

 

Perubahan Besar Terjadi

Pada saat tsunami itu, ada 119 orang meninggal dunia, lalu 28 orang meninggal dunia di wilayah paroki Nias Barat pada saat gempa bumi 2005 yang berkekuatan 9,00 dan 8,35  Skala Richter.

 

Sebagai efek dari bencana alam yang hebat itu, pastoral yang sudah bertahun-tahun dijalankan dengan cita-cita membuat Nias Barat menjadi ‘surga kecil’ berubah. Perubahan ini terjadi karena: mau tidak mau Gereja harus melayani umat dalam situasi gawat (darurat). Alasan kedua ialah: ada uskup baru yang mau mengadakan sinode demi terciptanya pastoral bersama. Sinode ini didasarkan pada hasil penelitian mengenai keadaan umat, baik secara rohani maupun secara ekonomi.  

 

Paroki kitalah yang terdampak tsunami dan gempa yang paling hebat. Untuk itu beberapa langkah ditempuh, yaitu:

  1. Menampung dan memberi pendampingan kepada para korban.
  2. Memberi bantuan darurat serta mendistribusikan bantuan dari seluruh dunia kepada para korban. Juga bertugas mendistribusikan bantuan yang diberikan oleh Presiden SBY sebesar 150.000 US Dollar (1,5 miliar rupiah).
  3. Bersama dengan Caritas membangun 364 rumah, 7 sekolah, dan jalan sepanjang 9,3 kilometer untuk membuka daerah pedalaman.
  4. Mulai membangun 54 gedung gereja yang rusak (direncanakan selesai dalam kurun waktu 10 tahun). Sudah 12 tahun hingga sekarang, namun masih ada 8 gereja yang belum selesai.
  5. Di bawah bimbingan Uskup Ludovikus, kita ikut serta melaksanakan keputusan Sinode I dan Sinode II.
  6. Meningkatkan pastoral yang memperhatikan orang kecil dan orang sakit dengan pelayanan yang terus-menerus. Kemudian juga memperhatikan pengembangan social ekonomi melalui Resource Center (RC) di Mandrehe.

 

 

Perjuangan Belum Selesai

Semenjak OSC menerima Nias Barat sebagai paroki pada tahun 1990, sudah ada 26 OSC yang ikut berjuang menghadirkan Yesus di hati umat dengan pengorbanan dan perjuangan hebat. Perjuangan belum selesai. Kita menyadari bahwa Yesus dan Bapa yang penuh kasih yang mengutus Yesus, masih belum diterima oleh banyak orang. Mereka masih menerima dan mengikuti Lowalangi (tuhan warisan adat). Lowalangi merupakan tuhan yang keras dan penuh liku-liku.

 

Meskipun masih dalam perjuangan, namun di sana-sini mulai kelihatan tanda-tanda ‘surga kecil’. Umat Nias, terutama Gereja, masih harus bekerja keras agar umat mengenal Allah yang benar, yaitu Bapa yang penuh kasih. Kita percaya bahwa kalau menerima dan percaya bahwa Tuhan itu kasih, barulah ada kedamaian, ada kasih dan saling mencintai/menolong di hati dan di dalam keluarga-keluarga umat. Dengan itu kita akhirnya dapat memiliki dan merasakan “Tata nilai baru.” Namun, selama Gereja belum berhasil dalam hal ini, umat akan tetap menderita, saling mencurigai, dan saling melukai karena kepentingan sendiri (egoisme). Yang diutamakan adalah Lowalangi (tuhan yang keras) sehingga menjadi egoistis dan menyesatkan.

 

Lama kelamaan saya mendapat tugas banyak. Selain tugas di paroki dan biara, saya juga menjadi anggota dewan imam keuskupan Sibolga, terlibat di CU dan PSE. Saya juga menjadi pembimbing ret-ret dan pembimbing frater TOPer. Saya juga terlibat dalam kerjasama dengan Caritas membangun Nias Barat dan yang lain-lain.

 

 

Kebersamaan dengan Yesus Menguatkan

Banyak kejadian seperti kematian Fr. Dicky OSC, tsunami, dan gejolak-gejolak di daerah yang belum aman (Humene). Pertikaian, permusuhan, dan perkelahian di antara umat  menjadi beban yang berat. Bagaimana bisa bertahan dalam situasi berat itu? Saya bisa bertahan karena kebersamaan saya dengan Yesus. Setiap malam, secara konsisten saya bangun untuk bertemu dengan Dia dan berkomunikasi. Dia menjadi teman dan kekuatan dalam perjuangan. Untuk lebih mempererat hubungan dengan Dia, saya sering menyepi ke Bukit Miga (6 kali setahun), selama 13 tahun.

 

Untuk itu, Yesus menjadi inspirator bagi saya sehingga saya memiliki visi serta kekuatan untuk melaksanakannya. Karena Dialah maka saya bisa melayani ribuan orang sakit dan memberikan semangat lagi kepada sekian banyak orang yang datang untuk berkonsultasi. Saya sangat memperhatikan kehidupan komunitas OSC agar menjadi tempat pertemuan dengan Yesus melalui doa dan persaudaraan. Setiap anggota komunitas menemukan suatu ‘home’ baginya dan juga umat yang datang ke biara. Setiap orang yang datang diterima dengan baik. Hospitalitas bagi para konfrater dan orang-orang yang datang, baik orang miskin dan sakit maupun orang biasa, muncul dalam sikap dan penerimaan kita yang ramah. Saya merasa bahwa cita-cita dan janji imamat sewaktu saya ditahbiskan saya jalankan dengan sepenuh hati. Sudah 55 tahun lamanya saya meneruskan karya Yesus sebagai tujuan hidup saya.

 

Pada pesta 25 tahun OSC di Nias, cita-cita dan harapan saya bisa dilaksanakan. Pada waktu itu, setiap kepala keluarga (sebanyak 3465) mendapatkan Salib OSC untuk dipasang di rumah masing-masing sebagai tanda kehadiran Yesus dalam keluarga. Dengan demikian, Yesus menjadi anggota keluarga. Umat sungguh disiapkan untuk menerima salib ini dengan melakukan novena salib di tiap rayon dan stasi. Kemudian mereka menerima salib suci di stasi-stasi dalam suasana doa di dalam korban misa. Hal ini menjadi tanda bahwa Yesus hadir.

 

Gereja Nias membutuhkan beberapa hal berikut:

  1. Imam (petugas pastoral) yang mempunyai relasi personal yang kuat dan konsisten dengan Yesus  sehingga memancarkan kasih Yesus di mana-mana.
  2. Imam yang dalam kehidupan mereka sudah dilembutkan oleh kasih sayang Bunda Maria. 
  3. Imam yang gembira dan bahagia karena ia hidup dalam kasih sayang Allah Bapa.

 

Melihat kembali kehidupan saya sebagai imam (55 tahun), saya tersenyum bahagia dan mulai menyiapkan diri untuk dijemput oleh Dia untuk ikut bergabung dalam pertemuan dengan Dia di rumah Bapa.  Ya’ahowu!

 

  

Salib; Kekuatan Dalam Misi, Hari Raya Salib Suci

Kamis, 14 September 2017

 

 

Kumpulan Lectio Crucis

 

 

Salib Kristus Keindahan Paradoksal; Kumpulan Lectio Crucis Hari Raya Salib Suci

 

 

 

***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.