Retret Agung: Sebuah Perjalanan Rohani

Fr. Dyonisius Maurino Gunarto, OSC

Tiga puluh hari menjadi waktu yang sangat singkat untuk mengalami pengalaman bergumul dengan Allah. Retret Agung 30 hari tak pernah sekalipun saya pikirkan akan terjadi selama 19 tahun masa hidup saya. Saya memang pernah mendengar tentang istilah Retret Agung 30 hari dalam buku Latihan Rohani karya Santo Iganatius dari Loyola. Program Retret Agung 30 hari ini dibuat oleh para formator dengan memodifikasi bahan doa dari buku Latihan Rohani. Dengan tetap menjaga jalannya retret, dibuatlah pembagian empat pekan tema besar doa dan interstisi (jeda). Terdapat 140 bahan doa yang dibagi setiap harinya ke dalam kesempatan 5 kali berdoa. Pembagian tersebut membuat kami memiliki waktu 28 hari berdoa dengan 2 hari interstisi di antara minggu pertama dan minggu kedua serta di antara minggu kedua dan minggu ketiga. Dalam tulisan ini, perkenankan saya membagikan sedikit dari pengalaman saya dalam Retret Agung 30 hari.

Disposisi Batin dan Proses Doa

Sabtu, 20 November 2021 adalah hari pertama untuk memulai perjalanan rohani saya dalam Retret Agung 30 hari. Saya memulai Retret Agung bersama 13 teman seangkatan saya. Retret Agung dibuka pada sore hari dengan Perayaan Ekaristi Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam. Awalnya saya tidak begitu yakin dengan keberhasilan Retret Agung ini. Namun, para formator sebagai pembimbing retret kali ini memberikan kami semangat dengan mengatakan bahwa dalam doa yang sungguh- sungguh dalam retret, kami akan bertemu dengan Dia yang memanggil kami dalam panggilan suci ini. Oleh karenanya, begitu memulai mendoakan bahan doa, saya mencoba untuk lebih tenang dan berserah kepada Roh Kudus sendiri yang menuntun jalannya Retret saya.

Minggu pertama menjadi hari-hari yang cukup berat bagi kami para pembuat doa. Mengunakan tema “Jalan Pemurnian: Dosa dan kasih Allah”, kami mulai dengan mengkontemplasikan dan memeditasikan mengenai dosa-dosa yang selama kami buat dalam hidup kami. Tema ini didoakan selama 5 hari. Bahan doa minggu pertama ini membuat tak sedikit dari kami mengalami situasi desolasi. Kami merasa tak layak di hadapan Sang Pemanggil kami. Setelah kami diajak untuk merenungkan dosa-dosa dan juga akibat dosa (“neraka abadi”), kami diajak untuk merenungkan kasih Allah itu sendiri. Pengampuanan dan kerahiman Allah jauh lebih besar dan melampaui pemahaman juga kesadaran kami tentang dosa yang telah dibuat. Kami diajak untuk sekali lagi merasakan penerimaan seutuhnya dari Dia yang memanggil kami.

Pada minggu kedua, kami diajak untuk merenungkan perjalanan awal hidup Yesus dengan tema “Jalan Penerangan: Misteri Hidup Yesus”. Dengan kesadaran akan kasih dan cinta Allah dari permenungan minggu pertama, kami diajak bersama Yesus mengenali Diri-Nya dalam kehidupan-Nya sehari-hari. Selama 12 hari dalam doa-doa, kami mencoba merenungkan kehendak Allah untuk menyelamatkan manusia melalui Putera-Nya hingga kotbah Yesus mengenai upah mengikuti-Nya. Dalam doa-doa, kami juga diajak untuk berpuasa juga berpantang sebagai salah satu upaya untuk lebih menghidupkan doa dan ikut merasakan apa yang dialami Yesus selama perjalanan awal hidup-Nya. Pada minggu ketiga, kami diajak selama 7 hari untuk merenungkan dan berdoa dengan tema “Jalan Penerangan: Sengsara dan Kebangkitan Yesus”. Di sini kami diingatkan bahwa berpuasa bukan lagi

soal pilihan mau atau tidak. Lebih dari itu, bila mampu dan tidak mengganggu kesehatan, kami akan memillih puasa, lebih-lebih saat mendoakan bahan doa Jumat Agung dan Sabtu Suci. Kami diajak untuk merasakan (berempati) dengan segala hal yang dialami oleh Yesus. Kami diajak untuk mengidentifikasikan diri kami (para pembuat doa) sebagai Yesus yang mengalami kesengasaraan, wafat, dan akhirnya kebangkitan.

Pada minggu keempat, kami diajak selama 4 hari untuk “memilih” dengan tema doa “Jalan Persatuan: Aku Memilih Pilihanku”. Seperti yang tertulis dalam tema, kami sebagai pembuat doa diajak untuk memilih pilihan dalam panggilan (melanjutkan formatio di Novisat Ordo Salib Suci atau melanjutkan formatio di luar) dan nantinya dipersatukan dengan kehendak Allah sendiri dalam hidup. Kami diajak untuk berdiskresi dengan 2 pilihan yang sama-sama baik tersebut. Hingga pada akhirnya kami menentukan pilihan yang terbaik bagi diri kami masing-masing.

Sebuah Hadiah

Di akhir dari Retret Agung, saya sendiri mendapatkan suatu hadiah. Hadiah itu berupa kemantapan dan juga perasaan konsolasi yang hebat dalam panggilan untuk menjadi biarawan Ordo Salib Suci. Secara pribadi, perjalanan Retret Agung membawa saya sendiri mengenal lebih dalam siapa yang saya ikuti yaitu Yesus Kristus. Pengalaman dalam doa bersama Yesus membawa kedekatan yang mendalam terhadap-Nya. Retret ini juga membawa dalam diri saya suatu cara pandang baru terhadap Tuhan, diri saya, orang lain, Gereja, komunitas (Ordo Salib Suci), dunia bahkan panggilan saya sendiri. Pengalaman berjuang dalam doa dan keheningan hingga mencapai titik jenuh dan berat menjadi pengalaman berharga sekaligus hadiah yang tak dapat dibeli dengan apa pun.

Pengalaman Retret Agung adalah pengalaman yang membawa saya semakin yakin untuk menjalani panggilan sebagai seorang Novis Ordo Salib Suci. Hal itu pula yang dirasakan oleh teman-teman satu angkatan. Saya sendiri amat bersyukur dan berterima kasih atas pengalaman Retret Agung ini. Harapan kedepannya buah-buah dari Retret Agung ini menjadi inspirasi dan ajakan untuk tetap melanjutkan program Retret Agung 30 Hari bagi para Novis Ordo Salib Suci.

+In Cruce Salus

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.