Artikel
Pelindung Ordo Salib Suci
Ordo Salib Suci Provinsi Sang Kristus ·
St. Agustinus dari Hippo
Ia lahir di Tagaste, Afrika, pada tahun 354. Semasa muda, ia merasakan kegelisahan yang cukup berat, hidup dan tingkah lakunya kacau berantakan. Namun, karena kuasa Allah ia mampu bertobat dan berubah dengan bertapa dan banyak berdoa bersama beberapa orang rekannya. Selanjutnya, ia memilih untuk mengabdi kepada Allah dengan menjadi seorang imam. Tahun 387, ia dibaptis oleh uskup Ambrosius di Milan dan bertugas di Hippo sebagai pembantu uskup di kota itu. Sepeninggal uskup di Hippo pada tahun 395, ia dipilih menggantikan Uskup Hippo. Sebagai seorang uskup, Agustinus sangat menaruh perhatian besar pada umatnya terutama yang miskin dan melarat. Dialah yang mendirikan asrama dan rumah sakit pertama di Afrika Utara demi kepentingan umatnya. Agustinus meninggal dunia pada tanggal 28 Agustus 430 tatkala bangsa Vandal mengepung Hippo. Jenazah Agustinus berhasil diamankan oleh umatnya dan kini dimakamkan di basilik Santo Petrus. Dengan kekudusan dan kesucian hidup St. Agustinus, Ordo Salib Suci memilih cara hidup dan spiritualitas St. Agustinus sebagai regula.
Lih. Ordo Salib Suci. 1210-2010; Starting Afresh From A Place of Light, 2010.
Kisah Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja
Agustinus adalah bapa Gereja purba yang terkenal. Ia lahir di Tagaste (sekarang Souk-Ahras), Afrika Utara pada tanggal 13 November 354. Ibunya, Monika, seorang beriman Kristen dari sebuah keluarga yang taat agama; sedangkan ayahnya, Patrisius, seorang tuan tanah dan sesepuh kota yang masih kafir. Berkat semangat doa Monika yang tak kunjung padam, Patrisius baru bertobat dan dipermandikan menjelang saat kematiannya. Kekafiran Patrisius sungguh berpengaruh besar pada diri anaknya Agustinus. Karena itu Agustinus belum juga dipermandikan menjadi Kristen meskipun ia sudah besar. Usaha ibunya untuk menanamkan benih iman Kristen padanya seolah-olah tidak berdaya mematahkan pengaruh ayahnya.
Sejak kecil Agustinus sudah menampilkan kecerdasan yang tinggi. Karena itu ayahnya mencita-citakan agar ia menjadi seorang yang terkenal. Ia masuk sekolah dasar di Tagaste. Karena kecerdasannya, ia kemudian dikirim untuk belajar bahasa Latin dan macam-macam tulisan Latin di Madauros. Pada usia 17 tahun, ia dikirim ke Kartago untuk belajar ilmu retorika. Di Kartago, ia belajar dengan tekun hingga menjadi seorang murid yang terkenal. Namun hidupnya tidak lagi tertib oleh karena pengaruh cara hidup banyak orang yang tidak mengikuti aturan-aturan moral. Ia menganut aliran Manikeisme. Selanjutnya selama beberapa tahun, ia meragukan semua kebenaran agama-agama.
Pada tahun 383 ia pergi ke Roma lalu ke Milano, kota pemerintahan dan kota kediaman Uskup Ambrosius. Di Milano ia mengajar ilmu retorika. Banyak orang Roma berbondong-bondong datang kepadanya hanya untuk mendengarkan kuliah dan pidatonya. Di kota itu pun ia berkenalan dengan Uskup Santo Ambrosius, seorang mantan gubernur yang saleh. Ia menyaksikan dari dekat cara hidup para biarawan yang mengikuti suatu disiplin hidup yang baik dan membahagiakan. Mereka bijaksana, ramah, dan saling mengasihi. Hatinya tersentuh dan mulailah ia berpikir: “Apa yang mendasari hidup mereka? Injilkah yang menjiwai hidup mereka itu?” Kecuali itu, ia sering mendengar kotbah-kotbah Uskup Ambrosius dan tertarik pada semua ajarannya. Semuanya itu kembali menyadarkan dia akan nasihat-nasihat ibunya tatkala ia masih di Tagaste. Suatu hari, ia mendengar suara ajaib seorang anak: “Ambil dan bacalah!”. Tanpa banyak berpikir, ia segera menjamah Kitab Injil itu, membuka dan membacanya: “Marilah kita hidup sopan seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya” (Roma 13:13-14).
Agustinus yang telah banyak mendalami filsafat itu akhirnya terbuka pikirannya dan melihat kebenaran sejati, yakni wahyu ilahi yang dibawa Yesus Kristus. Ia kemudian bertobat dan bersama dengan sahabatnya Alipius, ia dipermandikan pada tahun 387. Dalam bukunya ‘Confession’, ia menuliskan riwayat hidup dan pertobatannya dan dengan terus terang mengakui betapa ia sangat terbelenggu oleh kejahatan dosa dan ajaran Manikeisme. Suara hatinya terus mendorong dia agar memperbaiki cara hidupnya seperti banyak orang lain yang meneladani Santo Antonius dari Mesir.
Pada tahun 388, ia kembali ke Afrika bersama ibunya Monika. Di kota pelabuhan Ostia, ibunya meninggal dunia. Tahun-tahun pertama hidupnya di Afrika, ia bertapa dan banyak berdoa bersama beberapa orang rekannya. Kemudian ia ditahbiskan menjadi imam pada tahun 391, dan bertugas di Hippo sebagai pembantu uskup kota itu. Sepeninggal uskup itu, pada tahun 395 ia dipilih menjadi Uskup Hippo. Selama 35 tahun ia menjadi pusat kehidupan keagamaan di Afrika. Rahmat Tuhan yang besar atas dirinya dimuliakannya dalam berbagai bentuk kidung dan tulisan. Tulisan-tulisannya meliputi 113 buah buku, 218 buah surat, dan 500 buah kotbah. Tak terbilang banyaknya orang berdosa yang bertobat karena membaca tulisan-tulisannya. Tulisan-tulisannya itu hingga kini dianggap oleh para ahli filsafat dan teologi sebagai sumber penting dari pengetahuan rohani. Semua kebenaran iman Kristiani diuraikan secara tepat dan mendalam sehingga mampu menggerakan hati orang.
Sebagai seorang uskup, Agustinus sangat menaruh perhatian besar pada umatnya terutama yang miskin dan melarat. Dialah yang mendirikan asrama dan rumah sakit pertama di Afrika Utara demi kepentingan umat. Agustinus meninggal dunia pada tanggal 28 Agustus 430 tatkala bangsa Vandal mengepung Hippo. Jenazah Agustinus berhasil diamankan oleh umatnya dan kini dimakamkan di basilik Santo Petrus. Dengan kekudusan dan kesucian hidup St. Agustinus, Ordo Salib Suci memilih cara hidup dan spiritualitas St. Agustinus sebagai regula.
Beato Theodorus de Celles
Ia adalah seorang Kanonik Liege yang diangkat sebagai pendiri Ordo Salib Suci di kerajaan Jerman, Prancis, Inggris, Skotlandia, Belgia, dan Belanda. Pada 1209, pada abad ke-13, Theodorus bersama lima orang teman kanonik lainnya berjalan menuju Roma untuk meminta Sri Paus (Paus Innocentius III) meresmikan Ordo Sanctae Crucis. Theodorus disebut sebagai Prior pertama OSC dan meninggal pada 18 Agustus 1236.
Santa Helena
Tokoh utama dalam sejarah OSC adalah Santa Helena, Ibu Kaisar Konstantinus. Menurut kisah legenda “De inventione crucis Dominicae” Helena menemukan salib asli Tuhan, dan menurut Eusebius ia membangun gereja-gereja di Bukit Zaitun di Yerusalem dan satu gereja di Betlehem. Dia wafat sekitar tahun 330. Di Gereja Barat dia termasuk dalam daftar Martirologi pada 18 Agustus (di Gereja Timur dirayakan pada 21 Mei, bersama perayaan anaknya, Konstantinus). Pada zaman Abad Pertengahan perayaannya diselenggarakan di seluruh Eropa. Kemasyhuran perayaannya bertepatan dengan kemasyhuran cerita mengenai penemuan salib Tuhan. Dari banyaknya cerita tentang penemuan salib Tuhan, terungkap bahwa Helena tidak hanya berperan penting dalam penemuan salib, tetapi juga dalam mendirikan OSC. Helena (dan juga kemudian Quiriacus ditambahkan) dipandang sebagai pendiri OSC yang telah lenyap dalam penganiayaan serta ditemukan kembali pada zaman Paus Innosentius III. Sebagai dampaknya dia menjadi pelindung utama bagi OSC pada abad ke-16.
Kisah Helena
(Flavia) Helena berasal dari Drepanum, dekat Izmit, Turki. Ia lahir pada tahun 250 dan meninggal dunia pada tahun 330. Sumber lain mengatakan bahwa Helena lahir di Bitynia, Asia Kecil. Ketika menjadi Kristen, beliau sudah memasuki usia senja. Pada tahun 270, putri pengusaha penginapan ini menikah dengan seorang jenderal Romawi yang kemudian berhasil menduduki takhta Kekaisaran Romawi bagian Barat menggantikan Diokletianus: Flavius Valerius Konstantinus, yang disebut juga Konstantinus Klorus (305-306). Mereka tinggal di Naissus (sekarang Nis, Yugoslavia). Di sanalah pada tahun 274 Helena melahirkan Konstantinus Agung, yang kemudian menjadi Kaisar Romawi yang lebih agung daripada ayahnya.
Setelah ayahnya, Konstantinus Klorus meninggal di Eboracum (York) pada tahun 306 dalam suatu ekspedisi ke Britania, Konstantinus anaknya menjadi Kaisar Romawi Barat. Empat tahun kemudian, terdapat lima kaisar di Kekaisaran Romawi yang saling bersaing. Konstantinus, memerintah di Gaul (Prancis), Britania (Inggris), dan Raetia (Swiss); Maxentius di Spanyol, Italia, dan Afrika Utara; dan bagian timur kekaisaran diperintah oleh Licinius dan Maximinus.
Pada tahun 312, Maxentius menyerang Konstantinus. Dalam kegentingan itu, Konstantinus mengalami suatu penglihatan ajaib; sebuah salib tampak di langit dengan pancaran cahaya yang berkemilau. Pada salib ajaib itu terpampang tulisan berbahasa Yunani “Tuota Nika” yang artinya “dalam tanda ini engkau akan menang!”. Konstantinus yakin bahwa Tuhan menghendaki dia bersama pasukannya bertempur dengan memakai tanda itu. Segera ia memerintahkan seluruh pasukannya berperang di bawah panji salib suci. Konstantinus menang mutlak atas musuhnya Maxentius dan memasuki kota Roma dengan jaya. Konstantinus bersama pasukannya dielu-elukan oleh seluruh umat Kristen, yang beberapa tahun silam dianiaya. Karena kemenangannya ini, Konstantinus memberikan kebebasan kepada agama Kristen, bahkan agama Kristen diakui sebagai agama negara. Semua orang Kristen yang masih mendekam di dalam penjara dibebaskan dan Konstantinus bersama ibunya bertobat. Di bawah bimbingan dan dorongan ibunya yang saleh itu, Konstantinus mendirikan banyak Gereja, mengembalikan semua kekayaan Gereja yang dijarah oleh penguasa Romawi yang kejam.
Sebagai penghormatan kepada ibunya yang saleh, Konstantinus mengangkat ibunya menjadi ratu; Drepanum, kota asal ibunya diubah namanya menjadi Helenapolis. Helena sendiri pada tahun 324 berziarah ke Tanah Suci Yerusalem untuk mengucap syukur kepada Tuhan yang telah mengaruniakan banyak rahmat kepada keluarganya. Dalam ziarah itu pula, Helena bertekad menemukan Salib Suci. Setelah berjerih payah mencari Salib Yesus itu, ditemukanlah tiga buah salib di sebuah sumur dekat bukit Golgota di Yerusalem. Kesulitan yang timbul adalah ‘betulkah ketiga salib itu adalah salib bersejarah itu? Manakah Salib Yesus? Dengan bantuan Uskup Makarios, ketiga salib itu disentuhkan berturut-turut pada seorang wanita yang sakit tak tersembuhkan. Ketika salib ketiga disentuhkan pada wanita itu, ia langsung sembuh. Salib itulah Salib Yesus. Saking gembiranya, Helena memohon kepada putranya Konstantinus agar mendirikan sebuah gereja di atas bukit Golgota untuk menyimpan salib yang tak ternilai itu. Ia memotong sebagian untuk dikirim masing-masing ke Roma dan Konstantinopel. Dua buah gereja lain dibangunnya, masing-masing di Betlehem, tempat kelahiran Yesus dan di bukit Zaitun, tempat Yesus mengalami sakratul maut dan diangkat ke surga. Dengan pengalaman iman Helena akan salib, OSC mengangkat St. Helena sebagai bunda Ordo Salib Suci yang dipestakan pada tanggal 18 Agustus. Helena meninggal dunia pada tahun 330 dan jenazahnya dikuburkan di makam keluarga kaisar.
Referensi
Lih. Nicolaas Martinus Schneiders, Orang Kudus Sepanjang Tahun, (Jakarta: Obor, 1993), 409-410.
Lih. Komisi Liturgi OSC Sang Kristus Indonesia, Perayaan Liturgi Krosier, (Bandung: SangKris, 2017), 61.
Santa Odilia, Perawan dan Martir, Pelindung Utama Ordo Salib Suci
Dokumen awal OSC mengidentifikasi Santa Odilia sebagai salah satu rekan Santa Ursula. Ursula dan rekan-rekannya, yang diduga karena kekristenannya, dibunuh sebagai martir oleh Huns dekat Cologne. Pada tahun 1286, Yohanes dari Eppa OSC menerima penglihatan untuk menggali kuburan relikwi dari ketiga rekan Ursula yaitu: Christina, Basilia, dan Yma. Dia pergi ke Cologne, menemukan relikwi dan membawa relikwi mereka ke beberapa Gereja. Tahun berikutnya, dia menerima penglihatan tentang Yda dan Odilia, yang juga merupakan rekan Ursula.
Menurut beberapa sumber terpercaya, Odilia memperkenalkan diri sebagai anak kaisar Maromeus dan rekan Ursula, dan dalam penampakan itu Odilia bersikeras supaya Yohanes pergi ke Cologne dan menggali sisa-sisa tubuhnya serta sisa-sisa tubuh saudaranya, Yda. Ketika diceritakan tentang penampakan tersebut, Yohanes pada awalnya menolak untuk pergi. Kemudian, pada tahun 1287, Bruder Yohanes, pergi ke Cologne. Pada 1 September, Bruder Yohanes dan Pastor yang menemani, menemukan kuburan mereka di kebun buah di bawah pohon pir dan mengangkat relikwi tersebut. OSC, secara tradisi, tetap merayakan pada hari ketika relikwi Odilia dibawa ke biara induk di Huy. Dalam proses membawa relikwi banyak keajaiban dilaporkan pada saat umat bersentuhan dengan relikwi. Relikwi Odilia diterima di Huy dengan sambutan sukacita yang luar biasa. Relikwi Odilia disimpan dalam tempat yang sangat indah untuk penghormatan bagi sisa-sisa tubuhnya itu. Karena banyaknya mujizat, oleh para saudara Salib Suci dibuatlah sebuah devosi khusus kepada St. Odilia, terutama devosi melawan penyakit mata. Devosi ini terus berlangsung sampai akhir abad ke-18. OSC merayakan St. Odilia sebagai perawan dan martir serta pelindung utama Ordo pada tanggal 18 Juli sebagai Hari Raya wajib.
Kisah Odilia
Odilia lahir di Obernheim, sebuah desa di pegunungan Vosge, Prancis pada tahun 660. Ayahnya, Adalric, seorang tuan tanah di daerah Alsace; ibunya bernama Bereswindis. Odilia lahir dalam keadaan buta sehingga menjadi bahan ejekan tetangga yang sangat memalukan keluarganya. Ayahnya sedih sekali menghadapi kenyataan pahit ini. Ia merasa bahwa kebutaan itu sangat merendahkan martabat keluarganya yang bangsawan itu. Sia-sia saja usaha istrinya untuk meyakinkan dia bahwa kebutaan itu mungkin merupakan suatu kehendak Tuhan, yang mempunyai suatu maksud tersembunyi bagi kemuliaan-Nya. Siapa tahu anak ini di kemudian hari dapat menjadi berkat bagi orang lain. Adalric benar-benar bingung dan tidak sudi menerima kehadiran anak buta ini sebagai buah hatinya sendiri. Dia bahkan menghendaki agar bayinya dibunuh saja.
Tak ada jalan lain bagi Ibu Bereswindis kecuali melarikan putrinya yang malang itu ke suatu tempat yang aman demi keselamatannya. Ia berprinsip: biarlah putrinya diserahkan kepada orang lain untuk dijadikan sebagai anak angkat. Orang lain itu ialah seorang ibu petani yang dahulu pernah menjadi pembantu di rumahnya. Ketika peristiwa pelarian ini diketahui banyak orang, Ibu Bereswindis menyuruh ibu pengasuh itu melarikan bayinya ke Baume-les-Dames, dekat Besancon. Di sana ada sebuah biara suster. Untunglah bahwa suster-suster di biara itu rela menerima dan bersedia mengasuh Odilia. Sampai umur 12 tahun, anak itu belum juga dibaptis. Pada suatu hari Tuhan menggerakan Santo Erhart, Uskup Regensburg, pergi ke biara Baume-les-Dames, tempat putri malang itu berada. Di sana ia mempermandikan putri buta itu dengan nama Odilia. Uskup Erhart pun menyentuh mata putri buta itu, dan seketika itu juga matanya terbuka, dan ia dapat melihat. Mujizat ini segera diberitahukan kepada keluarga Odilia. Uskup Erhart pun memberitahukan kesembuhan mata Odilia di biara suster-suster Baume-les-Dames kepada ayahnya. Tetapi sang ayah tetap menolak menerima dan mengakui Odilia sebagai anaknya. Hugh, kakak Odilia yang kagum akan mujizat penyembuhan adiknya berusaha mempertemukan Odilia dengan ayahnya di sebuah bukit, disaksikan oleh kerumunan rakyat. Melihat kenekatan Hugh, sang ayah menjadi berang dan menyerang Hugh. Tetapi kemudian ia menyesali perbuatannya dan dengan terharu menerima Odilia sebagai anaknya.
Odilia meneruskan karyanya di Obernheim bersama teman-temannya. Dia mengabdikan dirinya dalam karya-karya amal membantu orang-orang miskin dengan semangat pengabdian dan cinta kasih yang tinggi. Tak lama kemudian ayahnya bermaksud menikahkan dia dengan seorang pangeran. Hal ini ditolaknya dengan tegas, dan Odilia kemudian melarikan diri ke tempat yang jauh dari ayahnya. Meskipun ia tetap dikejar-kejar dan dipaksa ayahnya, namun ia tetap pada pendiriannya. Akhirnya ayahnya mengalah dan membujuknya pulang dan berjanji mendirikan sebuah rumah yang bisa dijadikan sebagai biara di Hohenburg. Di situ ia menjadi kepala biara. Ia juga mendirikan biara lain di Niedermunster. Odilia meninggal dunia pada 13 Desember 720.
Referensi
Lih. Komisi Liturgi OSC Sang Kristus Indonesia, Perayaan Liturgi Krosier, (Bandung: SangKris, 2017), 43.
Lih. Nicolaas Martinus Schneiders, Orang Kudus Sepanjang Tahun, (Jakarta: Obor, 1993), 628-628.