Jangan Jemu Berbuat Baik

(Refleksi Prapaskah 2022)

Fr. Steven Arya Prastya, OSC

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang” (Gal 6:9-10)

Pengantar

Pada 11 November 2021 yang lalu, Paus Fransiskus mengeluarkan pesan untuk seluruh umat Katholik di dunia dalam menyambut Prapaskah 2022. Pesan ini baik untuk direfleksikan oleh seluruh umat Katolik demi kehidupan yang lebih baik dan bermakna. Dalam tulisan ini, saya merenungkan pesan Paus Fransiskus bukan hanya sebagai umat Katolik saja melainkan juga sebagai biarawan Ordo Salib Suci.

Hidup di Tengah Perkembangan Zaman

Teknologi, baik dari sistem komunikasi, transportasi dan lain sebagainya, berkembang sangat cepat di era modern ini. Manusia berlomba-lomba mengembangkannya (baca: teknologi) demi mempermudah pekerjaan mereka masing-masing dan meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Hal ini menandakan di zaman sekarang, persentase persaingan antar manusia satu dengan manusia lainnya melaju pesat. Tidak salah jika ada yang mengatakan bahwa sebagian besar relasi manusia ditunjukan demi kepentingan bisnis ataupun hubungan kerja sama.

Di tengah-tengah persaingan yang begitu ketat ini, sepertinya, eksistensi perbuatan baik pun secara perlahan-lahan mulai terdegradasi. Masyarakat semakin sulit untuk berbuat baik karena kegiatan ini benar-benar menghabiskan tenaga dan tidak menghasilkan keuntungan apa-apa bagi diri sendiri. Alhasil, jika dirasa tidak menghasilkan apa-apa, perbuatan baik bukanlah sesuatu yang harus dilakukan.

Itulah gambaran situasional dari zaman yang ditinggali oleh kita para biarawan Ordo Salib Suci. Kita berada ditengah-tengah mereka (baca: masyarakat dunia) yang mulai susah untuk berbuat baik dan lebih mementingkan kepentingan diri sendiri. Agaknya, tawaran-tawaran kenikmatan dunia yang dihasilkan lewat uang lebih manis dibandingkan tawaran surgawi yang diperoleh melalui perbuatan baik. Sekarang, yang menjadi pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan?

Memancarkan Cinta Allah dalam Komunitas

Sudah jelas, berdasarkan pesan yang dikumandangkan Paus Fransiskus, dalam masa Prapaskah ini, kita sebagai biarawan Ordo Salib Suci diajak untuk tidak jemu-jemu berbuat baik. Sebagai anggota ordo yang menekankan kehidupan doa dan pastoral (vita mixta),kita harus terus berusaha mengamalkan kebaikan-kebaikan cinta kasih Allah kepada sesama kita dan tidak mengharapkan imbalan apapun dari perbuatan baik itu. Tidak bisa dipungkiri bahwa keinginan-keinginan badan untuk dihargai dan dibalas perbuatan baik yang telah dilakukan akan terus menghantui. Ada baiknya jika kita memandang keinginan-keinginan itu sebagai suatu salib yang akan membawa kita menuju keselamatan di penghujung dunia.

Tidak perlu berorientasi untuk melakukan suatu perbuatan baik yang besar. Cukuplah jika kita sekiranya mulai dari komunitas kita masing-masing. Dalam setiap surat keputusan, kita sudah tau bahwa yang pertama-tama menjadi tugas dan kewajiban kita adalah melayani komunitas tempat kita tinggal. Maka, penting untuk selalu berbuat baik diantara anggota komunitas. Contoh paling sederhannya adalah merawat anggota komunitas kita yang sedang sakit. Memang, masing-masing dari kita sudah dewasa dan bisa mengurus diri masing masing. Namun, ketika anggota komunitas lain turut memperhatikan anggota komunitasnya yang sakit seperti mengantarkan makanan, membawanya ke rumah sakit, dan lain sebagianya, kondisinya akan semakin cepat membaik. Percaya tidak percaya, perbuatan kecil seperti ini akan membawa komunitas kita kearah yang lebih baik dan akrab.

Masyarakat Sebagai Ladang Kebaikan

Melakukan perbuatan baik terhadap masyarakat luas sepertinya bukan sesuatu yang asing bagi kita. Lewan perutusan pastoral, kita sebenarnya sudah melakukan banyak perbuatan baik kepada masyarakat. Di masa Prapaskah ini sepertinya ada perbuatan baik yang lebih fundamental yang dapat kita lakukan. Ya, berpantang, berpuasa dan melaksanakan kegiatan APP. Lewat aksi pantang dan puasa, kita bisa menyumbangkan sesuatu dari yang kita miliki kepada orang-orang yang lebih membutuhkan di luar sana. Tidak peduli berapapun jumlahnya, jika dilakukan dari hati yang tulus, sesuatu yang kecil itu dapat menjadi sesuatu yang sangat berharga. Jika orang lain belum mampu melakukannya, marilah kita sebagai biarawan Ordo Salib Suci memulai dan memberikan contoh kepada mereka.

Selain kegiatan berpantang dan berpuasa, dalam masa Prapaskah ini hendaknya semangat pelayanan kita sebagai seorang Krosier semakin baik. Tugas yang kita emban memang begitu banyak dan melelahkan, namun, jika dilakukan dari dalam hati, segalanya akan jauh lebih baik. Satu kunci yang mungkin bisa membantu kita semua untuk menyemangati kita adalah kita adalah tangan Yesus. Dengan kehadiran kita ditengah-tengah orang yang kita layani, kita menghadirkan sosok Yesus yang berbelas kasih kepada mereka semua.

Kesimpulan

Sesuai dengan apa yang diserukan oleh Paus Fransiskus didalam masa Prapaskah tahun 2022 ini, kita semua diajak untuk terus-menerus melakukan perbuatan baik. Tidak bisa dipungkiri bahwa akan ada begitu banyak cobaan yang datang dari dunia yang bakal menggoda kita untuk tidak berbuat baik ataupun merusak makna perbuatan baik kita. Namun, baik jika kita tetap berusaha melaksanakannya dan meminta bantuan Yang maha Kuasa untuk melengkapi apa yang telah kita lakukan. Segala sesuatu yang kita lakukan kepada sesama kita yang membutuhkan akan menjadi bukti nyata kehadiran cinta kasih Allah di dunia.  In Cruce Salus.

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.