Kesaksian
Lebih Dekat bersama Pastor Agustinus Gani, OSC
Redaksi NOLA ·
Pada tanggal 20 Juni 2012, Agustinus Gani, OSC merayakan pesta ulang tahun imamat yang ke-55. Berikut wawancara eksklusif Redaksi Nola dengan beliau, sosok imam yang biasa dipanggil “Eyang Gani”
- Nama: Agustinus Gani
- Tempat, tanggal lahir: Cirebon, 25 April 1926
- Anak ke: 1 dari 4 bersaudara
- Nama Ayah: Salkia
- Nama Ibu: Surmin
- Tahbisan: 20 Juni 1957 di Paroki St. Petrus Katedral, Bandung.
- 1947-1953: Studi Filsafat di Seminari Cadas Hikmat, Bandung.
- 1953-1957: Studi Teologi di Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan, Yogyakarta.
- 20 Juni 1957: Tahbisan imamat oleh Mgr. P.M. Arnz, OSC sebagai imam diosesan.
- 1957-1961: Pastor rekan di Gereja Salib Suci Kamuning, Bandung.
- 1961-1966: Pastor di Gereja Bunda Maria, Garut.
- 1966-1973: Pastor rekan di Gereja Hati Kudus Yesus, Tasikmalaya
- 1974-1975: Masuk Novisiat OSC di Pandu
- 1975-2007: Pastor rekan di Gereja Kristus Raja, Cigugur
- 1983-1984: Studi Kapita Selekta di Universitas St. Thomas, Roma Italia
- 2007-: Panti Tresna Wreda Nazareth, Cicadas
- Sekarang: Priorat Sultan Agung
Sebelum masuk OSC, Pastor telah menerima tahbisan imamat sebagai seorang imam diosesan. Hal apa yang membuat pastor tertarik bergabung dengan OSC?
Saya bergabung dengan OSC karena tertarik pada pola hidup bersama. Itulah yang membuat saya bangga menjadi biarawan OSC. Kebersamaan menjadi ciri khas dari OSC yang tidak pernah saya lupakan. Saya sangat senang kalau ada acara ulang tahun karena melalui acara tersebut baik konfrater maupun frater yang merayakan ulang tahunnya bisa saling bertemu, melepas tawa, sharing, dan yang paling penting adalah saling memperhatikan dan meneguhkan hidup panggilan satu sama lain. Saya begitu gembira jika melihat kunjungan para konfrater dan frater saat acara ulang tahun, apalagi kalau yang dating cukup banyak. Ada suatu kebersamaan yang menggugah perasaan yang jga dapat membangkitkan hidup spiritual para krosier.
Bagaimana pengalaman hidup membiara pastor sebelum dan sesudah menjadi biarawan OSC?
Sebelum masuk sebagai OSC, pengalaman hidup yang saya dapatkan lebih banyak negatifnya. Hidup saya terasa sepi dan kosong, hamper tidak ada pengalaman yang bisa mengisi kehidupan saya sebagai seorang imam. Hidup saya lebih kepada hidup individu/masing-masing. Saya merasakan kesendirian di pastoran, tidak ada teman untuk saling berbagi cerita dan pengalaman. Tetapi, setelah saya menjadi biarawan OSC saya memasuki kehidupan yang berbeda yang membuat hidup saya lebih bersemangat dan enerjik. Kebersamaan itulah yang membuat saya hingga kini masih tetap mencintai OSC, apalagi sampai sekarang masih terus dipertahankan tradisi doa dan koor bersama.
Apa suka duka yang pastor alami selama bertugas menjadi seorang imam?
Begitu banyak pengalaman sukacita yang saya rasakan selama bertugas menjadi seorang biarawan OSC. Saya bisa merasakan kebersamaan para anggota OSC yang begitu hangat dan membawa umat beriman kepada Kristus dengan total. Selama 32 tahun di Cigugur saya mempermandikan, menikahkan, dan menguburkan umat, saya juga melayani dan menyuburkan kategorial Legio Maria sampai saya jatuh cinta kepada Legio Maria hingga saat ini. Pada saat itu belum ada prodiakon.
Saya melakukan pelayanan tersebut dengan sukacita dan perasaan gembira karena saya sendiri terlibat langsung. Saya juga menyadari bahwa pelayanan-pelayanan itu sebagai tugas perutusan yang dipercayakan oleh Tuhan kepada saya untuk membawa umat beriman kepada Kristus. Dengan cara ini, saya semakin bahagia karena iman umat kepada Yesus Kristus terus bertumbuh. Selain daripada itu, saya dapat menumbuhkan panggilan kaum muda untuk tertarik menjadi biarawan OSC. Hingga sekarang mereka berhasil dan masih terus memberikan sumbangsih yang cukup penting dalam keanggotaan Ordo. Mereka adalah Maman Suharman, OSC dan Warhadi, OSC. Pengalaman sukacita yang tak terlupakan bagi saya ialah pada saat menjalani masa liburan bersama (alm) Chris Tukiyat, OSC dengan menghabiskan waktu berjalan-jalan ke Bali, Sumatra, dan Yogyakarta. Peristiwa itu sangat mengesankan dan masih tersimpan erat dalam memori saya. Apalagi ketika saya berjumpa kembali dengan beliau (alm. Chris Tukiyat, OSC) di Panti Tresna Wreda Nazareth ini. Walaupun Chris Tukiyat, OSC sudah ke pangkuan Bapa, saya yakin di surge sana beliau masih teringat dan rindu akan pengalaman liburan kita berdua. Jika ditanya apakah pengalaman duka selama saya menjadi biarawan OSC, saya dengan lantang mengatakan: “Tidak ada!, karena saya bahagia selalu dan always happy”. Ada duka itu berarti kesedihan menjadi biarawan OSC.
Pastor adalah biarawan OSC paling senior dari segi usia saat ini. Bulan Juli 2012 pastor merayakan pesta imamat yang ke-55 di Pratista. Apa motivasi yang membuat pastor selalu bersemangat untuk menghayatiketiga kaul yang telah diikrarkan?
Saya tidak pernah luput untuk mengikuti ekaristi dan doa-doa rutin (Rosario dan brevir). Dua hal ini menjadi fondasi saya dalam menghayati dan memaknai hidup berkaul tanpa mengeluh. Saya mendapatkan banyak buah rohani yang bisa dipakai untuk menjadi seorang gembala yang baik. Melalui ekaristi saya merasa terpanggil oleh Kristus sebagai Imam Agung dalam perhatian kepada umat yang saya layani. Tidak ada cara lain yang palng ampuh untuk mematahkan semangat saya dalam mengikuti ekaristi, doa Rosario, dan brevir. Saya sudah merasakan hal itu dengan sendirinya. Doa bagi saya adalah sebuah kerinduan yang intim kepada Kristus yang bukan lagi menjadi alat atau senjata, tetapi sudah merupakan bagian dari jiwa saya.
Apa harapan pastor untuk Ordo Salib Suci di kemudian hari?
Saya berharap supaya OSC dapat mengerti kemajuan zaman sekarang seperti modernism yang sangat terlihat dengan berkembangnya teknologi-teknologi baru yang dapat meruntuhkan iman umat beriman kepada Kristus. Saya juga menginginkan agar OSC dapat merangkul dan memperhatikan iman kaum muda-mudi, karena mereka adalah generasi dan titik sentral dari pertumbuhan Gereja khususnya zaman ini. Jangan sampai kaum muda menganggap Gereja hanyalah sebagai bangunan kuno yang dipenuhi dengan ornament unik, interior antic, dan seni yang mengagumkan, tetapi mesti mengena kepada iman umat terutama kaum muda supaya ruang kerohanian mereka terisi penuh oleh ajaran-ajaran Kristus.
Apa pesan dari pastor bagi para konfrater dan frater OSC saat ini?
Saya ingin agar para konfrater dan frater tetap memperhatikan liturgy. Karisma OSC adalah liturgy, maka saya mau liturgy dibuat hidup, jangan sampai kering apalagi iman umat semakin rapuh gara-gara liturgy. Kreativitas dalam liturgy itu penting, tetapi jangan asal-asalan, mesti tetap mempertimbangkan tinjauan teologis dan pastoralnya. Oleh karena itu, para frater mesti diajarkan sejak awal di novisiat bagaimana membuat liturgy yang anggun dan indah serta dapat memperdalam iman umat kepada Kristus. Selain itu, seluruh konfrater dan frater mesti memberi perhatian kepada muda-mudi di paroki-paroki yang dilayani oleh pastor dan frater OSC. Hospitalitas mesti dijunjung tinggi, jangan sampai luntur. Satu hal yang paling penting adalah doa. Hidup doa sebagai fundamen melalui doa yang intim kepada Kristus, hidup liturgy dan hospitalitas akan menjadi satu kesatuan yang penuh dengan makna. Pengalaman ini saya rasakan ketika di Cigugur, kami (para pastor dan frater) selalu mengadakan doa brevir dan completorium. Doa menjadi santapan rohani saya yang utama. Komunitas-komunitas yang belum ada kegiatan dia bersama, alangkah indahnya jika meluangkan waktunya untuk berdoa bersama. Saya yakin waktunya pasti ada, tapi belum mau melakukannya.
Dimuat dalam NOLA No. 04, Juli–Agustus 2012, hlm. 13–17.