Kesaksian
Lebih Dekat bersama Pastor Anton Rutten, OSC
Redaksi NOLA ·
motivasi saya sendiri yakni saya merasa dibutuhkan oleh umat sehingga saya ingin menularkan kepada mereka dalam hal iman kepada Kristus serta membahagiakan umat.
Biodata
- Nama Lengkap: Rutten Anton Hubert Leonard
- Tempat, tanggal lahir: Wanssum, 4 Juni 1938
- Anak ke: 6 dari 12 bersaudara
- Novisiat: Neeritter, 1957-1958
- Skolastikat: St. Agatha, 1958-1964
- Kaul Pertama: Neeritter, 28 Agustus 1958
- Kaul Kekal: St. Agatha, 28 Agustus 1961
- Tahbisan Imamat: St. Agatha, 20 Juli 1964 (sebelumnya menerima tahbisan rendah, subdiakon, dan diakon)
Karya Pastoral
- 3 Juli 1965-November 1983: Pastor Rekan di Cigugur
- November 1983-8 Agustus 1988: Paroki Kamuning
- 8 Agustus 1988 – 2 Mei 1990: Pastor Rekan di Paroki St. Laurentius, Sukajadi dan Lembang
- 1 Mei 1990 – 31 Desember 1991: Pastor Paroki St. Laurentius, Sukajadi
- 1 Januari 1992 -15 September 2005: Pastor Paroki Kristus Raja Cigugur
- 15 September 2005 – 28 Mei 2007: Rektor Domus Priorat Pratista
- 28 Mei 2007 – 19 Mei 2013: Prior Priorat Pratista
- 2014 s/d sekarang: Socius para frater di Skolastikat Ordo Salib Suci
Jabatan Lainnya
- 1979-2008: Anggota Dewan Imam
- 1979-2008: Anggota Dewan Penasihat
- 1979-1988: Anggota Dewan Keuangan
- 1984-1991: Ketua Yayasan Salib Suci
- 1984-1991, 2005-2008: Ketua MPK, Majelis Pendidikan Katolik atau disebut juga Badan Koordinasi antara Yayasan-yayasan Pendidikan Katolik dari PAUD sampai SLA
- 1984-1991: Pengurus Perhimpunan Borromeus
- 1987-1992: Ketua Yayasan Buana Mekar
- 2005-sekarang: Pengawas Yayasan Buana Mekar
- 2008-2013: Anggota Pengurus Camillus
- 1995-1998: Anggota Dewan Provinsi OSC
- 2001-2013: Anggota Dewan Provinsi OSC (5 periode)
- 2007-2013: Prior Priorat Pratista
Tokoh yang satu ini sangat fasih berbahasa Sunda sampai-sampai sempat ketika turun dari angkot, sopirnya sendiri kaget melihat bule bisa berbahasa Sunda dengan halus. Sopir angkot itu jadi malu dan memberikan uang kembalian sesuai tarif. Siapa lagi kalau bukan Pastor Rutten, OSC. Oleh sebab itu, wawancara tim Nola dengan Pastor Rutten, OSC menjadi salah satu inspirasi bagi kita semua. Marilah kita melihat perjalanan beliau dan keteladanan hidupnya sebagai seorang Krosier.
Pastor berasal dari Negri Kincir Angin (Kini sudah WNI), lalu bagaimana reaksi Pastor ketika akan diutus ke Indonesia dan apa alasan pastor bersedia untuk diutus?
Saya senang sekali karena merasa lebih terpanggil langsung dengan umat daripada menjadi dosen. Saya suka diutus sebagai misionaris. Saya sempat dicalonkan untuk menjadi dosen di Seminari Menengah yang dikelola OSC, tetapi saya tidak mau karena takut distudikan. Bagi saya, studi akan membuat saya kesulitan untuk mengerti sehingga saya lebih senang sebagai misionaris. Awalnya, bayangan saya mengenai Indonesia sangat sedikit. Tetapi, saya tidak takut karena kakak dari ayah saya (tante), Suster Maria Regina PBHK, juga menjadi misionaris di Wonosobo, Tegal, dan Maluku. Saya memperoleh gambaran tentang Indonesia melalui cerita dan pengalaman kakak perempuan saya. Tidak ada persiapan yang cukup detail bagi saya waktu itu, hanya ada persiapan khusus yang memang ditujukkan untuk setiap misionaris. Persiapan ini membicarakan hal-hal umum yang dibutuhkan sebagai seorang misionaris (termasuk misionaris lainnya yang diutus ke Afrika Selatan dan Asia). Persiapan ini membutuhkan waktu 6 minggu dan diadakan di Belanda. Ketika saya tiba di Bandung, bahasa yang pertama kali saya pelajari adalah Bahasa Sunda dan bukan Bahasa Indonesia. Justru Bahasa Indonesia sendiri saya “nemu di jalan” (melalui surat kabar, pergaulan, dan percakapan dengan masyarakat sekitar). Tidak ada alasan yang khusus yang membuat diri saya bersedia diutus ke Indonesia. Hanya karena saya senang sebagai misionaris dan bisa melayani umat secara langsung di negara yang baru. Salah satu hal yang membuat saya senang adalah kakak dari nenek (saya menyebutnya sebagai kakek), yaitu Mgr. Goumans, OSC, menjadi uskup Bandung yang pertama.
Sudah puluhan tahun Pastor bertugas di Indonesia. Bagaimana kesan Pastor? Apakah senang? Dalam hal apa dan saat bertugas dimana?
Saya senang terus. Kesulitannya hanya pada saat tugas pertama kali waktu di Cigugur. Beberapa masalah yang saat itu menjadi kesulitan adalah medannya yang belum seperti sekarang, umatnya juga masih belum mengenal Kristus, masalah makanan, dan kesehatan. Tetapi, itu semua seiring berjalannya waktu dapat teratasi dengan kerjasama dari semua umat dan saya sangat senang karena umat di sana merasa dibutuhkan, kemajuan dalam hal pengembangan sosial ekonomi, dan nilai-nilai manusiawi mulai dijunjung tinggi. Apalagi, saat itu ada 2 pastor yang seumuran dengan saya yang juga sama-sama dari Belanda, yaitu Pastor Mathieu Kuppens, OSC (sekarang di Pulau Nias) dan Pastor Straathof, OSC (sudah keluar dan tinggal di Belanda). Pastor Kuppens, OSC berangkat setahun lebih dulu ke Indonesia, setahun kemudian saya satu kapal dengan Pastor Straathof saat i. kami bertiga tinggal bersama di Cigugur, sama-sama dari Belanda, seumuran. Hal ini membuat kami selalu kompak dalam menjalankan tugas-tugas di Cigugur sehingga sangat menguntungkan.
Pastor pernah dipercaya menjabat sebagai Dewan Provinsi. Hal apa yang menjadi suka dan duka Pastor selama ini?
Saya dipercaya sebagai Dewan Provinsi selama 5 periode (4 kali berturut-turut dan 1 kali selingan). Saya merasa senang karena dewannya kompak, kerjasama baik, dan dalam mengambil keputusan tidak sulit. Kalau dukanya ketika tidak kompak, saat memutuskan seseorang, dan mengambil keputusan yang baik sehingga butuh kerja keras untuk berpikir serta melihat secara lebih bijaksana. Keputusan yang muncul mesti membawa kebaikan bagi semua pihak, entah bagi Ordo, orang yang bersangkutan, ataupun pihak yang lain. Sejauh saya menjabat Dewan Provinsi, kinerja dalam satu dewan sendiri seringkali kompak dan tidak menyulitkan.
Pastor sudah lama menjadi Krosier, lalu bagaimana pandangan Pastor terhadap OSC saat ini, apakah mengalami kemunduran atau kemajuan?
Secara umum ada peningkatan terutama banyaknya kesempatan yang diberikan Ordo kepada anggota-anggotanya untuk studi di luar negri sehingga mereka mendapat wawasan dan pandangan yang lebih luas khususnya melihat jaman sekarang dimana ilmu pengetahuan semakin berkembang dan potensi dari anggota Ordo juga cukup mengesankan. Keadaan ini juga menjawab kebutuhan Ordo dimana kita mesti memiliki generasi penerus yang baik. Hal ini cukup menggembirakan dan merupakan salah satu kekuatan panggilan di OSC, terbukti dengan adanya keaktifan anggota-anggota OSC di komisi-komisi di berbagai Keuskupan.
Bagaimana tanggapan Pastor terhadap para Konfrater yang kandas di tengah jalan?
Bagi mereka, saya tidak tahu karena itu adalah keputusannya. Tetapi bagi Ordo, jelas merupakan pukulan. Hal ini disebabkan adanya kestabilan panggilan yang tidak teratur dalam diri orang yang bersangkutan. Akarnya tidak kuat terutama dalam membangun hidup kerohanian. Salah satu yang menjadi penyebab adalah terlalu sibuk untuk mengurus segala sesuatu sehingga waktu luang untuk berdoa kurang dan ini mengakibatkan hidup panggilan menjadi goyah. Mungkin juga mereka merasa tidak dibutuhkan, padahal umat sangat membutuhkan sehingga seperti kawanan domba yang tidak mempunyai seorang gembala dan mungkin juga menjadi pukulan bagi umat yang dipercayakan kepadanya. Bagi saya sendiri terutama melihat situasi seperti ini, dibutuhkan suatu dorongan pribadi untuk menyemangati hidup panggilan. Dorongan itu adalah bahwa saya dibutuhkan oleh umat karena saya sebagai misionaris sehingga dalam diri muncul suatu motivasi untuk melayani umat dengan hati yang tulus dan sungguh-sungguh. Inilah yang membuat saya bertahan hingga sekarang ini.
Menurut Pastor, apa yang menjadi kunci utama sehingga sampai saat ini pastor masih semangat untuk melayani umat?
Motivasi saya sendiri, yakni saya merasa dibutuhkan oleh umat sehingga saya ingin menularkan kepada meraka dalam hal ini iman kepada Kristus serta membahagiakan umat. Saya juga memiliki keyakinan diri untuk membantu orang lain. Keinginan saya yang lainnya adalah membebaskan orang agar bisa lepas dari keterkekangan terhadap kepercayaan-kepercayaan takhayul. Dalam hal ini, saya merasa kasihan dengan mereka karena tergantung dari hal-hal yang membuat mereka menjadi ketakutan dan tentunya tidak membahagiakan mereka. Kepercayaan kepada takhayul juga tidak mendekatkan diri seseorang kepada Allah. Untuk hal yang demikian, saya merasa gagal karena masih banyak orang yang percaya terhadap takhayul-takhayul itu, mungkin juga bisa bertambah banyak.
Nasehat apa yang dapat Pastor bagikan kepada kami para Krosier muda?
Jangan lupa kalau kita dipanggil untuk mengikuti Kristus dan kita juga harus melihat dunia dengan mata Kristus pula. Kawanan domba membutuhkan seorang gembala dan harus diingat bahwa Kristus sendirilah yang mengutus kita, bukan diri sendiri atau pun orang lain. Sangat mungkin selama belajar filsafat dan teologi Kristus menghilang dari pandangan dan diri kita, tetapi harus selalu diingat bahwa dasar dalam hidup panggilan adalah Kristus yang memanggil. Selama belajar kita disiapkan untuk menggembalakan domba-domba yang dipercayakan Allah kepada kita. Dalam perjalanan hidup panggilan pasti ada rasa jenuh. Ketika jenuh, yang harus dilakukan adalah tetap disiplin dalam berdoa dan hadir dalam acara komunitas. Kedisiplinan menjadi sangat penting dan mesti diterapkan dalam hidup bersama karena menjadi kekuatan untuk mengalahkan kelemahan.
Dimuat dalam NOLA No. 03, Mei–Juni 2013, hlm. 12–18.