Dokumen · VII
Salib Kristus Keindahan Paradoksal Kumpulan Lectio Crucis untuk Hari Raya Salib Suci
Liturgi Ordo · 2014
SALIB KRISTUS: KEINDAHAN PARADOKSAL Kumpulan Lectio Crucis Hari Raya Salib Suci SALIB KRISTUS: KEINDAHAN PARADOKSAL Kumpulan Lectio Crucis Hari Raya Salib Suci Komisi Spiritualitas Ordo Salib Suci (OSC) Provinsi Sang Kristus Indonesia PRESS Hak Cipta© Penerbit Unpar Press Hak Cipta dilindungi…
Dokumen · VII
Isi dokumen
SALIB KRISTUS:
KEINDAHAN PARADOKSAL Kumpulan Lectio Crucis Hari Raya Salib Suci
SALIB KRISTUS:
KEINDAHAN PARADOKSAL Kumpulan Lectio Crucis Hari Raya Salib Suci Komisi Spiritualitas Ordo Salib Suci (OSC) Provinsi Sang Kristus Indonesia
PRESS Hak Cipta© Penerbit Unpar Press Hak Cipta dilindungi Undang-undang. Dilarang memperbanyak isi tulisan ini dalam bentuk dan cara apapun, termasuk fotocopy, tanpa ijin tertulis dari penerbit. ISBN ................................. Salib Kristus: Keindahan Paradoksal Kumpulan Lectio Crucis Hari Raya Salib Suci Komisi Spirtualitas Ordo Salib Suci Provinsi Sang Kristus Indonesia Agustus 2015 Sunting dan Gambar : Peter Elvin Atmaja Sampul dan Tata Letak : Tjatur Herianto Diterbitkan oleh:
Unpar Press Jl. Ciumbuleuit 94, Bandung (022) 2035286
Kontributor:
Gerardus Quivinus Reijners, OSC F. X. Rudiyanto Subagio, OSC Ignatius Eddy Putranto, OSC Antonius Subianto Bunjamin, OSC Agustinus Rachmat Widiyanto, OSC Hadrianus Tedjoworo, OSC Martua Leonardus Samosir, OSC Onesius Otenieli Daeli, OSC Joseph Souw Hong Goan, OSC Ignatius Thomas Yan Sunyata, OSC
DAFTAR ISI DAFTAR ISI ………………………….......................... vii SALAM REDAKSI ………………...………………….. ix KATA PENGANTAR …………………….………….… xi SPIRITUALITAS SALIB DALAM SEJARAH ORDO SALIB SUCI Gerardus Quivinus Reijners, OSC ...……………….… 1 SALIB SEBAGAI JALAN AGAR HIDUP MANUSIA MENJADI UTUH DAN PENUH F.X. Rudiyanto Subagio, OSC …………………….... 53 SALIB: SEBUAH LEGASI KEJAYAAN Ignatius Eddy Putranto, OSC ………………………. 63 SALIB ILAHI ITU SKANDAL MANUSIAWI Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC ………...… 73 SALIB KRISTUS SEBAGAI TERANG KEHIDUPAN Agustinus Rachmat Widiyanto, OSC ………..…….. 85 FENOMENOLOGI SALIB:
KETAATAN YANG TAK TERPAHAMI, KETAATAN KARENA CINTA Hadrianus Tedjoworo, OSC ………………...……… 97 KEJAHATAN DAN KETIDAKINDAHAN MEMPERTANYAKAN SALIB KEMENANGAN Martua Leonardus Samosir, OSC …………....…... 107 Kumpulan Lectio Crucis vii
SALIB: IDENTITAS DALAM AKSI Onesius Otenieli Daeli, OSC ……………..…..….... 117 SALIB: SIMBOL KEPEMIMPINAN (YESUS YANG) SEJATI Joseph Souw Hong Goan, OSC ……………...…... 131 SPIRITUALITAS PARA KROSIER Ignatius Thomas Yan Sunyata, OSC …………….... 137 PARA KONTRIBUTOR ………....………………..... 161 Komisi Spiritualitas OSCviii
SALAM REDAKSI Dalam rangka melestarikan buah-buah reflek-si tentang Salib dari awal pendirian Ordo Salib Suci sampai kini, Komisi Spiritualitas Ordo Salib Suci (OSC), menerbitkan kumpulan tulisan dari beberapa konfrater menjadi buku yang kita baca saat ini. Refleksi-refleksi dalam buku Salib Kristus: Keindahan Paradoksal ini diawali dengan sejarah tentang Salib Suci, makna, inspirasi dan tantangan melompati beberapa titik patah. Kemudian, kami sajikan tulisan-tulisan hasil refleksi para konfrater yang diejawantahkan dalam bentuk lectio crucis setiap tanggal 14 September sejak 2007-2014. Kum-pulan refleksi tersebut sarat makna dan bernuansa kontemporer atau kontekstual sehingga mudah dicerna.
Adapun proses penghimpunan dan rencana penerbitan kumpulan refleksi ini sudah dimulai oleh para anggota Komisi Spiritualitas sebelumnya. Syukur kepada Allah, akhirnya rencana tersebut terealisasikan di pertengahan tahun 2015 ini. Harapan kami, semoga kumpulan tulisan ini menjadi sumber untuk menimba motivasi dan inspirasi bagi kita, para Krosier, terutama bagi anggota muda yang masih berada pada jenjang formatio. Bahkan, buku ini diharapkan mampu meng-inspirasi setiap umat beriman yang membaca-nya. Semoga kumpulan tulisan ini bukan merupakan akhir, tapi justru merupakan awal untuk memacu Kumpulan Lectio Crucis ix
studi lebih lanjut tentang penghayatan Spiritualitas Salib dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, refleksi Salib ini mampu memberikan kekuatan dan pengharapan bagi mereka yang mengalami salib sebagai penderitaan; karena di dalam Salib ter-letaklah keselamatan–In Cruce Salus!
Dengan tulus ikhlas dan kerendahan hati, kami haturkan limpah terima kasih kepada:
(1) Provinsial dan Dewannya yang mendukung dan menyetujui penerbitan buku ini.
(2) Para Konfrater yang sudah mengisi buku sederhana ini dengan tulisan sarat makna. (3) Rekan-rekan Komisi Spiritualitas OSC Periode 2013-2016 atas kerja sama yang baik;
Rutten, Hendra, Mardi, Lukas, Sangker, Felix, Fr. Elvin.
(4) Para frater Skolastikat yang telah membantu proses pembuatan buku ini; Fr. Elvin selaku editor, Fr. Tjatur yang mengerjakan lay-out, dan Fr. Reno yang telah mengetik ulang artikel terjemahan Rutten.
Salam Krosier Selalu.
Alloysius P. Setitit, OSC Ketua Komisi Spiritualitas OSC Provinsi Sang Kristus Indonesia (2013-2016) Komisi Spiritualitas OSCx
KATA PENGANTAR Buku Salib Kristus: Keindahan Paradoksal ini merupakan kumpulan refleksi tentang salib yang disampaikan dalam perayaan Pesta Pemuliaan Salib Suci oleh para Konfrater OSC Indonesia. Buku ini lahir sebagai pemenuhan amanat Relik Kapitel Pro-vinsi Sang Kristus tahun 2010. Melalui buku kum-pulan Lectio Crucis ini, akan dipaparkan pemaknaan Salib dalam lintasan sejarah sebagaimana diungkap-kan dalam artikel Gerard. Q. Reijners. Artikel ini diterjemahkan oleh Anton Rutten dari Bahasa Belanda ke Bahasa Indonesia. Dalam artikel tersebut, Reijners menekankan makna simbolik salib yang menandai para laskar salib. Salib merah putih melam-bangkan keberanian dan kemurnian hati; warna merah menunjuk pada kasih dan keberanian, dan warna putih menunjuk pada kesucian hati. Salah satu bagian penting dari artikel tersebut, terdapat dalam kutipan berikut, “Spiritualitas Salib dalam Ordo kita pada waktu Abad Pertengahan sangat terpengaruh oleh pendirian legendaris Ordo di Yerusalem dan kultus terhadap relikwi Salib Suci di sana. Terbukti dari pemilihan kedua hari pesta salib: Penemuan Salib (3 Mei) dan Pemuliaan Salib (14 September), yang membawa kita kembali ke Yerusalem dan kultus salibnya. Liturgi pesta-pesta ini menekankan keme-gahan kemenangan salib dan bukan penderitaan di salib”. Semboyan-semboyan bertemakan salib mun-cul, seperti In hoc signo vinces, In Cruce Salus, Cruce Signati, dan lain-lain.
Kumpulan Lectio Crucis xi
Peristiwa Salib, di mana Yesus mengalami penghinaan, cercaan, perendahan, pelucutan mar-tabat kemanusiaan, menjadi momentum untuk menunjukkan kedalaman dan keutuhan atau totalitas cinta Allah kepada manusia. Hal ini ditekankan oleh Rudiyanto dalam artikelnya “Salib sebagai Jalan agar Hidup Manusia menjadi Utuh dan Penuh”. Keutuhan manusia itu dibangun dalam relasi dengan diri sendiri, dengan sesama, dengan alam semesta, dan dengan Tuhan. Di akhir artikelnya, Kfr Rudi mengambil inspirasi dari teolog pembebasan Miguel Diaz, “Yesus bergerak dari Galilea, bersama dengan sang terbuang dan tertindas, yang berkonfrontasi dengan struktur dan penindas. Yang terbuang dan tertindas, dibawa melintasi batas, dan masuk ke daerah pusat. Gerakan habis-habisan untuk tetap bertahan hidup, walau diancam kematian, itulah kebangkitan. Kebangkitan membuat kematian tak lagi berdaya sengat. Dalam semangat kebangkitan, kematian adalah tidur dalam damai, karena ada Sang Abba yang akan membangunkan kembali.”
Eddy Putranto menggali makna salib sebagai upaya membangkitkan kesadaran tentang salib sebagai sebuah legasi kejayaan. Pada zaman Kaisar Konstantinus, Salib menjadi simbol ampuh yang menggelorakan semangat heroisme para tentara dalam meraih kemenangan dan kejayaan kekaisaran Roma. “Pesta Salib Suci adalah saat kita (para Kro-sier) secara khusus masuk ke dalam narasi salib untuk semakin menekuni dan memahami legasi Salib Suci yang berujung pada pemantapan identitas kita sebagai pejuang salib”. Sebagaimana peristiwa Komisi Spiritualitas OSC xii
penyaliban terjadi di luar gerbang kota Yerusalem sebagai pusat kekuasaan, maka heroisme salib menantang kita untuk pergi ke daerah pinggiran, kepada kaum marjinal, dan meninggalkan zona kenyamanan kita untuk mewartakan kabar sukacita Injili. Dalam konteks ini, salib mengajak kita untuk solider dengan mereka yang berada di daerah pinggiran, membangkitkan harapan hidup bagi orang-orang yang terbuang, dan memanusiakan orang-orang yang selama ini dipinggirkan oleh sistem kekuasaan. Hal ini sejalan dengan apa yang diserukan oleh Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium No. 24.
Apa yang indah dari Salib yang keji dan brutal tempat Yesus menjalani hukuman mati? Apa yang dimaksud dengan keindahan salib (The beauty of the Cross)? Keindahan salib dimanifestasikan dalam cinta Yesus yang memberikan diri-Nya demi keselamatan manusia. Keindahan salib terletak dalam tujuh poin sebagaimana dipaparkan oleh Mgr. Anton Subianto dalam artikelnya, “Salib Ilahi itu Skandal Manusiawi”. Keindahan salib terletak dalam: (1) realitas kurban yang berharga, (2) realitas keselamatan yang terjadi atas inisiatif Allah, (3) realitas rekonsiliasi abadi dan restorasi gambar ilahi, (4) realitas cinta Allah dan belas kasih ilahi, (5) realitas manusia yang berharga di mata Allah, (6) realitas penyerahan manusia pada Allah, (7) realitas hidup itu sebuah paradoks. Ketujuh unsur tersebut merupakan dimensi estetik salib, kalau orang melihatnya dari cara berpikir dan perspektif Allah.
Kumpulan Lectio Crucis xiii
Agus Rachmat melalui artikelnya yang berjudul “Salib Kristus sebagai Terang Kehidupan”, dengan berangkat dari kisah tragis, dramatis, sadis, dan traumatis pembantaian orang-orang Yahudi di kamar gas Auschwitz, menggarisbawahi unsur skan-dal dosa salib dan memaparkan interpretasi salib berdasarkan pengalaman korban yang tidak bersalah dan pengalaman Yesus sendiri. Salib membangkitkan kenangan atas kisah dramatis sengsara dan kematian Yesus yang diinterpretasikan dengan dua formula because of you (“oleh karena kamu”) dan formula for you, for our sake (“untuk kamu dan untuk kita se-mua”), hampir sama dengan kata-kata Konsekrasi dalam Perayaan Ekaristi.
Pada awalnya, salib diartikan dan dipahami sebagai bentuk hukuman bagi penjahat kelas kakap, seperti pemberontak dan pembunuh. Dalam konteks inilah hukuman mati di salib yang dialami oleh Yesus pun diinterpretasikan sebagai konsekuensi dari tindakan Yesus yang oleh penguasa politik dan agama Yahudi dianggap sebagai “pemberontak, perusak tradisi, dan provokator”. Tedjoworo memberi perspektif lain dalam menginterpretasikan peristiwa penyaliban melalui artikelnya yang berjudul “Fenomenologi Salib: Ketaatan yang Tak Terpahami, Ketataan karena Cinta”. Yesus sampai pada salib karena ketaatan dan cinta-Nya yang total dan radikal. Penyaliban Yesus merupakan titik kulminasi dari ketaatan Yesus kepada Allah dan cinta-Nya yang gratuit kepada manusia. Ketaatan total dan kerena cinta inilah yang seharusnya memberi inspirasi kepada kita dalam menghayati dan menghidupi kaul Komisi Spiritualitas OSCxiv
ketaatan kita. Ketaatan kita kepada atasan atau mereka yang memiliki otoritas bukan karena ketakutan, tetapi dipahami dan dihayati sebagai ungkapan cinta yang gratuit. “Kita tidak taat karena rasa takut dan kalah terhadap otoritas Bapa. Kita taat karena Cinta-Nya yang tak terpahami, tak teramal-kan, dan tak menuntut balasan. Di dalam Salib, Cinta itu melimpah ruah”.
Salib adalah simbol paradoksal. Di satu sisi, salib menampilkan kekejaman, brutalitas, kekerasan, perendahan dan pelucutan martabat kemanusiaan, penghinaan, dan hujatan. Akan tetapi di sisi lain, salib menampilkan keindahan spiritual: titik kulminasi ketaatan Yesus, pemberian diri Yesus, cinta-Nya yang total dan radikal, heroisme sang Pejuang keadilan, kebenaran, kemanusiaan dan keilahian, pengam-punan tanpa syarat bagi musuh, tawaran keselamatan, dan firdaus bagi penjahat yang bertobat. Paradoks salib sungguh nampak dalam peninggian melalui perendahan, kebebasan melalui ketaatan total, kemuliaan melalui perendahan atau pengo-songan diri, kehormatan melalui penghinaan dan hujatan, penebusan melalui penderitaan, menyelamatkan nyawa dengan kehilangan nyawa, kebangkitan melalui kematian, hikmat ilahi melalui kebodohan salib, dan berbagai paradoks lainnya. Paradoks salib ini ditekankan oleh Martua Leo Samosir dalam artikelnya yang berjudul “Kejahatan dan Ketidakindahan Mempertanyakan Salib Keme-nangan”. Santo Paulus mengungkapkan paradoks salib melalui suratnya kepada umat di Korintus, “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-Kumpulan Lectio Crucis xv
orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami mem-beritakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan, dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah” (1Kor. 1:22-24).
Melalui salib Yesus, Allah sungguh-sungguh merasakan dan mengalami pergumulan hidup manusia yang dilumuri darah dan bersimbah derita, Ia berbicara dengan menggunakan bahasa manusia, Ia makan makanan dunia, menyentuh aspek sen-sibilitas dan kebutuhan dasar manusia. Allah tidak pura-pura menderita, tetapi sungguh-sungguh menderita, mengalami hujaman paku, pedihnya luka bercampur keringat, beratnya salib yang menindih, merasakan sakitnya tusukan duri di kepala, mera-sakan kesendirian ditinggalkan oleh Allah yang adalah Abba, dikhianati oleh murid kepercayaan. Hal ini ditekankan oleh Onesius Ote Daeli dalam artikelnya, “Salib: Identitas dalam Aksi”. Di dalam pengalaman pastoral, salib sangat berperan sebagai sarana rekonsiliasi di antara dua kubu yang sedang bermusuhan dan juga mengajak orang untuk beraskese sebagaimana terjadi di kalangan orang-orang Asmat-Papua.
Banyak orang mengidentikkan salib dengan penderitaan, padahal tidak semua penderitaan yang dialami oleh manusia adalah salib. Dalam kenyataan hidup memang ada orang-orang yang mengalami penderitaan, kegagalan, kekecewaan. Tetapi, dalam Komisi Spiritualitas OSCxvi
perjalanan waktu, orang kemudian baru menyadari bahwa pengalaman kegagalan, penderitaan, dan kekecewaannya tersebut membawa mereka pada situasi yang menyenangkan dan membahagiakan. Itulah yang disebut a blessing in disguise. Souw Hong Goan memberi interpretasi salib demikian dalam artikelnya yang berjudul “Salib: Simbol Kepemimpinan (Yesus yang) Sejati”. Melalui pengorbanan-Nya di salib, Yesus menebus dosa-dosa manusia dan kehidupan baru diberikan.
Selanjutnya, dalam arti apa salib menjadi hikmat dan kekuatan Allah? Melalui salib Yesus, Allah menunjukkan keindahan, kebijaksanaan, dan ke-kuatan bagi orang-orang yang mampu melihat keindahan spiritual. Secara fisik, salib memang tidak menunjukkan keindahan pada dirinya, yang ada hanyalah yang mengerikan, brutalitas, suatu kejelekan. Akan tetapi, secara spiritual di dalam peristiwa salib, orang dapat melihat keindahan kasih, heroisme, dan pengurbanan diri Yesus demi keselamatan dan penebusan umat manusia. Bagi orang-orang yang tidak berbagi iman di dalam kristianitas, salib Yesus adalah batu sandungan dan tanda kebodohan. Berkaitan dengan heroisme, (alm.) Yan Sunyata menggarisbawahi pentingnya semangat heroisme bagi para Saudara Salib Suci. Semangat heroisme ini harus ditumbuhkembangkan dalam proses formasi dan diwujudkan melalui opsi pastoral yang diarahkan ke daerah misi dan daerah-daerah yang kurang. Hal ini dipaparkan dalam artikelnya yang berjudul “Spiritualitas para Krosier”, yang merupakan tulisan penutup buku ini. Kumpulan Lectio Crucis xvii
Semoga buku kumpulan Lectio Crucis ini mampu menginspirasi, memurnikan motivasi hidup beriman dan religiusitas, membuka cakrawala, membangkitkan heroisme, menumbuhkan kecintaan pada devosi salib, memperdalam spiritualitas salib, membantu menghayati dan menghidupi nilai-nilai yang terkandung dalam Spiritualitas Salib, serta memberi kekuatan dalam menghadapi pengalaman-pengalaman kontras negatif. Akhir kata, saya haturkan banyak terima kasih kepada para Konfrater yang telah menyumbangkan buah-buah refleksinya. Terima kasih pula kepada Komisi Spiritualitas Provinsi Sang Kristus Indonesia periode 2013-2016, yang telah berupaya dan bekerja sehingga buku ini dapat diterbitkan.
Laurentius Tarpin, OSC Magister Jeneral Ordo Salib Suci (2015-2021) Komisi Spiritualitas OSCxviii
SPIRITUALITAS SALIB DALAM SEJARAH ORDO SALIB SUCI Gerardus Quivinus Reijners, OSC Pengantar “Bagaimana para Saudara Salib menghayati Spiritualitas Salib dan bagaimana mereka memi-kirkannya di masa lalu?” Itulah penjelasan pada permohonan untuk menulis karangan tentang “Spiritualitas Salib” di masa lalu, sebagai persiapan untuk Simposium 1988. Banyak orang yang membaca permintaan ini dan tahu sedikit tentang sejarah Ordo Salib Suci akan menolak tugas terhormat ini. Mengapa saya bersedia menerimanya?
Pertama-tama, karena dari dulu saya punya perhatian untuk pemakaian simbol salib, lebih-lebih dalam Gereja muda. Selanjutnya, sebagai anggota Komisi Sejarah, saya sendiri merasa wajib aktif. Saya juga merasa wajib menulis ini sebagai tanda terima kasih kepada para konfrater, yang lima puluh tahun terakhir ini memberi diri untuk sejarah Ordo dan sekarang merasa sudah tidak mampu menulis tentang ini. Hasil penelitian mereka akan saya gunakan. Sumber kepustakaan yang luas dari Institusi Sejarah di Kota Bonn (Jerman-Ed.) juga mempermudah tugas saya ini. Tetapi, saya mengira bahwa pertanyaan mengenai spiritualitas kita dan berkaitan dengan itu pertanyaan tentang identitas kita, adalah masalah modern. Para pendahulu kita di Abad Pertengahan (antara kurang-lebih tahun 500 Kumpulan Lectio Crucis 1
sampai 1500) tidak akan bertanya seperti itu. Mereka lebih hidup dalam tradisi. Malahan di zaman Reformasi (abad ke-16), mereka hidup dalam suasana di mana pola hidup kristiani sangat otomatis. Pola hidup ini ditetapkan dalam adat dan kebiasaan. Di dalam ordo, ikatan tradisi diperkuat oleh Kapitel Jenderal, yang sedapat mungkin diselenggarakan setiap tahun oleh visitasi-visitasi. Identitas juga ditunjang oleh seragam Ordo yang merupakan tanda pengenal yang jelas satu sama lain, agar dikenal orang lain.
Di tahun 60-an dan 70-an, sebagian besar–saya kira–dari tradisi ini dan karena itu juga identitas kita, hilang. Dalam hal kehilangan itu, bukan kita saja yang mengalaminya. Tepat kalau dikatakan traditionsbruch (patah tradisi). Akhir-akhir ini banyak orang sadar– dengan ada rasa sakit-akan ’patah tradisi’ ini. Tidak tanpa alasan ada peribahasa: ”Geschichtlos macht Gesichtlos” (tanpa sejarah, berarti tanpa wajah). Orang lain juga bertanya kepada kita, ”Siapa kalian sebenarnya?” Saya senang dengan perhatian ini. Saya tidak pandang ini sebagai kerinduan akan masa lalu yang sudah lewat, tetapi lebih sebagai suatu refleksi mengenai identitas kita dan masa lalu kita. Yang dikatakan G. Chesterton tentang ‘tradisi’ dapat saya garisbawahi: ”Tradition does not mean that the living are dead, but that the dead are living” (tradisi tidak berarti bahwa yang hidup mati, tetapi bahwa yang mati hidup). Berangkat dari rasa hormat terhadap masa lalu kita, dan sekaligus dengan pandangan kritis terhadap masa lalu itu, saya menulis artikel ini. Komisi Spiritualitas OSC2
Bicara tentang spiritualitas, saya ingin menekankan bahwa hanya ada satu spiritualitas kristiani. Kristus yang kita kenal dari Injil adalah pusatnya. Sebagai orang kristiani, kita berusaha mengikuti-Nya meskipun selalu ada jarak. Perbedaan dalam spiritualitas kristiani hanya dalam pendekatan atau perbedaan aksen (intensionalitas-Ed.). Umpama-nya, seperti dalam devosi spesial yang diarahkan kepada Hati Kudus atau kepada Ekaristi. Sebagai anggota Ordo Salib Suci, kita mempunyai hak istimewa, bahwa misteri Salib–yang dalam misteri paskah tak terpisahkan dari kebangkitan–adalah intisari dari misteri Kristus. Karena itu, Spiritualitas Salib yang terutama bersifat Kristosentris dan cocok untuk segala zaman dan kebudayaan. Dari segi yang lain, konfrater kita di abad pertengahan merasa tidak perlu panjang lebar dimotivasi. Saya mendapat kesan bahwa para konfrater abad pertengahan tidak begitu rajin menulis seperti umpamanya anggota Devosi Modern (Devotio Moderna). Tentang spiritualitas mereka, kita mendapat banyak informasi. Ada hubungan dengan ”ama nescire” (mudah disebut: tidak tahu). Sederhana saja, saya tidak tahu! Bagaimanapun juga, rasa malu untuk me-nerbitkan sejarah Ordo baru dapat diatasi pada abad ke-17. Baru pada waktu itulah terbit beberapa karya tulis tentang sejarah Ordo, komentar atas Statuta, tulisan asketis, dan devosi, suatu cerita tentang instalatio St. Odilia (pemindahan tulang-tulang St. Odilia), dalam suatu riwayat hidup Theodorus de Celles. Penulisan artikel ini berangkat dari data-data lama yang langka, yaitu dari dokumen-dokumen yang Kumpulan Lectio Crucis 3
paling tua dan dari cerita awal mula Ordo. Lebih lama saya berhenti tentang Salib Merah-Putih kita. Untuk periode belakangan, saya dengan penuh syukur menggunakan ”Keputusan-keputusan dari Kapitel Jeneral” dari tahun 1410 sampai tahun 1786. Dari ketentuan-ketentuan ini, kita dapat menyimpulkan apa yang dianggap penting oleh pimpinan ordo. Dititikberatkan pada masa antara berdirinya Ordo (1210) sampai Revolusi Prancis (1789). Sesudah itu, mulai di dalam sejarah Ordo, suatu era baru. Perbedaan antara awal mula Ordo yang legendaris dan yang historis adalah perbedaan dalam pandang-an kita, bukan dalam cara berpikir Abad Pertengahan. Dalam tulisan ini, saya gunakan istilah “Saudara-saudara Salib” (kruisbroders = fratres crucis) karena dari semula begitu sebutannya dan juga digunakan di keputusan-keputusan Kapitel Jeneral dan dalam terbitan resmi Konstitusi kita, dan dipertahankan sampai 1960.
Pembaca harap memaklumi bahwa saya sewaktu-waktu menggunakan sedikit bahasa Latin. Kerap kali sederhana dan lebih jelas. Dalam penulisannya saya gunakan suatu “klasisisme” demi keseragaman dan mudah dikenal kembali. Pene-gasan-penegasan diperkuat dengan kutipan-kutipan yang dipertanggungjawabkan di catatan kaki. Pada akhir pengantar ini, saya ungkapkan harapan, semoga tulisan ini akan merangsang kita untuk memikirkan dan meneruskan penelitian tentang nilai-nilai rohani yang dihidupi para konfrater kita zaman dahulu. Semoga nilai-nilai ini menjadi dasar untuk perkem-bangan baru.
Komisi Spiritualitas OSC4
Kumpulan Lectio Crucis 5 1. Dokumen-dokumen yang Tertua dan Cerita Awal-Mula Ordo Nama Saudara-saudara Salib Dalam dokumen historis paling tua (oleh H. van Rooijen), sebagaimana dikutip dalam karyanya “Awal-mula ordo para Saudara Salib atau Tuan-tuan Salib”, kita selalu menemukan sebutan “prior et fratres (ecclesiae/ monasterii/ conventus/ ordinis) Sanctae Crucis” (prior dan saudara-saudara [gereja/ biara/ konven/ ordo] Salib Suci) yang sesekali disambung dengan “Ordinis Sancti Augustini” (Ordo Santo Agustinus). Kombinasi ”Saudara-saudara Salib” (Kruisbroders = fratres crucis) kembali muncul secara tetap dalam dokumen-dokumen ini.
Mengapa nama ini yang dipakai? Senang juga kalau kami dapat memberi keterangan terperinci, tetapi tidak ada di dalam dokumen-dokumen ini. Mungkin ada kaitannya dengan Gereja Salib Suci di Clairlieu (Belgia-Ed.) yang disebut dalam beberapa dokumen. Masih muncul pertanyaan, ”Mengapa Saudara-saudara Salib menetap tepat di gereja/kapel ini, atau mengapa gereja/kapel ini diberi nama Salib Suci?” Pertanyaan ini akan dibahas nanti. Sepertinya– saya kira–ini lebih daripada hanya kebetulan saja. Dasar yang lebih dalam adalah ”kebangkitan rohani” dalam abad ke-12 dan ke-13, di mana Perang Salib sangat berpengaruh. Ini memang membang-kitkan semangat besar di Prancis, Jerman, dan Belanda. Masalahnya adalah merebut kembali tempat-tempat yang paling suci untuk umat Kristen
dari tangan Muslim, yaitu Gunung Kalvari dan Makam Suci. Peninggalan yang paling nyata dan paling berharga adalah Salib Suci, kayu yang di atasnya Kristus wafat. Karena itu juga disebut ”Perang Salib” dan ”Perkara Salib”. Orang-orang yang ikut perang salib itu memasang salib di pakaian mereka. Kebe-rangkatan maupun kepulangan mereka sangat diperhatikan dan diurus. Dengan demikian, seluruh masyarakat secara langsung atau tidak langsung juga terlibat. Mereka menentukan suasana religius di Eropa Barat. Tepat pada masa ini muncul beberapa ordo yang dibaktikan pada Salib. Dalam konteks besar ini–saya kira-kita harus juga melihat berdirinya Ordo kita.
Dalam salah satu dokumen yang tertua, yakni surat dari Hendrik van Gelder, uskup terpilih dari Liege, tanggal 31 Desember 1248, para Saudara Salib disebut ”Crucis servitores ob reverentiam Crucifix, in cuius titulo et passio estis vos reverenter signati”. Nama tersebut diterjemahkan sebagai ”Pelayan-pelayan Salib untuk menghormati yang disalibkan, yang dalam nama dan pakaiannya, tanda sengsara (salib-Ed.) secara hormat diwujudkan”.
Cerita-cerita Awal Mula Ordo Bagaimana para Saudara Salib di abad ke-14 dan ke-15 menghayati kehidupan Ordo di permulaan dan kaitannya dengan Salib Suci (Salib Kristus-Ed.), menjadi jelas dalam cerita-cerita tulisan tangan mereka. Yang paling tua adalah suatu sajak yang dimulai dengan ”Ad colendum mente pura”. Menurut Henri van Rooijen OSC, sajak ini masih berasal dari Komisi Spiritualitas OSC6
abad ke-13. Salib menjadi sentral dalam sajak yang ditulis pada masa awal mula Ordo ini. Hal ini terbukti dalam ayat pertama:
“Haec est, inquam, crux beata Quae crucis est sacrata Christi pio pretio Cuius fide confirmata Et honore consecrate Floret haec religio (ordo).”
(Ini kan Salib terberkati Disucikan Darah Kristus Harga penuh kasih sayang Diperkuat iman karenanya Dibaktikan dengan hormat Berkembangnya ordo ini.)
Sesudah pujian Salib pada bagian pembuka, sajak dilanjutkan dengan kisah awal mula Ordo yang ”legendaris”. Diceritakan bahwa St. Helena mene-mukan Salib Kristus di Yerusalem dan memilih dua belas orang laki-laki untuk menjaga relikwi Salib yang berharga ini. Mereka memakai salib pada pakaian mereka dan disebut Saudara Salib Suci. Belakangan Saudara-saudara Salib Suci ini dimus-nahkan oleh para pengejar umat Kristen. Tetapi pada masa Bapa Paus Innocentius, ada lima imam dari Alemannia yang ingin menghidupkan kembali Devosi Salib. Bapa Paus menyetujui dan memberi mereka Regula Agustinus, di mana ia menguraikan cara hidup apostolis ini. “Ordo hidup kembali berkat Salib yang disembah” (revixit ordo sanus per crucem, quam coluit), bagian terakhir dari sajak ini memberi kita– biarpun masih agak samar–historisitas Ordo. Secara ringkas, diceritakan bahwa lima imam dari Alemannia pergi menghadap Paus Innocentius untuk mendirikan Ordo. Ia (Paus Innocentius IV, melalui bulla “Religiosam Vitam Eligentibus” (1248)-Kumpulan Lectio Crucis 7
Ed.) menyetujui niat mereka dan memberi kepada mereka Regula Santo Agustiunus. Dengan cara demikian, Ordo lama dihidupkan kembali. Dalam cerita mengenai awal-mula Ordo yang muncul belakangan, kita menemukan intisari ini kembali, tetapi diperkaya beberapa detail. Demikianlah kisah yang termuat dalam cerita prosa yang panjang lebar berjudul “In Honore Summi Regis” (Untuk Meng-hormati Maharaja). Sebagian besar dari cerita ini kita peroleh dari tulisan tangan dari abad ke-14 dan lengkapnya dari abad ke-15. Seperti dalam sajak tadi, di sini juga diceritakan pada bagian pertama legenda awal mula Ordo. Pada bagian selanjutnya, dikisahkan tentang penambahan salib di dada Saudara-saudara Salib yang pertama. Sebagaian berwarna merah dan sebagian lagi putih, mengingatkan pada darah dan air dari lambung Kristus.
Pada bagian cerita mengenai awal-mula historis, dikatakan bahwa lima imam dari Alemannia hidup menarik diri atau menyepi. Selanjutnya dikatakan bahwa salib yang berwarna merah pada pakaian mereka mengingatkan akan darah Kristus dan salib yang putih menjadi simbol kesucian. Bersama Simon dari Kirene, para Saudara Salib berniat–dalam mengikuti Kristus–memanggul salib-Nya dan menyanyikan Pujian Salib, supaya mendapat bagian dari jasa Salib (”ut per crucem sibi sentient” dari gratia benefica in praesenti et perennia in future). Komisi Spiritualitas OSC8
Dokumen ketiga dalam urutan kronologis adalah tulisan-tulisan dari Roermond dari sebelum tahun 1456, ringkasan pendek dari sejarah awal-mula Ordo kita. Biarpun sangat singkat, ada juga detail yang baru. Cerita dimulai juga dengan awal mula Ordo yang legendaris. Untuk pertama kalinya, disebutkan nama Quiriacus sebagai pemimpin para Pelayan Salib. Kaisar Yulian yang murtad, memus-nahkan kelompok ini. Dari lima imam–permulaan dari awal mula historis–dikatakan bahwa mereka berasal dari daerah Liege. Restu pendirian Ordo yang pertama, disebutkan berasal dari Paus Innocentius ke-III dan yang ke dua dari Innocentius ke-IV. Selanjutnya diberitahukan bahwa para Saudara Salib mengambil beberapa Statuta dari Dominikan dan juga dari ordinarium (ofisi) mereka. Mengenai salib di pakaian mereka diberi arti alegoris (mistis), warna ’merah’ menunjuk pada kasih dan ’putih’ pada kesucian hati.
Cerita awal mula ini, selanjutnya memberi kejelasan bagi Saudara-saudara Salib yang hidup di Abad Pertengahan. Mereka menyadari bahwa Ordo berawal mula di Yerusalem dan hidup mereka merupakan kelanjutan pada pelayanan Salib yang dimulai oleh Saudara-saudara Salib dari sana. Kesinambungan dengan Yerusalem, untuk orang abad pertengahan bukan suatu legenda yang saleh, tetapi kenyataan yang dihidupi, jelaslah antara lain bahwa Petrus Pincharius dalam Vestis Nuptialis memberitahu suatu fakta yang terkenal, bahwa Salib Merah-Putih kepunyaan Ordo kita diberikan oleh ”a sanctae mater Helena” (oleh Santa Ibu Helena). Kumpulan Lectio Crucis 9
Pestanya dalam Ordo, sejak 1417 ditingkatkan menjadi totum duplex (tingkat tertinggi), ”dirayakan”. Relasi yang kuat lainnya tampak dalam hubungan dengan uskup legendaris dari Yerusalem, Quiriacus. Pestanya dirayakan di Ordo sehari sesudah pesta Penemuan Salib, tanggal 4 Mei, jelasnya sejak 1483. Sejak 1590, hari pengenangannya diposisikan sebagai totum duplex, ob honorem ordinis, cuius patronus est (dengan hormat dari Ordo, dari padanya ia pelin-dungnya). Bahkan sejarawan Ordo seperti Henricus Russelius masih pada tahun 1635 menyebut Quiriacus sebagai institutor ordinis (pendiri ordo) dan Theodorus de Celles sebagai ordinis instaurator (pemulih ordo).
Menurut saya, Spiritualitas Salib dalam Ordo kita pada waktu Abad Pertengahan sangat terpengaruh oleh pendirian legendaris Ordo di Yerusalem dan kultus terhadap relikwi Salib Suci di sana. Terbukti dari pemilihan kedua hari pesta salib: Penemuan Salib (3 Mei) dan Pemuliaan Salib (14 September), yang membawa kita kembali ke Yerusalem dan kultus salibnya. Liturgi pesta-pesta ini menekankan kemegahan ”kemenangan” salib dan bukan penderitaan di salib. Aksen yang sama dalam spiritualitas salib juga kita temukan dalam kata pengantar ”Keputusan-keputusan Kapitel pem-bentukan kembali 1410”. Dalam dokumen itu, para definitor menyalami para prior dan para konfrater serta mengungkapkan harapan bahwa mereka in virtute Crucis trimphalis (berada dalam kekuatan Salib Megah). Salib ini menandai dan menginsyafkan Komisi Spiritualitas OSC10
kita untuk kembali kepada hidup membiara yang sejati dan mengusahakan kemajuan.
Salib Ordo yang Merah-Putih Salah satu hal menarik dalam cerita awal mula Ordo adalah perhatian yang diberikan kepada ’Salib Ordo’. Dalam sajak yang tertua hanya disampaikan bahwa Santa Helena menyuruh menjahit salib di atas pakaian para Saudara Salib yang pertama. Cerita yang kedua memberitahu bahwa salib itu berwarna merah dan putih, sebagai peringatan akan darah dan air dari lambung Kristus. Salib ini adalah salib Ordo dan tetap ciri khas Ordo Salib Suci.
Pada peti relikwi yang tua dari Santa Odilia tahun 1292, salib ini jelas kelihatan pada pakaian Saudara-saudara Salib. Memang di Abad Pertengahan diberi beberapa arti alegoris tentang salib ini. Dalam cerita kedua, hanya diceritakan tentang garis putih yang menunjuk pada kesucian. Dalam tulisan tangan dari Roermond, kita menemukan simbol ini: ”merah” menunjuk pada Kasih, ”putih” pada Kemurnian Hati. Dalam Vestis Nuptialis–karya yang ditulis tahun 1360 oleh Petrus Pincharius yang belakangan menjadi prior jeneral–diberi penjelasan (sensus moralis = alegoris) tentang salib merah-putih di mantel simbol untuk tobat dan tebusan dosa yang terutama dibutuhkan pada permulaan hidup membiara. Salib merah-putih di skapulir menunjuk pada nilai-nilai ilahi yang begitu penting untuk dapat maju dalam hidup rohani. Sebelah kanan garis putih adalah iman, sebelah kirinya harapan; bagian atas dari garis merah adalah cinta pada Tuhan dan bagian bawah cinta Kumpulan Lectio Crucis 11
pada sesama. Seluruh karya ini adalah penjelasan alegoris dari pakaian Ordo pada waktu itu, sekaligus juga dimaksud sebagai buku pegangan untuk hidup rohani para Saudara Salib. Dalam peninjauan alegoris tentang Salib Ordo kita dalam tulisan tangan abad ke-15 dari Huy, juga dikatakan garis merah menun-jukkan kasih kepada Allah dan sesama, garis putih pada kemurnian dan kesucian.
Dari data-data yang relatif dini, nyata bahwa Salib Ordo kita, untuk para Saudara Salib yang hidup di Abad Pertengahan lebih dari sekadar tanda pengenalan atau tanda yang membedakan. Pertama-tama, mengingatkan mereka akan darah dan air yang keluar dari lambung Kristus. Tetapi sebagai orang-orang Abad Pertengahan, mereka lebih senang dengan renungan alegoris. Itulah cara mereka ”berfilsafat”, itulah ungkapan mereka dari keter-ikatan mereka pada realitas religius. Demikan mereka memberi warna (dan bentuk) kepada Salib Ordo kita; suatu tafsiran yang menurut kita dicari-cari dan aneh.
Penjelasan alegoris seperti ini tidak kita temukan lagi dalam komentar atas Konstitusi dari Godefridus van Lit pada tahun 1632. Pandangannya lebih ke arah asketis-mistis. ”Kita ditandai”, tulisnya, ”dengan salib merah-putih pada dada kita sebagai peringatan akan darah dan air yang mengalir dari lambung Kristus yang bergantung di salib, supaya kita terus-menerus mengingat penderitaan dan kematian seperti mirre (kemenyan) harum dalam dompet kecil di dada (dari pengantin di Kidung Komisi Spiritualitas OSC12
Agung)”. Santo Bernardus mengajar kita, ”pende-ritaan Sang Penebus seperti dompet berisi mirre (Kidung Agung 1:13)”. Godefridus van Lit menam-bahkan: ”Kita membawa salib di pakaian kita tidak hanya untuk terus-menerus merenungkan pende-ritaan dan kematian Kristus, tetapi juga untuk mengikuti sebaik mungkin kebajikan-kebajikan-Nya”. 2. Salib dan Liturgi Karena liturgi dalam hidup Saudara-saudara Salib mempunyai tempat yang paling utama, menjadi penting untuk meneliti bagaimana Spiritualitas Salib diwujudkan dalam liturgi. Tepat sekali A. Ramaekers menunjuk pentingnya kenyataan, bahwa semua Gereja Ordo wajib dibaktikan kepada Salib Suci. Kaitannya antara Salib dan Liturgi sebenarnya sudah diungkapkan dalam bulla penyetujuan dari Innocentius IV, 1 Oktober 1248. Di dalamnya, ia secara istimewa melindungi Gereja Salib Suci di Clairlieu, ”di mana kalian mengikat diri untuk pelayanan ilahi”. Bahkan ia menghubungkan ber-dirinya Ordo dengan pelayanan dalam Gereja Salib Suci itu (ordo canonicus, qui... in eadem ecclesia institutes esse dinoscitur). Kebaktian mereka dalam gereja itu adalah pujian pada Salib Suci. Pembaktian semua Gereja pada Salib Suci dapat dimengerti dalam Statuta yang tertua. Ketentuan ini– dengan menunjuk pada Statuta pertama pada tahun 1417–sekali lagi diangkat dalam keputusan Kapitel Jeneral. Sayangnya, dalam Statuta 1925, ketentuan ini masuk dalam pasal tentang ’rumah-rumah’, karena dengan demikian hilang hubungan langsung antara Kumpulan Lectio Crucis 13
Spiritualitas Salib dengan Liturgi. Statuta 1962 sekadar suatu koreksi yang menggembirakan dengan mengangkat kembali ketentuan dari Statuta yang paling tua–dengan diberi restriksi: ”sejauh mung-kin”–sebagai yang pertama dalam pasal tentang ”kebaktian Ilahi” dan menambahkan motivasinya: ”Para Saudara akan merayakan Misa Mahakudus dan Ofisi Ilahi dalam kesatuan dengan intensi ilahi, yang di dalamnya, Kristus, terutama Altar dan Salib memuliakan Tuhan”.
Ketentuan ini, tentang semua Gereja kita yang dibaktikan kepada Salib Suci, tidak ditemukan lagi dalam Statuta yang diperbarui tahun 1980, walaupun dalam nomor 18.2 menunjuk pada hubungan Salib dan perayaan Ekaristi, tetapi tidak pada kaitan Kultus Salib dengan Ofisi.
Juga dari ketentuan-ketentuan yang lain dari Kapitel-kapitel Jeneral sejak 1410, nyatalah karakter liturgis dari Spiritualitas Salib. Begitulah Pesta Pemuliaan Salib (14 September) sejak 1411 di-rayakan dengan oktaf. Setiap Jumat, kalau tidak ada pesta orang kudus yang diwajibkan, diambil ofisi dan misa votif Salib Suci. Di hari di mana suffragia (doa tambahan) diselipkan, pertama-tama commemoratio crucis (peringatan salib) ditempatkan. Di Pesta Salib dan hari Jumat di lagu singkat dari priem (ofisi pagi) dibaca ayat: ”qui pependisti in cruce” (yang gantungkan diri pada salib) dan sebagai ayat sebelum yang terakhir:
Komisi Spiritualitas OSC14
Portemus in memoria Et preces et opprobria Christi coronam spineam Crucem, clavos et lanceam.
(Kita bawa dalam kenangan Dan doa dan keluhan Mahkota duri Kristus Salib, paku, tombak.)
Mulai Minggu Passio sampai dengan Rabu di Pekan Suci, dinyanyikan dua ayat terakhir: O Cruc ave, spes unica Hoc passionis tempore.
Pis adauge gratiam, Reisque dona veniam (Salam o Salib, harapan tunggal, Dalam masa passio ini.
Rajin menambah rahmat, Lagi menerima pengampun-an)
Te summa, Deus, Trinitas, Sollaudet omnis spiritus Quibus Crucis victoriam Largiris, adda praemium.
(Engkau Mahaluhur, Allah Tritunggal Dimuliakan selamanya Dimenangkan Salib Berlimpah tambah hadiah.)
Menarik perhatian bahwa pada keputusan Kapitel Jenderal ini juga dicantumkan motivasinya, ini sesuatu yang jarang terjadi dalam definisi-definisi: untuk menghormati Salib Suci dan untuk membang-kitkan kesalehan para Saudara. Dalam Graduale dari Yohanes van Deventer di Sint Agatha, kita menemukan 15 sequentia (madah) Salib Suci yang dinyanyikan pada Pesta-pesta Salib dan di Misa Votif Salib Suci. Dalam madah-madah ini, sangat dominan nuansa kegembiraan karena penebusan yang di-sumbangkan oleh Salib. Prosesi juga diwajibkan pada Kumpulan Lectio Crucis 15
dua Pesta Salib Suci oleh Kapitel Jenderal 1485. Kesemarakannya membuat Ordo ingin meraya-kannya. Sudah sejak kira-kira 1360, Petrus Pincharius menganjurkan para Saudara Salib untuk menghubungkan renungan tentang penderitaan Tuhan dengan tujuh waktu ofisi. Ia mengutip sajak ini:
Haec sunt septenis, propter quae psallimus, horis Matutina ligat Christum, qui criminal purgat; Prima replete sputis; causam dat Tertia mortis; Sexta Cruci nectit; latus eius Nona biptartite; Vespera deponit; tumulo Completa reponit. (Inilah tujuh waktu mendaras:
Pertama, Kristus diikat – memurnikan Dua, Diludahi – Tiga, Mati Empat, Disalibkan –Lima, Ditombak Enam, Diturunkan –Tujuh, Dikuburkan.)
Tiap kali dalam ofisi direnungkan apa yang diderita Kristus pada pukul itu. Godefridus van Lit juga mengulang anjuran ini tahun 1632 dan mengutip ayat yang sama. Yang terakhir ini sudah menun-jukkan suatu perkembangan dalam Spiritualitas Salib, yakni lebih menekankan penderitaan manusiawi Yesus.
Arah ini–walaupun tidak terlalu kuat–mendapat tanggapan dari surat-surat resmi dari Kapitel Jeneral. Demikianlah pada tahun 1428 sudah sepintas lalu Pesta Mahkota Duri (cronoa spinea Domini) disebut pada tanggal 7 Mei. Berarti pada zaman itu sudah dirayakan. Tahun 1483 dipindahkan ke 11 Agustus Komisi Spiritualitas OSC16
“propter conformitatem Alemanorum et Gallicorum” (untuk keselarasan Jerman dengan Prancis). Dalam Passionale abbreviatum (passio singkat) dari Biara Koln tahun 1440, disebut Pesta “Clavorum et Lancea” (Paku dan Tombak).
Dalam definisi 1501 kita baca, bahwa yang menyanyi “Sanguis Christi” (Darah Kristus) harus membungkuk dalam. Tahun 1589, Pesta Circumsio Domini (khitanan Tuhan Yesus) diangkat menjadi ‘totum Duplex’ karena hari itu merupakan ”sanquinem suum primum pro redemption generis humani effundit” (Darah-Nya yang pertama ditumpahkan untuk membebaskan umat manusia). Tahun 1504, Pesta Compassio Gloriose Virginis (belas kasih perawan termashyur) ditetapkan pada hari Jumat sesudah Minggu Paskah II.
Penelitian pada Calendaria dan Libri Ordinaria kita, yang masih cukup banyak disimpan, kemungkinan besar akan menghasilkan lebih banyak detail-detail. Di luar Ofisi Salib Suci yang dinyanyikan setiap hari Jumat, juga dikenal doa-doa Salib Suci– panjang dan pendek–umumnya untuk penggunaan pribadi. Yang panjang mempunyai madah, mazmur dengan antifon, bacaan Kitab Suci, sajak kecil, dan doa penutup. Yang pendek meniadakan mazmur dengan antifon dan bacaan Kitab Suci. Dalam doa penutup selalu disebut apa yang Kristus derita pada pukul itu di Jalan Penderitaan. Ofisi Salib Suci ini kita temukan antara lain di dua tulisan tangan dari biara Saudara-saudara Salib di Koln. Dari Saudara Salib, Albertus Tonsorius, kita tahu bahwa ia menerbitkan Kumpulan Lectio Crucis 17
Officium Sanctissimae Crucis dengan inspirasi dari Officium de Passio Domini dari Bonaventura. 3. Memoria Salib et Passio Domini: Ieiunium Crucis (Peringatan Salib dan Penderitaan Tuhan: Puasa Salib)
Bagian ini merupakan kelanjutan dari kedua pokok bahasan di atas, baik perihal memperingati Penderitaan Tuhan dan juga mengenai puasa pada hari Jumat. Dua-duanya mengenai praksis yang– seperti di liturgi–dikenakan pada seluruh komunitas biara.
Ingatan akan Salib dan Passio Tuhan Kapitel Jeneral 1520 menentukan bahwa siang hari pukul 12.00, lonceng harus dibunyikan: ”ob memoriam vivificae Crucis et Passionis Dominae, cui Ordo noster specialiter dedicator et (ob) populi devotionem” (untuk peringatan Salib yang menghidupkan dan Sengsara Tuhan, yang mana ordo kita secara khusus dibaktikan dan untuk devosi umat). Motivasinya menarik sekali, untuk ”Memperingati Salib yang menghidupkan dan Penderitaan Tuhan, yang dibaktikan secara istimewa oleh Ordo kita”. Penting tambahannya, Passio Dominiae yang menunjuk kepada suatu perkembangan dan perluasan dari Spiritualitas Salib. Juga tambahan ob devotionem populi (untuk devosi umat) menarik perhatian. Hal ini menunjuk pada kepekaan pastoral yang lebih besar.
Komisi Spiritualitas OSC18
Tahun 1530, peringatannya menjadi ”semi liturgis”. Para Saudara Salib, pada siang hari pukul dua belas berkumpul di ruang makan lalu berdoa: ”Qui passus est pro nobis miserere nostri” (Yang mati untuk kami, kasihanilah kami), selanjutnya dijawab yang lain: “et respice nos propter nomen tuum” (dan perhatikan kami dalam nama-Mu). Kemudian diteruskan dengan madah terkenal dari liturgi Pekan Suci: ”respice quaesumus, Domine, super hanc familiam tuam, pro qua Dominus noster Jesus Christus non dubitavit minibus tradi nocentium et crucis subire tormentum ...” (perhatikanlah kami, keluarga-Mu ini, ya Tuhan, yang bagi kami Tuhan Yesus Kristus tidak ragu-ragu menyerahkan diri dan mengalami penyaliban...). Sebagai motivasi dari ketentuan ini, dikatakan: ”in memoriam dominae Passionis” (peringatan Penderitaan Tuhan). Ketentuan ini, dari tahun 1530, diangkat dalam Statuta 1660. Dalam perjalanan waktu, Lonceng Angelus pukul dua belas menggeser Lonceng Passio. Yang terakhir ini tidak dihilangkan tetapi dipindahkan ke pukul 15.00 sebagai memoria exsprirations Domini (peringatan Wafatnya Kristus). Puasa Salib Berpuasa pada hari Jumat adalah suatu kebiasaan yang tua. Di dalam Didache sudah disebut. Juga dalam Didascalia Apostolorum dari Syria dari abad ke tiga, dan Constitutiones Apostolorum dari abad ke empat sudah dikenal kebiasaan ini, yang konon sudah sejak para rasul. Sebagai keterangan Kumpulan Lectio Crucis 19
atas kebiasaan ini selalu diberikan frase ”karena penderitaan dan kematian Tuhan”.
Ordo kita juga melakukan kebiasaan puasa pada hari Jumat sejak dahulu. Di Statuta tua dan di ketentuan-ketentuan dari Kapitel tidak diberi alasan dari kebiasaan ini. Tahun 1434, Kapitel Jeneral menentukan bahwa para prior tidak mudah memberi dispensasi dalam pausa hari Jumat terutama antara Pemuliaan Salib (14 September) dan Paskah. Betapa serius maksud ketentuan ini, Kapitel 1485 menetapkan bahwa jika Natal jatuh pada hari Jumat, tidak boleh ada dispensasi dalam puasa dan pantang. Ketentuan 1434 diangkat dalam statuta 1660. Dalam terbitan Statuta 1868, secara eksplisit dinyatakan bahwa pada hari Natal ada dispensasi dalam puasa dan pantang. Kapiel-kapitel tidak memberi motivasi pada keputusan-keputusan. Petrus Pincharius lebih jelas mengatakan, ”Bapa-bapa kita dan para pendahulu dalam Ordo kita yang kudus...
memutuskan secara kompak, kita selama seluruh tahun dan dari Pemuliaan Salib sampai Paskah bersama Kaisar Heraclius memuliakan Salib kita masing-masing tanpa berhenti berpuasa.” Puasa ini dilihat oleh Petrus Pincharius sebagai pemuliaan Salib.
Godefridus van Lit menamakan–dalam komen-tarnya pada Statuta–puasa pada hari Jumat sebagai ”Puasa Salib Suci”, dan menambah pen-jelasan: ”Dalam Ordo, kita berpuasa pada hari Jumat untuk menghormati penderitaan Kristus”. Dalam Statuta 1925, untuk pertama kalinya secara tegas Komisi Spiritualitas OSC20
ditambahkan pada ketentuan dari 1434: ”karena puasa ini terutama dilaksanakan untuk menghormati Salib Suci dan Penderitaan Tuhan”. Motivasi ini juga diulangi pada edisi 1962. Dalam Statuta yang diperbarui tahun 1980, tidak ada aturan sama sekali tentang puasa Ordo.
4. Spiritualitas Salib dalam Tulisan Saudara saudara Salib Cerita-cerita awal-mula Ordo yang tertua dan Keputusan-keputusan Kapitel-kapitel Jeneral mem-beri pegangan yang cukup untuk menentukan bahwa salib dalam sejarah Ordo dihidupi sebagai simbol penebusan, sebagai tanda kemenangan atas maut. Penghayatan atau pemaknaan seperti ini tepat sekali digambarkan dalam Introitus (lagu pembukaan) Pesta Salib Suci: Nos autem gloriari oportet (Kita harus bangga karena...) Begitu pula pada slogan yang dipilih Ordo: In Cruce salus (Keselamatan dalam Salib). Pelayanan dari Saudara-saudara Salib ialah pertama-tama menyanyikan pujian pada Salib. Cara pandang ini seluruhnya sesuai dengan Spiritualitas Salib dari Timur dan Barat dalam “masa jaya” pada Abad Pertengahan, di mana kegembiraan karena penebusan oleh Salib dominan. Pada akhir Abad Pertengahan, sedikit demi sedikit mulai menguat arah atau orientasi kebaktian ke arah misteri Kristus yang lain. Berkembang perhatian misalnya, untuk kebaktian atau perenungan atas luka-luka Tuhan, terutama lima luka besar untuk alat penyiksaan (Mahkota Duri, Tombak, dan lain-lain). Banyak faktor Kumpulan Lectio Crucis 21
menunjang perkembangan ini. Tanpa mengakui lengkap, saya ingin menyebut yang berikut: • Perang Salib memberi perhatian kembali pada tempat-tempat suci di mana Yesus hidup dan mati, terutama di dalam dan di sekitar kota Yerusalem: Gunung Zaitun, Jalan Salib Kalvari, dan Makam Suci.
• Juga Santo Fransiskus–dan juga diikuti ”Gerakan Fransiskan”–sangat menyukai kema-nusiaan Kristus, dan terutama penderitaan Yesus menjadi tema kesukaan mereka dalam renungan mereka.
• Mistik penderitaan dari Santo Bernardus dari Clairvaux dan kemudian dari Bonaventura memberi dimensi afektif pada Spiritualitas Salib.
• Juga biografi-biografi Yesus yang penuh pera-saan di akhir Abad Pertengahan menunjang perkembangan ini. Di antara biografi-biografi ini, Vita Christi dari Ludof van Saksen (1370) yang pertama.
Apakah tren ini juga ditemukan dalam tulisan-tulisan para Saudara Salib? Sejauh kita dapat menilainya–dilihat dari sedikitnya materi yang kita punya dari abad-abad pertama dalam sejarah Ordo– kita ambil kesimpulan bahwa ada tendensi yang sama. Lebih kuat di tulisan-tulisan, daripada dalam surat-surat resmi dari Kapitel-kapitel. Komisi Spiritualitas OSC22
Petrus Pincharius, Vestis Nuptialis (1360) Tulisan tertua yang kita kenal dari seorang Saudara Salib ialah Vestis Nuptialis (+ 1360) oleh Petrus Pincharius, yang belakangan menjadi Prior Jenderal. Beberapa kutipan perenungan tentang penderitaan Kristus saya kutip sebagai berikut: ”Terutama seorang Saudara Salib”–Pincharius selalu menggunakan istilah Crucifero (pemanggul salib)–Pincharius menulis, ”...kita harus merenungkan Penderitaan Tuhan kita, Pemanggul yang unggul, Yesus Kristus. Hidup-Nya dan kematian-Nya harus setiap hari direnungkan dengan sungguh dan dengan dedikasi yang besar dan dari lubuk hati yang dalam, ikut menderita bersama Sang Penderita. Salah satu bentuk penderitaan itu ialah menjadi bahan tertawaan dan diolok sebagai ”tolol” karena menyandang Salib Tuhan pada pakaian dan dalam nama, tanpa salib itu tergores juga dalam hati. Kalau mau jadi seorang Saudara Salib, terimalah salib dengan suka hati”. Pincharius menekankan renungan harian tentang salib dan penderitaan Tuhan dan ingin membangkitkan rasa kasihan. Ia juga meng-gambarkan secara gamblang detail-detail dari penderitaan itu: ”Pandanglah keringat berdarah, cercaan dalam pukulan di muka-Nya, garangnya bilur-bilur cambuk, mahkota duri, diludahi sambil diejek, beban yang menyesakkan dari salib, dipakukan pada salib itu, patahnya mata-Nya, kepala yang tunduk...” Pincharius mengatakan bahwa ”Tidak Kumpulan Lectio Crucis 23
ada yang lebih berfaedah, untuk seorang Saudara Salib, daripada merenungkan penderitaan Kristus...” Tetapi juga muncul renungan penderitaan yang lebih mistik dalam karya Pincharius:
”Seluruh kepenuhan rahmat dan kemegahan mengalir kepada kita dari penderitaan Kristus. Karena lambung-Nya yang terbuka menghasilkan untuk orang kudus suatu celah untuk memeriksanya. Karena dipaku kaki dan tangan-Nya, kita dikuatkan dalam pandangan benar. Karena rasa empedu dan cuka, Ia mendapatkan pembiusan kasih, yang Ia rindukan. Lihat Kristus yang bergantung di kayu salib untukmu. Ia menundukkan kepala untuk ciuman perdamaian. Ia merentangkan tangannya untuk memeluk, suatu tanda bahwa Ia menerima kamu kembali dalam kurnia. Lambung-Nya terbuka dan daripadanya mengalir harga penebusan kita. Paku-paku menembus kaki dan tangan, suatu bukti bahwa Dia ingat kita... Ditelanjangkan badan-Nya jadi petunjuk supaya kita harus menelanjangi hati sanubari kita di sakramen pengakuan. Ia memanggul salib dan jadi teladan yang minta kita mengikutinya...”
Dalam kutipan terakhir ini sudah kedengaran motif imitatio (meniru teladan Kristus). Terhadap imitasi ini, Pincharius menunjuk lebih eksplisit: “Seorang Saudara Salib harus setiap hari merenungkan Penderitaan Tuhan, bukan saja berterima kasih tetapi juga untuk mengikuti dan dengan sungguh-sungguh dalam kebenaran mengi-kuti jejak-Nya.” Ia juga berpesan, “Saudara Salib, ikutlah pelopormu dalam kerendahan hati supaya Komisi Spiritualitas OSC24
kemudian hari dimuliakan bersama-Nya... bukti kasih kepada Allah, yang paling jelas ialah, kalau Saudara Salib karena kasih kepada Tuhan yang tersalib, memangul salib dengan senang dan dengan segala ketabahan.” Kutipan-kutipan yang ditampilkan dalam bagian ini mengungkapkan perasaan dan pemikiran seseorang yang dengan segenap hati dan jiwanya menjadi ”Saudara Salib”.
Devotus Libellus de Perfectione Fratrum Sanctae Crucis (Buku Devosi tentang Kesempurnaan Saudara-saudara Salib Suci)
Saksi kedua dari Spiritualitas Salib ialah seorang Saudara Salib–nama tidak diketahui–yang menyumbang traktat ”De Perfectione Fratrum Sanctae Crucis” (tentang kesempurnaan Saudara Salib Suci). Karya kecil ini kita temukan dalam tulisan-tulisan abad ke-15, berasal dari biara Ordo Salib Suci di Koln. Dapat diragukan karya ini dari Saudara Salib, tetapi yang mengolahnya (+ 1439) jelas seorang Saudara Salib. Disingkat isinya seperti berikut: ”Salib yang dipasang di pakaian Saudara Salib adalah gambar dari Salib Kristus. Karena itu harusnya Kristus Tersalib menjadi cambuk untuk Saudara Salib supaya ketaatannya sempurna, pantang dan kemiskinan, total dan murni sepenuhnya.” Dari prakata renungan penderitaan Kristus, berikut ini disajikan dua fragmen: ”Kamu, orang Allah, Saudara Kristus, dalam Salib yang kamu bawa, tergambar bentuk Salib Kristus. Dalam penderitaan ada tiga tingkat tinggi yang dapat dijabarkan semuanya, (1) perampasan seluruhnya sampai Kumpulan Lectio Crucis 25
ditelanjangi, (2) penghinaan dan pencemoohan, (3) penebusan dan penderitaan fisik.”
”Kamu, Pelayan Allah, saudara dari yang Tersalib yang sudah duduk di meja Sang Raja, lihatlah salib yang dipasang di dadamu. Perhatikan apa yang disodorkan, kamu yang tahu bagaimana mempersiapkan diri. Sekarang giliran kamu, sekarang kamu harus memanggul salib. Sesuaikanlah kemiskinanmu dengan kemiskinan Kristus, penolakan terhadapmu dengan diolok-olokan-Nya, dendammu dengan penderitaan jasmani-Nya, sejauh kamu bisa. Buatlah badanmu menjadi suatu persembahan oleh puasa dan kerja, dan hatimu oleh ketaatan... Persembahkan dua-duanya oleh kesucian dan kemurnian yang total.”
Melalui kutipan-kutipan ini, sudah terwakili inti seluruh karya kecil ini. Panggilan untuk imitasi (meneladani) Kristus yang menderita diterapkan pada tiga kaul dengan kemiskinan sebagai penekanan utamanya. Oleh karena itu, kemiskinan diuraikan secara panjang lebar.
Everardus van Orsoy, Sermo Kapitularis (1464) Suatu Sermo Kapitularis adalah khotbah yang disampaikan pada sidang pembukaan kapitel. Teks ini jelas dianggap penting karena semuanya disalin dan disimpan untuk anak cucu, diwariskan secara turun-temurun, dari masa ke masa. Dalam tulisan tangan tersimpan lebih banyak. Satu di antaranya disampaikan pada tanggal 29 April 1464 oleh Everardus van Orsoy, prior dari biara Bentlage. Dia Komisi Spiritualitas OSC26
lulusan dari Sekolah Saudara-saudara yang tersohor di kota Deventer (para anggota Devotio Moderna). Ia masuk biara Saudara Salib Suci di Bentlage dan dipilih prior pada tahun 1457. Sejak 1464, ia juga beberapa kali menjadi definitor. Tahun 1583, ia dipilih menjadi Prior Jenderal dan menjabat sampai 1493. Dari khotbah kapitel yang panjang “Ponite corda vestra in virtute eius” kita mengutip suatu fragmen dari bagian ketiga. Dalam bagian terakhir fragmen tersebut, Everardus mendorong para konfrater untuk ”ditelanjangi oleh Sabda Tuhan dalam Kitab Suci”, memikul dengan tabah Pikulan Tuhan dan “kemartiran” yang adalah hidup membiara. Kesempurnaan hidup membiara ialah mengingkari keinginan pribadi sesuai dengan teladan Dia yang datang untuk melaksanakan kehendak Bapa. Bagian itu terdapat dalam kutipan ini:
“Yang berusaha dimahkotai dengan mahkota kemartiran harus dengan rendah hati dan sabar menerima penyiksaan–begitulah hidup membiara–karena melihat nafsunya sendiri dan kelemahan lahiriah dan laku-lampah para Tersalib, yang kita, sesuai peraturan terpuji dari para Bapa-bapa pendahulu ’menggotong’ pada pakaian dan dalam nama kita.”
Sesudah itu, dilanjutkan dengan sebuah kutipan yang panjang dan terpakai dari Cassianus, di mana teks-teks Kitab Suci ”Christo cofixus sum Cruci” (aku telah disalibkan dengan Kristus, Gal. 2:19), dan Mazmur 118 (119):120, ”confige timore tuo carnes meas” (badanku gemetar karena ketakutanku) Kumpulan Lectio Crucis 27
diuraikan. Dari kutipan ini tergambar suatu sikap askese yang ketat.
Godefridus van Lit, Lucerna Splendens (1632) Dari abad ke-16 tidak tersedia teks-teks dari Saudara-saudara Salib mengenai Spiritualitas Salib. Namun di abad ke-17, kita melihat sejumlah besar naskah dicetak, terutama selama Augustinus Neerius menjabad sebagai Prior Jenderal dalam periode yang panjang (1619-1648). Salah satu naskah terpenting dalam periode itu adalah komentar pada Statuta Lucerna Splendens (Lampu Terang), karya Godefridus van Lit, prior biara Venlo (1614-1642). Karya ini dipersembahkan kepada Magister Jenderal Augustinus Neerius, kepada provinsial dari Provinsi Maas, Paulus Reiners, kepada Prior Biara Sint Agatha, Henricus Waltheri Verheijen, dan kepada semua konfrater.
Dalam Epistula Dedicatoria (Surat Pengantar), penulis memberitahu bahwa ia menulis karya ini untuk Ordo di mana ia sejak masa muda membaktikan diri dan bahwa tanda pengenal tertera pada pakaian dan pada nama, tetapi terutama dalam hatinya. Komentar didahului–sesuai kebiasaan zaman itu–oleh pelbagai puisi Latin, syair pendek, dan Chronica (perhitungan tahun). Dua chronica dari Saudara-saudara Salib, di mana tahun terbitnya (1632) dicantumkan, ingin saya sampaikan karena di dalamnya kita lihat Spiritualitas Salib: Komisi Spiritualitas OSC28
• CrVX MihI DVX esto (“salib adalah penuntun-ku”)
• CrVX DoMInI faX Vera (“salib Tuhan sungguh-sungguh oborku”)
(M=1000; D=500; C=100; X=10; V=5; I=1.
Dijumlahkan jadi: 1632).
Keseluruhannya memberi kesan yang sangat kuat dan menuntut studi pengantar yang banyak. Prior dari biara Venlo ini ingin menegaskan bahwa ketentuan-ketentuan Statuta masuk akal, dengan cara–sesuai metode Abad Pertengahan–banyak sekali kutipan-kutipan dari Kitab Suci, dari Bapa-bapa Gereja, dan penulis rohani yang lain. Dalam Epistola dedicatoria, ia mengungkapkan keinginannya supaya semua konfrater mengikuti Yesus Kristus yang Tersalib sebagai Terang dan Pemimpin. Dari komentar pada Statuta, berikut ini disajikan dua kutipan, yang pertama adalah pejelasan tentang Salib Ordo kita:
”Kita membawa pada pakaian kita alat penderitaan Kristus, bukan saja untuk setiap waktu merenungkan penyiksaan-Nya dan kematian-Nya, tetapi juga supaya segetol mungkin mengikuti kebajikan-Nya. Kalau kita tidak melakukannya–artinya, kalau laku-lampah dan kebiasaan biara tidak memadai–kita membawa alat itu (Salib) tanpa arti”.
Hal penting ialah merenungkan penderitaan Kristus terus-menerus, tetapi yang sama pentingnya ialah imitasi Kristus dalam hidup sehari-hari. Kutipan Kumpulan Lectio Crucis 29
kedua adalah sebagian dari uraian formula Kaul, yang sama dengan yang kita masih gunakan pada waktu kaul kekal. Berhubung dengan kata: ”secundum constitutionis Fratrum Sanctae Crucis” (sesuai dengan konstitusi para Saudara Salib), ia menulis tentang salib:
”Karena nama ini (fratres Sanctae Crucis) kita berbeda dengan ordo-ordo lain. Ordo-ordo lain mengambil nama dari tempat di mana didirikan atau dari salah satu kebajikan atau dari orang yang menonjol dalam kekudusan supaya dilindungi olehnya. Bapa-bapa pendahulu kami tidak tanpa alasan yang kuat ingin membedakan para anggota institut dengan gelar tenar ini. Pertama-tama supaya mereka ingat bahwa di bawah pimpinan Kristus dilaksanakan pelayanan mereka sebagai tentara Kristus”.
Selanjutnya, supaya mereka mengikuti panji-panji-Nya dan karena itu bersedia di belakang Kristus memanggul salib. Salib itu artinya ketekunan, pengorbanan, kesakitan, tekanan, pengejaran, ejekan, dan akhirnya mencurahkan darah-Nya dan menga-lami kematian.
Ketiga, supaya mereka selalu menengadah kepada Yesus, yang ”membuat dan menyelesaikan iman kita” (Ibr. 12:2). Kita ingin mengikuti Dia yang merupakan sosok ideal dan sempurna untuk diikuti. Artinya, kita hendak meneladani-Nya dalam berpikir, berbicara, dan berkarya. Dalam kutipan ini imitasi Kristus yang Tersalib juga ditekankan: ”Kemegahan kita ada dalam Salib Kristus dan terungkap dalam Komisi Spiritualitas OSC30
nama kita (Krosier-Ed.)”. Godefridus van Lit juga menerbitkan kumpulan 40 khotbah mengenai penderitaan dan kematian Kristus di salib. Ia mendasarkan pada teks-teks Kitab Suci dan kutipan-kutipan Bapa-bapa Gereja dan penulis gerejani lainnya seperti tampak dari judul teks tersebut. Khotbah-khotbah tentang Spiritualitas Salib itu mungkin menarik juga untuk diselidiki sewaktu-waktu.
Herman van Woestenraedt, Sidus Lucidum (1627) Herman van Woestendraedt, prior biara Saudara-saudara Salib di Liege (1593-1642) adalah seorang saudara yang hidup sezaman dengan Goderfidus van Lit. Terutama dalam sepuluh tahun terakhir hidupnya–ia meninggal tahun 1630– ia sangat aktif menulis. Ia menerbitkan di tahun 1621, kumpulan delapan khotbah untuk para biarawan, tetapi sampai sekarang tidak ditemukan satu eksemplar pun. Dari tangannya pula ditemukan gubahan puitis dalam disticha (sajak dua untai) dari Imitatio Christi karangan Thomas van Kempen (Thomas a Kempis-Ed.). Lagi pula, puisi penuh moral berjudul Canis Evangelicus (Anjing Injili), di mana ia mengritik pedas penyimpangan-penyimpangan dalam Gereja. Para rohaniwan juga dipaksanya untuk bersama dengan Kristus memanggul salib, menghindarkan bepergian, tetapi sebaliknya mencari keheningan dan pengasingan di biara.
Karya keempat berjudul Sidus Lucidum Peregrinatis Animae (Bintang Terang untuk Jiwa yang Mengembara). Seperti orang Israel melintasi padang Kumpulan Lectio Crucis 31
gurun dengan empat puluh dua perhentian (Bil. 33:1-49), begitu pula manusia mengembara di padang gurun kehidupan, di mana ia menerima ganjaran dari kebaikan dan dihukum karena kejahatan. Tema tentang empat puluh dua perhentian di jalan hidup kita ini sudah dikenal sejak zaman Origenes (2 M-Ed.).
Kutipan berikut dari karya ini lebih mengarah langsung ke Spiritualitas Salib. Kita malah menemukan suatu mistik Salib yang terinspirasi oleh Kidung Agung:
”kalau peziarah di bumi ini melihat jumlah musuh bertambah dan begitu pun serangan-serangan godaan-godaan... ia harus lakukan yang dulu dilakukan anak-anak Israel, yang menurut Kitab Suci menyembunyikan diri di batu karang dan gua-gua ketika mereka diserang oleh Filistea. Bukan batu karang dan gua-gua yang di Kidung Agung disebut: ’merpatiku bersembunyi di celah-celah batu karang?’ Batu karang itu, sesuai kata Paulus (1Kor.10:4), ialah Kristus sendiri. Lalu, celah-celah di batu karang ialah luka-luka dalam tubuh Kristus yang Tersalib. Dirundung oleh kekuatan, gangguan, dan pencobaan bagaimana pun juga... si peziarah harus masuk dalam batu karang itu... Doa yang diserukan dari celah-celah batu karang–artinya sambil memegang Kristus Tersalib dalam hati dan pikiran–sangat kuat dalam mengusir musuh-musuh. Pengantin dari Kidung Agung (1:13) mengetahui hal itu waktu mengatakan: ’Cintaku bagaikan dompet berisi mirre yang diletakkan di antara buah dadaku’. Yang dimaksud dengan mirre adalah suatu tumbuhan yang pahit–yang menurut Petrus Damianus–menunjuk pada penderitaan Kristus”.
Komisi Spiritualitas OSC32
Bagi kita, uraian dari kiasan ini mungkin terasa dicari-cari, tetapi kutipan ini menjelaskan kepada kita bahwa penerapan pada penderitaan Kristus, untuk si penulis, bukanlah sesuatu yang dipaksakan. Arnoldus Hertzworms, Vacantia Sacra (Libur Suci)
Bersamaan dengan terbitnya karya-karya Godefridus van Lit, Russelius mempublikasikan Chronicon Cruciferorum-nya (1635) dan Aegidius de Vrize menerbitkan gubahannya dari Vestis Nuptialis (1639). Kira-kira satu generasi kemudian, diletakkan karya tulis dari Arnoldus Herzworms (1625-1693), lektor teologi dan berturut-turut prior di biara Swarzenbroich, Maaseik, dan Venlo. Karyanya yang terkenal adalah Religio Sanctissimae Crucis (Pem-baktian pada Salib Tersuci), yaitu sebuah buku mengenai sejarah Ordo yang dimulai dari Rasul Petrus sampai masa Helena dan Quiriacus yang berperan seperti sudah kita ketahui.
Karya kedua berjudul Vacantia vel Vacatio Sacra (Libur Suci). Buku ini dimaksudkan sebagai pegangan retret. Sebab, sejak Kapitel Jeneral 1673, biara-biara diwajibkan menyelenggarakan retret tahunan. Selanjutnya, ia menulis buku-buku saleh untuk Kumpulan Persaudaraan dari Tritunggal Mahakudus untuk menebus budak dan untuk menghormati Santo Yusuf. Dari Vacantia Sacra, berikut saya sajikan dua fragmen. Yang pertama mengenai kesabaran sesuai dengan teladan Kristus yang menderita:
Kumpulan Lectio Crucis 33
”Kristus tidak pernah mengeluarkan kata ketidaksabaran. Dalam semua penghinaan, kekurangan sarana hidup, dan ejekan, ia selalu tutup mulut... Mengapa? Untuk kamu–pembaca yang berdoa–menjadi sabar karena Dia menanggung derita untuk kamu, supaya kamu, dengan menatap teladan-Nya, berbuat seperti Dia... Mengapa Kristus sendiri bilang, ’Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan mempertahankan hidupmu’ (Luk. 21:19)? Karena orang yang betul-betul sabar dalam sukacita dan tenang menguasai diri karena cinta kepada Kristus yang sabar, selalu akan memandang Kristus pemimpinnya dan pelopornya”.
Fragmen kedua merupakan renungan mengenai cinta Kristus di Salib:
”Lihatlah Cinta yang Kristus baktikan kepadamu karena kematian-Nya. Tepat dikatakan dalam Kidung Agung (8:6), ’karena cinta kuat seperti maut’. Pandanglah wajah tercinta Kristusmu... Lihatlah kepala-Nya tunduk untuk mencium kamu, lambung-Nya terbuka untuk menerima kamu di Hati-Nya, lengan-Nya diulurkan untuk memeluk kamu. Dengarlah, Kristus yang berkobar oleh cinta menanyai kamu, ’Engkau mengasihi Aku?’ Usahakan supaya dengan jujur dapat menjawab, ’Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau’ (Yoh 21:15)... Hampir seluruh Darah-Nya Kristus curahkan dari begitu banyak bilur dan luka; tinggal sedikit darah lagi di jantung-Nya. Ini juga diambil oleh tombak. Cinta Ilahi menghanguskan segala-galanya sampai tetas terakhir... Sebagai bukti cinta-Nya, mengalir dari lambung-Nya darah dan air, simbol dari dua sakramen cinta: Pembaptisan dan Ekaristi. Oleh yang pertama orang dilahirkan, oleh yang kedua oarng diberi makan. Luka lambung-Nya itu bersama dengan Komisi Spiritualitas OSC34
empat luka besar, oleh Kristus dibawa ke surga sebagai tebusan cinta. Kristus menyerahkan tebusan ini terus-menerus kepada Bapa karena cinta kepada kamu, untuk membela kamu dan untuk membuatmu menerima segala-galanya. Lihatlah, pembaca-pembaca yang berdoa, betapa Kristus mencintaimu. ’Cinta Kristus mendorong kita’, kata Rasul Paulus (2Kor.5:14) seperti dikatakan, mendesak kamu untuk membalas cinta-Nya... Beato Theodorus de Celles merenungkan setiap Jumat, dengan semangat cinta yang besar, tentang Kristus yang mati di Salib. Ia melakukannya dalam keterpesonaan mendalam sampai semua panca inderanya tidak berfungsi. Ia hanya mengatakan, ‘oh, Salib Tercinta...’.”
Kutipan pertama berciri asketis, yang kedua mempunyai kepekaan yang meditatif dan hangat, hampir patetis atau sangat menggetarkan hati. Teladan Theodorus de Celles dalam tulisan seorang Saudara Salib dianggap menyenangkan. Menurut saya, tidak mungkinlah semua ucapan tentang Salib dalam tulisan yang dikutip dapat disebut dengan satu pemahaman. Tidak dapat dipertanggungjawabkan pula jika kita–berdasarkan beberapa kutipan– membuat simpulan yang berlaku umum (gene-ralisasi-Ed.). Meskipun demikian, menurut saya ada hal yang betul umum, yakni tekanan pada askese Salib (’imitasi Kristus’). Semua penulis yang tulisannya saya kutip dalam artikel ini, menganggap penting sekali perihal penderitaan Kristus. Dalam beberapa karya, malah terlihat nuansa mistik penderitaan. Sayangnya, tidak ada ungkapan-ungkapan yang menunjuk kaitan antara Salib dan Kumpulan Lectio Crucis 35
Liturgi. Penekanan yang terlihat adalah korelasi antara Salib Ordo dan nama Ordo.
5. Spiritualitas Salib dalam Komposisi Perpustakaan Biara Di samping karya tulis dari Saudara-saudara Salib, komposisi perpustakan mereka di Abad Pertengahan juga merupakan suatu gambaran penting untuk mendalami spiritualitas mereka. Untuk bagian ini, saya dapat bertumpu pada hasil penelitian dari P. Van den Bosch. Dalam kekacauan Revolusi Prancis, dan sebagai akibat dari pembubaran biara-biara oleh Napoleon, banyak sekali arsip, tulisan tangan, dan buku-buku yang hilang lenyap. Untung saja sebagian besar ditemukan kembali di tempat penyimpanan arsip umum dan perpustakaan umum. Demikianlah Universitas Liege mempunyai seratus tiga puluh enam tulisan tangan yang berasal dari biara kita di Liege. Sementara itu, perpustakaan dan seminari tinggi di Liege mempunyai delapan puluh sembilan tulisan dari biara kita di Huy dan empat puluh lima tulisan dari biara di Liege sendiri. Historiches Archiv di Koln menyimpan seratus delapan puluh sembilan tulisan tangan dari biara kita, Marienfrede, di dekat Bocholt.
Tulisan-tulisan yang kita miliki ini, serta tulisan tangan yang lainnya, memberi suatu kesan umum tentang arah perhatian dari Saudara-saudara Salib untuk ’bacaan rohani’ mereka. Secara umum, mereka bergabung dalam tradisi yang disebut ”Tradisi Monastik Benediktin dan Cistersienser (OSB dan O.Cis.-Ed.).” Artinya, mereka membaca dan Komisi Spiritualitas OSC36
mempelajari terutama Kitab Suci dan karya-karya Bapa-bapa Gereja. Statuta yang tertua memang mene-tapkan bahwa mereka hanya boleh membaca ”buku teologi”. Dari Perjanjian Lama, perhatian yang terutama ditujukan pada komentar-komentar Maz-mur, Kitab Nabi-nabi, dan Kidung Agung. Dalam Perjanjian Baru, perhatian mereka lebih umum. Kesukaan mereka kepada yang praktis, bukan pada komentar-komentar pengetahuan murni. Mereka mencari ”makanan” untuk hidup rohani pribadi dan ”bantuan” untuk khotbah mereka.
Dari antara Bapa-bapa Gereja, mereka terutama memperdalam pemikiran atau spiritualitas Yohanes Krisostomus, Hieronimus, Agustinus, Gregorius Agung, dan Cassianus. Dari penulis Abad Perte-ngahan, mereka suka menyalin karya Bernardus, Hugo, dan Richard dari Santo Viktor, karya Gerson dan d’Ailly. Pengaruh dari Gerakan Fransiskan mereka dapat, terutama dari karya Bonaventura dan komentar-komentar atas Kitab Suci dari Nikolas dari Lyra. Di semua perpustakaan mereka, kita temukan karya dari Devosi Modern yang ditulis oleh Geert Groote, Gerard Zerbold, Zutpen, dan Thomas a Kempis.
Cara berpikir dan askese dari Saudara-saudara Salib–juga ditentukan oleh literatur mereka– lebih mengarah kepada Agustinus, biarpun dalam pendidikan teologi, Albertus Magnus dan Thomas Aquinas juga berperan signifikan dan tidak tergantikan.
Kumpulan Lectio Crucis 37
Kecenderungan untuk menggunakan pemikir-an Agustinus dan Bernardus tampak jelas dalam tulisan-tulisan para Saudara Salib. Pemikiran Bonaventura, Duns Scotus, dan secara umum para Fransiskan yang lebih dekat dengan cara berpikir Agustinus daripada para teolog Skolastik, juga berlaku untuk para Saudara-saudara Salib. Mereka tidak tertarik kepada renungan ilmiah atau karya dogmatis murni. Yang dibutuhkan ”makanan” untuk hidup membiara. Karena itu, mereka mengenal diri kembali dalam karya Devosi Modern yang memberi mereka askese praktis dan sehat, berbasis Kitab Suci. Dari banyak traktat mengenai Ekaristi dan Penga-kuan, dan dari sejumlah besar sermones (khotbah) yang disalin, nyatalah perhatian mereka untuk liturgi praktis dan pastoral.
Dapat disimpulkan bahwa perhatian mereka bersifat ”Asketis Sakramental”. Para Saudara Salib di Abad Pertengahan sedikit menerbitkan tulisan namun mereka amat tertarik pada kumpulan-kumpulan kutipan dari Kitab Suci, dari Bapa-bapa Gereja, dan dari penulis-penulis Abad Pertengahan yang disebut: florolegia, auctoritates, atau raparia (”bunga rampai”, kesaksian-kesaksian, atau petikan-petikan).
Kepustakaan Penderitaan Dalam bidang ini, perpustakaan-perpustakaan mereka persediaannya berlimpah. Di sini kita hanya menyinggung karya tulis tangan yang disalin di beberapa biara. Begitu kita menemukan:
Komisi Spiritualitas OSC38
• Dari abad ke-11: Meditationes Redemptionis Humanae (Meditasi-meditasi mengenai Penebusan Manusia) dan Planctus Beatissimae Maria Virginis ad Anselmum de Passione Domini (Perkabungan Maria Santa Perawan Tersuci kepada Anselmus Mengenai Penderitaan Tuhan), dua-duanya karya tangan Anselmus dari Canterbury.
• Dari abad ke-12: karya Santo Bernardus dari Clairvaux, terutama dari dia Sermones Super Canticum Canticorum (Khotbah-khotbah tentang ’Lagu’ dari Lagu-lagu). Dari Bernardus, para Saudara Salib terutama tersentuh oleh cintanya untuk kemanusiaan Kristus.
• Dari abad ke-13: karya Bonaventura berjudul Lignum Vitae tentang Salib.
• Dari abad ke-14: mistik penderitaan dari Heinrich Suso dalam Horologium Sapientiae dan dalam Centum Meditationes/Articuli de Passione Domini. Selanjutnya Vita Christi dari Ludolf dari Saksen, yang di dalamnya Passio Kristus mengambil tempat besar.
Selanjutnya, ditinggalkan sejumlah besar traktat-traktat anonim mengenai penderitaan Kristus yang berasal dari perpustakaan-perpustakaan biara Huy, Liege, dan Koln. Cukup banyak tulisan tangan dari banyak biara yang menghubungkan renungan-renungan tentang penderitaan dengan waktu-waktu ofisi. Dari materi yang ada, dapat diambil simpulan bahwa para Saudara Salib di Abad Pertengahan Kumpulan Lectio Crucis 39
dengan suka hati menyalin traktat-traktat mengenai Penderitaan Kristus. Yang mencolok ialah cukup banyak traktat yang menghubungkan Penderitaan Kristus dengan waktu-waktu ofisi.
6. Praktik-praktik Devosi Sebagai bahan akhir untuk Spiritualitas Salib, kita menunjuk pada praktik devosi.
Perkumpulan Saudara Salib Di Gereja biara kita di Maastricht, Koln, Hertogenbosch, Brendenburg, dan Venlo, ada Per-kumpulan Saudara-saudara Salib. Hanya mengenai yang di Maastricht dan Venlo saya menemukan informasi lanjut.
Perkumpulan di Maastricht didirikan pada tahun 1439 dengan persetujuan dari Prior Jenderal Henrikus dari Nijmegen. Surat pendiriannya tertulis dalam bahasa Belanda dan ditandai dengan segel dari Prior Jenderal sehingga tersimpan baik. Perkumpulan di Maastricht didirikan segera sesudah biara didirikan. Tujuannya sangat praktis. Di luar pemasukan yang dikumpulkan Saudara-saudara Salib dari pelayanan sakramental, dari perkumpulan itu (laki-laki dan perempuan) juga dikumpulkan uang untuk membangun Gereja dan biara. Anggota perkumpulan ini yang sudah meninggal didoakan setiap tahun.
Di Venlo, perkumpulan seperti ini rupanya baru muncul tahun 1645, berasal dari Perkumpulan Komisi Spiritualitas OSC40
Tritunggal Mahakudus. Sepertinya di sini dikhusus-kan untuk laki-laki. Perkumpulan ini punya ciri eks-plisit rohaniah. Kewajiban setiap anggota: • Setiap hari berdoa lima kali Bapa Kami dan Salam Maria untuk menghormati lima luka Kristus.
• Setiap hari Jumat mendoakan Litani Salib Suci atau Rosario (Peristiwa Sedih) dan ikut kebaktian (salve).
• Setiap Minggu pertama hadir pada pertemuan sesudah Misa Agung dengan wejangan dan doa untuk para anggota yang hidup dan yang mati, dan adorasi relikwi Salib Suci.
• Setiap Senin pertama ikut Misa Kudus untuk ketenteraman arwah para anggota yang telah meninggal.
Pada tahun 1745, dirayakan pesta satu abad perkumpulan ini. Saat itu perkumpulan ini sudah mempunyai seratus lima puluh anggota dan tujuh ratus lima puluh orang yang sudah meninggal. Walaupun data-data minim, rupanya tidak dikatakan bahwa ada pola tetap untuk Perkumpulan Salib Suci. Praktik Doa-doa Devosi Data-data mengenai pasal ini diambil dari beberapa artikel dari A. Van de Pasch sekitar “Kesalehan dalam Tulisan Tangan para Tuan-tuan Salib”. Kita juga mengenal suatu “jalan salib” dari Kumpulan Lectio Crucis 41
Matthijs Brouwer, superior dari biara Hertogenbosch dari tahun 1610. Di dalamnya dimohon belas kasihan karena Penderitaan Kristus dan Ibu-Nya. Tetapi tidak pasti bahwa Matthijs Brouwer juga menciptakan doa ini. Dalam jumlah lebih banyak diturunkan kepada kita “Doa-doa dari Santo Gregorius”. Ini adalah lima sampai sepuluh doa kepada Kristus yang menderita, yang pada-Nya dikaitkan indulgensi luar biasa. Begitu juga kita kenal Centum Articuli/Meditatio de Passione Domini ( 100 artikel tentang penderitaan Tuhan). Setiap pertemuan, ada lima sampai sepuluh renungan penderitaan–totalnya 100–dengan diakhiri selalu dengan suatu doa. Sang “pembaca yang berdoa” diajak mencintai Kristus yang menderita dan ibu-Nya yang berduka. Renungan-renungan ini kemungkinan besar berasal dari Heinrich Suso, Horologium Sapientiae (Lonceng Kebijaksanaan), sekalipun tidak identik dengan tulisannya. Dalam empat tulisan tangan lagi, kita temukan lebih banyak doa untuk menghormati lima Luka Suci, juga suatu madah untuk menghormati Luka-luka ini. Selanjutnya kepada kita diwariskan doa yang menghormati darah suci untuk arwah-arwah orang beriman. Dalam lebih banyak karya tulisan tangan, juga kita temukan renungan mengenai Tujuh Sabda Kristus di Salib. Semua renungan dan doa ini menunjuk pada praktik doa, terutama pada penderitaan yang pahit untuk direnungkan. Hampir pasti bahwa kebanyakan–kalaupun tidak semua–doa ini disalin; artinya tidak diciptakan oleh Saudara-saudara Salib sendiri. Dalam suatu processionale yang Komisi Spiritualitas OSC42
berasal dari biara kita di Bruggen (sekarang ada di Sint Agatha), kita menemukan suatu ‘Latihan Jalan Salib’ dengan tujuh perhentian, yang harus didoakan pada Jumat Agung. Latihan ini baru disalin pada tahun 1771. Kita tidak mengenali “Latihan Jalan Salib” yang lain dari Saudara-saudara Salib. Sebenarnya tidak aneh, karena jalan salib baru ada sejak abak ke-16, dan terutama di bawah pengaruh para Fransiskan disebarluaskan di Eropa Barat. Hanya di dalam biara kita di Glinfeld (dekat Medebach)–saya tahu–didirikan Jalan Salib oleh Prior Rudolf Lefarth tahun 1767, di alam terbuka, dari biara sampai Kapel Bunda Berdukacita “auf dem Kahlen”. Jalan Salib ini semula hanya mempunyai tujuh perhentian. Belakangan, diperluas sampai empat belas perhentian. Jalan Salib itu masih ada dan belum lama ini diperbaiki. Dalam ketentuan-ketentuan Kapitel-kapitel Jeneral sampai 1786, “Jalan Salib” sebagai latihan devosi tidak disebut. Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan bahwa membunyikan lonceng pada pukul 12.00 (belakangan pukul 15.00) sebagai “in memoriam vivifcae crucis et passionis Domine” (untuk memperingati salib yang menghidupkan dan Penderitaan Tuhan) juga dimaksud untuk membangkitkan devosi rakyat (ob populi devotionem). Perihal ini secara tegas disampaikan dalam Kapitel Jeneral 1520.
7. Spiritualitas Salib dalam Abad 19 dan 20 Tentang sejarah Ordo sejak bangkit kembali di abad 19, secara terperinci dijelaskan dalam buku-Kumpulan Lectio Crucis 43
buku Jan Scheerder. Saya ingin membatasi diri dengan beberapa keterangan yang umum.
Kebangkitan kembali Ordo tak terpisahkan dengan nama Henrikus van den Wijmelenberg (1800-1881). Tahun 1840, ia sebagai imam diosesan masuk Ordo dan tahun 1841 sudah ditunjuk sebagai “Komisaris Jeneral” dan tahun 1853, pada Kapitel Jeneral yang pertama sesudah Ordo bangkit kembali, dipilih menjadi Magister Jeneral. Van den Wijmelenberg dihadapkan pada tugas yang berat untuk memberi hidup baru pada suatu ordo yang hampir musnah, tetapi dengan tradisi yang panjang. Ini berarti, dari satu sisi hubungan dengan masa lalu tidak diputuskan, dan dari sisi yang lain terbuka untuk perkembangan kontemporer. Dia adalah pribadi yang kuat, organisator yang baik, dan pada waktu yang sama sangat perhatian terhadap hal-hal pastoral. Di luar itu, ia yakin akan nilai hidup bersama dan merasa diri sangat bertanggung jawab untuk mempertahankannya. Pendirian biara di Diest (1845) dan pendirian kembali biara di Maaseik (1855) membuktikan keberanian, kerja keras, dan jiwa misioner dalam dirinya. Hidup membiara tidak lagi terutama kontemplatif, tetapi berkembang ke vita mixta (hidup campur: kontemplatif-aktif, karya dan doa yang imbang-Ed.). “Communitas bonorum et personarum” (kesatuan kekayaan dan orang) tahun 1855, menjadikan Ordo lebih lincah.
Walaupun demikian, Van den Wijmelenberg meyakini pentingnya nilai sejarah dalam Ordo yang sudah berabad-abad ini. Keyakinan ini nyata antara Komisi Spiritualitas OSC44
lain dalam tugas yang diberikannya kepada C. Hermans, rektor dari Sekolah Gymnasium di Kota Hertogenbosch, untuk menerbitkan dokumen-dokumen dari serjarah ordo yang masih didapatkan. Demikianlah muncul Annales, buah pertama dari penelitian historis yang modern mengenai sejarah Ordo. Penerbitan Statuta ini disahkan dalam Kapitel oleh para kapitularis yang memiliki posisi kuat– bukan Van den Wijmelenberg–lalu mereka memilih untuk mengambil alih Statuta tahun 1660 secara hampir harafiah. Berhubungan dengan sikap ini, salah seorang Kapitularis menyeletuk, “Begitu kuat mempertahankan Statuta yang lama, sampai melaksanakan Statuta yang ini tidak mungkin”. Sadar akan tujuannya, Van den Wijmelenberg berusaha mengembalikan “wajah” yang khas pada Ordo. Hal ini terutama dicari olehnya dalam bidang Spiritualitas Salib. Dalam rangka itu, di tahun 1843, ia minta izin dari para prior untuk mendirikan Jalan Salib, yang disetujui oleh Roma. Di tahun 1848, ia mendapat privilese bagi Ordo untuk memasukkan pada Kalendarium Ordo “Pesta-pesta Penderitaan” antara Septuagisima (tujuh minggu sebelum Pekan Suci) dan Pekan Suci. Tahun 1856, Roma mengizinkan–atas permintaannya–untuk memasuk-kan Commemoratio Crucis (doa tambahan) dalam ofisi pagi dan sore pada hari-hari di mana suffragia (doa umat) dilaksanakan.
Arah ini diteruskan di bawah pimpinan Magister Jeneral Henrikus Hollman (1899-1927). Kumpulan Lectio Crucis 45
Penerusan visi ini terbukti antara lain dalam votum (cita-cita) Kapitel Jeneral 1914:
“Ordo kita berbangga bahwa secara istimewa, Salib dan Penderitaan Tuhan dihormati. Karena itu, kita sangat mengharapkan bahwa semua konfrater terutama dalam roh dan hati, kerap kali mengingat Cinta Ilahi, yang kepada kita diperlihatkan dalam penderitaan, luka-luka, dan Salib Yesus Kristus; bahwa mereka kerap kali mendoakan Jalan Salib”.
Tahun 1923, Pesta Pemuliaan Salib menjadi pesta utama Ordo. Dalam Statuta 1925, untuk pertama kalinya secara eksplisit dimasukkan ketentuan tentang Spiritualitas Salib:
“Karena ordo kita mengkhususkan para konfrater– semuanya–menghormati Salib Suci dan penderitaan Tuhan Yesus Kristus dan supaya dalam semuanya cinta kepada Sang Penebus–yang menderita–diperkuat, semua konfrater oleh renungan dan refleksi dan juga melalui kata-kata, imbauan, dan teladan yang baik dalam orang lain memperkembangkan devosi untuk Salib Suci dan Penderitaan Tuhan kita Yesus Kristus”.
Juga dalam De Suffragilis Mortuorum (doa untuk yang meninggal), diwajibkan “Latihan Jalan Salib” untuk pertama kalinya.
Komisi Spiritualitas OSC46
Kata Penutup Dalam artikel ini, saya mencoba menyodorkan data-data untuk Spiritualitas Salib dalam Ordo kita, terutama dari Abad Pertengahan dan Era Baru. Dengan sendirinya, pokok ini tidak dapat tuntas diuraikan di sini. Salah satu alasannya ialah bahwa saya masih harus masuk secara tematik dalam setiap masa ini. Di luar itu, waktu untuk menyusun juga terbatas.
Pemeriksaan yang teliti dari traktat-traktat penderitaan dalam tulisan tangan yang masih tersimpan, dan terutama karya para Saudara Salib yang masih dapat dikumpulkan, kemungkinan besar masih akan memunculkan detail-detail yang menarik perhatian. Ungkapan-ungkapan dalam seni rupa juga dapat menjadi pelengkap yang diinginkan. Namun demikian, saya kira semuanya itu tidak akan mengubah pandangan secara mendasar. Dalam Spiritualitas Salib, selalu ada dua aspek yang– bagaimanapun juga merupakan paradoks– bertentangan namun merupakan suatu kesatuan. Dari satu sisi, salib sebagai alat penyiksaan di mana Yesus mati di atasnya; salib yang mengajak kita berbelas kasih, membalas kasih, dan menirunya. Dari sisi lain, salib juga simbol penebusan sebagai tanda kemenangan atas setan, dosa, dan kematian. Sejak zaman Kaisar Konstantinus Agung, kebanggaan umat Kristiani akan kemenangan atas orang kafir menguat, kemenangan salib gilang-gemilang (In Hoc Signo Vinces) didengungkan. Ini Kumpulan Lectio Crucis 47
merupakan titik balik dalam sejarah Gereja, dari masa penganiayaan ke masa kemenangan. Timbul rasa keberhasilan besar dan kegembiraan karena kematian di salib membuahkan ‘hidup baru’ dalam Gereja. Nuansa kegembiraan ini tampak dalam teks-teks liturgi di Timur dan Barat. Puji-pujian Salib Suci dari Venantius Fortunatus mengingatkan kita akan nuansa kejayaan ini: “Pange, lingua gloriosi proelium certaminis” dan “Vexilia Regis prodeunt”. Dalam seni rupa juga kita temukan banyak ekspresi dari Gloria Crucis. Saya sebut saja di apsis (panti imam) dari Gereja Santa Prudentiana di Roma, di apsis dari Gereja Santo Apollonaris in Classe di Ravenna dan sakrofagus (peti mati dari batu) dari abad ke-4 di Museum Vatikan, yang di bagian tengahnya dibentuk oleh Salib dan dimahkotai oleh monogram Kristus yang dikalungi.
Dalam Ordo kita harus ditempatkan di sini cerita-cerita awal mula Ordo dan juga hormat yang istimewa kepada Santa Helena dan Quiriacus. Saya mengira bahwa pada Abad Pertengahan dan juga pada permulaan era baru, aspek ini begitu penting dalam hidup Saudara-saudara Salib. Perayaan dua pesta salib dengan prosesi dan Pesta Pemuliaan Salib dengan oktaf menunjuk ke arah yang sama. Dalam tulisan para Saudara Salib dan dalam perpustakaan mereka, tema penderitaan Kristus juga tidak pernah absen. Tema ini, sejauh disimpulkan dari data-data yang begitu minim, mengarah ke keterangan-keterangan alegoris atau ungkapan perasaan yang mistik. Lambat laun renungan tentang penderitaan “pahit” Kristus dan Maria (compassio Mariae = belas Komisi Spiritualitas OSC48
kasih Maria dalam penderitaan Yesus, Putranya) diberi porsi yang lebih banyak, seluruhnya sesuai dengan gambaran zaman terhadap hidup religius. Dalam tulisan-tulisan ini, rasa belas kasihan berusaha dibangkitkan. Askese salib sebagai bentuk imitasi Kristus juga sangat ditekankan. Saya mengira–tetapi ini membutuhkan penelitian lebih banyak–bahwa di abad ke-17 dan ke-18, aksen lebih dari satu segi pada “devosi” Spiritualitas Salib dan dari segi lain pada privatisering (perorangan). Kutipan doa-doa dan penghormatan pada luka suci serta alat-alat penyiksaan menunjuk ke arah itu. Tetapi, mencolok bahwa Kapitel-kapitel Jeneral sampai Revolusi Prancis tidak memberi aturan atau anjuran untuk praktik-praktik devosional seperti itu.
Dalam abad ke-19 dan paruh pertama abad ke-20, Spiritualitas Salib juga tidak dapat dipisahkan dari perkembangan kontemporer religius. Artinya, dari satu sisi hidup devosi ‘berkembang pesat’ dan dari sisi lain tampak suatu aksen yang hampir eksklusif pada moral dan askese. Tendensi ini diungkapkan dalam nomor 25 Statuta 1925. Tujuan dari Statuta ini tidak identik dengan cara berpikir dari Saudara-saudara Salib Abad Pertengahan dan juga–saya kira–tidak dengan perasan dan cara pikir modern.
Dalam terbitan Statuta 1960, Spiritualitas Salib menemukan ungkapan yang lebih koheren dengan tradisi tua Ordo. Selain itu, spiritualitas juga mendapat tempat yang sentral dalam distinctio prima (sebagai bagian pertama). Berikut ini salinannya: Kumpulan Lectio Crucis 49
“Sebagai Kanonik Regulir Ordo Salib Suci, para Saudara Salib berjanji karena kaul ketaatan, kemurnian, dan kemiskinan, untuk hidup sebagai biarawan; sadar bahwa tidak ada keselamatan selain daripada Salib Tuhan kita Yesus Kristus. Karena itu, mereka akan seiring meneladani bapa kita, Beato Theodorus de Celles dan teman-temannya, dalam cinta sehati, hidup bersama, dan mengaitkannya dengan pujian Ilahi, suatu kehidupan apostolik dalam pelayanan pada Gereja. Mereka akan punya penghormatan istimewa untuk Sang Penebus yang karena Salib-Nya mengantar kita kepada sukacita anak-anak Allah. Semoga semua Saudara Salib, untuk dirinya sendiri karena ‘ofisi Ilahi’ dan meditasi, maupun untuk orang lain dengan kata-kata, imbauan, dan teladan baik, membangkitkan rasa hormat untuk rahasia Salib yang menghidupkan”.
Keseluruhan kutipan di atas memberi kesan “berat”. Banyak gagasan yang dipadatkan dalam beberapa kalimat. Tetapi, yang spesifik atau khas dari Spiritualitas Salib diugkapkan dengan tepat, dihu-bungkan antara Salib dengan tiga kaul. Hubungan antara Salib dengan Liturgi, serta kegembiraan Anak-anak Allah yang diterima karena Salib, juga ditunjukkan dalam teks ini. Hal baru dari teks ini adalah dikaitkannya Ofisi dengan apostolat. Dalam dokumen-dokumen resmi dalam periode yang kita bahas dalam artikel ini, tidak dihubungkan langsung antara Spiritualitas Salib dan apostolat. Hal ini pasti terkait dengan karakter Ordo yang masih kuat unsur kontemplatifnya pada waktu itu.
Dalam terbitan Statuta 1962, untuk pertama kalinya dicoba dalam pasal yang baru “Tentang Apostolat”. Dalam Statuta yang diperbarui tahun Komisi Spiritualitas OSC50
1980, kita temukan dalam pasal mengenai “Apos-tolat” pengungkapan dalam formula yang umum tetapi sangat radikal. Teksnya berbunyi: “Keinginan kita mengikuti Kristus, yang memberi diri sampai habis di Salib, diwujudkan dengan cara memberi diri sampai habis untuk kebutuhan sesama kita, sehingga pada orang miskin disampaikan kabar gembira.” Walaupun Salib di beberapa tempat dalam Statuta yang diperbarui tahun 1980 disebut, antara lain sebagai sumber inspirasi, saya sebenarnya ingin “aksen” (penekanan atau penjabaran-Ed.) yang lebih jelas untuk Spiritualitas Salib kita pada liturgi dan kaul satu per satu. Saya punya keinginan yang sama terhadap caeremoniale untuk profesi, yang masih harus diterbitkan. Tidak seolah-olah dengan Spiritualitas Salib, ciri khas Ordo seluruhnya terungkap, tetapi sungguh karena Spiritualitas Salib-lah, “karisma” kita “tersingkap”-kan. Kita wajib mempertahankan dan meneruskan karisma kita. Hal ini dimengerti Saudara-saudara Salib di abad-abad dahulu dan dihidupi secara sederhana. Dalam rahasia Salib, mereka menemukan inspirasi dan kekuatan untuk hidup membiara dan membaktikan diri dengan hati riang gembira untuk orang lain. Semoga keutamaan zaman dulu itu tetap bertahan di masa sekarang dan pada masa yang akan datang. Diterjemahkan dari bahasa Belanda oleh Anton Rutten OSC.
Diedit dan dibahasakan ulang tanpa mengubah gaya bahasa aslinya.
Kumpulan Lectio Crucis 51
Komisi Spiritualitas OSC52
SALIB SEBAGAI JALAN AGAR HIDUP MANUSIA MENJADI UTUH DAN PENUH F. X. Rudiyanto Subagio OSC Kalau kita buka komputer, buka internet, dan buka yahoo search dan mencari “Christian cross”, maka akan kita temukan lebih dari lima puluh dua juta situs termasuk website. Seminggu kemudian, sudah lebih dari lima puluh tiga juta situs. Ketika saya cari “Jesus cross”, ada tiga puluh satu juta lebih situs. Seminggu kemudian, sudah lebih dari tiga puluh dua juta. “Spirituality of the cross” memuat sembilan juta situs, “theology of the cross” memuat lebih dari delapan juta. Ketika saya ketik dalam Bahasa Indonesia, “Spiritualitas Salib”, ada lima ratus sepuluh ribu dan tiga situs pertama adalah situs OSC dan OSC Sang Kristus. Ketika kata “Salib” saya ketikkan, ada dua ratus sepuluh ribu lebih situs. Seminggu kemudian, sudah tiga ratus sepuluh ribu lebih. Jadi, kalau kita punya komputer, dengan internet, kita bisa punya sedemikian banyak alamat lokasi untuk mengetahui ide atau jaringan ide tentang salib.
Saya bertanya kepada teman saya, seorang Palestina, apa arti kata “Salib”? Dia menjawab, salib adalah Bahasa Arab yang berarti negatif atau kurang. Saya rasa, sampai kini banyak orang yang mengartikan salib sebagai negatif, seperti penderitaan, beban, hukuman, kesakitan atau bahkan Kumpulan Lectio Crucis 53
kematian. Segala yang mengurangi kehidupan, sering diinterpretasikan sebagai salib. Pengalaman menya-takan bahwa hidup manusia adalah evolusi negatif menuju kematian, hidup berkurang, dan akhirnya lenyap dan musnah.
Schillebeeckx bahkan menyatakan bahwa sejarah hidup manusia adalah sejarah penderitaan, proses pengurangan hidup, yang bahkan tak terselesaikan oleh eksistensialisme, strukturalisme, bahkan oleh analisis empirik manapun. Penderitaan ini tak terhindarkan, tapi bisa disikapi dan diberi makna, dijadikan berarti. Arti yang bisa ditemukan, misalnya, sebagai jalan menuju pengalaman keselamatan, pengalaman di mana manusia berelasi secara harmoni dengan dirinya, dengan sesamanya, dengan lingkungan hidupnya, dan dengan aneka utopianya. Penderitaan manusia ini diberi makna, dijadikan penuh arti oleh Yesus dari Nazaret. Sikap Yesus atas penderitaan manusia, dapat kita jadikan paradigma, model metaforik, atau jalan hidup. Jalan hidup inilah yang kita sebut sebagai “Salib”, salib yang terlepaskan dari Sang tersalib.
Kita akan melihat salib Yesus ini dalam konteks empat pengalaman relasi manusia. Relasi manusia dengan dirinya, dengan lingkungannya, dengan sesamanya, dengan utopianya.
Pertama, dari konteks relasi manusia dengan dirinya sendiri, kita akan melihat, salib sebagai “ekspresi iman” yang habis-habisan, tanpa reserve. Di salib inilah orang dihadapkan pada pengalaman keterbatasan ultim dari diri dan hidupnya; bahwa Komisi Spiritualitas OSC54
hidup setiap orang itu bergantung dan berakhir. Bahwa tubuh dan nafas, ternyata bukan milik yang bisa kupertahankan. Aku hanya bisa hidup, hanya karena aku percaya. Percaya, tanpa syarat, bahwa akhir hidup itu hanya sementara. Keterbatasan manusia adalah titik awal dari ketakterbatasan; limitasi adalah awal dari transendensi. Perubahan limitasi ke transendensi, membutuhkan suatu “daya” yang oleh Balthasar disebut sebagai “Daya Kreatif Allah”, “Cinta Ilahi”, “berkat”.1 Bunda Teresa dari Kalkuta, ketika berhadapan dengan seorang reporter yang mengatakan bahwa dia (reporter) tidak akan pernah mau bekerja seperti suster, walau digaji $1000 per hari, mengatakan: “Saya pun tidak mau.” Lalu sang reporter bertanya kepadanya, “Kalau begitu, mengapa kamu melakukan itu?” Bunda Teresa, memecah keheningan dengan jawabannya: “Demi Kristus.”2 Cinta, iman, membuat Bunda Teresa mengatasi ketidakmungkinan rasional, untuk meng-habiskan hidupnya.
Kedua, dari konteks relasi manusia dengan sesamanya, kita akan melihat salib sebagai ‘tindakan solidaritas’ yang habis-habisan. Tindakan ini adalah saat di mana sesama manusia benar-benar menjadi sama; sama sebagai manusia yang senantiasa mencoba untuk mempertahankan dan memper-tuhankan hidupnya. Ini adalah saat di mana manusia harus memperjuangkan dan membela mati-matian hidup sesamanya; saat di mana manusia merasa 1 Josef Pieper, An Anthology ( San Francisco: Ignatius Press, 1989), 47.
2 Pieper, Ibid., 46.
Kumpulan Lectio Crucis 55
harus bertanggung jawab atas hidup sesamanya, karena memang hidup itu menuntut pertahanan. Karena itulah Yesus membela wanita berzinah, yang menurut Taurat, layak dirajam.
Karena itulah Yesus membela Zakeus, yang menurut Taurat adalah pendosa berat.
Karena itulah Yesus membela penjahat Golgota di sisi salib-Nya.
Karena itulah Yesus turun ke tempat penantian, masuk dan berkubang di kedalaman orang-orang mati yang belum layak untuk duduk di sisi Bapa-Nya. Itu sama, seperti ketika Allah turun tangan karena tak tahan mendengar jeritan derita umat-Nya. (Keluaran)
Tindakan solidaritas yang sangat intensif ini dapat kita lihat dalam simbol salib di Pratista. Salib di mana corpus Yesus, turun, “melorot” dari salib-Nya. Ini bukan simbol saat kematian, bukan simbol saat kebangkitan, tapi saat Ia (yang menurut Credo) turun ke tempat penantian. Ini adalah saat “solidaritas” dengan semua orang yang mati sebelum kematian diri-Nya. Solidaritas Yesus itu berlaku universal, mengatasi dimensi ruang dan waktu.
Ketiga, dari konteks relasi manusia dengan lingkungan hidupnya baik natur maupun kultur, kita akan melihat Salib sebagai “situasi-mengatasi”. Ini adalah saat di mana kosmos mengatasi chaos Komisi Spiritualitas OSC56
(Kejadian 1:2, “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air”; Yesaya 11:9, “…sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan Allah, seperti air laut yang menutupi dasarnya”). Inilah saat di mana manusia mengalami sebagai yang berdaya karena diberi kuasa, bahwa manusia bebas menggunakan kekuasaannya dan juga merupakan pengalaman ketika akhirnya manusia menjadi begitu tak berdaya, tak lagi berkuasa di hadapan Allah, Sang Mahakuasa. Kitab Suci mencatat kekuasaan manusia, sebagai kebebasan dalam berelasi dengan natur maupun kultur, kekuasaan yang membanggakan maupun yang menghancurkan. Kekuasaan yang membuat manusia harus menyerah kalah pada kemahakuasaan Allah. Penyerahan kekuasaan, yang dialami sebagai iman yang mengatasi segala keterbatasan.
Beberapa teks Kitab Suci yang menggambarkan limitasi dan transendensi kekuasaan manusia bisa kita temukan dalam:
Kej. 1:26: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita… supaya mereka berkuasa… atas seluruh bumi.”
Kej. 3:17: “Dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu”. Kej. 11:4,9: tentang kota Babel “…. Kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit,” dan “….. di situlah dikacaukan Tuhan bahasa seluruh bumi.”
Kumpulan Lectio Crucis 57
1Raja-raja, bab 4-7 tentang hikmat Salomo, dan kebesarannya dalam membangun Bait Allah dan istana.
Kis. 2:4: “maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain…..”
Salib, sebagai “situasi mengatasi” di sini bisa dilihat sebagai kristalisasi dari usaha manusia untuk mengatasi hidupnya. Hidup yang berasal dari Allah, yang juga tak dapat diatasinya. Natur dan Kultur, dua lokasi lingkungan hidup manusia, yang menantang selalu agar manusia membuktikan bahwa ia adalah citra Allah, yang punya kuasa atas bumi, buatan Allah dan buatan manusia. “11 September” yang ditulis oleh Gunawan Mohammad dalam Catatan Pinggirnya, dibaca sebagai api patriotisme Amerika, yang buat mereka sesuatu yang terang dan bagi orang lain menjadi fragmen kegelapan. Suatu usaha logika, yang oleh Nelson Mandela dibaca sebagai “rasa takut terdalam, bukan karena kegelapan, tapi justru karena cahaya terang tak lagi bisa diandalkan.”3 Manusia yang berhadapan dengan keterbatasannya tetap merasa bisa mengatasi dan harus memperjuangkan kelangsungan hidupnya, termasuk dan terutama, planet yang dihuninya.
Mulai September sampai Desember 2007, di Monterrey, Mexico akan diadakan “The Universal 3 Tempo, Edisi 10-16 Sept. 2007, 138.
Komisi Spiritualitas OSC58
Forum of Cultures,” suatu forum empat tahunan yang diadakan demi kesatuan aneka kultur, bahasa dan agama. Satu dari empat sumbu pokok dari masalah besar yang merupakan problem masyarakat global adalah “sustainability”:
“Sustainability is an issue of major transcen-dence in the contemporery world, which needs to find new options for economic, social, and cultural development; seeking an improved utilization of natural resources for the benefit of the planet and its inhabitants. (Forum will take on this sensitive topic not only from an environmental perspective, but from a wide broad of aproaches).”4 Concern pada “sustainability” (terutama untuk ekosistem) merupakan bukti nyata bahwa manusia tetap ingin menguasai lingkungan hidupnya. Padahal, gempa, tsunami, lumpur panas, banjir, badai, membuat manusia menggelepar tak berdaya. Di Indonesia, di Jepang, maupun di Amerika, ternyata sang penguasa adalah alam, bukan manusia. Salib justru mengingatkan kita akan saat kuasa kemanusiaan, yang berjuang mencari damai, harus menyerah kalah pada Sang misteri; saat kuasa kemanusiaan harus lepas dari yang fana dan mengandalkan yang Nirvana. Kekuasaan manusia ternyata bermuara pada kekuasaan Allah.
4 http://en.wikipedia.org/wiki/sustainability Kumpulan Lectio Crucis 59
Empat, dari konteks relasi manusia dengan utopia, termasuk dunia nilai, kita bisa melihat salib sebagai saat kulminasi dari passion, dari hawa nafsu dan agape, yang dalam bahasa Agustinus adalah nyala api tak terpadamkan. Di sini orang mengalami: - Saat di mana gairah tak terpuaskan, keko-songan tak terisi dan tak terpenuhi; saat dimana bongkah citra Allah tak pernah terasa utuh, keretakan yang tak pernah tersatukan, cacat yang tak mungkin disempurnakan, dosa yang tak terampuni, jurang yang tak terjembatani. Saat dimana kerinduan tak terobati.
- Saat di mana kita sadar bahwa hidup yang kita alami adalah konstanta distansi antara manusia dengan Allah. Saat kesadaran bahwa manusia, citra Allah itu, ternyata bukan Allah.
Inilah saat ketika kita tergugah bahwa Allah yang kita anggap “Abba”, ternyata tetap dahsyat, menakutkan, yang tidak hanya tidak bisa diajak bermain, tapi bahkan bisa mematikan hidup kita. Allah yang diimani sebagai Abba ternyata juga mengancam, karena tak pernah dapat kita kuasai. Salib adalah saat di mana kita menyadari bahwa ternyata kita tetap meragukan iman kita. Allah adalah Yang selalu lolos bahkan dari jangkauan kemampuan utopia manusia. Salib adalah saat di mana anak manusia berteriak karena kehilangan Abba-nya. Tapi, salib Yesus tidak berhenti di situ. Walau Ia menangisi keraguan-Nya, Ia toh akhirnya tetap percaya bahwa cinta Abba tidak pernah dan tidak mungkin pudar. Terang tetap bersinar, walau ada di balik kegelapan Komisi Spiritualitas OSC60
bayangan. Karenanya manusia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena percaya. Kepercayaan inilah yang menjadi benih-benih tunas kebangkitan yang membuat orang tetap terus gigih berjuang meraih kebebasannya.
Teologi Pembebasan dari Miguel Diaz menyebut daya juang atau gairah cinta ini sebagai suatu “Gerakan dari Galilea ke Jerusalem.”5 Galilea sebagai simbol lokasi kaum marjinal dan tertindas. Yesus bergerak dari Galilea, bersama dengan sang terbuang dan tertindas, yang berkonfrontasi dengan struktur dan penindas. Yang terbuang dan tertindas, dibawa melintasi batas, dan masuk ke daerah pusat. Gerakan habis-habisan untuk tetap bertahan hidup, walau diancam kematian, itulah kebangkitan. Kebangkitan membuat kematian tak lagi berdaya sengat. Dalam semangat kebangkitan, kematian adalah tidur dalam damai, karena ada Sang Abba yang akan membangunkan kembali.
Saudara-saudari sekalian, Salib bukan teori imajinasi, tapi “Kenyataan Hidup Kristiani”. Salib bukan hadiah yang enak untuk dinikmati, tapi, opportunity dan tantangan yang mau tidak mau harus kita hadapi dan harus kita hidupi.
Disampaikan dalam Lectio Crucis, Hari Raya Salib Suci 14 September 2007 5 Miguel H. Diaz, On Being Human (New York: Orbis, 2001), 30. Kumpulan Lectio Crucis 61
Komisi Spiritualitas OSC62
SALIB: SEBUAH LEGASI KEJAYAAN Ignatius Eddy Putranto, OSC Dalam buku sejarah Ordo, The Church of the Holy Cross De Claro Loco and the True Origins of the Crosiers, Henry van Rooijen OSC memaparkan di bagian awal buku itu relasi antara legenda dan karisma St. Helena dan munculnya saudara-saudara Salib Suci di awal abad ke-13. Henry van Rooijen mendasarkan argumennya pada sebuah puisi yang muncul di awal abad ke-13: Ad Colendum Mente Pura. Ia percaya puisi ini merupakan sumber tertua yang memuat informasi latar belakang kelahiran Ordo Salib Suci. Di dalam puisi itu, dikatakan bahwa setelah menemukan Salib Tuhan di sekitar tahun 226 M, St. Helena mendirikan gereja Holy Sepulchre (Makam Kudus) di atas tempat ditemukannya salib itu. Lantas, ia menyemayamkan salib itu di gereja dan memilih dua belas orang laki-laki untuk melindungi salib itu dan mempromosikan ritual penghormatan salib. Ritual salib itu sendiri sudah mulai diadakan sejak diresmikannya gereja Holy Sepulchre pada 14 September 235 M.
Rupanya legenda dan karisma St. Helena masih hinggap dan hidup di benak banyak orang, bahkan setelah seribu tahun sesudah ditemukan salib Tuhan dan dipromosikannya ritual pesta salib. Masih banyak orang terpana, seolah menjadi religiusitas umum pada waktu itu untuk merenungkan dan melaksanakan legasi dan mandatum yang diwariskan oleh St. Helena. Renungan seputar misteri salib Kumpulan Lectio Crucis 63
terutama yang berpusat pada heroisme dan keme-nangan salib telah menjelma menjadi popular religiosity, semacam devosi publik yang menggejala dan hidup di tengah khalayak, seperti halnya devosi kepada Maria dewasa ini.
Dalam konteks sosio-religius semacam inilah Ordo Salib Suci lahir di awal abad ke-13. Saudara-saudara Salib Suci awal hendak menghidupi legasi yang telah dimandatkan oleh St. Helena. Bisa jadi, dalam imajinasi kesadaran mereka juga mengiden-tifikasikan diri mereka dengan dua belas orang pilihan St. Helena yang secara khusus diberi mandat untuk mejadi pejuang salib yang men-dasarkan hidupnya pada kejayaan salib. “Kepada keduabelas orang itu”, demikian salah satu bait dari puisi itu, “diberi tanda salib yang ditempelkan pada pakaian mereka, sehingga berkat kehadiran mereka, kejahatan bisa dikalahkan dan teristimewa melalui tanda itu, kayu salib ditunjukkan kepada kaum beriman.”
Dalam terang sejarah semacam ini, kita bisa memahami kenapa sekarang ini kita berkumpul di tempat ini. Kita telah menghidupi legasi St. Helena itu, dan hendak merawat serta mempromosikannya. Dengan kata lain, kita meneruskan tradisi keduabelas orang pilihan St. Helena. Oleh karena itu, Pesta Salib Suci adalah saat di mana kita merenungkan kembali legasi itu; seperti halnya pesta Paskah adalah saat kita merenungkan kembali legasi Kristianitas. Paskah adalah saat kita secara khusus merenungkan identitas Kristiani kita dengan narasi keselamatan Komisi Spiritualitas OSC64
Paskah dan ritual pembaptisan, sedangkan Pesta Salib Suci adalah saat kita (para Krosier) secara khusus masuk ke dalam narasi salib untuk semakin menekuni dan memahami legasi Salib Suci yang berujung pada pemantapan identitas kita sebagai pejuang salib (Oleh karenanya, hari ini bukanlah sekadar hari, tetapi ‘Hari Raya Salib Suci’. Secara simbolis, upacara kaul mungkin akan lebih tepat diadakan hari ini, juga kaul bisa diparalelkan dengan baptisan pada waktu Paskah). Dalam upaya untuk masuk ke dalam narasi salib, saya hendak mengajak Anda untuk merenungkan makna kejayaan salib itu. Salib: Kejayaan Religius Di tangan Konstantinus di abad ketiga, salib telah menjelma menjadi kekuatan dan motivasi politik. “In Hoc Signo Vinces” adalah bisikan yang membuat hati Konstantinus menggebu-gebu untuk melaksanakan ekspansi militer. Kejayaan adalah kemenangan ekspansif yang meluluhlantakkan musuh-musuh. Penancapan salib di atas reruntuhan musuh itu lantas menjadi tanda dimulainya era baru, yakni era kejayaan salib. Pada zaman Konstantinus ini mulai marak bermunculan salib tanpa korpus yang mengindikasikan semangat kemenangan daripada penderitaan, kejayaan daripada kesengsaraan. Memang demikianlah, pada zaman ini salib tak pernah digambarkan sebagai lambang kesengsaraan ataupun penderitaan.
Masih di dalam kerangka kejayaan salib, St. Helena, Ibunda Konstantinus, memberikan legasi salib sebagai kejayaan religius. Kejayaan salib di hati Kumpulan Lectio Crucis 65
St. Helena tidak lagi bersifat antropologis-politis, tetapi kejayaan ilahi-religius: maut dikalahkan, dosa disingkirkan, harkat manusia dipulihkan. Dengan kata lain, kejayaan salib itu pertama-tama merupakan kejayaan Allah dan bukan kejayaan manusia. Pada akhirnya, manusia itu ikut berjaya karena telah dimenangkan oleh Allah. Penghormatan salib yang dipromosikannya mengajak kita untuk mengakui kejayaan Allah dan bersembah syukur atas keme-nangan yang diberikan kepada manusia.
Lebih lanjut kita mendalami: mengapa Allah membela manusia dalam menghadapi maut dan dosa? Hal ini erat kaitannya dengan konsep perjanjian (covenant). Bagaimanapun kita adalah bagian dari umat perjanjian, bahwa piala darah yang tercurah merupakan piala perjanjian baru. Isi perjanjian menyatakan bahwa manusia adalah milik Allah bak harta berlian yang harus dibela. Dan, perjanjian itu dimeteraikan dengan darah anak domba dan di kemudian hari dimeteraikan lagi dengan darah Kristus di salib. Salib tempat darah kurban tercurah adalah alat kemenangan Allah yang telah dan selalu setia pada perjanjian. Jadi, kejayaan Allah terjadi pada saat perjanjian digenapi, dan tergenapinya perjanjian ialah pada saat manusia terbela. Kejayaan Allah menjadi paralel dengan kebebasan manusia.
Selintas kita kembali pada konsep perjanjian di era Israel. Di dalam sejarah perjanjian Allah selalu berada di pihak pembela. Perjanjian adalah tentang bagaimana Allah mendekati dan membela manusia. Komisi Spiritualitas OSC66
Pembelaan Allah itu membawa pembaruan hidup manusia. Dalam kisah nabi Nuh, Allah membela Nuh dan keluarganya dari ancaman kematian air bah. Lantas Nuh dan keluarganya mengalami kehidupan dengan perspektif baru sebagai umat yang telah dibela. Abraham dan Sara juga dibela Allah saat mereka merindukan keturunan. Akhirnya, impian mereka terkabul dan mereka hidup juga dengan perspektif dan keyakinan baru. Kisah yang lebih dramatis adalah kisah pembebasan Israel dari Mesir. Israel mengalami transformasi hidup di gunung Sinai dengan hukum-hukumnya. Dari beberapa contoh ini, pembelaan Allah memberikan identitas baru bagi manusia sekaligus tanggungjawab baru: bahwa hidup mereka harus menjadi cermin belas kasih dan kemurahan Allah.
Dalam terang perjanjian inilah kita memahami salib yang jaya. Salib telah menjadi alat pembelaan Allah dan pemberian identitas baru kita. Kejayaan salib telah memberi kita identitas baru sebagai anak perjanjian. Dengan kata lain, dalam merenungkan kejayaan salib, kita tidak hanya kembali kepada sejarah bahwa Allah telah membela kita, tetapi juga memandang ke depan dengan visi masa depan yang baru. Abraham dan Sara hidup dengan visi baru sebagai orang yang mempunyai keturunan sebanyak bintang di langit. Pasca pengalaman Sinai, Israel hidup dengan tatapan dan harapan baru, melihat tanah terjanji terbentang luas. Nuh dan keluarganya juga hidup dengan cara baru, mereka tidak lagi boleh membunuh, dan harus menghargai serta merawat bumi. Dengan kata lain, pengalaman dibela akan Kumpulan Lectio Crucis 67
memunculkan komitmen untuk hidup sesuai dengan visi dan perspektif yang baru.
Pengalaman kehancuran manusia dalam berbagai macam bentuknya: pengalaman trauma, disiksa, dikhianati, kehilangan orang yang dicintai karena pembunuhan, dan sebagainya, akan mem-bawa kita kepada berbagai macam kemungkinan hidup. Pengalaman dibela Allah dalam situasi semacam ini akan memunculkan perspektif baru dalam memandang dan menilai hidup. Mereka akan keluar dari pengalaman trauma dengan kesadaran bahwa diri mereka tidak lagi sama dengan diri sebelum pengalaman trauma itu. Mereka akan hidup dengan cara dan perspektif baru. Pengampunan sesungguhnya adalah pengalaman dibela Allah yang membuahkan perspektif dan komitmen baru untuk melanjutkan hidup setelah pengalaman kehancuran. Orang yang dibela Allah adalah orang yang tidak membiarkan dirinya kembali ke masa sebelum pengalaman kehancuran, tetapi orang yang mampu menapaki hidup dengan cara pandang baru, seperti Israel menyongsong tanah terjanji. Ini juga bukan semata persoalan melupakan apa yang menghan-curkan hidup kita. Namun sebaliknya, ini adalah persoalan mengingat apa yang telah menyakiti kita namun dengan cara dan komitmen baru. Maka ada istilah: to forgive is not to forget, but to remember in different way.
Kejayaan salib adalah ajakan untuk menerima identitas baru, cara pandang baru, dengan segala Komisi Spiritualitas OSC68
komitmennya sebagai buah dari pembelaan Allah di tengah pengalaman kehancuran.
Heroisme Salib Heroisme salib di benak sang Kaisar Kons-tantinus tampak dalam sosok diri serdadu, prajurit. Kepahlawanan adalah keberanian untuk mati, membela ideologi dan apapun yang diperintahkan untuk dibela. Kepahlawanan itu mirip dengan mengalahkan. Namun, imbas dari kepahlawanan seorang serdadu semacam ini seringkali adalah kematian dari pihak oposisi.
Namun, kita hendak melihat heroisme salib itu dari perspektif lain. Heroisme salib itu tidak tampak pada diri serdadu, tetapi pada diri pelayan. Dalam diri seorang pelayan yang ada adalah semangat menghidupkan dan bukan mengalahkan. Menghi-dupkan berarti memberi hidup, memberi daya, empowerment. Heroisme semacam ini tumbuh dari semangat kenosis, penyangkalan dan pengosongan diri yang pada dasarnya adalah sebuah pemberian diri, bukan untuk mengalahkan tapi menghidupkan. Dari semangat ini, dosa itu bukan untuk dikalahkan, kejahatan itu bukan untuk dilumpuhkan, tetapi ditransformasikan menjadi kesucian dan kebi-jaksanaan. Dari semangat ini pula, menghapus kesengsaraan dan nestapa dari dunia ini berarti mengubahnya menjadi keutamaan. Jadi, heroisme salib terkait erat dengan empowerment dan pengudusan.
Kumpulan Lectio Crucis 69
Mungkin itulah kenapa dalam surat kepada umat di Ibrani (13:11-14), Paulus menceritakan bahwa Yesus menderita di luar gerbang dan mencurahkan darah-Nya untuk menguduskan umat-Nya.
“Tubuh binatang-binatang yang darahnya dibawa masuk ke tempat kudus oleh imam besar sebagai kurban penghapus dosa, dibakar di luar perkemahan. Itu jugalah sebabnya Yesus telah menderita di luar pintu gerbang untuk menguduskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri. Karena itu, marilah kita pergi kepada-Nya di luar perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya.”
Tempat salib itu ada di luar pintu gerbang, di luar perkemahan Israel, di luar kota Yerusalem. Teks itu menunjukkan perbedaan yang tajam antara luar pintu gerbang dan dalam pintu gerbang. Di luar pintu gerbang penuh kehidupan para pencoleng, perampok, pendusta, bandit, kehidupan liar, jalang, tanpa aturan. Di luar gerbang adalah tempat pembuangan sampah, bau amis bercampur bangkai. Kehidupan di luar gerbang adalah simbol dari keterasingan dan ketercampakan. Sebaliknya, kehidupan di dalam gerbang merupakan simbol kenyamanan, keamanan, keteraturan, intimitas, dan kehangatan. Kehidupan di dalam gerbang adalah sanctuary, tempat suci.
Namun, ternyata salib itu tidak lagi berada di sanctuary, tetapi di tempat pembuangan sampah. Komisi Spiritualitas OSC70
Penebusan dosa itu tidak terjadi di panti imam, tetapi di tempat di mana bangkai binatang dibuang. Surat Ibrani ini memberitahu kita bahwa Allah memilih tempat kelam penuh nestapa dan bahaya, di mana justru kesucian hampir tidak mungkin ada. Namun salib justru tertancap di sana, dan darah kesucian tercurah darinya. Di bawah kayu salib itu, kematian di sekitar tempat pembuangan sampah dihidupkan kembali.
“Kristus telah disalibkan di luar pintu gerbang, marilah kita datang menemuinya.” Heroisme salib adalah kemauan untuk pergi ke luar pintu gerbang, meninggalkan zone of comfort. Kita akan mengalami kesulitan mewartakan kejayaan salib sementara kita beranjangsana di zona kenyamanan kita sendiri. Tuntutan dari heroisme salib adalah kemauan berkontradiksi dengan pedih dan perihnya penderitaan dunia. Misteri salib di luar pintu gerbang mengingatkan kita bagaimana Allah memandang dunia dan manusia. Dunia itu begitu berharga di hati Allah, tetapi sedang terluka amat dalam. Pertanyaan yang mestinya terus terngiang bagi seorang pejuang salib adalah: di manakah “di luar gerbang” bagiku? Karena di sanalah, pengudusan dan penebusan terjadi, di mana Sang Penebus menumpahkan darah-Nya.
Disampaikan dalam Lectio Crucis, Hari Raya Salib Suci 14 September 2008 Kumpulan Lectio Crucis 71
Komisi Spiritualitas OSC72
SALIB ILAHI ITU SKANDAL MANUSIAWI Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC Pengantar Dalam buku The Beauty of the Cross: The Passion of Christ in Theology and the Arts, from the Catacombs to the Eve of the Renaissance (2005), Richard Viladesau menguraikan teologi estetik saat mem-bahas tema sentral dalam iman Kristiani, yaitu penderitaan Yesus yang puncaknya digambarkan dalam kematian-Nya pada kayu salib. Ia menjelaskan bagaimana berbagai potret artistik dari penderitaan Yesus dan refleksi atasnya membentuk perspektif teologis yang berbeda, terutama dalam pemahaman tentang maknanya bagi keselamatan dan selanjutnya menimbulkan respon yang berbeda. Di satu sisi, refleksi ini akan menjadi materi soteriologi, yaitu teologi konseptual tentang salib. Di lain pihak, refleksi ini menyangkut teologi klasik Gereja yang berbicara tentang tempat penderitaan Yesus dalam penyelamatan manusia.
Ilustrasi Pertama, di Cigugur, pada suatu hari raya Kenaikan Tuhan ke Surga, salib yang biasanya tergantung di atas tabernakel tidak ada. Waktu sang koster ditanya sang pastor; ke mana salib tersebut, sang koster dengan enteng menjawab: “Kan hari ini Yesus naik ke surga, jadi sudah tak disalib lagi.” Kumpulan Lectio Crucis 73
Kedua, seorang muslim menonton The Passion of the Christ berkomentar bahwa ia tak percaya sama sekali bahwa penderitaan itu terjadi pada Yesus, sang nabi. Pasti itu adalah ilusi yang dibuat Allah. Isi Sejak awal, Kristianitas dikenal sebagai religio crucis, yaitu agama salib. Simbol salib dan maknanya inilah yang justru membedakan agama Kristen dari agama-agama dunia lainnya. St. Paulus berkata: “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.” (1Kor 1:22-24).
Dalam agama Islam, Allah tak mungkin membiarkan nabi-Nya menderita, apalagi mati dengan cara seperti Yesus (Qur’an 4, 157-158). Demikian juga dalam Buddha, seperti yang ditulis oleh Master Zen D. T Suzuki: “Simbolisme kristiani banyak berkutat pada penderitaan manusia”. Penya-liban menjadi klimaks dari segala penderitaan. Sementara Buddha yang juga berbicara tentang penderitaan menaruh klimaksnya pada peristiwa sang Buddha duduk dengan damai di bawah pohon boddhi dekat Sungai Narnja. Kristus tergantung tak berdaya di atas salib, penuh kesedihan, sedangkan Komisi Spiritualitas OSC74
Sang Buddha bersanding damai di dalam nirvana, penuh sukacita. Paulus menyatakan bahwa salib itu menjadi kebodohan bagi mereka yang sedang menuju kebinasaan, tetapi bagi mereka yang menempatkan diri dalam proses keselamatan, salib adalah kekuatan Allah. Pelayanan kristiani melalui pewartaan kabar baik yang adalah misteri salib selalu merupakan skandal, di mana salib menjadi pesan revolusioner, kontrakultural, dan kontraintuitif. Hal ini digambar-kan dengan eksplisit dalam film The Passion of the Christ karya Mel Gibson melalui mulut penjahat yang menghujat Yesus. Kebodohan di sini lebih tepat kalau diterjemahkan sebagai “kegilaan”, yaitu sesuatu yang tak masuk akal bagi hikmat dunia. Salib hanya masuk akal dalam hikmat Allah yang mengandaikan adanya iman sebagai akal budi spiritual. Ini adalah pengudusan intelektual. Iman menguduskan kebijak-sanaan insani untuk menangkap warta ilahi. Hal ini tak bisa diterima oleh jemaat Korintus yang menonjolkan logos sebagai hikmat duniawi. Karenanya, salib menjadi skandal.
Sebagai simbol keselamatan, salib tak kehi-langan karakter ofensif (teror) terhadap mereka yang berada di luar tradisi kristiani. Justru figur yang hancur dari Yesus menampilkan apa yang berlawan-an dengan keselamatan; kekalahan, kekejaman, dan kutukan (Bil 21: 23). Bagi Muslim Sunni, nabi Allah itu terberkati dan mulia. Untuk banyak orang Yahudi, salib adalah simbol ofensif dari suatu sejarah penganiayaan dan penurunan martabat manusia sehina-hinanya. Bagi warga Romawi, salib adalah bentuk hukuman bagi manusia kasta terendah Kumpulan Lectio Crucis 75
(sejajar dengan binatang). Maka, tak ada orang Roma yang dihukum dengan cara disalibkan. Bagi sebagian orang pada zaman sekuler, salib menyimbolkan beban perasaan bersalah karena mengandung tendesi masokisme.
Akan tetapi, kalau hal ini ditinjau dari perspektif teologi estetik menjadi lain. Dalam arti tertentu estetika berkaitan dengan keindahan. Seni sebagai sarana komunikasi tidak selalu memberi gambaran ini. Penyaliban sering digambarkan dengan cara yang indah. Salib sendiri sering menjadi suatu objek yang indah. Hal ini bisa diterima kalau keindahan dipahami dalam kaitan dengan Allah, kebaikan, keadilan, dan tujuan ultim.
Ketika kita berbicara mengenai keindahan salib, kita berbicara dengan suatu cara yang sungguh paradoksal. Dasar dari paradoks ini jelas dalam surat Paulus (1Kor.1:23). Kejelekan Allah berarti lebih indah dari keindahan manusia. Karl Barth dan Hans Urs von Balthasar menegaskan bahwa keindahan ilahi meliputi salib. Keindahan transenden Allah harus juga merangkul kegelapan pekat yang ke dalamnya salib dipancangkan. Keindahan ini jangan direduksi ke dalam keindahan insani dan duniawi. Janganlah kriteria keindahan manusia diterapkan pada Allah. Balthasar mengatakan bahwa proyeksi keindahan duniawi pada Allah akan membuat pengertian keliru tentang keindahan salib. Agustinus mengatakan: Non ideo pulchra sunt, quia delectant, sed ideo delectant, quia pulchra sunt (Sesuatu itu indah bukan karena memberi kesenangan, tetapi Komisi Spiritualitas OSC76
sesuatu itu memberi kesenangan karena indah [De vera rel., 32, 59]).
Apa yang indah menghasilkan kesenangan atau kesukaan, seperti kata Thomas Aquinas: “pulchra sunt, quae visa placent” (yang indah itu adalah yang memberi kesukaan hati). Akan tetapi, sesuatu itu indah bukan karena memberi kesenangan. Karena sesuatu itu indah, (maka) ia memberi kesenangan. Dalam konteks kita, apa yang dikatakan Agustinus bisa diperluas menjadi “Non ideo Deus Deus, quia pulcher est, sed ideo pulcher, quia Deus est” (Allah itu bukanlah Allah karena Allah itu indah, tetapi lebih Allah itu indah karena Allah itu adalah Allah). Para Bapa Gereja berbicara tentang keindahan salib dengan mengacu pada Yes 53:2 “Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupanya pun tidak sehingga kita tidak menginginkannya.” Ini dikontraskan dengan Mzm. 44:3, di mana Daud mengarah pada Yesus sebagai “Engkau yang terelok di antara anak-anak manusia, kemurahan tercurah pada bibirmu sebab itu Allah telah memberkati engkau untuk selama-lamanya”. Ini dikaitkan juga dengan Kidung Agung “Lihatlah, engkau itu cantik sekali, anak-Ku terkasih” (Kid.1:7). Agustinus selanjutnya berkomentar bahwa bagi kita yang mampu melakukan discernment, Ia itu selamanya indah (tampan): pulcher in patibulo (indah saat memanggul salib), pulcher in ligno (indah di atas salib), dan indah di surga. Keindahan (salib) Kristus itu tak akan tampak kecuali bagi mereka yang tahu bagaimana membedakan keindahan spiritual. Kumpulan Lectio Crucis 77
Keindahan itu terletak dalam kebaikan atau kebenaran yang kepadanya kita dipanggil untuk meniru sehingga kita pun menjadi indah. Agustinus secara eksplisit mengomentari 1Yoh: “Saudara-saudara, jiwa kita itu jelek karena dosa. Dengan mencintai Allah, jiwa kita menjadi indah.” Cinta macam apakah yang membuat orang yang mencintai itu menjadi indah (tampan, cantik)? Allah itu selalu indah, tak berubah. Allah yang selalu indah itu mencintai kita lebih dulu. Bagaimana Allah mencintai kita jika bukan karena jelek? Bukan untuk membuang kita karena jelek, tetapi mengubah kita menjadi indah. Bagaimana kita bisa indah yaitu dengan mencintai Dia yang selalu indah. Semakin cinta kita berkembang, semakin keindahan itu tumbuh. Suatu lukisan abstrak dinikmati keindahannya di hadapan pelukisnya. Lukisan sama akan tampak biasa saja bagi mereka yang tak mempunyai jiwa seni. Tapi bagi mereka yang menghargai seni dan memiliki jiwa artistik seperti jiwa sang pelukis, akan memandangnya sebagai lukisan yang sangat bernilai tinggi, bahkan berani membeli sekalipun harganya triliunan rupiah ($ 140 million for “No. 5, 1948” by Jackson Pollock [2006]; $ 104 million for “Boy with a Pipe” by Pablo Picasso [2004]; $ 82.5 million for “Portrait du Dr. Gachet” by Vincent van Gogh [1990]). Kuncinya terletak pada adanya “mata” atau “jiwa” lain yang mampu menerawang nilai artistik di balik materi fisik lukisan. Demikianlah keindahan salib tidak bisa dilihat dengan mata jasmani dan dipahami dengan rasio intelektual. Oleh karena itu, misteri salib tertutup bagi orang yang mengandalkan hikmat Komisi Spiritualitas OSC78
duniawi. Keindahan salib harus dicermati dengan mata rohani dan dimengerti dengan iman spiritual. Bagi mereka yang diselamatkan, yang memiliki mata spiritual dan iman, akan melihat nilai di balik salib sebagai unsur artistik. Keindahan salib terletak pada: 1. Realitas kurban yang berharga. Kurban yang berkenan kepada Allah hanyalah kurban yang “terbaik” (ingat kisah kurban Habel yang mempersembahkan yang terbaik hingga berkenan pada Allah). Realitas kurban ini menyingkapkan kualitas sang korban, yaitu Yesus sebagai manusia terbaik yang pernah lahir di dunia. Yang terbaik mau mengorbankan diri demi sesuatu yang bernilai tinggi, yaitu keselamatan manusia. Realitas kurban ini memberi inspirasi dan motivasi bagi para martir untuk berani mengorbankan diri demi gereja dan bagi para pahlawan yang berani mati untuk negara dan sesama. Ia bukanlah korban kekejaman Romawi atau kebencian Yahudi, tetapi dengan sengaja memberikan diri (Yoh.10:18). Ini juga ditegaskan Yohanes Damaskus: “semua dilakukan Yesus dengan sukarela”.
2. Realitas keselamatan yang terjadi atas inisiatif Allah. Dalam salib ada cahaya penuh harapan bahwa manusia berdosa sungguh ditebus hingga mengalami keselamatan. Manusia yang berdosa merana dan tak berdaya. Allah berinisiatif untuk Kumpulan Lectio Crucis 79
menyelamatkan manusia. Tanpa campur tangan ilahi, manusia tak mungkin memperolah keselamatan dengan kekuatan insaninya. Inisiatif rekonsiliasi yang menyelamatkan terjadi karena Allah bertindak lebih dulu. Di sini kita perlu berjaga terhadap undangan Allah yang berinisiatif lebih dulu.
3. Realitas rekonsiliasi abadi dan restorasi gambar ilahi. Keselamatan terjadi karena rekonsiliasi antara Allah sebagai Bapa dan manusia sebagai anak-Nya (Luk.15:11-32), antara Allah sebagai suami dan manusia sebagai istri (konsep Perjanjian Lama), antara Kristus dan gereja-Nya (konsep Perjanjian Baru). Rekonsiliasi ini mengatasi dimensi spasial temporal (semua manusia dari semua zaman: mengatasi primor-dialisme etnis) karena bermakna eskatologis (keselamatan di dunia baka). Inilah yang dikatakan Agustinus sebagai saat purifikasi dari dosa, baik original maupun personal. Gambar Allah yang rusak pada manusia diperbaiki oleh Yesus (Yoh.12:32). Di sini kita dipanggil untuk selalu kembali kepada Allah di saat tersesat (berdosa), karena pintu rekonsiliasi telah dibuka. Ini juga saat restorasi diri untuk semakin menjadi seperti gambar Allah.
4. Realitas cinta Allah dan belas kasih ilahi (Yoh.3:16). Karena cinta-Nya yang begitu Komisi Spiritualitas OSC80
besar kepada manusia, Allah mengutus Putra Tunggal-Nya untuk dikurbankan demi manusia. Agustinus berkata, “Terlambat sangat aku mencintai-Mu,” karena Allah selalu lebih dulu mencintainya. Di sini kita disadarkan bahwa kita tidak hidup sendiri. Ada Allah yang mencintai kita.
5. Realitas manusia yang berharga di mata Allah. Putra Allah dibiarkan dicerca dan dihina supaya manusia bahagia dan mulia. Putra Allah dibiarkan sengsara dan wafat supaya manusia hidup dan selamat. Untuk apa Yesus sang Manusia Terbaik itu dikorbankan kalau manusia tidak berharga di mata Allah? Di sini kita menyadari bahwa hidup manusia berharga hingga mutlak dijaga dan dibela.
6. Realitas penyerahan manusia pada Allah. Tidak semua manusia itu jahat. Manusia itu tidak buruk. Ada unsur positif dalam diri manusia. Ia bisa taat pada Allah, pasrah pada penyelenggaraan ilahi hingga berseru, “Jangan kehendak-Ku yang terjadi tetapi kehendak-Mu-lah yang terjadi. Ke dalam tangan-Mu Kuserahkan diri-Ku”. Di sini kita dipanggil untuk memiliki penyerahan pada Allah.
7. Realitas hidup itu sebuah paradoks. Salib itu pertemuan antara manusia dan Allah; perjumpaan antara penderitaan-kematiaan dan kemuliaan-kebangkitan. No Crown Kumpulan Lectio Crucis 81
without Cross; Tak ada mahkota mulia tanpa salib hina. Keselamatan itu pemberian (anugerah Allah), tapi sekaligus juga perjuangan (jerih payah manusia). Di sini manusia dikuduskan dan setan dikalahkan (menurut Gregorius Nazianze). Di sini kita diajak menerima realitas hidup yang up and down.
Ketujuh realitas di atas menjadi unsur artistik dalam salib kalau memang orang berpikir seperti apa yang dipikirkan Allah, bukan dipikirkan manusia. Maka, bagi mereka yang berhikmat duniawi, salib adalah kebodohan dan batu sandungan yang bernilai buruk: kekalahan, kebencian, kejahatan, dan kekejaman. Di situlah tiada keindahan sedikit pun. Salib dipandang hanya sebagai skandal yang harus dijauhkan.
Aplikasi Kalau kita tak menangkap jiwa artistik ilahi, kita tak mungkin melihat keindahan salib. Kalau kita tak dapat melihat keindahan salib, kita akan menolak realitas salib. Kalau kita menolak realitas salib, kita akan ditegur sebagaimana Petrus ditegur Yesus “Enyahlah Iblis, engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memilikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mat.16:23)
Komisi Spiritualitas OSC82
Manusia itu diibaratkan dua penjahat yang disalibkan bersama Yesus, yang layak menerima hukuman salib. Salib bisa ditangkap secara paradoksal (berbeda) oleh orang yang berada dalam situasi dan kondisi yang sama. Yang satu malah menghujat Yesus sebagai skandal, sedang yang lain melihat dengan mata iman hingga memahami keindahan salib sebagai peristiwa penyelamatan dengan berkata: “Yesus, ingatlah aku apabila Engkau datang sebagai raja” (Luk. 23:39-43). Hal ini terjadi karena penjahat yang bertobat itu memiliki jiwa artistik seperti yang dimiliki Allah pada saat akhir hidupnya. Kita patut merenungkan, apakah kita juga memiliki jiwa artistik seperti yang dimiliki Allah, Sang Artist di balik karya salib.
Judul diinspirasi dari 1Kor. 1:18-31.
Disampaikan dalam Lectio Crucis, Hari Raya Salib Suci 14 September 2009 Kumpulan Lectio Crucis 83
Komisi Spiritualitas OSC84
SALIB KRISTUS SEBAGAI TERANG KEHIDUPAN Agustinus Rachmat Widiyanto, OSC A. Introduksi 1. Usul Saya pernah usul kepada Pst. Anton, provinsial yang baru, agar renungan salib untuk tahun Yubileum ini disampaikan oleh seorang pastor paroki atau seorang awam. Dari seorang pastor paroki, bisa diminta sharing bagaimana ia telah menyampaikan pesan salib itu kepada umat yang tengah dirundung nasib pahit dan malang; dan bagaimana reaksi umat yang bersangkutan: bingung atau terhibur, terangkat atau terbanting hatinya oleh pesan salib itu. Atau bahkan, langsung minta seorang umat atau awam saja untuk menceritakan pengalaman dan perasa-annya tentang salib itu: salib sebagai beban atau berkat kehidupan?
Pst. Anton berkata: “Usul diterima dengan baik, dan akan dilaksanakan pada waktunya. Tapi untuk bulan depan, Pst. Agus saja yang memberi lectio crucis, renungan salib itu!” Sebetulnya, reaksi spontan saya adalah menolak tugas itu: “Biarlah salib itu lewat dari pundak saya!”. Tapi kemudian timbul counter-feeling, rasa sungkan dan tak enak dalam hati: “Masak menolak tugas dari provinsial yang baru terpilih? Jangan-jangan nanti dikira tak taat, kurang hormat, tidak mendukung, dan aneka teori conspiracy Kumpulan Lectio Crucis 85
lainnya. Begitulah, saya berdiri di sini malam ini karena menerima ‘amanat’!
2. Dongeng Pribadi Saya akan mengawali renungan salib ini dengan sebuah dongeng yang panjang. Dua belas tahun yang lalu, bersama rombongan Indonesia yang tinggal di negeri Belanda, saya berziarah ke Polandia, mengun-jungi tempat Santa Faustina di kota Krakow (Faustina adalah favorit Paus Yohanes Paulus II). Setelahnya, kami berkunjung ke Auschwitz-Birkenau, bekas tempat kamp konsentrasi orang Yahudi semasa Nazi-Hitler berkuasa di seluruh Eropa. Orang Yahudi menyebut Auschwitz itu sebagai Holocaust, dari kata Yunani holos (total, seluruhnya) dan kaustos (burnt, dibakar), tempat ribuan orang Yahudi dibakar habis dalam krematorium raksasa.
Auschwitz adalah tempat yang aneh: sebuah penjara yang berlokasi di tempat yang sepi, tersem-bunyi, terpencil dan berlokasi di tengah padang rumput yang luas, dibatasi oleh pagar kawat listrik dan berduri. Kalau kita masuk ke dalam kompleks penjara itu, perlahan-lahan rasa sepi itu berubah menjadi rasa ngeri, saat kita menyaksikan sisa-sisa kekejaman dan penderitaan anak manusia, sepatu dan pakaian yang kumal dan lusuh, gumpalan rambut wanita yang dipangkas untuk menjadi rambut boneka mainan anak-anak Jerman kumpulan gigi yang dicabut begitu saja untuk menyiksa atau merampas gigi emas, tiang gantungan, ruang penyiksaan, ruang eksekusi mati, dan lain-lain.
Komisi Spiritualitas OSC86
Saya merasa pengap dan stress berat berada dalam ruangan, dalam barak, dan lalu keluar untuk mengisap rokok. Di luar, saya melihat ada seorang kakek tua, lalu saya bertanya kepadanya, “Apakah saya boleh merokok?” Kakek itu menjawab, “Jika dapat, Anda janganlah merokok. Tempat ini adalah tempat suci bagi kami, dan kami mempunyai trauma, mempunyai ingatan yang pahit akan asap!” Wah, trauma akan asap... bahkan akan asap kecil dari sebuah rokok lintingan! Sungguh luar biasa, pikir saya. Samar-samar saya bisa membayangkan alasan-nya. Namun rasa samar-samar itu menjadi jelas sejelas-jelasnya setelah saya membaca sebuah buku karya Elie Wiesel berjudul The Night (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia beberapa tahun yang lalu dengan judul Malam). Jadi, dongeng pribadi saya itu akan disambung dengan mendo-ngeng tentang Elie Wiesel!
B. Elie Wiesel 1. Masa Kecil Elie Wiesel adalah seorang pengarang Yahudi-Amerika yang pernah mendapat hadiah Nobel untuk perdamaian. Ia lahir di Polandia, anak dari seorang Rabbi Yahudi. Sejak kecil, ia sudah mempelajari Kitab Suci dan dididik untuk hidup hanya “demi kemuliaan Allah” semata. Waktu berumur sebelas tahun, bersama banyak orang Yahudi lainnya, Elie Wiesel ditangkap serdadu Jerman lalu diangkut dalam kereta api entah ke mana, tanpa tahu arah dan tujuan kereta tersebut.
Kumpulan Lectio Crucis 87
Dalam gerbong yang pengap dan sesak, aneh: ada satu orang tua yang entah kenapa terus-menerus mendesis ”Fire… Fire… (Api… Api…)!” Jika ia disuruh diam, aneh, orang tua itu bukannya diam malahan dari mendesis jadi berteriak keras: “Apiii.. Apiii!” Akhirnya, orang membiarkannya saja sendirian, tanpa mengerti apa arti jeritannya dan mengapa sampai ia menjerit-jerit terus sepanjang perjalanan. Belakangan, Elie Wiesel menulis: nampaknya orang tua itu mendapat sebuah visiun/penglihatan, ia melihat nasib apa yang akan menimpa mereka semua nanti di tempat tujuan.
Kereta berhenti di sebuah tempat yang asing dan sepi. Penumpang langsung dibagi dua: kaum wanita bergerak ke arah kiri, kaum pria maju ke arah kanan. Itulah terakhir kalinya Elie Wiesel melihat ibu dan adik perempuannya, yang menangis memeluk boneka mainannya. Beberapa hari setelahnya, Wiesel baru tahu bahwa rombongan wanita itu adalah barisan pertama yang dikirim masuk ke dalam kamar gas dan krematorium. Sebelumnya, mereka semua ditelanjangi; dirampas harta miliknya, dirampas kehormatannya! Lalu tubuh mereka dijadikan BBM; dijadikan bahan bakar untuk krematorium yang sekaligus adalah sebuah pabrik produksi. Dengan cepat, tubuh manusia berubah menjadi asap hitam yang mengotori udara dengan bau sengit yang aneh. Wiesel menuliskannya sebagai berikut (saya kutip):
“Takkan pernah kulupakan malam itu, malam pertama dalam kamp konsentrasi, yang telah menyebab-Komisi Spiritualitas OSC88
kan hidupku menjelma menjadi suatu malam tak berkesudahan, tujuh kali terkutuk dan tujuh kali tersumbat. Takkan pernah kulupakan asal itu. Takkan pernah kulupakan wajah-wajah mungil anak-anak itu, yang tubuhnya menjelma bagaikan karangan bunga untuk orang mati, terdiri dari asap, di bawah langit biru tak bersuara. Takkan pernah kulupakan lidah api itu, yang membakar habis imanku untuk selama-lamanya... Takkan pernah kulupakan saat-saat itu, yang membunuh Allahku dan jiwaku, dan menghancurkan semua cita-citaku. Takkan pernah kulupakan semua hal ini, biarpun hidupku akan serasa jadi terkutuk selama-lamanya.” ~Malam~ Seperti yang sebentar lagi akan saya jelaskan, kata terpenting dari kutipan itu adalah kata ”Takkan pernah kulupakan!” (Never will I forget). Jangan pernah manusia melupakan tragedi yang telah terjadi dalam sejarah. Jangan pernah manusia melupakan penderitaan sesamanya manusia!
2. Iman yang Hangus Penderitaan massal telah menbakar hangus iman Elie Wiesel: imannya akan kebaikan manusia, dan imannya akan kebaikan Allah. Auschwitz membuktikan bahwa manusia bisa berubah kodrat dan wataknya; dari citra Allah menjadi citra binatang, bahkan citra setan. Bukan imago Dei tapi imago diaboli! Auschwitz juga menunjukkan betapa Allah itu bisu dan tuli terhadap penderitaan manusia. ”Manusia sudah diperkosa dan dihina di luar batas yang terbayangkan hati dan jiwa, menantang Sang Ilahi yang buta dan tuli” (kutipan Wiesel). Kumpulan Lectio Crucis 89
Lalu bagaimana manusia harus hidup dalam sebuah dunia tanpa suara hati dan tanpa Allah itu? Dunia yang sudah kehilangan rasa perikemanusiaan dan rasa keilahian itu? Ringkasnya, ada dua cara: cara lunak atau moderat seperti dianjurkan Wiesel, dan garis keras atau radikal seperti dipraktikkan Benyamin Netanyahu.
Wiesel berkata bahwa manusia itu tak boleh melupakan tragedi sejarah: tragedi yang pernah terjadi di Auschwitz dan Hirosima, di Gaza dan Kamboja, atau di tempat-tempat lainnya. Tragedi itu harus menjadi ”Memoria Subversiva”, jadi kenangan pahit yang menghantui hidup manusia; kenangan berdarah yang melahirkan perintah: Never again and never more. Jangan Terulang lagi dan Jangan Pernah terjadi lagi! Jangan terulang lagi tragedi kamp konsentrasi dan ras diskiriminasi, jangan terjadi lagi perang agama dan perang dunia, jangan terjadi lagi ethnic-cleansing atau inkuisisi religius, dan seterus-nya.
Sebaliknya, penganut garis radikal menandas-kan bahwa Allah tak tampil sebagai Mesias yang menyelamatkan manusia. Akibatnya, manusia harus menyelamatkan dirinya masing-masing. Atau lebih tepat lagi, negara, the State of Israel atau America, harus tampil sebagai pelindung dan penyelamat bagi warganya, di mana pun mereka berada dan dengan cara apa pun juga. Celakanya dan tragisnya, kondisi seperti di Auschwitz kembali ditemukan justru di kedua negara tersebut. Gaza dan Guantanamo kini Komisi Spiritualitas OSC90
menjadi simbol historis dari penindasan dan ketidak-adilan yang terjadi dalam dunia.
C. Salib Kristiani 1. Salib sebagai Skandal Hidup Penderitaan itu bukan monopoli orang Israel. Penderitaan juga bukan monopoli kelompok minori-tas atau kaum miskin dan papa. Dalam pelbagai bentuk, penderitaan itu menerobos masuk ke dalam hidup setiap manusia. Kisah Auschwitz itu disam-paikan untuk menunjukkan betapa warta In Cruce Salus, dalam salib ada keselamatan, adalah suatu warta yang membingungkan, bahkan menurut santo Paulus, suatu skandal yang menyinggung otak dan hati manusia: ”Untuk orang-orang Yahudi, salib adalah suatu batu sandungan. Dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan!... Tetapi bagi orang yang percaya, salib adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.” (1Kor. 1:23-24). Bagaimana salib itu bisa jadi verbum crucis, dei virtus (warta salib adalah kekuatan Allah). Bagaimana mungkin bahwa bagi orang Kristiani, makna salib itu sudah berubah total: dari instrumen kejahatan menjadi instrumen keselamat-an, dari tanda siksaan dan kematian menjadi tanda kasih dan kehidupan?
2. Tafsiran Yesus atas Penderitaan-Nya Transformasi arti salib itu terjadi berkat makna, berkat interpretasi yang Yesus berikan atas penderitaan-Nya. Yesus sadar bahwa pada akhirnya hidup-Nya akan berakhir dengan tragis dan dramatis; Kumpulan Lectio Crucis 91
bukan hanya ajaran-Nya yang ditolak, tapi juga nyawa-Nya akan disingkirkan secara brutal oleh para penguasa agama dan negara. Itu sebabnya Dia berkata, ”Aku harus menerima baptisan, dan betapa susahnya hati-Ku, sebelum hal itu terjadi... Kamu menyangka Aku datang untuk membawa damai; bukan damai kata-Ku melainkan pertentangan.” (Luk. 12:50). Ringkasnya, Yesus sadar bahwa konflik-Nya dengan penguasa akan berakhir dengan kematian. Itu sebabnya ”baptisan” yang Ia maksudkan bukanlah baptisan dengan air atau roh. Ia sudah mengalami kedua hal itu di tepi sungai Yordan (Luk. 3:21-22). Baptisan yang dimaksud adalah baptisan dengan darah-Nya sendiri yang akan tercurah ke atas tanah. Bagaimana Yesus bisa menerima nasib-Nya? Bagaimana Ia bisa mengantisipasi salib baptisan-Nya? Ringkasnya, bagaimana Yesus bisa menafsirkan penderitaan-Nya bukan sebagai kegagalan dan kesia-siaan belaka? Dua kata kunci, dua formula yang berasal dari Kitab suci telah menjadi pegangan dan kekuatan bagi Yesus untuk menyambut salib-Nya. Formula yang pertama ialah ”because of you”, oleh karena kamu, oleh karena kita. Yesus adalah korban dari dosa dan kejahatan kita. Ia menderita dan mati oleh karena manusia telah bersikap antimanusiawi terhadap sesamanya. Formula because of you itu berasal dari figur Ebed Yahwe, figur Hamba Allah yang ditulis oleh nabi Yesaya: ”Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita, tetapi oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yes 53: 5-6). Komisi Spiritualitas OSC92
Salib Yesus adalah cermin abadi, rekam jejak historis dosa dan kejahatan manusia sepanjang masa. Mengikuti saran Elie Wiesel, kita bisa berkata, ”Janganlah pernah melupakan Salib Yesus”. Artinya, janganlah pernah melupakan bahwa ada benih dosa dan kejahatan bercokol dalam hati dan sejarah manusia.
Formula yang kedua adalah ”for you, for our sake”, untuk kamu, untuk kita semua. Dalam perjamuan terakhir, Yesus berkata, ”Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu… Inilah darah-Ku yang ditumpahkan bagi kamu” (Luk. 22:20). Dua kali kata “bagi kamu” itu diulangi dan ditekankan dengan gerakan simbolis roti dan anggur, penyerahan tubuh dan darah. Artinya, Yesus yakin bahwa kematian-Nya bukanlah kematian yang sia-sia, tapi justru kematian yang subur, kematian yang mendatangkan berkat dan keselamatan bagi umat manusia.
3. Rahmat Keselamatan Apa rahmat keselamatan yang meluap dari kematian Yesus? Sekurangnya ada tiga hal berikut. Pertama, perjanjian baru dan abadi antara Allah dan manusia. ”Inilah darah-Ku yang menjadi perjanjian baru bagimu!” Artinya, apa pun yang terjadi dengan nasib dan watak manusia, Allah tidak akan memperlakukan manusia sebagai budak atau musuh-Nya. Relasi dengan Allah itu harus menjadi model dan inspirasi bagi relasi antarmanusia juga; janganlah kita memperlakukan orang lain sebagai budak atau musuh kita. Cintailah musuhmu! Kemampuan untuk mencintai sesama sebagai saudara itu hanya mungkin Kumpulan Lectio Crucis 93
ditimba berkat kekuatan Allah, berkat relasi akrab dengan Allah seperti yang diperlihatkan Yesus. Kedua, rahmat pengampunan. Dari atas kayu salib, Yesus berkata: ”Ya Bapa, ampunilah mereka!” Perkataan inilah yang telah mendorong serdadu Romawi yang berdiri di bawah salib untuk berkata, ”Dia sungguh Putra Allah!” Kesakitan dan penderitaan kita bukanlah alasan, bukan pembenaran untuk melampiaskan dendam dan kebencian, untuk menciptakan penderitaan juga dalam nasib orang lain. Rekonsiliasi itu lebih utama daripada revenge. Sabda pengampunan inilah yang telah dijadikan inspirasi oleh pendeta Martin Luther King dan Uskup Desmond Tutu untuk meredam sakit hati dan kemarahan kaum black people di Amerika dan Afrika Selatan. Salib mengundang kita untuk bersujud mohon pengampunan Allah.
Ketiga, kehidupan abadi. Salib Yesus tidak bisa dipisahkan dari kebangkitan-Nya. Rasul Paulus berkata: ”Jika Yesus tidak bangkit dari mati, maka iman dan pewartaanku itu sia-sia belaka... dan kita adalah orang yang paling pantas dikasihani di dunia.” Yesus sendiri berkata kepada penjahat yang tergantung di samping-Nya, ”Pada hari ini juga engkau akan bersama-Ku di Firdaus.” Iman akan ke-bangkitan, akan kehidupan baru ini begitu berkobar dalam umat di Gereja Perdana. Rasul Paulus sendiri berkata, ”Aku didesak oleh dua keinginan yang berbeda, aku ingin segera pergi dan diam bersama Kristus selamanya di surga, tetapi aku sadar bahwa Komisi Spiritualitas OSC94
saat ini aku lebih perlu tinggal di dunia ini karena kamu (Fil. 1:23).
Iman akan kebangkitan inilah yang bisa menjelaskan antusiasme para rasul dan ribuan martir Kristiani dalam menyambut kematiannya. Mereka semua mati dengan cara yang sengsara dan sulit dibayangkan; dipenggal, dibakar, direbus air panas, disalibkan, dijadikan santapan binatang buas, dan seterusnya. Namun ajaibnya, mereka mati dengan hati yang rela dan gembira, memilih mati ketimbang mengkhianati Yesus, sebab bagi mereka berlakulah ucapan Paulus ini: ”Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan; dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan”, milik Kristus (Rm. 14: 8).
D. Penutup Salib itu ibarat suatu cermin yang menampilkan dua wajah: wajah manusia yang berkubang dosa dan wajah Allah yang bersimbah rahmat. Menarik untuk diingat bahwa Rasul Paulus tidak menyebut salib sebagai tanda keselamatan, tidak menyebutnya seba-gai alat atau simbol keselamatan. Paulus menyebut salib sebagai kekuatan Allah yang menyelamatkan. Apa yang kita harapkan kalau kita merenungkan atau memuliakan Salib Yesus adalah kekuatan ilahi tersebut, kekuatan yang menyelamatkan kita dari kuasa kejahatan, penderitaan, dan kematian. Amin. Disampaikan dalam Lectio Crucis, Hari Raya Salib Suci 14 September 2010 Kumpulan Lectio Crucis 95
Komisi Spiritualitas OSC96
FENOMENOLOGI SALIB:
KETAATAN YANG TAK TERPAHAMI, KETAATAN KARENA CINTA HADRIANUS TEDJOWORO, OSC Bagaimana kalau Salib itu bukanlah “keku-rangan” (deficiency), tetapi “kelebihan” (excess)? Bukan “kekosongan” (kenoteta), melainkan “kepe-nuhan” (pleroteta)? Bagaimana kalau spiritualitas kita yang ditandai oleh Salib (cruce signati), tidak berawal dari sebuah kesalahan dan “guilty feeling”, melainkan dari cinta dan “perasaan dicintai”? Sebuah spiritualitas yang tumbuh, dipelihara, dan dipupuk dalam lingkungan yang segar dan positif akan menghasilkan buah-buah yang manis. Sebaliknya, sebuah “spiritualitas” yang berangkat dari dosa dan kelemahan manusiawi hanya akan menumbuhkan duri dalam daging, duri yang akan terus menerus melukai kebersamaan.
Bisa jadi, sebuah perubahan “keyakinan”, juga sudut pandang, dibutuhkan supaya kita bisa melihat sesuatu yang berbeda, bahkan tak terduga, dalam penghayatan kaul kita. Semuanya berawal dari Yesus, Yang Tersalib. Mengapa Ia sampai memiliki ketaatan seperti itu? Ketaatan karena “otoritas” Bapa-kah? Mungkin kita terlalu mudah menyimpulkan, bahwa Kristus “taat” pada kehendak Bapa, taat sampai menyerahkan hidup-Nya (Flp. 2:8). Kita telanjur setuju dengan salah satu penafsiran Kitab Suci bahwa Kumpulan Lectio Crucis 97
Yesus dan Bapa adalah dua “subjek” yang berbeda otoritas. Itu kalau kita masih percaya pada “subjek”. Tapi kali ini, kita akan “mencoret” subjek itu. Kita akan mencoba masuk ke dalam “fenomenon” salib. Bukan pertentangan subjek lagi yang akan kita lihat, melainkan sebuah peristiwa yang dahsyat, melanda, membanjiri, mensaturasi. Tidak ada lagi subjek di sana. Hanya peristiwa.
Jean-Luc Marion adalah yang pertama me-munculkan pemahaman “saturated phenomenon” (“fenomenon tersaturasi”), yakni suatu kejadian yang dibanjiri oleh cahaya, semacam “peristiwa cahaya” yang memukau sekaligus menyilaukan. Peristiwa Transfigurasi di atas gunung, ketika pakaian Yesus menjadi sangat “putih berkilat-kilat” (Markus) dan “bersinar seperti terang” (Matius), adalah sebuah fenomenon tersaturasi. Bahkan Matius mencatat bahwa bukan hanya pakaian Yesus, tetapi juga “wajah-Nya bercahaya seperti matahari”.
Cahaya yang menyilaukan, “seperti matahari”, tidak akan bisa kita lihat. Kita menjadi buta sesaat. Cahaya semacam ini, secara paradoksal, “tidak bisa kita lihat”, tidak bisa ditatap, karena akan membutakan. Dan di situlah kita menemukan bahwa sebuah fenomena tersaturasi menjadi invisible, unreadable, atau irregardable (dari bahasa Prancis regarder) yang berarti “tak bisa ditatap”. Dan ini semua bukan karena sebuah kekurangan, bukan karena gelap dan pandangan yang kabur, melainkan persis karena: cahaya yang berlebihan! An excess of light! Sesuatu yang terlalu terang akan membuat kita Komisi Spiritualitas OSC98
‘buta’. Hanya pada saat itu kita akan tahu, bahwa diri kita, self kita, aku sebagai “subjek” pun dicoret! Kita bukan lagi subjek, karena tenggelam di dalam sebuah peristiwa yang tidak kita duga, tidak bisa diramalkan, tak pernah terpikirkan, tidak bisa diulang kembali. The death of the “eye” is the death of the “I”. Petrus, Yakobus, dan Yohanes dalam peristiwa Transfigurasi, menjadi kebingungan karena cahaya yang menyilaukan itu. Petrus mencoba muncul sebagai “subjek” dan berkata, “Rabi, betapa baha-gianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Namun, “ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikata-kannya, karena mereka sangat ketakutan.” Petrus tidak akan berhasil menjadi “subjek”, sebab dalam peristiwa itu, “subjek” sudah dicoret, tak ada lagi “aku” yang bisa menatap apalagi mengontrol situasi. Karena “aku” telah berubah menjadi “saksi” (witness). Manusia tidak mampu memegang sebuah control panel, tetapi sebaliknya, ia dikontrol, dilanda, dibanjiri oleh fenomena yang hanya memberinya kesempatan untuk menjadi saksi.
Semuanya adalah “pemberian”. Everything is given. Fenomena tersaturasi adalah sebuah “keter-berian” (givenness) yang tidak membutuhkan diri kita sebagai subjek. Mulut kita dibungkam. Mata kita buta. Telinga kita tidak mampu mendengar lagi. Kulit di badan kita menjadi “baal” alias tak dapat merasa. Tidak ada stimulus sedikitpun yang masuk ke dalam otak dan pikiran kita. Yang ada adalah keterpukauan Kumpulan Lectio Crucis 99
para saksi yang mengalami sesuatu yang tak disangka-sangka, tak teramalkan sebelumnya. Hori-zon kita pun dicoret. Hanya ada fenomena. Kita dibanjiri oleh fenomena dan tidak punya kuasa sedikit pun, bahkan untuk merumuskan atau menilainya sekalipun!
Jadi, kalau benar Salib itu pun sebuah feno-menon tersaturasi, sebuah kejadian yang pada intinya adalah kelimpahan, kepenuhan, keterpukauan (overwhelmingness), maka yang berlimpah ruah di sana adalah: “Cinta”. Bukankah kalimat “I love you” itu ambigu? Bukankah ”Aku mencintaimu” adalah kata-kata dan hanya kata-kata? Lain halnya kalau cinta yang dikatakan ini menjadi sebuah fakta, performance, tindakan. “Aku mencintaimu” tidak dapat dibuktikan, karena ketika dibuktikan, ia bukanlah kata-kata “Aku mencintaimu” lagi. Dan Cinta bukanlah kata-kata. Cinta adalah “pemberian”, a gift. Dalam “hermeneutics of the gift”, Cinta adalah suatu fenomenon yang tidak membutuhkan “subjek” maupun “objek”, tidak membutuhkan “I” maupun “you”. Cinta melanda, membanjiri, saksi-saksi-nya. Cinta itu memberi makna, bukan diberi makna! Mari kita lihat (peristiwa) Salib yang “memberi” dan melimpahkan cinta ini. Tidakkah Petrus, kalau saja ia memandang salib Yesus, seharusnya merasa dirinya sangat dicintai daripada merasa dipersa-lahkan karena menyangkal Yesus hingga tiga kali? Namun kelak, setelah Yesus bangkit, Petrus akan ditanya Yesus tiga kali pula, “Simon, apakah engkau mencintai Aku?” Perhatikanlah, kuncinya adalah pada Komisi Spiritualitas OSC100
pertanyaan Yesus, dan bukan pada jawaban Petrus (“Tuhan, Engkau tahu aku mencintai-Mu”). Ingat, sekali lagi, bahwa “Aku mencintaimu” tidak dapat diverifikasi. Hanya pertanyaan “Apakah engkau mencintai Aku?” dapat memberi makna pada cinta Petrus, cinta kita juga. Pertanyaan Yesus ini adalah sebuah “apophasis” yang mengandaikan bahwa Yesus “sudah tahu” seperti apa cinta kita kepada-Nya namun toh ditanyakan-Nya juga kepada kita. Bukan sebuah pertanyaan yang tak memerlukan jawaban (“retoris”), melainkan pertanyaan yang sudah memuat jawaban di dalamnya. Ketika “ditanya” oleh Yesus yang Tersalib, tanpa menjawab sekalipun, Petrus sudah melihat dirinya sendiri yang mencintai Yesus dengan jatuh bangun berkali-kali. Tidak. Bukan soal “kesalahan” Petrus yang mau ditunjukkan di dalam Salib. Yang ditunjukkan dengan pertanyaan Yesus itu justru sebuah tindakan yang luar biasa: “Aku, sudah mencintaimu...”
Ketaatan Yesus di kayu salib, dalam seluruh kerangka ini, bukanlah sikap takluk terhadap otoritas Bapa yang tak dapat dilawan. Ketaatan Yesus adalah “penyerahan diri karena Cinta Bapa yang melanda begitu hebat”. Kematian Yesus di sana adalah tindakan yang “mengutarakan” sabda Allah Bapa: “Inilah Anak yang Kucintai, dengarkanlah Dia!” (Mrk. 9:7). Cinta yang terpancar dari salib seperti cahaya transfigurasi yang menyilaukan mata, membuat kita buta, membuat kita tidak pantas dan tidak mampu berkata-kata, hanya mengalami dan membiarkan diri disergap dalam saturasinya. Kalau kita sampai di sana, kita akan tahu bahwa kita hanya “menerima” Kumpulan Lectio Crucis 101
pemberian dari Allah yang demikian berharga ini. Cinta tidak lagi menilai dan merumuskan, apalagi mengkritik dan mempersalahkan. Cinta hanyalah memberi, mengomunikasikan Sang Pemberi yang tidak membutuhkan “subjek” maupun “objek”. Cinta, seperti juga Allah, adalah peristiwa yang tidak bisa menahan dirinya.
Lantas, ketaatan selepas-bebas itu, masih dapatkah kita ungkapkan dan kita coba lakukan? Ketaatan karena cinta, tidak bisa diverifikasi seperti kata-kata cinta. Ketaatan ini harus berupa “pembe-rian”, a gift, dan pemberian ini mesti sampai kepada mereka yang menolak untuk diberi, menolak untuk dicintai. [“Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu?” – Luk. 6:27]. Ketaatan pada superior yang jelas punya “otoritas” itu gampang! Ketaatan seperti ini pun dilakukan oleh orang-orang yang dalam hatinya hanya mau “menjilat” superiornya. Tidak ada verifikasi. Atau, tidak ada gunanya verifikasi. Dalam hermeneutics of the gift, “pemberian” yang paling sempurna ialah terhadap “musuh”! Mengapa?
Karena “musuh” adalah “the perfect recipient” (Marion). “Musuh” adalah penerima pemberian yang paling sempurna, karena ia tidak akan membalas pemberian itu. Ingatlah perintah Yesus yang luar biasa itu: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu...” (Luk. 6:27). Pemberian yang ditolak justru adalah pemberian yang sempurna. Tidak ada “musuh” yang mau dikasihi. Kalau mau, ia pasti bukan “musuh” lagi! Komisi Spiritualitas OSC102
Seorang teman yang kita beri hadiah akan merasa berhutang budi, dan ini justru “merendahkan” makna pemberian itu sendiri. Cinta yang memberi, kalau mau sempurna, harus ditujukan kepada “musuh”. Tapi jangan berpikir serba romantis mengenai cinta ini. Sebab bukan kita yang mendefinisikannya. Cintalah yang “merumuskan” diri kita. Dengan kata lain, perintah Yesus itu berbunyi: “Cintailah mereka yang tidak mungkin (dan tidak mau) membalas cintamu!” Sebab, mencintai adalah memberi. “Musuh-musuh” kita, dalam hal ini, lebih pantas untuk mendapatkan cinta kita. Itu pun kalau kita masih merasa diri Kristiani.
Maka, dalam terang Salib yang adalah Cinta yang membanjiri kita, ketaatan adalah “pemberian” karena cinta, tindakan memberikan diri karena merasa dicintai. Ketaatan ini baru akan menjadi sempurna jika diungkapkan dalam “pemberian” bahkan terhadap mereka yang dalam pandangan kita (dalam penilaian “subjek”-tif kita) bukan teman, bukan orang-orang yang akan membalas mencintai kita, bukan orang-orang yang bakal memihak kita, dengan kata lain, yang nampak seperti ‘musuh’. Bila perintah Yesus untuk mengasihi musuh itu masih berarti “Aku sudah mengasihimu” bagi kita, ketaatan terhadap superior yang hampir selalu dianggap “tidak memihak kita” adalah hal yang sangat bisa dilakukan.
Seharusnya penghayatan kita akan ketaatan selalu merupakan tindakan “memberi”: memberi kepercayaan, memberi kelegaan, memberi keyakinan Kumpulan Lectio Crucis 103
diri, memberi kesatuan. Dalam telaah ini sama sekali tidak dimaksudkan bahwa superior adalah “musuh”, meskipun kadang-kadang itu terjadi. Yang hendak ditekankan ialah keadaan bahwa kalau kita “memberi”, jangan sampai kita menunggu atau meng-harapkan sebuah balasan. Ketaatan dalam kerangka “givenness” tidak boleh dilihat sebagai “transfer objek” sekalipun nampaknya begitu. Kita tidak sedang tukar-menukar sebuah “objek”, dan bahkan kalau itu disebut “objek” pun tidak ada yang bisa melihat apa yang kita pertukarkan. Kalau ketaatan itu sebuah pertukaran, maka lihatlah, kita bisa menolaknya dengan berbagai cara: pelecehan terhadap superior, ketidakpercayaan, takut, cemas terhadap “kutukan”. Dan karena penolakan-peno-lakan ini, pemberian apapun akan menjadi tidak real lagi.
Kita tidak memberi makna pada ketaatan Yesus di kayu salib. Hidup kitalah yang diberi-Nya makna. Kita diundang untuk bergerak dari egoisme diri sebagai “subject” menjadi “the devoted”. Ada perbedaan besar antara seorang serdadu yang taat mati kepada pemimpinnya dan seorang pemikul salib (“cross-bearer”) yang taat karena mencintai Dia yang tersalib. Kalau begitu, tidak perlu ada kekecewaan, tidak perlu gerutu dan kemarahan karena rasa tidak terima oleh sebuah penugasan atau keputusan. Sudut pandang kita diubah dan bahkan dibalikkan karena fenomenon Salib Kristus. Ketika ketaatan tidak lagi demi takluk pada “otoritas” melainkan karena “cinta yang memberi”, “subjek” berubah menjadi “devotee” yang menjalankan, menghayati, hidup dengan rasa Komisi Spiritualitas OSC104
cinta. Penilaian menjadi pengertian, sikap reaksioner menjadi kepercayaan, resistensi menjadi sikap respek.
Pertanyaan besar atas penghayatan ketaatan kita ialah: “Seberapa pentingkah ‘aku’ (subjek) di hadapan Kristus yang taat sampai mati di kayu salib?” Kita tidak berada di sini untuk “menilai” rencana Tuhan, tidak juga untuk “menilai” Salib. Seberapa pentingkah “pendapat” kita di hadapan ketaatan yang tak terpahami itu? Kita ada di sini untuk mengalami, percaya, menyerahkan diri ke dalam rencana-Nya. Mungkinkah tanggapan kita akan berbunyi: “Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau...” (Yoh 21:17)? Kita tidak taat karena rasa takut dan kalah terhadap otoritas Bapa. Kita taat karena Cinta-Nya yang tak terpahami, tak teramalkan, dan tak menun-tut balasan. Di dalam Salib, Cinta itu melimpah ruah. In Cruce abundat Amor!
Disampaikan dalam Lectio Crucis, Hari Raya Salib Suci 14 September 2011 Kumpulan Lectio Crucis 105
Komisi Spiritualitas OSC106
KEJAHATAN DAN KETIDAKINDAHAN MEMPERTANYAKAN SALIB KEMENANGAN Martua Leonardus Samosir, OSC Pengantar Banyak orang menggunakan salib sebagai bandul dari kalung, dengan kata lain menjadikannya aksesori. Ini menyisakan sedikit, apa makna salib. Minimal, di sebuah negara yang warga negaranya nonkristiani, memakai kalung salib menunjukkan keberanian untuk tampil beda: “saya orang Kristen”. Namun, di sini salib masih ditempatkan pada level perhiasan, atribut.
Salib juga digunakan dalam bentuk batu nisan. Salib di sini menunjukkan bahwa yang dikubur di sebelah sini adalah seorang Kristen. Salib juga menjadi ornamen dalam kaca patri dengan warna-warni yang cemerlang. Kadang-kadang warnanya dibuat-buat sehingga tidak natural. Gambaran salib di sini tidak menakutkan lagi. Ada nuansa menetralisir kenyataan salib. Ada juga sebuah gambar salib tanpa corpus, hanya diberi selendang. Gambaran ini sama sekali tidak menakutkan; tidak memperlihatkan penderitaan sedikit pun, tetapi sebaliknya, memberi kesan kemenangan.
Apa itu salib? Bagaimana kita memaknai salib? Kecenderungan untuk hanya memandang salib sebagai kemenangan bisa berbahaya. Salib hanya Kumpulan Lectio Crucis 107
dilihat dari sudut pemenang, tanpa melihat makna terdalam, yakni “ada kejahatan di situ”; ada “ketidak-indahan” yang akan mempertanyakan kemenangan, sebagai hal yang dicari dan dipuja.
Salib: Simbol Kemenangan Salib (Yunani: σταυρός) adalah tanda aib. Salib adalah hukuman bagi para pemberontak.6 Namun, salib aib ini menjadi simbol keselamatan dalam Perjanjian Baru di luar Injil, terutama dalam tulisan-tulisan Paulus.7 Salib bahkan menjadi simbol kristiani, menggantikan simbol “roti dan ikan”. In Cruce Salus; in hoc signo vinces, begitu semboyan yang mengangkat salib menjadi simbol kemenangan “kehendak keselamatan Allah di atas dosa dan kejahatan manusia, atau bahkan kemenangan atas kematian.”
Di atas salib, Yesus bergantung dan mati. Na-mun, Dia mati demi perutusan-Nya, untuk membawa banyak orang kembali kepada Bapa. Maka, salib menjadi simbol pintu keselamatan bagi manusia (yang berdosa).
Dari perspektif lain, salib menunjukkan, bahwa Allah itu Mahabaik, maka Dia mengutus Putra-Nya untuk menyelamatkan manusia. Puncak penyerahan diri kepada Bapa dan bagi “persoalan” manusia adalah kematian di atas salib. Namun, rencana Allah 6 Bdk. Reijners, G.Q., The Terminology of the Holy Cross in Early Christian Literature, 2-5.
7 Ibid., 11-16.
Komisi Spiritualitas OSC108
tidak dikalahkan oleh kejahatan dan kematian, maka Allah membangkitkan Putra-Nya dari belenggu kematian. Karena itu, umat kristiani memandang salib sebagai simbol kemenangan dan kemuliaan. Salib: Simbol Pemberontakan Dalam sebuah blog di internet tentang Dalit di India, terpampang gambar seorang ibu yang terduduk, mati karena dipukuli. Menurut artikel tersebut, kejadian seperti ini terjadi berulang-ulang. Korbannya adalah kelompok Dalit, orang-orang yang berada di luar kasta. Yang menyedihkan adalah, pelaku tidak pernah dihukum.8 Bukan hal aneh, kalau orang membuka-buka gambar di internet, akan menemukan anak-anak di satu sisi bumi ini kelaparan. Mereka harus berbagi makanan yang cuma tinggal sekepal. Tidak sedikit juga pengemis-pengemis kecil–bukan hanya di foto, tetapi juga dalam kenyataan sehari-hari berkeliaran meminta sedekah. Pada awal abad ke-20, masih ada kelompok yang menamakan diri Ku Klux Klan. Mereka berkumpul mengelilingi salib bernyala (tandanya mereka adalah Kristen). Sayangnya, mereka menganggap diri sebagai ras terpilih yang tidak mau mengakui warga berkulit hitam sebagai anak-anak Allah. Mereka bahkan menggantung saudara-saudari yang berkulit hitam.
8 Samatha India – an Online Community of dalits. A place of dalit news, articles, issues and links.
Kumpulan Lectio Crucis 109
Berbicarakah “salib” dalam situasi demikian? Salib sebagai kemenangan dan kemuliaan menjawab pertanyaan tentang kemahakuasaan Allah. Apakah Allah Yang Mahakuasa membiarkan Putra-Nya mati, dan dengan demikian seluruh hidup-Nya adalah sia-sia? Jawabnya, tidak. Maka, kebangkitan menjadi jawaban atas ketidakberdayaan dan kematian di atas salib.
Namun, fokus terhadap pemaknaan demikian melewatkan sesuatu. Pemahaman menjadi berat sebelah dan cenderung tidak melibatkan manusia sebagai pelaku. Manusia sekadar menjadi objek pasif cinta Allah yang terwujud di atas salib tadi. Kalaupun manusia ikut serta, maka manusia sekadar mengatakan “ya” atau “tidak” terhadap warta kese-lamatan. Kalau manusia menerima, maka manusia pun mewujudkan imannya dalam bentuk perbuatan kasih terhadap sesama. Tapi, pemaknaan seperti ini belum menjadi sebuah desakan: manusia harus disadarkan, bahwa dia adalah pelaku sejarah. Manusia terkurung oleh nostalgia kasih Allah, tetapi lupa terhadap dirinya sebagai pelaku.
Ada demikian banyak penderitaan yang dibuat oleh manusia terhadap sesamanya. Ada demikian banyak penderitaan yang tidak terselesaikan hanya dengan karitas yang sifatnya distributif. Ada demi-kian banyak penderitaan yang mempertanyakan mentalitas dan dorongan satani yang menciptakan neraka bagi yang lain. Tidak mengherankan jika para teolog mengingatkan sudut kebebasan manusia: manusia bisa mengatakan “ya” kepada Allah; tetapi Komisi Spiritualitas OSC110
manusia juga mampu mengatakan “tidak” kepada Allah.
Ketidakpuasan terhadap teologi yang mere-fleksikan bagaimana peristiwa keselamatan terlak-sana–dengan simbol salibnya itu–membuat manusia tergerak untuk merefleksikan kembali makna simbol salib.
Seorang teolog kristiani India, M.M. Thomas, mengatakan, bahwa salib bukan hanya simbol penyelamatan Allah, tetapi sekaligus simbol pem-berontakan manusia terhadap Allah. Di atas salib itu nampak dengan jelas, bahwa manusia mampu menentang keagungan Allah dengan berbuat sekehendak hati; mampu berbuat keji terhadap manusia lain.9 Karena itu, salib menjadi cermin manusia: “Lihat di atas salib ini manusia berbuat semaunya sendiri; manusia bisa berbuat keji terhadap sesamanya!” Dengan kata lain, salib di sisi lain adalah simbol “cacatnya” manusia yang berpusar dalam diri sendiri.
Salib: Simbol antiidolatri dan self-centrism Kosuke Koyama membahasakannya dalam terminologi yang berbeda. Dalam satu artikelnya, Koyama membuat satu analogi “pusat dan pinggiran”. Di kebanyakan kota besar sering ada ‘pusat kota’. Pusat kota ini menarik banyak orang karena di sana 9 Yewangoe, A.A., Theologia Crucis in Asia, 84-87. Kumpulan Lectio Crucis 111
ada kantor pos, bank, gereja, dan lain-lain. Bisa ditambahkan, di sana juga biasanya ada pusat pemerintahan dan pusat perbelanjaan.
Koyama mengatakan, kalau orang datang ke pusat kota, dia mendekati “salvation”. Salvation ini bisa saja menjadi kata ganti power, dalam terminologi sekuler. Manusia cenderung bergerak menuju kekuasaan; kekuasaan yang dalam arti tertentu bisa “menyelamatkan”. (Interpretasi: Bank dengan uang-nya, pusat pemerintahan dengan birokrasi, perizinan, dan regulasinya, pusat perbelanjaan dengan barang-barangnya, gereja dengan keselamatannya.) Justru, di sini letak keberbedaan Yesus. Ketika orang berbondong-bondong pergi menuju pusat, Yesus justru pergi ke pinggiran. Ketika orang tertarik bergerak menuju kekuasaan, Yesus justru me-ninggalkan keinginan untuk power. Yesus pergi meninggalkan godaan untuk menjadikan diri-Nya sang “Power” (idolatri).
Karena itu, salib bagi Kosuke Koyama adalah simbol yang bertentangan dengan keinginan manusia akan power. Bahkan lebih jauh, Yesus menerobos semua kekurangajaran religius yang mau memahami Allah dengan kacamata dan alat manusiawi. Bahkan, dalam artikel yang sama, Koyama mempertentangkan Yesus dengan kekuasaan birokrasi dan teknologi yang disimbolkan dengan tangan. Untuk menghancurkan dunia, hanya perlu satu jari telunjuk untuk menekan tombol pengendali senjata nuklir. Karena itu, tangan menjadi simbol Komisi Spiritualitas OSC112
kekuasaan. Yesus yang disalib adalah Yesus yang tangan-Nya dibuntungi.10 Salib: Simbol Penderitaan yang diciptakan oleh Kekuasaan Salib yang dibuat oleh Guido Rocha, seorang seniman Brasil itu tidak lazim. Biasanya yang tergantung di salib itu Yesus dengan wajah Yahudi, atau bahkan Eropa. Tapi, di sini Yesus yang bergantung di salib berambut keriting, berkulit agak gelap dan kurus, sampai tulang rusuknya menonjol. Yesus berteriak kesakitan, menanggung penderitaan yang luar biasa; berbeda dengan Yesus yang biasanya, yang dengan tenang menundukkan kepala. Salib ini tidak lazim. Tapi, salib ini versi seorang Brasil yang mengalami penderitaan dan penyiksaan di penjara yang dilakukan oleh rezim yang berkuasa. Sekaligus teriakan kesakitan Yesus ini menggam-barkan kesakitan bangsa sang seniman.
Apakah ini subjektif? Iman yang menjadi milik personal adalah iman yang tidak hanya diteruskan dalam bentuk proposisi, tetapi iman yang ter-ekspresikan melewati perjuangan hidup. Yesus yang tak lazim itu adalah Yesus yang dimaknai dari perspektif imani sang seniman.
Salib di sini bukan simbol kemenangan, tapi teriakan manusia yang menderita terlalu hebat; 10 Koyama, K., “The Crucified Christ challenges Human Power”, di Asian Faces of Jesus, 149-162.
Kumpulan Lectio Crucis 113
penderitaan yang dibuat oleh orang-orang lain. Salib yang “tidak indah” ini meng-counter segala usaha untuk “memperindah” salib dalam kenyataan hidup. Refleksi “Eloi, Eloi, Lama Sabakhtani?” (Allah-Ku, ya Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?).11 Teriakan Yesus versi injil Markus ini meneriakkan kesakitan manusia, yang ditelanjangi, dan dipertontonkan sampai mati di atas kayu yang hina. Ini juga teriakan kesepian dari seorang yang di dalam penderitaan-Nya ditinggalkan, bahkan oleh mereka yang “nampak dekat” dengan-Nya.
Peristiwa salib seperti ini semestinya mengoyak hati manusia yang keras, yang tertutup karena self-centrism–yang dengan kekerasan hatinya menolak semua yang bukan berasal dari dirinya sendiri; juga Allah.
Salib semestinya menjadi simbol yang meng-goyang semua keteguhan manusia dalam mencari power; dan yang dengannya manusia membuat dirinya idola; bahkan kalau perlu menggantikan Allah.
Maka, salib simbol kemenangan mesti di-lengkapi dengan pemaknaan salib sebagai cermin kekejian manusia. Manusia diajak bukan hanya menengadah ke surga, tetapi sekaligus sambil melihat ke dunia, tempat Allah mewujudkan kehendak-Nya, 11 Mrk 15: 34.
Komisi Spiritualitas OSC114
tapi yang juga menjadi tempat manusia mewujudkan keinginannya.
Di sini kita agak sungkan berbicara tentang kemahakuasaan Allah. Ternyata, secara konkret manusia pun berpotensi untuk merebut kekuasaan itu. Manusia dengan kebebasannya mampu (memiliki power) untuk mengubah segala sesuatu: bom nuklir, genosida, eksploitasi alam, dan sebagainya. Dorothee Söllee bahkan berbicara tentang Allah yang berbagi kekuasan dengan manusia. Allah itu berkuasa dalam kasih, tetapi dia membagikan kekuasaan-Nya kepada manusia.12 Gagasannya terasa janggal. Namun, pandangan Walter Kasper mungkin memberikan sedikit dukungan, dalam artian mengingatkan “potensi” manusia yang bisa menghidupkan dan bisa menghancurkan; bisa berkolaborasi dengan Allah atau menentang Allah. Menurut Kasper, sejarah dunia ini adalah hasil dialog antara Allah dan manusia.13 Dengan kata lain, beriman adalah menyediakan ruang kosong bagi Allah; bagi kehendak Allah.14 Sudah semestinya, salib mengajak manusia un-tuk “bertobat”–dalam bahasa Koyama–manusia membiarkan dirinya disentuh oleh Yesus yang me-ninggalkan pusat menuju pinggiran. Ketika manusia berkutat pada diri sendiri dan menggapai kekuasaan untuk diri sendiri, maka manusia mampu 12 Söllee, D., Thinking about God, 188. 13 Kasper, W., Jesus der Christus, 91.
14 Ibid., 96-97.
Kumpulan Lectio Crucis 115
menciptakan salib; salib bukan sebagai simbol kemenangan, tetapi sebagai simbol kekejian. Daftar Pustaka Kasper, W., Jesus der Christus, Mainz: Mathhias Grünewald Verlag, 1974.
Koyama, K., “The Crucified Christ Challenges Human Power”, di Sugirtharajah, R.S. (ed.), Asian Faces of Jesus, Maryknoll, New York: Orbis Books, 1993, p. 149-162.
Reijners, G.Q., The Terminology of the Holy Cross in Early Christian Literature, Nijmegen: Dekker & van de Vegt N.V., 1965.
Sölle, D., Thinking about God, London-Philadelphia: SCM Press- Trinity Press, 1990. Yewangoe, A.A., Theologia Crucis in Asia, Amsterdam: Rodopi, 1987.
Disampaikan dalam Lectio Crucis, Hari Raya Salib Suci 14 September 2012 Komisi Spiritualitas OSC116
SALIB: IDENTITAS DALAM AKSI Onesius Otenieli Daeli, OSC Makan merupakan saat yang sangat berharga dan berarti dalam hidup manusia. Makanan merupa-kan kebutuhan dasar setiap makhluk hidup. Maka, ketika kita tidak bisa makan, meski makanan tersedia, adalah saat yang menyedihkan karena saat makan adalah saat di mana kita hendak menyentuh dan memuaskan kebutuhan kita yang paling esensial. Kita tidak bisa hidup tanpa makan.
Di samping sebagai kebutuhan biologis yang paling dasar, makanan dan peristiwa makan merupakan sarana terindah dan teristimewa dalam membangun relasi sosial dengan manusia dan makhluk lain. Edward Schieffelin (1976, p. 47), mengatakan dalam bukunya The Sorrow of the Lonely and the burning of the Dancers: “Food is important because it is a vehicle of social relationship” (Makan-an penting karena itu merupakan sarana relasi sosial dalam masyarakat). Hal ini berdasar pada pengalam-annya sebagai peneliti di tengah masyarakat Kaluli di Papua New Guinea. Sebagai orang luar yang baru datang dari daerah dan budaya lain, Schieffelin mengatakan bahwa “Having eaten sago, I was established as a fellow creature” (p.47) (Setelah saya memakan sagu, saat itu juga saya dinyatakan sebagai sesama ciptaan)–entah sebelumnya sebagai apa. Menurut Schieffelin, memberi dan membagi makanan di antara masyarakat Kaluli merupakan ungkapan perasaan terdalam, meningkatkan afeksi satu sama Kumpulan Lectio Crucis 117
lain, menambah keakraban, dan membangun niat baik di antara warga. Melalui makanan, kita bisa mengerti satu sama lain, meski kita tidak berbicara dalam bahasa yang sama. Makanan membuat kita bersahabat. Makanan merupakan sarana komunikasi paling efektif, meski kita tidak mengatakan apa-apa secara verbal. Makanan itu sendiri sudah dan sedang mengatakan banyak hal kepada orang-orang yang terlibat di dalamnya (Bdk. p. 47).
Salib: Pengalaman “Makan” Makanan Duniawi Salib, menurut saya, adalah cara yang dipilih Allah untuk “makan” makanan duniawi atau manusiawi. Salib adalah simbol kehadiran Allah untuk menyentuh sensibilitas serta menyapa kebutuhan terdasar manusia. Salib adalah cara Allah untuk mencicipi pengalaman “derita manusia” se-hingga Ia tidak menjadi asing bagi manusia. Dengan “makan” makanan duniawi-manusiawi, dengan “makan” makanan masyarakat setempat, Tuhan seolah-olah dibasuh, diterima secara utuh dan sadar dalam kolam kehidupan manusia, dalam cara pandang manusia, dalam habitus manusia atau dalam budaya manusia, seperti terungkap dalam penga-laman Schieffelin di atas, yaitu dengan makan sagu, ia menjadi bagian dari masyarakat lokal, ia diakui sebagai sesama makhluk. Dengan pengalaman salib, pengalaman mencicipi makanan manusiawi, Allah tidak lagi menjadi orang luar atau the outsider, the rest, the other, pendatang, ataupun orang asing. Ia adalah orang kita atau kita pu orang. Ia adalah sahabat kita. Ia adalah ‘Kaka Manis’ dalam ungkapan Komisi Spiritualitas OSC118
orang papua. Ia beraliansi, berjuang bersama dengan kita.
Ritus Damai Contoh lain yang barangkali lebih konkret adalah pengalaman Charles Loyak bersama dengan Rudi Rumlus ketika mereka mendapat masalah dengan seorang pemuda kampung di Asmat beberapa puluh tahun lalu. Pengalaman itu diceritakan oleh Charles pada saat Kafe Rohani di Paroki St. Laurensius Sukajadi belum lama ini. Pemuda itu marah terhadap dua frater muda (Charles dan Rudi saat masih frater-Ed.) karena mereka melarang dia supaya tidak membawa gitar kepunyaan Stasi A ke Stasi B. Situasi ini membuat dua frater yang notabene adalah pendatang di Asmat tidak tenang. Hal yang sama juga dialami oleh warga kampung yang merasa bahwa tidak baik kalau marah sama frater atau pastor. Maka, harus ada upacara pendamaian secepatnya. Yang menarik bagi saya dalam rangkaian upacara pendamaian tersebut adalah Charles dan Rudi meminum susu dari 12 ibu, yaitu susu para ibu dari keluarga si pemuda yang marah tadi. Sampai Charles dengan canda mengatakan, “Jangan-jangan saya menjadi gemuk begini karena 24 buah barang bagus itu.” Namun, yang mau saya sampaikan adalah dengan upacara ini, kedua orang asing ini diangkat menjadi anak, diterima sebagai bagian dari masyarakat lokal, dan dengan demikian menjadi saudara si pemuda marah tadi karena telah minum dari susu yang sama. Kumpulan Lectio Crucis 119
Mereka telah makan makanan dari sumber yang sama.
Salib: Identitas Compassionate Allah Di dalam penderitaan, kebutuhan akan teman, penolong, pendukung, dan penghibur sangatlah penting. Maka, tak salah lagi bahwa salib adalah cara atau media yang dipilih Allah untuk menunjukkan identitas-Nya kepada dunia yang sedang butuh perlindungan, butuh pertolongan, dan butuh kese-lamatan. Salib adalah identitas dalam aksi untuk menunjukkan compassionate Allah kepada dunia yang sedang dilumuri penderitaan akibat beratnya dosa yang mengikat dan mengekang.
Dalam suratnya kepada umat di Filipi, Rasul Paulus mengatakan: “Yesus Kristus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus diper-tahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”(Fil 2:6-8). Begitu besar cinta dan compassionate Allah kepada manusia sehingga Ia mencoba segala cara untuk menghadirkan diri-Nya untuk diterima dan dimengerti. Hal ini mengingatkan kita akan ketaatan dan tindakan Abraham yang rela menyerahkan anak kesayangannya menjadi bahan persembahan kepada Allah (Bdk. Kej.22:9-10). Tindakan Abraham yang mempersiapkan dan hendak menyembelih anaknya untuk dipersembahkan kepa-Komisi Spiritualitas OSC120
da Allah adalah identitas ketaatan dan cinta Abraham kepada Allahnya. Salib adalah identitas Allah yang hendak datang memeluk derita umat-Nya. Suatu identitas untuk meminum cawan persaudaraan sehingga dunia dan surga berdamai dan surat utang manusia terhapuskan (Bdk. Kol.2:13-14). Hal ini mengingatkan saya akan patung Bis di Asmat, yaitu patung leluhur yang sengaja dibuat untuk meng-hormati mereka yang khususnya dibunuh oleh musuh. Bagian akhir dari ritual bis ini adalah, patung bis dibawa dan ditancapkan di tengah hutan sagu dengan maksud untuk memberi kesuburan kepada hutan sehingga hasilnya melimpah. Makna lebih jauh dan dalam dari ritual penancapan bis ini ke dalam tanah adalah simbol persetubuhan abadi antara langit dan bumi atau antara roh dan tanah sehingga senantiasa memberi hasil dan buah.
Yesus tidak berpura-pura menjadi manusia, tidak berpura-pura merasa sakit, tidak berpura-pura mengerti penderitaan manusiawi. Ia tidak tipu-tipu. Ia sungguh-sungguh merasakan pengalaman dan pe-rasaan terdalam manusiawi, yaitu pengalaman manusiawi ketika berhadapan dengan penderitaan. Di atas salib pun Ia berseru: “Allahku, ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Daku?”(Mrk.15:34). Ini adalah ungkapan keterbatasan dan ketergan-tungan manusiawi. Suatu situasi batas yang tidak tertahankan. Ini adalah seruan manusiawi yang merasa tidak berdaya sama sekali dan dalam keadaan seperti itu malah diabaikan dan ditinggalkan. Namun demikian, Yesus berani menanggung dan menja-Kumpulan Lectio Crucis 121
laninya hingga tuntas karena cinta-Nya yang tanpa batas.
Saudara-saudari, sangat penting untuk masuk ke dalam misteri penderitaan, rasa sakit. Sangat penting kita memasuki rasa sakit para saudara dan saudari kita di negara-negara yang sedang menga-lami konflik, penderitaan mereka yang sedang bergulat dengan penyakit, yang sedang lapar, yang tidak memiliki siapa-siapa untuk menjamin kelangsungan hidup, yang kesepian, dan merasa kehilangan. Sang Tersalib menghadirkan diri, menun-jukkan identitas-Nya melalui salib, sebagai simbol kesatuan rasa dan kedalaman empati. Sang Tersalib ingin merasakan perihnya luka, sedihnya diting-galkan, dan gelapnya kubur. Yesus, bahkan menolak untuk tidak mengalami pengalaman pahit hidup manusia yang senantiasa terancam bahaya penganiayaan dan maut dengan menghardik Petrus: “Enyahlah iblis. Engkau suatu batu sandungan bagiku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Mat.16:23), meskipun tidak lama sebelumnya Yesus baru saja mengukuhkan Petrus sebagai wadas atau batu yang kokoh kuat dimana Kristus akan mendirikan Gereja-Nya. Namun, kalau hanya memi-kirkan keinginan manusia dan kenyamanan pribadi, batu yang sama yang seharusnya untuk membangun bisa menjadi penghalang untuk terlaksananya kehendak Allah. Allah kita, Allah yang compassionate, penuh belas kasih dan bela rasa. Sang Tersalib tidak datang ke dunia hanya untuk menjelaskan secara teoritis bagaimana seseorang menderita, bagaimana Komisi Spiritualitas OSC122
penyakit timbul, bagaimana rasanya ditinggalkan dan dikhianati. Ia sendiri “makan” makanan dunia, mengalami setiap tetes keringat yang mengalir dari peluh derita dan deraan rasa sakit. Ia menjelaskan realitas hidup manusia dengan turut mengalami, merasakan, dan menghidupi realitas manusiawi itu sendiri.
Jean Vanier (2005), pendiri komunitas l’Arche untuk orang-orang yang berkebutuhan khusus, me-ngatakan:
“Saya menjadi lebih mengerti dalamnya makna sebuah sentuhan ketika saya memegang dan memandikan tubuh Eric yang mungil dan juga terluka di komunitas kami. Saya biasanya berbicara kepada Eric, namun karena dia buta dan tuli, maka dia sama sekali tidak bisa mendengarkan saya. Satu-satunya cara dia merasakan kehadiran saya yaitu ketika saya menyentuhnya. Sentuhan ‘berbicara’ kepadanya.” (Befriending the Stranger, p. 106-107).
Dengan cara yang sama, Allah menyentuh dunia melalui salib Putra-Nya, sehingga hati kita tergerak dan terdorong untuk mengerti dan menyambut-Nya. Salib sebagai Biographical Object Janet Hoskins (1998), seorang etnografer yang mengadakan penelitian tentang kantung sirih di Sumba mengatakan dalam bukunya Biographical Objects: “A man is not himself without his betel bag, Kumpulan Lectio Crucis 123
he loses his identity if it is lost”(Seorang laki-laki bukanlah seorang laki-laki tanpa membawa kantong sirihnya, dia kehilangan identitasnya jika kantong sirihnya itu hilang). Lanjutnya lagi: “And if his kin choose to bury the betel bag that bears his name, he will also feel buried”(p. 56) (Dan bila kerabatnya menguburkan kantung sirih yang mengandung namanya, maka dia juga akan merasa dikuburkan). Rupanya kantung sirih sangat penting bagi masya-rakat Sumba sampai ia bisa menjadi biographical object, yaitu suatu benda yang bisa merepre-sentasikan identitas pemiliknya atau ia sanggup menunjukkan kepribadian pemilikinya, baik secara pribadi maupun dalam konteks ritual. Maka, menolak sirih yang ditawarkan oleh seseorang dapat berati menolak untuk berteman, menolak untuk terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan membiarkan diri masuk dalam dunia diri sendiri. Sebaliknya, mem-buka dan memberikan sirih kepada orang lain, sama dengan memberikan diri sendiri, membagi kasih, pengetahuan, dan kehendak baik kepada orang lain. Salib berupa biographical object Allah yang dapat kita kenal, yang dapat kita cerap dengan indra, dan yang dapat kita mengerti berdasarkan sudut pandang manusiawi kita. Melalui salib, Allah membuka diri dan memberi diri-Nya untuk dime-ngerti. Melalui Salib, Allah membagi kasih, mengajari kita cara bersahabat, mengajari kita berbuat baik, mengajari kita berkorban untuk kepentingan banyak orang.
Komisi Spiritualitas OSC124
Salib sebagai Dominant Symbol atau Eternal Object Salib, bagi orang Kristiani atau bagi mereka yang mengimani Kristus, adalah“dominant symbol” bila dilihat dari kaca mata Victor Turner (1967:30) atau “eternal object” dalam bahasa Whitehead (lihat Turner 1967:30). Dominant symbol menurut Turner adalah elemen dasar yang relatif tetap di dalam struktur-struktur sosial dan kultural masyarakat serta dapat menentukan relasi-relasi antara struktur yang ada di dalamnya. Dominant symbol memiliki tingkat kestabilan dan konsistensi yang tinggi di dalam keseluruhan sistem yang ada di dalamnya. Menurut saya, Salib adalah dominant symbol sekaligus eternal object yang merepresentasikan compassionate Allah kepada manusia ciptaan-Nya sendiri dan yang dicintai-Nya.
Makna Salib dalam Pengalaman Pastoral Saudara-saudari, perkenankan saya men-sharing-kan beberapa pengalaman pastoral bagaimana salib dimaknai dalam hidup sehari-hari. Maaf, saya bercerita berdasarkan pengalaman pas-toral di Asmat.
Pertama, sepuluh tahun lalu, tepatnya 2003, Gereja Keuskupan Agats merayakan 50 tahun masuknya Injil di tanah Asmat. Untuk memperingati peristiwa tersebut, panitia membuat acara istimewa, yakni perarakan Salib dan Kitab Suci dari paroki ke paroki mengelilingi keuskupan selama satu tahun penuh. Oleh karena Keuskupuan Agats memiliki 12 Kumpulan Lectio Crucis 125
paroki, maka setiap paroki mendapatkan jatah satu bulan bersama salib. Tentu saja ada banyak peristiwa menarik yang terjadi selama perarakan tersebut. Namun, bagi saya ada beberapa hal yang patut digarisbawahi, yaitu ketika salib diarak dari Paroki Ayam ke Paroki Yaosakor. Ketika perahu dan longboat yang mengangkut salib sudah hampir menepi di depan jeu (rumah adat Asmat) Yaosakor, orang-orang dari Paroki Ayam sudah bersiap-siap melarikan diri kembali ke kampung mereka karena takut akan dibunuh oleh orang Yaosakor. Pasalnya, beberapa tahun sebelumnya ada orang Yaosakor yang mati terbunuh dan diduga yang membunuh adalah orang-orang dari wilayah Paroki Ayam. Maka, mereka takut, siapa tahu orang Yaosakor mau membalas dendam. Zaman dulu peperangan dan pengayauan sangat terkenal di Asmat sebelum misionaris masuk. Melihat gelagat tidak baik ini, kepala desa dan ketua dewan Paroki Yaosakor datang memeluk orang-orang dari Paroki Ayam dengan sapaan: “Saudara, masuk sudah! Tidak usah takut! Kalau yang datang ini presiden ka, bupati ka, atau uskup ka, kita bisa baku bunuh. Tapi, yang datang ini, kita pu “Kaka Manis” (Yesus). Datang sudah. Kamu pasti aman!” Dan terbukti, tidak ada upaya balas dendam. Saat itu terjadi rekonsiliasi karena salib, karena “Kaka Manis”. Salib menjadi representasi Allah yang membawa perdamaian.
Kedua, ketika salib yang sama diarak dari Paroki Yaosakor ke Paroki Atsj, setelah diterima secara adat, pembawa acara dari Atsj meminta kesaksian dari salah seorang tokoh umat dari Komisi Spiritualitas OSC126
Yaosakor bagaimana kehidupan dan kebiasaan mereka selama salib ada di sana. Ada beberapa kesaksian tentu saja, tetapi yang paling saya ingat adalah ungkapan ini, “Selama satu bulan ini, ketika “Kaka Manis” ada sini, ko laki-laki tidak boleh ganggu ko pu maitua (maksudnya tidak boleh bersetubuh dengan istri). Tapi, setelah salib lewat, pake sudah!” Hahaha…, kelihatan lucu. Namun, intinya: Matiraga demi salib, supaya punya banyak waktu bersama “Kaka Manis”. Salib mengubah.
Ketiga, ada dua kampung yang diantarai oleh sungai, bersitegang dan bersikukuh dengan pendirian masing-masing, yaitu Sagare dan Yefu. Ketika gereja baru hendak diberkati oleh uskup, sehari sebelumnya mereka berdiskusi tentang nama gereja stasi tersebut dan saya dengan Markus Suradi hadir di antara mereka. Nama lama: Gereja Katolik Kristus Raja Sagare. Orang Yefu mau mengubah nama lama. Orang Yefu bilang, namanya adalah Gereja Katolik Kristus Raja Yefu-Sagare. Alasannya: gedung gereja ada di wilayah Yefu dan waktu proses pembangunan gedung gereja, orang Sagare kurang terlibat. Orang Sagare tidak setuju, namanya harus Gereja Katolik Kristus Raja Sagare-Yefu. Alasannya: Sagare adalah kampung induk, maka namanya tidak boleh di belakang. Yang kakak adalah Sagare, maka tidak boleh ditulis di belakang. Terus terjadi perdebatan hingga dua setengah jam. Karena tidak ada titik temu, maka saya mengajak mereka untuk hening dan berdoa memohon petunjuk Roh Kudus, tetapi setelah selesai “amin”, kembali lagi pada pendirian masing-masing. Saya sudah hampir kehabisan akal ketika Kumpulan Lectio Crucis 127
teringat bahwa di dompet saya ada salib kecil. Salib itu, saya keluarkan di depan mata umat stasi yang sedang panas hati, dan seketika itu juga hening. Saya bilang, kami sudah tidak ada cara lain untuk mendamaikan kalian, biar Tuhan sendiri yang datang. Lalu, sambil meletakkan salib kecil itu di lantai di tengah ruangan, saya bilang: “Salib ini tidak boleh kembali ke saya sebelum ada kesepakatan bersama”. Kemudian, saya dan Markus pergi meninggalkan ruang pertemuan menuju pastoran. Anehnya, tidak sampai lima belas menit kemudian, ketua stasi datang. Dia bilang, “Pater, ini Pater pu salib. Su selesai.” Saya bilang, saya tidak mau terima sebelum saya mendengar keputusan kalian. Lalu dia bilang, “Pater, tidak ada perubahan.” Artinya, nama gereja tetap Kristus Raja Sagare (nama lama). Kami senang, umat bahagia. Perselisihan selesai. Salib menjadi penunjuk jalan, jalan perdamaian, jalan kebahagiaan. Salib menjadi bahasa universal, tanpa kata, namun bisa dimengerti oleh semua yang mengimaninya. Sebagai akhir dari Lectio Crucis ini, saya ingin menunjukkan atau bercerita tentang dua Salib yang dipasang di gereja yang sama di gereja paroki Sawa Erma–Asmat. Pertama, salib dengan korpus yang diukir berdasarkan gaya Asmat. Salib ini merupakan salib penderitaan. Di situ digantung tombak dan noken (tas) Asmat, juga ada perhiasan dari bulu kasuari dan bia-bia (kulit kerang). Itu semua merupakan simbol kebutuhan dan perjuangan manusia Asmat selama hidup. Tombak simbol perburuan mungkin juga peperangan, noken simbol rejeki dan status sosial, hiasan dan bia-bia simbol Komisi Spiritualitas OSC128
keindahan dan keperkasaan. Kedua, salib tanpa korpus, yang di tengahnya digantung “kon”, simbol orang yang sudah meninggal. Salib ini merupakan salib kebangkitan. “Kon” biasanya diberikan kepada orang tertentu yang masih hidup untuk menjadi “pengganti atau penerus” hidup seseorang yang sudah meninggal sehingga rohnya tetap hidup. Dengan menggunakan “kon” tersebut, seseorang mendapat nama dan status baru seperti orang hebat yang sudah meninggal. Dalam arti tertentu, roh orang yang sudah meninggal tersebut merasuki, menyatu, dan menguatkan dia.
Nah, kita punya salib, entah di rumah, di kamar, atau bahkan kita menggantungkan atau menempelkannya pada bagian tertentu di tubuh kita. Apakah semangat Salib Kristus juga menjadi kekuatan dan roh kita sebagaimana “kon” bagi orang Asmat? Apakah Salib menjadi identitas kita dalam aksi, dalam tindakan mencintai, menghibur, dan masuk dalam realitas hidup sesama kita untuk “makan” bersama mereka?
Salib: Identitas Krosier Dalam wawancara dengan Pst. Mathias Kuppens OSC yang dimuat dalam Nola terbaru, beliau mengatakan: “Seorang OSC tanpa misi adalah bukan OSC. Seorang OSC harus ikut menderita dan menghadirkan Yesus.” (Nola, Ed.04/ Juli-Agustus 2013). Dalam pola yang sama, saya hendak mengatakan: Seorang OSC tanpa Salib sama dengan seorang laki-laki Sumba yang kehilangan kantong sirihnya, seseorang yang kehilangan “eternal object” Kumpulan Lectio Crucis 129
dalam hidupnya, seseorang yang kehilangan identitas.
Disampaikan dalam Lectio Crucis, Hari Raya Salib Suci 14 September 2013 Komisi Spiritualitas OSC130
Salib: Simbol Kepemimpinan (Yesus yang) Sejati Joseph Souw Hong Goan, OSC Petaka Pembawa Rahmat Anda sering mendengar istilah “a blessing in disguise” yang dalam Bahasa Indonesia memiliki arti “berkah atau rahmat yang tersembunyi atau terselubung atau tak terduga”, “rahmat di balik malapetaka”. Saya ingat beberapa contoh yang menggambarkan istilah ini, seseorang yang dipecat lalu menemukan pekerjaan baru yang lebih baik, seorang gadis yang putus cinta namun malah menemukan suami yang bermasa depan lebih cerah, dan sebagainya. Semua contoh ini ada kaitannya dengan pengalaman hidup yang menyakitkan, yang memalukan, yang membuat kita tidak bahagia pada saat itu tapi mengalaminya sebagai suatu berkat saat melihatnya kembali di kemudian hari, ada semacam “selubung” yang tersingkap. Salib Kristen, dengan demikian dapat disebut pula sebagai a blessing in disguise.
Salib adalah suatu alat mengerikan, yang di-pakai oleh orang Romawi kala itu untuk menyiksa orang sampai mati. Hukuman penyaliban sangatlah memalukan karena hanya dijatuhkan kepada para penjahat kelas berat seperti pengacau politik dan religius. Karena itu orang-orang Kristiani menyem-bunyikan salib selama 300 tahun. Setelah Kaisar Konstantinus bertobat menjadi penganut Kristen, Kumpulan Lectio Crucis 131
barulah hukuman salib dihapuskan dan malah dipromosikan sebagai lambang iman Kristiani. Salib Yesus dan Unsur Kepemimpinan Salib Kristus memegang peranan penting dalam kehidupan orang Kristen, yaitu: (1) Salib sebagai kasih Allah yang menyelamatkan seluruh umat manusia, yang membuat surga dan bumi berdamai kembali. (2) Menghormati salib berarti menyembah Yesus yang taat pada Bapa, sampai mati di Salib. (3) Salib, karenanya menjadi simbol yang sangat populer dan universal dalam kekristenan. Setiap merayakan Pesta Salib Suci, kita juga didianjurkan untuk mengikuti jejak-jejak Yesus (Mat. 10:38-39). Berikut ini saya paparkan setidaknya empat unsur kepemim-pinan Yesus yang paling menonjol:
(1) Memiliki Visi dan Misi “Visi” merupakan gambaran masa depan mau jadi apa negara atau lembaga atau ordo kita. Menentukan visi berarti menentukan tujuan dan cita-cita yang ingin dicapai. Dalam menetukan visi hendaknya dipenuhi persyaratan berikut ini: tidak hanya berdasarkan kondisi saat ini–berorientasi ke depan-adanya suatu kreativitas. Yesus seorang pemimpin visioner dan partisipatif, yaitu seorang pemimpin yang berorientasi pada masa depan namun dapat dilaksanakan dalam waktu yang dekat. Visi-Nya ialah mendirikan Kerajaan Allah di dunia ini. Untuk menunaikan tugas perutusan luhur dari Bapa-Nya itu, Komisi Spiritualitas OSC132
Ia memilih keduabelas rasul dan mengutus para murid-nya itu berdua-dua. Ia memberi kepada mereka kuasa atas roh-roh jahat dan berpesan kepada mereka agar jangan membawa apa-apa (Mrk . 8:6b-12). Visi ajaran Yesus dibeberkan-Nya dalam Luk. 6:27-36 tentang perintah baru untuk mengasihi musuh, “the golden rule” ditetapkan-Nya dalam kesempatan ini. Peter Koestenbaum mendefinisikan “Vision” (visi) sebagai “seeing beyond the obvious, seeing the unseen”. Sementara itu, ‘Misi’ diistilahkan sebagai “what we believe we can do”, merupakan langkah-langkah dan strategi untuk mencapai visi kita.
(2) Memiliki Keberanian Keberanian adalah kemampuan untuk mengontrol ketakutan dalam situasi yang berbahaya dan susah serta gawat, pantang menyerah, kesediaan mengambil risiko dan maju terus meskipun ada bahaya atau kesulitan-kesulitan. Yesus berani me-nyampaikan ajaran kebenaran-Nya meskipun di tanah orang-orang Yahudi yang membenci Dia. Yesus amat berani melawan arus, Ia justru mendekati orang-orang yang berdosa, anak-anak, bahkan pemungut cukai diangkat-Nya sebagai murid (Mat. 9:9-13, lihat juga Luk. 14:12-14). Dia juga berani mengecam orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat (Mis. Luk. 11:37-54). Keberanian juga nampak dalam sikap-Nya menerima “cawan penderitaan” di Taman Getsemani.
Kumpulan Lectio Crucis 133
(3) Memiliki Keutamaan Cinta Kasih Dalam Yoh. 21:15-17, Yesus bertanya tiga kali kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku?” St. Thomas Aquinas melukiskan cinta kasih itu sebagai “kesediaan untuk memberikan yang terbaik yang ada pada diri bagi seseorang” (Lih. kasih Allah Bapa kepada manusia dalam Yoh. 3:16). Lukas Bab 15 juga menggambarkan cinta kasih Yesus melalui per-umpamaan domba yang hilang, cinta kasih diterjemahkan-Nya sebagai “melayani”. Pemimpin yang melayani itu dimulai dari diri sendiri kemudian bergerak ke luar, menuntut suatu transformasi dari dalam hati dan perubahan karakter, serta ber-orientasi pada kepentingan orang-orang yang dipimpinnya. Contoh konkret lainnya tampak dalam Yoh. 13:1-20 saat Yesus Sang Guru bersedia membasuh kaki para murid-Nya. Dalam keutamaan cinta kasih itulah Ia mengajarkan, yang terbesar dalam Kerajaan Surga adalah yang merendahkan dirinya seperti seorang anak kecil dan menjadi pelayan bagi yang lain.
John C. Maxwell dalam bukunya The 21 Indis-pensable Qualities of a Leader memaparkan beberapa kualitas kepelayanan seorang pemimpin, antara lain: (1) mendahulukan orang lain dari pada agendanya sendiri, (2) tidak terlalu mementingkan posisinya, (3) melayani atas dasar kasih.
Menurutnya, pemimpin sejati memiliki lima dimensi: (1) kekuatan diri, (2) kematangan emosional, (3) rasa aman (percaya diri), (4) rasa berharga (“I’m Ok!”), (5) suara hati yang baik. Komisi Spiritualitas OSC134
Menurut Maxwell, kelima dimensi ini tidak berhubungan dengan usia, kebahagiaan, kekudusan, dan ada atau tidaknya konflik dalam hidup. Sebaliknya, pemimpin tanpa kematangan akan fokus pada diri sendiri serta melakukan penyelewengan yang terus-menerus (koma, koma, dan terus koma, tak kunjung mencapai titik).
(4) Memiliki Hidup Spiritual yang Mendalam. Dalam bukunya God and Man (2000), Wallace menyatakan bahwa manusia di milenium ketiga itu sangat intelektual, namun sekaligus spiritual. Pernyataan ini mengagetkan karena nyatanya kita hidup di tengah-tengah materialisme, hedonisme, sekularisme, dan konsumerisme serta ateisme. Rupanya seluruh ideologi atau “isme-isme” itu tidak mampu memuaskan manusia sehingga ia men-dekatkan diri dengan realitas ilahi. Atau dengan kata lain, manusia membawa dimensi kemanusiaan dalam keilahian. Dalam hidup Yesus sebagai pemimpin, “spiritualitas” menduduki nomor satu: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah…” (Mat. 6:33), “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat. 16:20). Relasi Yesus dengan Bapa-Nya di Surga menempati nomor satu sebagaimana dikisahkan oleh para pengarang Injil (Mat. 14:23) yang dapat kita temukan juga di banyak tempat lainnya. Demikianlah keteladanan Yesus sebagai seorang pemimpin sejati.
Disampaikan dalam Lectio Crucis, Hari Raya Salib Suci 14 September 2014 Kumpulan Lectio Crucis 135
Komisi Spiritualitas OSC136
SPIRITUALITAS PARA KROSIER Ignatius Thomas Yan Sunyata, OSC Pengantar Pentingkah membicarakan Spiritualitas OSC? Spiritualitas OSC itu ada atau tidak? Kalau tidak ada, jangan diada-adakan, jangan dipaksakan ada. Sekarang ini, spiritualitas memang ramai dibicara-kan, bahkan oleh kalangan nonagama sekalipun. Kalangan ilmuwan dan industriawan juga menga-takan perlunya spiritualitas. Tampaknya, mereka menyadari bahwa visi yang mengatasi hidup keseharian, yang terkandung dalam spiritualitas, memang tidak mungkin diabaikan.
Spiritualitas OSC itu tentu ada, sekurang-kurangnya dalam praktik, tanpa pendasaran teoretik-teologis. Sebaiknya praktik itu ditegaskan, diaman-kan, dan dipagari refleksi. Sebab, di masa depan, Provinsi Sang Kristus Indonesia akan menjadi leading province. Kuantitas dan kualitas anggota menem-patkan kita pada posisi itu dalam keseluruhan Ordo. Maka lebih daripada selayaknya, kita harus mulai membahas spiritualitas kita.
Kumpulan Lectio Crucis 137
Spiritualitas=Identitas Spiritualitas adalah cara konkret, jalan nyata bagi kita untuk mengarungi hidup ini, untuk mengamalkan iman, dan mengikuti Kristus. Karena konkret, penghayatannya bisa berbeda dalam tiap-tiap pribadi, dalam kelompok-kelompok. Tulisan ini membatasi diri pada kelompok, menjadi way of life khas kelompok OSC: cara doa, cara hidup, prioritas nilai, askese, visi hidup. Dengan kata lain, spiritualitas kelompok merupakan identitas kelompok.
Spiritualitas atau tonggak identitas kelompok ditentukan oleh tokoh berkarisma seperti Bene-diktus, Dominikus, Ignatius, dan lain-lain. Orang-orang hebat pengikut mereka, kemudian menggenapi, merumuskan, atau “membulatkan” spiritualitas tersebut. Jika orang sekaliber para kudus itu tidak ada dalam kelompok, umpamanya kelompok OSC– sejauh kita tahu, kita perlu menelusuri konteks pendirian kelompok. Suatu gerakan, termasuk OSC, lahir karena gejolak, trend suatu masa. Apa yang terjadi dalam abad ke-12 dan ke-13? Waktu itu sebagai alternatif, sebagai usaha kontra terhadap kultur kota dan perdagangan yang kala itu mulai menderas, umat beriman menitikberatkan kese-derhanaan atau kemiskinan. Mereka mau kembali pada praktik iman Gereja Perdana, kepada Yesus yang berpakaian tidak gemerlapan seperti busana kaum hierarki. Trend ini ternyata tidak disenangi kalangan hierarki sehingga gerakan ini dikutuk dan diekskomunikasi.
Komisi Spiritualitas OSC138
Bagian yang kuat, yang ekstrem dalam gerakan ini kena “getah”-nya. Melalui ini, humus OSC justru berkecambah, bagaikan jilatan api yang membakar segelintir imam yang akhirnya berhimpun dalam persaudaraan OSC. Kesederhanaan atau kemiskinan dan pelaksanaan doa ofisi merupakan inti spiritualitas OSC. Mungkin slogan yang dituliskan Thomas a Kempis, bukan seorang OSC, berabad-abad sesudah Ordo kita didirikan: Ama nesciri et pro nihilo reputari (“senangilah keadaan tidak dikenal dan tidak dianggap apa-apa”) mampu merumuskan inti spiritualitas kita.
Spiritualitas OSC (di) Indonesia Tulisan ini adalah reaksi atas “Kertas Kerja” Dewan Jeneral. Tulisan ini dapat dipandang sebagai sebuah tambahan supaya lebih seimbang. Alasan-alasannya sebagai berikut:
1. Situasi masyarakat, Gereja dan Ordo seperti digambarkan dalam teks Dewan Jeneral agak berbeda dengan situasi di Indonesia. Peng-gambarannya terlalu berorientasi pada dunia Barat. Itu bukan dunia kita di Indonesia. Apa yang diuraikan dalam tulisan Dewan Jeneral itu bagi kita di Indonesia lain, tidak dapat diterima; kita tolak. 2. Spiritualitas, dan juga spritualitas para Krosier, hanya dapat disebut otentik jika berakar dalam realitas jati diri manusia dan merupakan tanggapan atas realitas di sekitarnya. Realitas di sekitarnya itu berbeda, apalagi realitas yang lebih Kumpulan Lectio Crucis 139
dalam itu, yakni pribadi dan jati diri manusia Indonesia.
3. Ordo Salib Suci di Indonesia dianugerahi peluang untuk berharap dan melihat ke masa depan, tambahan pula adanya banyak Krosier yang masih muda. Ketiga faktor itu, harapan, masa depan, dan kaum muda, sangat mewarnai spiritualitas yang ingin kami (Krosier Indonesia-Ed.) usulkan dan hayati. Jikalau kami mau menanggapi banyak masalah dan kesulitan, dan di samping itu macam-macam tantangan dan kemungkinan yang senantiasa menerpa kami, maka kami harus memperhatikan ketiga faktor tersebut.
4. Sumber-sumber inspirasi dan vitalitas Ordo Salib Suci di Barat mulai mengering. Mau tak mau, sekarang kami harus menggali sumber-sumber kami sendiri. Kami tetap Krosier. Akan tetapi ada masalah besar perihal apa yang boleh, yang harus, dan yang bisa tetap disimpan dari, katakanlah, para Krosier St. Agatha, Belanda. Berilah kesempatan kepada kami untuk menimbang-nimbang, untuk memeriksa semua itu: dengan saksama, penuh dedikasi, dan rasa hormat, dengan setia, dan dengan cara kreatif. Kami tetap Krosier dan ingin tetap bergabung dan terikat dengan semua Krosier di Eropa, Amerika, Brasil, Kongo, dan Papua. Dari sisi lain perlu dipertanyakan: Apa yang mengikat kita?
Bagaimana kita dapat menemukan jejak unsur-unsur kesatuan itu dan bagaimana dapat ditumbuhkan terus supaya menghasilkan buah-Komisi Spiritualitas OSC140
buahnya? Untunglah dokumen Dewan Jenderal sudah bicara tentang pluriformitas.
Kriteria tersebut harus kita ikutserta-kan dalam pembicaraan-pembicara