Kesaksian
Lebih Dekat bersama Pastor Leonard van Beurden, OSC
Redaksi NOLA ·
- Nama: Leonard Johanes Antonius Maria van Beurden
- Tempat, Tanggal lahir: Driel, 26 Desember 1942
- Ayah: Wilhemus van Beurden
- Ibu: Maria van Kessel
- Anak ke-: 4 dari 8 bersaudara
- Kaul Pertama: St. Agatha, 28 Agustus 1964
- Tahbisan Diakon: Amsterdam, Juni 1969 oleh Mgr. van de Burg OFM.Cap. Uskup Pontianak
- Tahbisan Imam: Kerkdriel, 27 September 1970 oleh Mgr. J. Bluysen, Pr.
Berangkat ke Indonesia bersama Kluskens dan Frans Vermeulen dengan pesawat DC 9 (sempit sekali rasanya) pada 27 November 1970. Tiba di Jakarta, Kebayoran pada saat malam takbiran. Pada saat malam pertama di Bandung rasa-rasanya tidak bisa tidur, karena dimana-mana ada mercon yang berbunyi dor-dor-dor atau bunyi dari mesjid. Ibarat masuk negara yang sedanga berperang. Beliau menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) sejak tahun 1995. Itu pun melalui suatu proses yang panjang, ludik dan menarik.
Karya
- Sesudah belajar Bahasa Indonesia di Susteran Waringin, saya berangkat dan menjadi Pastor Rekan di Paroki baru, yaitu Indramayu mulai tahun 1971 s/d Juli 1975.
- Januari 1976 s/d September 1983 menjadi Pastor rekan di Paroki pandu, Bandung. Pernah menjadi socius, dan magister ad interim tetapi kurang berhasil.
- Desember 1983 s/d Juni 1986 menjadi Pastor rekan di Paroki Katedral dengan tugas memperhatikan bidang pastoral di Rumah Sakit St. Borromeus dan mengurus Kapel Rumah Sakit. Beliau memulai mengajar introduksi Kitab Suci di Tahun Rohani.
- Juli 1986 s/d Mei 1999 beliau menjadi Pastor Paroki Pandu, mengajar introduksi Kitab Suci dan Homiletik kepada para frater.
- Sejak 1989 membantu Mgr. A. Djajasiswaja sebagai Vikaris Jendral selama hampir 9 tahun.
- Sabatical Year dari bulan Maret 1997 s/d Maret 1998, hadiah dari Provinsial Hardjo dalam rangka merayakan 25 tahun imamat.
- Mei 1999 menjadi Pastor Paroki Katedral, Bandung dan sejak Juni 1999 merangkap menjadi ketua Yayasan Salib Suci.
Bagaimana awalnya Pastor mengenal dan akhirnya tertarik menjadi Biarawan OSC?
Sejak kecil saya mengikuti jejak ketiga kakak saya menjadi putra altar. Tetapi nasib saya jelek. Kelas 3 SD saya dihukum dan diskors selama 3 bulan gara-gara menyiram gadis-gadis nakal dengan air suci, tetapi sialnya air percikan mengenai sang pastor hingga basah. Ketika kelas 5 SD saya dipecat, gara-gara dengan mulut saya membuat bunyi seperti kentut pada saat latihan penciuman salib untuk Jumat Suci. Rupanya pastor sedang BT, maka saya menjadi korban. Tetapi ada pastor asisten yang sangat ramah, sportif dan menarik. Dia seorang pikbus, SSCC. Ketika saya selesai Sekolah Dasar, saya tertarik mengikuti langkah kakak saya, masuk seminari.
Ketiga kakak saya ada di seminari di Uden yang dikelola oleh OSC. Awalnya saya tertarik masuk SSCC, gara-gara simpati kepada Pater asisten di paroki saya. Namun, pastor paroki tidak setuju. Saya pun mesti ke Uden. Sebagai domba-domba manis, orangtua dan saya nurut. Saya masuk kelas persiapan di Uden, tetapi salah satu kakak saya mundur dari seminari.
Pada tahun 1963 saya lulus dari seminari menengah. Karena kakak saya sudah mau menjadi projo, maka saya dengan 11 teman sekelas memilih untuk menjadi novis OSC. Kami ber-12 menjadi generasi yang pertama di Novisiat Biara St. Agatha. Kesan saya tentang para pastor OSC di Uden sangat positif. Mereka selalu siap mendampingi kami, baik di lapangan olahraga, maupun di bidang studi. Kebanyakan pastor OSC sangat dekat, ramah, dan peduli pada para seminaris. Jadi, no projo, no SSCC!. jadi ke OSC saja. Sampai hari ini saya tidak menyesal berkat Kehadiran Roh Kudus yang senantiasa mendampingi hidup saya.
Bagaimana perjalanan panggilan pastor saat menjalani masa pendidikan sejak Formasi hingga ditahbiskan menjadi imam?
Gedung novisiat di St. Agatha belum selesai, oleh karenanya kami ber-12 baru masuk novisiat pada bulan September. Kami didandani dengan jubah bekas yang penuh tempelan dan disuruh macam-macam. Banyak ofisi, doa, meditasi, bacaan rohani, ngepel, bantu di kebun, sortir kaos kaki, dan olahraga. Saya senang novisiat berakhir. Sebagai orang muda kami tidak terlalu betah, karena tidak ada tujuan, target yang mau dikejar. Sesudah kaul pertama kami pindah ke Zoeterwoude, Belanda Utara untuk belajar filsafat, psikologi, sejarah ordo, dan logika. Nah, di situ saya betah. Studi dan sejumlah dosen, baik OSC, maupun awam sangat menarik. Saya ditugaskan untuk menjadi koster pembantu. Gosok-gosok melulu. Hanya saya sebal terhadap beberapa pastor muda yang suka ketiduran, padahal mereka mesti pimpin misa. Mestinya saya belajar filsafat selama 2 tahun di Zoeterwoude, tetapi waktu itu dimulai dengan konsentrasi pendidikan untuk para calon imam. OSC bergabung dengan Fransiskan, Karmelit, Salesian, dan Oblat Maria. Tahun pertama dari “kombinasi Nijmegen” kami belajar di St. Agatha, masih memakai jubah waktu itu. Tetapi, tahun ke-2 kami pergi dengan bis ke Venray untuk mengikuti kuliah di Biara Fransiskan. Menarik, dosen-dosen yang kurang bagus dipensiunkan atau diparokikan sedangkan yang pintar-pintar tetap mengajar. Kesan saya waktu itu ilmu dan studi lebih diutamakan dibandingkan hidup rohani.
Karena roh dan angin konsili Vatikan mulai bertiup, maka jumlah seminari dengan pendidikan masing-masing mulai berkurang. Jumlah novis juga hampir tidak ada lagi. Sesudah 2 tahun konsentrasi Nizmegen (St. Agatha) kami para frater OSC dipindahkan ke Amsterdam. Dengan total 21 frater kami dari dusun paling kecil menuju kota yang amat besar dan ternama di Amsterdam. Selama 4 tahun saya boleh menghirup suasana dan hidup di kota Amsterdam. Terus terang saya amat menikmatinya. Amsterdam kota yang hidup, ada hippis, flower-people, ada pemuda/i a-sosial, demonstrasi, ada Gereja Mahasiswa, ada pembaharuan dan eksperimen. Singkatnya, ada segudang ketidakpastian. Maka jangan heran, bahwa dari bulan ke bulan jumlah frater cepat berkurang. Di tengah kesibukan belajar bermacam-macam ilmu saya banyak membantu di ber-café, rumah anak-anak muda di pusat Amsterdam. Pemuda/i tidak betah tinggal di rumah. Mereka berkeliaran. Kami mencoba menampung, menghibur, dan mengobrol dengan mereka. Ternyata, segala glamour, kemewahan, dan daya tarik di kota besar tidak mampu menjawab kesepian dan kehausan muda-mudi miskin. Menarik, hampir setiap weekend pada waktu itu ada demonstrasi, love-meeting, dan pertemuan mencari arti dan tujuan hidup. Surat kabar dan televisi diisi dengan berita-berita penuh harapan dari Konsili Vatikan di Roma. Sayangnya kebebasan, pemberontakan, dan pembaharuan tidak dapat dijawab dengan baik oleh Gereja dan para pemimpinnya. Jumlah imam dan frater berkurang bagaikan kereta api yang cepat. Sialnya jka seorang frater keluar sang magister suka mengeluh dan berkata, “sayang, yang baik-baik keluar”. Ucapan itu membuat kami yang bertahan frustasi. Jadi kami jelek-jelek bertahan. Akhirnya dari 21 frater hanya 3 bertahan dan menjadi imam.
Tahun terakhir yang merupakan tahun pastoral saya ditugaskan di kota Amsterdam. Di sana kami mulai terlibat dalam hidup dan karya di Paroki. Saya merasa senang dan betah. Saya merasa cocok dan diteriima oleh para penghuni flat-flat tinggi di Amsterdam. Pertengahan tahun 1970, I have to say, “good bye Amsterdam”.
Bagaimana kesan Pastor saat tiba dan berkarya di Indonesia?
Memang saya sudah sedikit siap untuk berkarya di Indonesia. Saya sudah belajar sedikit bahasa, sudah belajar untuk memperbaiki mobil kalau rusak di tengah-tengah hutan, sudah banyak mendengar cerita dari para misionaris. Tetapi kenyataannya toh berbeda. Jl. Van Deventer, rumah saya yang pertama. Saya merasa kembali ke St. Agatha. Dengan senang hati bulan Maret 1971 saya berangkat ke Kota Indramayu. Saya dan Pastor C. Kluskens mendapat tugas membangun paroki yang baru, yang terdiri sekitar 10 stasi hingga stasi Pamanukan. Saya terkenang dengan Indramayu: panasnya minta ampun, banjir berasal dari sungai Cimanuk, jalannya berlumpur, jalan kaki ke stasi, daerah Totoran dan Dagan, cerita ajaib di bawah pohon di stasi Tugu, dan lembabnya pastoran, lengkap dengan meja hnyo (Chinese Altar).
Sebagai misionaris muda, kurus kering, tinggi-doglong, duwur, saya menyusuri lorong-lorong dan jalan-jalan di Indramayu dan sekitarnya. Dari menangkap ikan, mengurus babi, berkhotbah, hingga kunjungan pastoral itulah kesibukan sehari-hari saya pada waktu itu. Saya merasa betah. Tapi tak diduga-duga waktu sedang cuti provinsial meminta saya pindah ke Bandung, ke Biara Pandu bersama dengan frater-frater. Awalnya sedikit takut karena saya bukanlah teladan religius yang hebat untuk para frater. Saya lebih suka berkarya di lapangan. Tetapi frater-frater juga baik dan lucu. Kadang-kadang berkelahi, sering studi, dan saleh. Saya lebih merasa puas tinggal di Paroki. Pada waktu itu lingkungan-lingkungan mulai lahir. Ada Legio Maria bapak-bapak (BBC) kita mendirikan lingkungan-lingkungan. Di Pandu mudika (muda-mudi Katolik) amat aktif dan terasa hidup. Tetntu saja ada pemudi-pemudi yang meminta lebih daripada bimbingan rohani. Godaan-godaan seringkali muncul sehingga sesudah 5 tahun berkarya di Pandu minta pindah.
Saya pernah berkarya di Katedral, Rumah Sakit, dan mengajar para frater kuliah. Bagi saya pastoral yang paling berkesan adalah kunjungan pasien-pasien di Rumah Sakit Borromeus sekaligus pastoral kapel di sana. Para perawat dan mahasiswa UNPAD, ITB, dll. Sangat kreatif dan hidup. Saya juga senang mengajar Kitab Suci dan praktek khotbah. Rahmat Tuhan sungguh besar dalam hidup saya.
Sayangnya terlalu cepat, provinsial muncul kembali. Ia berkata “Pastor Paroki Cirebon meninggal dunia”. Saya diminta kembali ke Pantura, Cirebon. Provinsial merenanakan tetapi Uskup menentukan. Mgr. Djajasiswaja minta agar saya bertahan di Bandung dan saya mesti kembali ke Pandu. Lama-lama saya mengerti pemikiran Bapa Uskup. Ketika saya memberi nasehat kepada Bapa Uskup, tiba-tiba dia berkata “Leo Saja”. Maksudnya saya ditunjuk menjadi vikaris generalnya. Rasanya terlalu luhur bagi saya. Tak pernah diimpikan oleh saya. Pst. Bogaartz mengirim ucapan selamat pada ibu saya dengan pesan bahwa “Leo sekarang harus memakai ‘celana’ warna ungu!”. Suatu hadiah besar, sabatical year mengubah pola hidup saya. Semula saya merasa gelisah, bingung, ngapain satu tahun nganggur? Tetapi berkat bantuan, petunjuk banyak orang saya bisa menikmati dan mengisi tahun sabath dengan baik. Dari Nemi ke Moskow, dari Amerika ke Belanda, dari Israel ke Lourdes. Terima kasih pada provinsial Hardjo. Sesudah sabatical year saya kembali ke Pandu. Ada gesekan-gesekan. Saya mesti pindah. Bapak uskup pada waktu itu mendapat vikjen yang baru. Saya pindah ke Katedral. Di Katedral saya mulai rajin mengunjungi umat, sampai tiba-tiba Yayasan Salib Suci dilempar ke pangkuan saya. Kadang kalanya kesibukan di paroki dan Yayasan dapat menggeser Tuhan sendiri.
Apa peristiwa atau pengalaman yang menarik bagi Pastor saat berkarya di Keuskupan Bandung
Ada suatu pengalaman yang tak pernah saya lupakan. Pada suatu hari, saya selaku Pastor Rumah Sakit mengunjungi seorang ibu yang sedang sakit lambung. Rupanya ibu yang sedang sakit itu melihat kebingungan dan keragu-raguan saya. Tiba-tiba ibu itu berkata “pastor tidak usah macam-macam, yang saya butuhkan adalah doa. Tolong doakan saya”. Karena diminta, maka saya mendoakannya. Mohon desembuhan dan bantuan Tuhan. Hari berikutnya saya mengunjungi dia kembali. Saya heran, kok kemarin kesakitan tetapi sekarang senyum dan duduk di samping tempat tidur. Ketika saya mengungkapkan rasa heran saya, saya ditegur oleh ibu katanya “kan kemarin saya didoakan Pastor, maka saya sembuh. Pastor harus percaya pada kekuatan doa sendiri”. Dengan malu, aku mengangguk. Sejak itu saya suka mantap mendoakan umat,yakin bahwa doa mempunyai pengaruh dan kekuatan. Kunjungan ini sangat berarti bagi saya dalam berelasi dengan Tuhan.
Apa yang menjadi kunci utama sehingga Pastor mampu untuk tetap setia pada panggilan sampai saat ini?
Saya merasa ada beberapa kunci, kekuatan yang sangat membantu saya, pertama-tama dari tekan-rekan konfrater maupun dari umat. Ada beberapa awam, suster, konfrater dimana saya selalu boleh curhat dan mereka sangat membantu saya mengatasi keragu-raguan, godaan atau kesusahan. Saya juga amat berterima kasih kepada Ordo Salib Suci dan keuskupan. Saya sering tertantang diberi tugas yang nampaknya sulit, terlalu berat bagi saya. Tetapi karena dipercaya ternyata bisa melaksanakan dan menikmatinya. Ternyata, manusia memiliki lebih banyak bakat dan potensi daripada yang diduga sebelumnya. Saya merasa sangat dimanja oleh Tuhan sendiri. Luar biasa, banyak kebaikan, semangat, sukses dan hiburan saya peroleh dari-Nya. Saya merasa dimanja Tuhan baik melalui karya yang dipercayakan pada saya maupun melalui sejumlah relasi dengan sesama yang sungguh berarti. Satu lagi, untung bahwa saya boleh tinggal di dalam komunitas yang kompak, memberi dukungan dan perhatian. Jadi bukan kehebatan saya sehingga bertahan, tetapi berkat dukungan dari mereka.
Apa harapan Pastor bagi perkembangan Ordo Salib Suci?
Rasanya cukup lama saya curiga, anti pada policy generalat OSC di Roma. Mereka terus menerus mendorong, malahan memaksa untuk membentuk priorat. Tetapi makin ke sini saya mulai mendukung pada “vita mixta”. Tadinya saya mengutamakan karya dan karya. Tetapi makin ke sini saya yakin kita mesti berani menyediakan waktu untuk hidup sebagai saudara satu sama lain dan mendalami hidup doa. Hidup komunitas dan hidup dalam Tuhan begitu penting sebagai ciri khas Ordo Salib Suci (walaupun saya senang sibuk di lapangan). Saya berharap agar Ordo mengizinkan setiap provinsi mencari identitasnya yang berakar dalam kebudayaan setempat. Provinsi Indonesia boleh berbeda dengan provinsi Amerika. Jadi mempelajari kebudayaan setempat itu begitu penting. Sejauh manakah model pesantren? Saya sangat setuju dan senang jika Ordo memiliki banyak perhatian pada dunia panggilan dan formasi. Tanpa tunas muda kita susah berkembang dan berbangga diri.
Apa harapan Pastor bagi para frater dan konfrater muda?
Saya berharap para frater dan konfrater muda selalu kreatif, mau menggali dan menggarap ciri khas hidup religius, hidup OSC di dalam zaman dan kebudayaan setempat. Apa sebenarnya kebutuhan, kehausan manusia Indonesia setempat? Banyak konfrater kita berkarya di Jawa Barat. Maka perlulah ada yang ahli dalam bahasa dan budaya Sunda. Tetangga kita semua beragama Islam, maka perlu ada ahli Islamologi. Negara kita kehilangan budi pekerti atau moral, maka perlu ada ahli moral yang suaranya didengar dan dperhatinan di media. Dan jangan lupa untuk memupuk, merawat kerinduan akan Allah. Akhirnya bagaimanapun juga kita adalah a man, a family of God. Bisa gak kita tampil sebagai manusia spiritual yang dapat berelasi akrab dengan Allah. Kaum muda jangan hany menjadi kuda kerja yang berprestasi hebat. Taatilah semboyan “ora et labora”. Artinya, ora di depan! Tidak mudah barangkali. Proficiat dengan kegiatan Rencontre, ret-ret, dan dialog antara agama. Semoga dapat berkembang.
Apa kebanggaan dan harapan Pastor sebagai anggota OSC sampai saat ini?
- Saya bangga dan berharap terus bahwa OSC Indonesia yang multi suku, ras, dan asal-usul bisa hidup bersatu dan bekerja sama. Sunda, Jawa, Ambon, Nias, Batak, Belanda, Cina, dll. Bisa hidup rukun. Itu teladan yang baik bagi umat.
- Saya bangga melihat novisiat yang hidup. Semoga tim panggilan dan para magister tetap menyala-nyala semangatnya.
- Saya bangga jika ada konfrater yang karyanya diakui sehingga masuk di majalah atau media masa lainnya.
- Saya bangga melihat beberapa konfrater aktif terlibat dalam dialog antar agama. Suatu karya pastoral yang amat penting.
- Harapan saya juga adalah agar tetap menyiapkan konfrater yang mau terjun di bidang pendidikan. Siapakah yang akan ikut memberi arah dan tujuan pada pendidikan generasi muda di negara kita? Management dan roh pendidikan begitu penting.
Akhir kata, saya bangga menjadi anggota OSC Sang Kristus Indonesia. Saya berharap agar tua dan muda tetap merasa diterma, didukung oleh komunitas, berkembang dan bahagia.
Salam damai,
Pst. Leo van Beurden, OSC
Dimuat dalam NOLA No. 02, Maret–April 2012, hlm. 28–35.