Kesaksian

Lebih Dekat bersama Pastor Mathias Kuppens, OSC

Fr. Febry Ferdinand Laleno, OSC ·

Biodata

  • Nama Lengkap: Peter Mathias Thomas Kuppens
  • Tempat/Tanggal Lahir: Weerd, 29 Desember 1936
  • Anak ke: 3 dari 6 bersaudara
  • Novisiat: 1956 – 1957
  • Skolastikat: Filsafat (Achel, 1957 – 1959) Teologi (St. Agatha, 1959 – 1963)
  • Kaul Pertama: 28 Agustus 1957
  • Kaul Kekal: St. Agatha, 28 Agustus 1960
  • Tahbisan Imamat: St. Agatha, 18 Juli 1962

Karya Pastoral

  • 1962 – 1963: Pastor Asisten di Belanda
  • November 1963: Bertolak ke Indonesia (tiba di Belawan, Medan, kemudian menuju Cicadas
  • Maret 1964: Pastor Paroki di Cirebon
  • 5 Jan 1965-31 Des 1989: Pastor Paroki Kristus Raja Cigugur (25 tahun)
  • 1 Jan 1990 – sekarang: Pastor Paroki Salib Suci, Nias Barat

Pastor Kuppens juga pernah melakukan survey dalam rangka studi keadaan komunitas OSC di Agats, Papua, selama beberapa bulan.

Jabatan Lainnya

  • Pernah menjabat sebagai Anggota Dewan Imam di Keuskupan Bandung (ketika bertugas di Paroki Kristus Raja, Cigugur).
  • Pernah menjadi anggota Kapitel Uskup – Penasihat Uskup Sibolga selama lima tahun.
  • Pernah menjabat sebagai anggota PSE di Nias selama 12 tahun.
  • Anggota Dewan Imam Keuskupan Sibolga selama 20 tahun.

Tidak berlebihan apabila sosok ini kita sebut sebagai bapa misionaris sejati yang dimiliki OSC. Bagi umat di Cigugur dan Nias, Pst. Kuppens bukanlah nama yang asing bagi mereka. Pada kesempatan Kapitel Provinsi Sang Kristus 2013 ini, beliau pun masih menyempatkan bertemu dengan banyak mahasiswa asal Nias yang ingin berkonsultasi dengannya. Perbincangan kali ini selain mengenal lebih dalam dengan Pst. Kuppens, juga mengulas pendapat beliau tentang tugas misi yang diemban oleh para Krosier.

Bagaimana kisah singkat perjalanan panggilan Pastor sehingga memutuskan untuk menjadi Krosier?

Saya tertarik menjadi imam sejak kecil. Saya membaca banyak tentang misi di rumah. Salah satu om saya juga Krosier di Afrika. Oleh karena dia, saya kemudian masuk seminari OSC di Uden. Pada waktu itu menjadi misionaris sedang trend. Ada enam saudara saya menjadi misionaris. Bisa dikatakan kita adalah keluarga misionaris. Di seminari saya mencoba untuk mempelajari dan live in di banyak ordo, tetapi akhirnya saya memilih OSC. Mengapa OSC? Karena OSC mempunyai spiritualitas yang menarik, mereka ramah, dekat dengan orang kecil, dan karyanya juga luas (ada sekolah, paroki, dan juga misi). Selain itu saya beruntung karena memiliki keluarga yang saleh, dan sangat mendukung. Kami terbiasa saling menolong, kerja sama, dan berjiwa sosial, sehingga terbentuk menjadi seseorang yang utuh.

Ketika di novisiat, saya sedikit gagal. Di sini banyak novis yang memberontak dan banyak yang keluar. Magister gagal mengatasi keadaan, sehingga saya pernah tidak merasa nyaman ada di novisiat. Dari sepuluh novis, hanya ada empat yang menjadi imam. Sesudah melewati novisiat saya pindah ke Achel, Belgia. Di sana saya merasa nyaman dan terbentuk menjadi seorang religius dengan didukung oleh banyak pihak, termasuk magister, socius, dan prior. Komunikasi berhasil terbentuk, hidup doa berkembang. Pada masa studi teologi di Belanda, saya merasa beruntung karena memiliki dosen yang bagus dan modern sehingga dapat membentuk dan mengembangkan saya dalam studi dan teologi modern. Saya menikmati empat tahun di sana.

Apakah Pastor pernah bermimpi bahwa suatu saat Pastor akan ke Indonesia?

Sebetulnya tidak pernah terpikir sampai di Indonesia, karena dulu Indonesia masih tertutup untuk misionaris. Saya hanya bersiap untuk pergi ke Kongo atau ke Brazil. Tapi oleh karena kedekatan Ibu Fatma (ibunda Pst. Yan Sunyata) dengan presiden maka saya berhasil mendapatkan visa bersama teman saya. Saya merasa beruntung dapat pergi ke Indonesia. Selama dua bulan saya belajar bahasa Indonesia, dan pada 1964 saya ditugaskan ke Cirebon. Hal yang menarik adalah di sini saya menerima pendaftaran anggota ADS menjadi Katolik pada tanggal 17 Oktober 1964. Ada enam ribu orang yang mendaftar dari Cigugur. Mereka mulai belajar agama di Cirebon, dan akhirnya saya pindah ke Cigugur. Di Cigugur saya mulai belajar bahasa Sunda bersama Pst. Hidayat Sasmita. ADS menjadi Katolik oleh karen jasa Pst. Hidayat Sasmita yang dekat dengan mereka.

Bagaimana kesan pertama Pastor ketika mendarat di Indonesia?

Semuanya berbeda. Kita datang ke Indonesia dengan bahasa yang berbeda. Pastor Hidayat tidak pernah ada di rumah, sehingga saya merasa sendirian di Cirebon. Tapi orang Cirebon menerima dengan baik dan saya merasa cocok. Kebanyakan mereka dari keturunan Tionghoa dan Indo. Dari bulan Maret sampai akhir tahun saya sudah kenal semua orang di Cirebon. Saya punya kartu keluarga, dan setiap hari saya mengunjungi mereka, sehingga kira-kira delapan ratus orang berhasil saya kenal. Waktu itu memang belum banyak. Ini adalah sistem saya. Kemudian untuk cuaca, saya tidak masalah dengan cuaca yang panas, dan saya cocok dengan makanan di Cirebon. Makanan di Cirebon enak sekali. Umat biasanya memanjakan pastor.

Apakah resep Pastor untuk dapat belajar bahasa asing dengan cepat?

Untuk bahasa Indonesia saya dapat belajar cepat. Setelah dua setengah bulan saya bisa berkhotbah dalam bahasa Indonesia di Cirebon. Untuk bahasa Sunda saya belajar mati-matian. Tapi dengan usaha yang keras saya bisa. Selain itu saya dapat guru bahasa yang baik. Dan tiap hari saya hidup di tengah orang Sunda, dan saya sendirian di sana kira-kira enam bulan karena Pst. Hidayat tidak pernah ada di tempat. Di Paleben, saya bicara bahasa Sunda sebisanya. Akhirnya saya lumayan dalam berbahasa sunda. Setelah dua puluh lima tahun tinggal di sini, pikiran saya sudah Sunda bahkan bermimpi dalam bahasa Sunda. Saya kerja dan belajar bahasa dengan sepenuh hati karena saya tahu ini sangat penting dan saya didukung karena merasa cocok dengan orang-orang di sana. Saya banyak bekerja sama dengan mereka. Bahasa Nias adalah bahasa yang sulit bila dibandingkan dengan bahasa Sunda, bahkan lebih sulit dari bahasa Cina. Sekarang saya masih belajar dan masih sering melihat buku karena begitu rumit.

Lokasi misi manakah yang paling berkesan bagi Pastor?

Kedua-duanya sungguh berkesan. Bagi saya istri pertama saya adalah ‘Cigugur’ dan istri kedua saya adalah ‘Nias’. Saya senang di Cigugur karena saya tinggal selama dua puluh lima tahun. Saya cocok dengan mereka dan latar belakang saya yang petani dapat membantu dalam hal pertanian dan kita banyak mengadakan proyek pertanian dan peternakan (pernah mendatangkan sapi dan babi) sehingga mulai meningkatkan ekonomi umat. Kita dulu bahkan punya sekolah pertanian yang terkenal. Itu semua terjadi karena kita adalah tim yang hebat. Selain itu ada pula suster-suster yang membantu dengan adanya beberapa sekolah dan rumah sakit. Semuanya memberikan dinamika pada umat di sana. Kita diterima dengan baik dan mereka percaya kepada kita. Kita mencintai umat, dan umat menerima kita.

Di Nias saya belajar tujuh bulan untuk bahasa Nias. Saya belajar mati-matian untuk menguasai bahasa ini. Delapan jam sehari saya belajar. Kami ditempatkan di Nias Barat. Di sana masih penuh dengan malaria namun kita tetap meneruskan dan mulai berkarya di Sirombu. Tiga kali saya masuk rumah sakit. Banyak pastor lain yang terkena penyakit ini. Bagaimanapun saya mencintai orang Nias. Saya punya misi untuk mengenalkan Yesus kepada mereka terutama kita mau mengangkat keluarga-keluarga. Kita selalu ada pertemuan dengna keluarga agar di sana ada kasih. Adat harus membawa kasih sehingga ada kedamaian, itulah yang membahagiakan saya. Hanya itu saja. Kalau mereka mengenal Yesus, biarlah Yesus berjalan bersama mereka dan saya bisa pulang. Untuk itu kita harus seratus persen mencintai Yesus. Peristiwa “Gempa Nias” juga memberikan kepada saya banyak pengalaman yang berharga. Semuanya hancur, lima puluh lima gereja hancur sehingga kita harus mulai dari awal. Kita juga diminta pemerintah untuk membagikan bantuan. Pada waktu itu banyak bantuan datang. Prinsipnya, ketika barang datang, langsung dibagikan, ketika Senin datang, Selasa langsung dibagikan. Semua umat akhirnya memiliki gudang penuh makanan.

Apakah ada tanah misi lain yang ingin Pastor kunjungi?

Tidak ada keinginan untuk pergi ke tempat lain karena saya sudah bahagia dan mengakar di Nias. Nias Barat harus menjadi surga kecil. Inilah harapan dan cita-cita saya. Saya juga cocok dengan masyarakat di sana. Banyak orang konsultasi dengan saya termasuk masalah kesehatan terutama yang dari pengalaman.

Menurut Pastor, hal apakah yang membuat Krosier muda enggan untuk menjadi misionaris?

Saya ingin agar Krosier muda sungguh memiliki semangat misioner. Saya berharap agar mereka rela dan mau pergi serta mau tinggal untuk mewartakan dan menghadirkan Kristus di tanah misi karena orang muda lebih memilih tinggal di Bandung atau Jakarta. Hal ini menurut saya oleh karena mereka belum ada kesadaran bahwa misi adalah esensial bagi Krosier. Seorang OSC tanpa misi adalah bukan OSC. Seorang OSC harus ikut menderita dan menghadirkan Yesus. Saya harap agar kesadaran misioner harus ditanamkan dan ini harus dilatih. Saya melihat mereka kurang tantangan. Segi sosial mesti dilatih selain bidang akademik. Mereka harus mengenal struggle of life. Jadi rasa mencintai orang kecil, mendekati dan mengangkat mereka yang susah dan sakit masih kurang dalam pendidikan. Dimensi inilah yang harus diperhatikan dalam pendidikan karena semuanya banyak berfokus pada studi. Ini masih ditambah dengan doa kalau ingat. Katekese, ilmu sosial untuk dapat mendekati mereka yang marginal, dapat meningkatkan rasa empati dan kepekaan kita, serta akhirnya dengan tindakan nyata. Jangan jatuh dalam kemanjaan dengan menjadi anak asuh dari keluarga kaya, diberi ini dan itu. Hal ini sangat tidak cocok dengan OSC. Apa yang kita miliki sudah lebih dari cukup maka kita harus memperhatikan tugas kita untuk mengenalkan Yesus.

Tips apakah yang dapat Pastor berikan kepada Krosier muda untuk dapat berkarya dengan baik di tanah misi?

Untuk bertahan, kalian harus memiliki hubungan personal yang kuat dengan Yesus agar Yesus menjadi Temanmu yang dapat mendukung, menghiburmu. Dengan-Nya kita bisa melakukan apapun. Yang menjadi satu-satunya teman, ‘home’ di mana kita bisa bersandar pada-Nya. Hidup doa harus diperhatikan. Inilah yang membahagiakan kita. Yang pokok adalah agar kita tidak putus asa, kecewa, kita harus memiliki teman yaitu Yesus, bukan yang lain seperti mengumpulkan kekayaan, makanan, dan lain-lain. Dengan demikian kita tidak akan banyak krisis, menjadi bahagia, tidak punya beban. Tugas apapun atau masalah apapun yang dihadapi kita bisa lakukan karena Yesus senantiasa menolong kita, bukan dengan kekuatan kita sendiri. Pastor yang tidak bahagia terjadi karena mereka tidak merasa didukung, disemangati, tidak memiliki tempat untuk bersandar dari kelelahan kita. Kemampuan kita ditugaskan, seharusnya kita berterima kasih dan merasa beruntung karena ada kesempatan untuk berkembang, dan punya kesempatan untuk mengenalkan Yesus di tempat tugas.

Apakah harapan Pastor terhadap Ordo terutama Provinsial yang terpilih sebagai Provinsial untuk kedua kalinya?

Provinsial kita (saat itu Mgr. Antonius Subianto Bunjamin OSC yang kini menjadi Uskup di Keuskupan Bandung) adalah orang yang bervisi, orang yang pendoa. Kalau kita melaksanakan visinya, maka provinsi kita akan berkembang. Ia adalah orang hebat, bagus. Jadi kita harus mengikuti dia, taat, ikut mikir, saling mendukung, saling mengembangkan. Kita beruntung memiliki provinsial seperti dia. Dia juga memiliki perhatian dan hati kepada pastor di pedalaman. Apabila ada kesulitan itu karena anggota-anggotanya yang terkadang berjalan sendiri.

Pesan apakah yang dapat Pastor berikan kepada Krosier muda?

Tidak bosan saya katakan agar kalian betul-betul mendalami hubungan dengan Tuhan dan hanya mengharapkan dari Dia. Tuhan tidak akan mengecewakan. Tuhan tidak akan memberikan batu kepada orang yang minta roti. Ketika saya membimbing para TOP-er, saya selalu menekankan bahwa apabila kalian tidak memiliki hubungan personal dengan Allah, tidak pernah berdoa, saya selalu mengatakan agar pulang saja. Saya masih belum melihat ada yang sungguh seratus persen karena tertutup oleh motivasi lain seperti agar dapat studi, agar dihargai, mencari uang dan sebagainya. Ini sayang. Jadi kita harus menjadi imam yang bahagia. Kalau tidak bahagia kita gagal karena surga sudah dimulai sekarang. Ketika kita hidup dalam Tuhan, surga sudah mulai dirasakan dimulai sekarang. Ketika kita hidup dalam Tuhan, surga sudah mulai dirasakan karena kita merasa diberkati, ditolong, dan diampuni Tuhan. Kecuali nanti ketika kita mati barangkali kita akan merasakan surga yang sedikit lebih besar.

Dimuat dalam NOLA No. 04, Juli–Agustus 2013, hlm. 32–37.

Bacaan lain