Kesaksian
Lebih Dekat bersama Pastor Joseph Souw, OSC
Fr. Peter Elvin Atmaja Hidayat, OSC ·
Konfrater Souw lahir di Bandung, 7 Maret 1940. Orang tuanya bernama Aloisius Souw Tjian Lim dan Thio Pek Nio. Dia lahir sebagai putera pertama keluarga ini.
Josef Souw menjalani pendidikan dasarnya di SD St. Yusup, Jl. Trunojoyo, Bandung; lalu di SMP St. Aloysius (1953-1955). Dari sini dia memasuki Seminari Menengah Cadas Hikmat (1955-1961). Selesai Seminari Menengah, dia memasuki Ordo Salib Suci; menjalani satu tahun Novisiat di biara Pandu (1961), lalu pendidikan filsafat-teologi pada tahun 1962-1969.
Biodata
- Nama: Joseph Souw Hong Goan, OSC
- Tempat, tanggal lahir: Bandung, 7 Maret 1940
- Anak ke: 1 dari 9 bersaudara (anak pertama sampai ketiga dari ibu pertama (alm.), selebihnya dari ibu yang kedua).
- Kaul perdana: 28 Agustus 1962
- Kaul kekal: 28 Agustus 1965
- Tahbisan imamat: 24 September 1969 oleh Mgr. P.M. Arntz, OSC, di Paroki Salib Suci, Kamuning, Keuskupan Bandung
Periode Jenjang Pendidikan Imamat dan Tugas Pastoral
- 1962-1968: Seminari Tinggi OSC, Pandu (studi filsafat dan teologi)
- 1968-1969: Tahun pastoral di Gereja Salib Suci, Kamuning
- 1969-1974: Paroki St. Maria Tak Bernoda, Garut
- 1976-1977: Paroki Hati Kudus Yesus, Tasikmalaya
- 1978: Paroki Salib Suci, Kamuning
- 1979: Paroki St. Paulus, Mohammad Toha
- 1979-1982: Dosen di STF Abepura, Papua
- 1983-1986: Paroki St. Perawan Maria Sapta Kedukaan, Pandu
- 1986-1990: Paroki St. Yusuf, Cirebon
- 1990-1991: Paroki Kristus Raja, Cigugur
- 1991-2010: Medical Center Manila, Filipina (domisili di Jl. Palma rumah studi OSC).
Tugas-Tugas Belajar
- 1974: East Asian Pastoral Institute (EAPI) Manila, Filipina
- 1975-1976: La Salle University, Manila – Master of Science (M.Sc) dalam bidang Konseling.
- 1982-1983: Rome Pontifical University of St. Thomas, Italia. Master of Arts (M.A.) dalam bidang Teologi Pastoral
- 1995-2000: St. Thomas University Manila, Filipina. (Ph.D.) Doktoral dalam bidang Psikologi.
- Sekarang: Socius para frater Skolastikat Ordo Salib Suci, Bandung
Formasi gaya baru yang saya lihat, baik di novisiat maupun skolastikat sekarang lumayan lebih baik karena berusaha mengembangkan seluruh potensi manusia (para foramandi). Namun semua masa memang pasti ada suka-duka, baik-buruknya sendiri.
Pengalaman apakah yang menumbuhkan motivasi awal Pastor untuk memilih jalan hidup imamat, khususnya dalam Ordo Salib Suci?
Sewaktu kecil, letak rumah kami di Jalan Cikutra, Cicadas berdekatan dengan Seminari Menengah Cadas Hikmat. Saya sering ikut bermain bersama para seminaris, misalnya bermain sepak bola di lapangan Paroki Cicadas. Para seminaris itu mengesankan hati saya, terutama ketika mereka mengisi koor selama pekan suci. Pada masa itu saya juga aktif sebagai putra altar di paroki. Menjelang kenaikan ke kelas 3 SMP, akhirnya saya mengutarakan niat saya untuk menjadi seorang imam kepada Pastor Piets, OSC, rektor Seminari Menengah Cadas Hikmat waktu itu. Saat itu saya sendiri masih diliputi keraguan, sebab hendak melanjutkan SMA di “TOP” (sebutan untuk sekolah St. Aloysius pada masa itu). Aya saya sendiri mendorong saya untuk masuk seminari sesuai dengan anjuran Pastor Piets, OSC. Saya pun dengan mantap memutuskan untuk melanjutkan kelas 3 SMP sebagai seorang seminaris. Setelah lulus seminari menengah, saya memilih OSC karena pastornya saat itu rajin mengunjungi umat secara teratur.
Bagaimana pengalaman suka-duka Pastor selama menjalani masa formasi, baik di Seminari Menengah, Novisiat, maupun Skolastikat OSC?
Saya agak kecewa karena mesti belajar dahulu bahasa Latin dan Belanda selama dua tahun, padahal seharusnya sudah duduk di kelas 3 SMP. Akhirnya baru pada tahun 1955 saya masuk ke kelas 3 gramatika. Selain itu saya juga kecewa karena baru dapat menyelesaikan seminari menengah pada 1961, sebab Pastor Döhne, OSC rektor baru kami menghendaki adanya kelas 7, yaitu untuk mendalami kembali bahasa Latin. Padahal teman seangkatan saya yang lain, Pst. Yan Sunyata, OSC dan Pst. F.X. Soekarno, OSC tidak mengalami kelas 7 ini. Akhirnya saya pun masuk novisiat hanya seorang diri.
Selama masa novisiat, kami hanya boleh bicara di waktu dan tempat yang telah ditentukan. Kami pun sering ditegur karena sering melanggar aturan silentium tersebut. Ketika kuliah filsafat dan teologi awal, semua teks yang mesti kami pelajari ditulis dalam bahasa Latin. Kadang isinya tidak saya mengerti, maka yang penting dihafalkan saja. Untunglah semenjak Konsili Vatikan II yang dimulai tahun 1963, semua teks gerejani sudah direvisi ke dalam bahasa-bahasa setempat, termasuk bahasa Indonesia. Ini memudahkan kami untuk belajar.
Selama kami menjalankan masa formasi, saya memperoleh kesan bahwa cara pendidikan kami sama seperti di St. Agatha, Belanda. Tampak adanya usaha penyeragaman bagi semua. Ini salah satu hal yang saya sayangkan dalam proses formasi jaman dulu, dengan demikian bakat-bakat personal kurang dikembangkan, misalnya saja dalam kempemimpinan. Formasi gaya baru yang saya lihat, baik di novisiat maupun di skolastikat sekarang lumayan lebih baik karena berusaha mengembangkan seluruh potensi manusia (para formandi). Namun semua masa memang pasti ada suka-duka, baik-buruknya sendiri.
Pengalaman berpastoral apakah yang paling berkesan bagi pastor selama kurang lebih 43 tahun menjadi seorang imam Krosier?
Pengalaman berpastoral di Abepura, Papua paling mengesankan bagi saya. Ketika itu, para uskup di wilayah Irian memutuskan agar setiap Ordo/Konggregasi yang berkarya di wilayahnya mengirimkan seorang dosen tetap bagi Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Abepura. Maka Pastor Provinsial Yan Sunyata, OSC mengutus saya pada tahun 1979 sebagai kepala asrama dan dosen tetap STF, sekaligus untuk mengerjakan berbagai tugas lainnya yang berkaitan dengan Abepura. Saya pun mulai membimbing umat, terutama kaum muda dan berusaha beradaptasi dengan budaya setempat. Mempelajari hal baru (budaya Papua yang sangat asing) memberi kesan tersendiri dalam karya pelayanan saya sebagai seorang imam Krosier.
Perbedaan budaya Jawa (Sunda) dan Papua amat besar sehingga teori konseling yang saya pelajari tidak dapat diterapkan begitu saja bagi pelayanan di sana. Hal lain yang berkesan bagi saya adalah, bahwa untuk mendekati orang lain (misalnya dalam kebudayaan Papua) metode “direktif”, pendekatan personal, bicara dan berinteraksi langsung, tatap muka, bahkan ikut bekerja bersama sangatlah efektif. Metode “non-direktif”, teoretis justru kurang mengena, dan sepertinya ini juga berlaku bagi kebanyakan budaya.
Pastor telah berhasil meraih beberapa gelar akademik, termasuk gelar “Doktor” dalam bidang Psikologi dari St. Thomas University, Manila. Bagaimana cara Pastor menumbuhkan kegemaran membaca (belajar) dan kecintaan akan ilmu pengetahuan?
Awal mulanya hanya karena mau menyelesaikan atau membuat paper dan menyiapkan bahan presentasi di kelas. Lama-kelamaan saya merasa masih banyak yang belum saya ketahui. Selain itu, para dosen saya dulu menuntut agar mahasiswanya membaca buku-buku terbaru, yang berusia sekitar lima tahunan (jurnal-jurnal ilmiah juga membantu kita menemukan berbagai pengetahuan yang aktual). Kemudian saat saya pindah ke Manila, banyak buku-buku bagus yang diobral di book store sehingga dapat diperoleh dengan harga murah. Semua hal ini menumbuhkan kegemaran saya untuk membaca (belajar) dan kecintaan akan ilmu pengetahuan.
Apa yang menjadi keprihatinan terhadap OSC
Arah ordo menurut kfr. Souw mulai kabur. Pertanyaan yang diajukannya: apakah kita mesti bekerja di paroki-paroki atau keuskupan-keuskupan? Apakah profesionalisme dari semua anggota sudah dituntut atau diarahkan? Planning ke depan sepertinya agak kabur. Pada jaman sekarang profesionalisme itu penting. Maka, mulai dari sekarang harus mulai dipikirkan kandidat macam apa yang kita perlukan. Semuanya mesti profesional. Bagai-mana pun kita membutuhkan sarana untuk hidup. Maka, dibayang-kan, bahwa semua anggota itu profesional dan bisa menghidupi ordo.
Apa harapan Pastor bagi Ordo Salib Suci di masa depan?
Jika mungkin, karya ordo diperluas di berbagai keuskupan, dengan demikian ordo semakin dikenal, tidak hanya dikenal oleh orang-orang Bandung dan sebagian kecil umat Jakarta, Nias, Medan dan Agats, namun oleh sebagian besar umat Katolik di Nusantara. Jika semakin dikenal, calon-calon penerus Ordo akan bertambah pesat dan beraneka ragam (Bhineka Tunggal Ika). Akhirnya semakin banyak lagi keuskupan yang dapat kita jangkau.
Masa depan OSC propinsi Sang Kristus nampaknya cerah. Banyak kaum muda yang masih tertarik kepada gaya hidup OSC. Souw sendiri cenderung menerima calon-calon yang sudah menyelesaikan pendidikan S1, atau sekurang-kurangnya D3. Kematangan pribadi calon demikian sudah dapat diandalkan. Mereka juga diharapkan berasal dari keluarga baik-baik dan katolik yang berurat berakar.
Apa pesan Pastor kepada para generasi muda Ordo Salib Suci saat ini?
Globalisasi merupakan realitas jaman sekarang. Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat, komunikasi antar-individu seolah tanpa sekat, dan berbagai gejala lainnya yang menunjukkan perkembangan. Kaum muda penerus masa depan Ordo mesti berani ditantang untuk tugas-tugas tersebut. Belajar, belajar, dan belajarlah dalam berbagai macam hal tanpa mudah menyerah!.
Dimuat dalam NOLA No. 04, September–Oktober 2012, hlm. 11–16. Wawancara oleh Fr. Peter Elvin Atmaja Hidayat, OSC.