Kesaksian
Mengenal Lebih Dekat Pastor Yohanes Djino Widyasuharjo, OSC
Fr. Evodius Karunia L., OSC ·
Tokoh ini waktu kecilnya hebat bermain bulu tangkis, kelihaiannya membawa mobil tak diragukan lagi, penampilannya sederhana dan tidak neko-neko, ia penyayang anjing, ikan, dan burung. Itulah sebagian kecil karakter dari Pastor Widyo OSC. Cerita menarik dari Pastor Wid (panggilan akrab Pastor Widyo) menjadi topik utama dalam wawancara dengan beliau kali ini.
Pastor berasal dari Klaseman, Yogyakarta di mana OSC tidak berkarya di sana. Lalu bagaimana Pastor bisa mengenal dan kemudian tertarik menjadi biarawan OSC?
Rumah saya di Yogyakarta tidak jauh dengan Skolastikat SCJ, Skolastikat MSF, dan Seminari Kentungan. Setiap hari saya selalu melihat orang-orang dengan mengenakan jubah naik sepeda. Mereka adalah frater-frater. Saya merasa kagum bisa melihat para frater tersebut. Perasaan kagum saya untuk memutuskan menjadi seorang imam bertambah karena paman saya (alm. Bruder Samidi), yang adalah adik dari bapak saya, sudah lebih dulu masuk menjadi biarawan OSC waktu itu. Beliau sering bercerita tentang OSC sehingga saya hanya mengetahui OSC dari bruder. Bruder orang yang baik dan ia tidak pernah mengeluh tentang OSC. Dari sinilah saya dibujuk untuk ikut bergabung menjadi biarawan OSC. Sebelum menjadi biarawan OSC, bruder bekerja di Seminari Menengah Cadas Hikmat yang dulu ada di Cicadas. Beliau juga dekat dengan alm. Pak Sabda dan keluarga Pastor Agus Rachmat, OSC. Bruder juga dekat dengan alm. Pst. Dohne OSC dan ia ditawarkan untuk menjadi seorang bruder. Tawaran ini membuat bruder awalnya tidak yakin karena bruder merasa ragu apakah bisa menjadi seorang bruder, tetapi akhirnya bruder menyanggupinya dan berpamitan dengan bapak saya untuk bergabung menjadi biarawan OSC. Bruder mengucapkan kaul kekal pada tahun 1967. Dengan melihat sosok bruder di OSC, saya terpincut pula untuk bergabung menjadi biarawan OSC. Awalnya saya merasa tidak mampu karena untuk menjadi seorang imam bagi saya terlalu tinggi sehingga modal saya saat itu adalah berani mencobanya. Saya mengakui kemampuan intelektual saya tidak seperti pastor-pastor OSC lainnya yang cerdas. Saya juga dulunya banyak mengenal wanita dan saya berpikir apakah mungkin orang seperti saya bisa menjadi seorang imam. Ada keraguan dalam diri saya. Ketika saya sudah berjubah OSC, saya masih merasakan ketidakpercayaan diri saya. Langkah awal yang saya lakukan adalah menghayati panggilan Allah ini dengan sukacita. Ketika saya sudah ditahbiskan, dari awal saya sudah berkarya di paroki di bidang kategorial, yakni Legio Maria. Saya merasa senang karena dari awal saya sudah dipercaya untuk melayani umat melalui doa. Keterlibatan dalam Legio Maria inilah yang membuat saya tidak merasa ada beban di OSC.
Keluarga Pastor ada yang menjadi imam, bruder, dan suster. Apakah hal ini sudah menjadi cita-cita dari kecil untuk menjadi keluarga biarawan/biarawati?
Sebenarnya tidak ada tuntutan apa-apa dari keluarga saya. Malahan bapak dan ibu saya sangat mendukung penuh apabila anak-anaknya menjadi seorang biarawan/biarawati asalkan itu keluar dari suara hati yang tulus. Saya dari kecil sudah ingin menjadi imam. Sosok bruderlah yang sangat kuat dalam mendorong keinginan saya ini. Seorang pastor Jesuit, Pastor Rutten, SJ dikenal sebagai sebagai pastor yang sangat baik terutama dengan anak-anak kecil dan misdinar. Saya juga merasa bangga karena pada saat saya menjadi seorang misdinar, saya adalah salah satu dari tiga orang (selain Bpk. Sukardi yang adalah kakak dari Pst. Suhendar, Vikjen Semarang saat itu dan Bpk. Sudarno yang adalah adik dari Bpk. Sukardi) yang menjadi misdinar dalam misa berbahasa latin. Saat itu jika ada misa dalam bahasa latin kami bertiga yang setia menjadi misdinarnya. Misa dalam bahasa latin ini diadakan bukan di paroki, tetapi di Stasi Kotabaru. Oleh karena masih stasi, misa diadakan sebulan sekali. Sekarang Stasi Kotabaru sudah menjadi Gereja Keluarga Kudus Nazareth, Paroki Kotabaru yang terletak di Jl. Kaliurang dan dikelola oleh pastor-pastor MSF.
Dalam berkarya dan membimbing para frater, Pastor sudah banyak menghasilkan anak didik yang sukses dalam Ordo. Sebenarnya apa kiat-kiat Pastor untuk membimbing mereka?
Anak didik yang saya bimbing sampai penuh cukup banyak dan sampai sekarang belum ada yang keluar, antara lain (alm.) Agus Rachmat, Maman Suharman, Lukas Sulaeman, Tedjoworo, Crispinus Budiman, Cornel (walaupun kini bukan OSC lagi, namun masih imam yang berkarya di Brazil; red.), Riston, Antonius Budiman, Robert Hia, dan sekarang Freday. Saya selalu mengoptimalkan potensi mereka dan saya tidak pernah mencela mereka. Dengan cara ini mereka bisa mengekspresikan seluruh jati diri mereka tanpa ada beban dan tekanan. Tidak ada alasan untuk mencari kekurangan mereka karena saya selalu sadar dan melihat bahwa mereka itu lebih pandai daripada saya, mereka ada di atas saya, lalu mengapa saya harus mencari-cari kesalahan mereka. Dalam mendidik mereka, saya juga mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk keluar dari OSC karena dalam hal ini saya menjadikan diri saya sebagai tolok ukur. Mengapa pula mereka harus bingung menjadi biarawan OSC karena pendidikan mereka lebih daripada saya. Dalam keseharian saya hanya ingin mereka hadir dalam hidup bersama, yakni hadir dan makan bersama-sama, rekreasi juga bersama-sama, kalau pergi memberi tahu mau ke mana, dan yang paling penting adalah bisa bangun pagi untuk ikut misa. Kalau tidak bisa bangun pagi nanti akan sulit untuk menjadi imam. Hal yang lucu adalah pada saat saya membimbing Pastor Agus Rachmat. Beliau meminta nilai dari saya apakah dia lulus atau tidak pada masa pastoralnya. Lalu saya berkata: “Kamu mau nilai berapa? Mau nilai enam boleh atau sembilan juga boleh.” Pastor Agus Rachmat saat itu merasa heran karena baru pertama kali ada pembimbing yang menyuruh anak didiknya untuk memberi nilai sendiri apakah lulus atau tidak. Dalam membimbing mereka saya tidak memberikan hal-hal yang sulit, hanya butuh kehadiran untuk berkumpul bersama saat makan, rekreasi, dan memberi tahu jika pergi.
Pastor dikenal sebagai imam biarawan OSC yang taat, diutus ke mana saja siap. Apa motto Pastor dan bagaimana Pastor bisa dengan sukacita menjalankan karya Pastor?
Saya mempunyai motto “3 M”. Melihat, mencintai, dan memahami.
Melihat tugas itu sebagai rahmat karena saya menghargai pemimpin, siapapun pemimpinnya. Tugas itu sebagai berkat untuk saya karena pemimpin adalah utusan Allah sendiri sehingga jika ada tugas yang diberikan kepada saya, saya siap karena tugas itu sebagai rahmat, yakni saya masih dipercaya oleh atasan.
Mencintai tempat dan umat Allah tempat saya berada. Saya mencintai tempatnya dan umat Allah yang dipercayakan kepada saya. Di mana pun saya berada saya tidak pernah aneh-aneh sehingga saya tidak pernah punya dendam terhadap siapapun dan apapun.
Memahami dan mengerti anggota komunitas. Mereka adalah teman sekomunitas dan mereka adalah teman kerja saya. Selama saya bersama mereka saya selalu mencari segi positif mereka dan saya kembangkan itu.
Dengan motto “3 M” ini saya merasa kerasan dan betah di tempat saya bertugas. Sampai sekarang pun jika saya bertugas, saya belum pernah diusir oleh umat.
Para frater sering menganggap Pastor sebagai pastor yang ramah dan suka bercanda. Bagaimana Pastor bisa selalu enjoy dan welcome dengan mereka?
Saya mendapat pelajaran yang sangat berharga dan bercermin dari kehidupan orangtua saya. Mereka tidak suka bertengkar dan selalu menerima tamu-tamunya, teman-teman saya, dan semua tamu. Saya belajar dari mereka bagaimaan hidup itu harus menghargai orang lain. Ternyata, hal inilah yang ditanamkan oleh oranguta pada diri saya. Menghargai orang lain itu sangat penting apalagi ketika seorang imam yang menjadi contoh teladan bagi kaum muda. Sekarang mencari calon pastor saja sulit, oleh karena itu mengapa saya harus bersikap tidak baik dan tidak menerima mereka (para frater). Kalau saya bersikap antipati terhadap mereka dan kurang ramah, nanti mereka akan berpikir “Kok pastor OSC begitu ya, nggak ramah. Katanya hidup bersama dan menjalin persaudaraan, tapi dengan adik-adik kelasnya saja nggak peduli.” Jika pikiran itu muncul mungkin saja panggilan mereka akan sedikit berguncang dengan melihat sosok pastor OSC yang kurang memperhatikan saudara se-ordo. Saya tidak mau seperti itu, saya mau menghargai panggilan mereka. Hal ini bukan saja saya lakukan dengan saudara di OSC, tetapi dengan semua orang. Kalau pun ada frater yang sudah tidak menjadi OSC, saya tetap menghargai mereka karena menurut saya menjadi imam adalah menghargai seluruh umat Allah yang dipercayakan kepada saya.
Baru-baru ini ada beberapa saudara kita (entah pastor ataupun frater) yang menarik diri dari OSC. Melihat fenomena ini, bagaimana Pastor bisa setia pada panggilan terutama terhadap ketiga kaul yang telah diucapkan?
Saya tidak mempunyai cara-cara khusus dan strategi yang dilakukan untuk menghargai kehidupan sebagai imam biarawan OSC. Saya hanya mencoba menghidupi ketiga kaul yang saya ucapkan dalam kehidupan sehari-hari karena bagi saya, jika ketiga kaul tidak bisa diterapkan dalam hidup keseharian maka fondasi untuk menjadi imam akan hancur dan kehilangan arah. Bagi saya, kesetiaan adalah dasar hidup menjadi imam. Dengan setia dan taat kepada pemimpin, di situlah saya mengabdikan diri dan mendengarkan suara Allah yang hadir dalam diri pimpinan saya. Hidup saya tidak aneh-aneh dan saya tidak meminta apa yang tidak saya inginkan. Saya mencoba mengerem dengan situasi dunia ini dan tidak mau terikat dengannya. Saya juga tidak memperlengkapi diri dengan hal-hal yang baru, apa yang sudah ada untuk saya adalah baik bagi saya dan itulah yang saya manfaatkan. Dalam hal kemurnian saya mencoba untuk membatasi hidup saya dengan kedekatan pada wanita karena beberapa pastor dan frater ‘jatuh’ dalam panggilan karena wanita. Memiliki ketertarikan dengan wanita adalah wajar dan itu manusiawi, tetapi harus diingat bahwa dengan menjadi imam berarti mencintai seluruh umat Allah dan bukan hanya khusus kepada wanita apalagi wanita yang cantik saja. Hubungan mencintai Allah seperti Yesus yang mencintai semua orang tanpa syarat.
Apa harapan Pastor bagi perkembangan Ordo kita?
Saya berharap bagi mereka yang sudah mengucapkan kaul dan khususnya bagi mereka yang sudah berkaul kekal menghidupi ketiga kaul dengan sukacita, setia, gembira, dan jangan ngomel serta mengeluh. Jika anggota Ordo kita menghidupi ketiga kaul dengan sukacita, maka masa depan Ordo akan terjamin. Saya pun berharap supaya orang-orang di Ordo kita ini menjaga hidup bersama, ramah dengan orang luar, dan hidup berkomunitas (jangan hidup sendiri). Keharmonisan antara penghayatan ketiga kaul dan ciri khas dari Ordo kita inilah yang harus diterapkan. Saya telah melakukannya dan inilah yang membuat saya bisa menjalani panggilan dengan enjoy. Hal ini saya lakukan ketika pada 2004 – 2007 saya menjabat sebagai anggota Dewan Provinsi (1 bulan sekali saya harus ke Bandung untuk rapat), ketua Konven Regional Tangerang, dan ketua Dekenat Tangerang. Saya tetap menerima tugas-tugas itu dengan senang karena saya masih dipercaya dan rahmat Allah tidak akan pernah meninggalkan saya.
Apa pesan Pastor kepada para frater dan konfrater muda saat ini?
Untuk menjadi seorang biarawan OSC, hidupi dan hayatilah identitas sebagai biarawan OSC. Tidak ada alasan yang lebih baik untuk meninggalkan hal ini. Jangan pernah melupakan hidup doa dan misa karena melalui ini kerinduan akan relasi yang dekat dengan Allah selalu terjaga. Hidup bersama selalu menjadi prioritas dan jangan hidup menyendiri dengan kesibukannya di dunia luar yang bukan menjadi bagian dari OSC. Dalam pergaulan jangan sampai merasa dicintai dan dihargai karena ganteng, pintar, sukses, dan menjadi favorite umat, tetapi selama menjadi frater dan pastor harus dicintai karena jubah OSC-nya. Aura dan wibawa seorang biarawan OSC menjadi yang utama, bukan penampilannya. Jika ada pastor yang mencintai, harus mencintai dengan tulus.
Dimuat dalam NOLA No. 02, Maret–April 2013, hlm. 10–15.