Dokumen · VII

Riston Situmorang, OSC: Ad Fontes Liturgici

Karya Ilmiah · 2018

Riston Situmorang – Ad Fontes Liturgici – Nola Edisi 05, September – Oktober 2016 | 1 AD FONTES LITURGICI Riston Situmorang, O.S.C. Liturgi, terutama Ekaristi, adalah puncak dan sumber kehidupan Gereja (bdk. SC 10).

Dokumen · VII

Isi dokumen

Riston Situmorang – Ad Fontes Liturgici – Nola Edisi 05, September – Oktober 2016 | 1 AD FONTES LITURGICI Riston Situmorang, O.S.C.

Liturgi, terutama Ekaristi, adalah puncak dan sumber kehidupan Gereja (bdk. SC 10). Oleh karena itu, liturgi hendaknya dikenal, dirayakan, dan dihidupi.

Liturgi itu “dikenal”, berarti kita, para Krosier, perlu menyadari pentingnya pengetahuan akan berliturgi. Dimensi “dikenal” menyaratkan pemahaman yang mendalam akan liturgi. Umat sudah “telanjur” paham bahwa para Krosier identik dengan liturgi. Para frater tahun orientasi pastoral, “secara otomatis” akan diminta mengajar liturgi bagi yang berkarya di seminari menengah. Para konfrater yang berkarya di berbagai keuskupan, “dianggap” lebih fasih berliturgi dibanding dari kelompok lain. Kita adalah “para peraya/penyandang” liturgi. Benarkah demikian? Apakah kita sungguh mempunyai pengetahuan yang mendalam mengenai liturgi?

Selain itu, liturgi juga “dirayakan”, berarti kita, para Krosier, pantaslah merayakan liturgi dengan tata cara yang tepat dan yang dianjurkan oleh Gereja. Ada istilah lex orandi, lex credendi, yang artinya, tata cara atau aturan yang didoakan hendaknya selaras dengan tata cara atau aturan yang diimani. Lantas, apakah kita sudah merayakan liturgi dengan baik dan benar sesuai dengan iman Gereja?

Liturgi juga harus “dihidupi”, berarti kita, para Krosier, memperolah aliran rahmat Allah dalam berliturgi. Liturgi yang telah dirayakan membuat kita, sebagai Krosier, berbuah: memperoleh pengudusan manusia (sanctificatio) dan pemuliaan Allah (glorificatio). Oleh karena itu, agar liturgi itu dikenal, dirayakan, dan dihidupi, perlulah menyadari peranan sumber-sumber liturgi yang berlaku. Kita perlu kembali ke sumber asli: ad fontes liturgici (menuju sumber-sumber liturgi). Liturgi itu bukan sekadar persoalan rubrik belaka. Liturgi bukan hanya urusan boleh atau tidak. Liturgi tidak hanya urutan ritus per ritus dengan ketentuan ketat, rigid, dan tak bisa diubah. Liturgi itu bukan sekadar persoalan: “Pokoknya begini, habis perkara, dan jangan diganggu gugat!” Ingatlah bahwa liturgi itu selalu diperbarui: liturgia semper reformanda est. Tapi apanya yang diperbarui? Jangan-jangan, tanpa memahami makna ritus tertentu, kita ubah sesuai selera. Tanpa mengetahui penjelasan ritus di baliknya, kita hilangkan begitu saja. Tanpa menyadari maksud dan tujuannya, kita tambahkan ritus yang tidak pernah ada.

Kita perlu ad fontes liturgici (menuju sumber-sumber liturgi), agar mengetahui makna dan tujuan simbol serta ritus yang berlaku. Kita perlu ad fontes agar mempunyai arah dalam berliturgi. Kita perlu ad fontes agar semakin menghayati liturgi sebagaimana juga oleh para Bapa Gereja. Kita perlu ad fontes agar tidak semakin jauh dari Gereja Katolik

Riston Situmorang – Ad Fontes Liturgici – Nola Edisi 05, September – Oktober 2016 | 2 Roma. Kita perlu ad fontes agar mampu secara kreatif menerjemahkan “yang lama” dalam konteks kekinian. Kita perlu ad fontes agar kita tidak menambahkan hal yang tiada dan menghilangkan yang harusnya ada. Kita perlu ad fontes agar semakin lama berani dan terbuka untuk membiasakan yang benar dan bukan membenarkan yang biasa. Mari para Krosier, kita ad fontes-agar kita tidak tersesat. Sekurang-kurangnya, ada lima cara agar kita ad fontes atau menuju sumber-sumber dalam berliturgi:

 Ad fontes: buku-buku liturgis Cara pertama adalah membandingkan teks-teks liturgis yang kita pakai sekarang dengan buku-buku liturgis berdasarkan pemakaiannya, seperti: leksionarium (untuk lektor), antifonale (untuk cantor atau solis), Missale Romanum (untuk pemimpin misa atau Selebran), Rituale Romanum (untuk para imam), Pontificale Romanum (untuk para uskup), dan kalendarium (sebagai bahan rujukan).

Beberapa buku liturgis yang secara spesifik masih dipergunakan hingga kini adalah: Graduale simplex: tahun 1975, De Ordinatione Diaconi, Presbyteri et Episcopi: 1968, De Ordinatione Episcopi, Presbyterorum et Diaconorum: 1979, Ordo Celebrandi Matrimonium: 1990, Calendarium romanum: 1969, Ordo Baptismi Parvulorum: 1973, Ordo Exsequiarum: 1969, Ordo Lectionum Missae: 1981, Ordo Professionis Religiosae: 1975, Missale romanum: 2008, Ordo Consecrationis Virginum: 1970, Istituzione dei ministeri, consacrazione delle vergini, benedizione abbaziale: 1980, Ordo Benedictionis Abbatis et Abbatissae: 1971, De Institutione Lectorum et Acolytorum: 1972, Directorium de Missis cum pueris: 1973, Ordo Paenitentiae: 1974, Ordo coronandi imaginem Beatae Mariae Virginia: 1981, De Benedictionibus: 1984, Caeremoniale Episcoporum: 1984, Collectio Missarum de Beata Maria Virgine: 1986, De Exorcismis et supplicationibus quibusdam: 1999, dan lain-lain. Singkatnya, setiap kegiatan liturgis yang kita lakukan sekarang ini, selalu ada sumber-sumber asli sebagai rujukan dan pembanding sehingga apa yang kita rayakan saat ini sungguh-sungguh kita imani sebagaimana iman yang juga dihidupi oleh Gereja perdana. Beberapa dokumen yang tak mungkin dilupakan adalah: Sacrosanctum Concilium, Mediator Dei, Inter Oecumeni, Tres Abhinc Annos, Liturgicae Instaurationes, De Liturgia Romana et Inculturatione, Liturgiam Authenticam, Redemptionis Sacramentum, dan lain-lain.  Ad fontes: sejarah liturgi Cara yang kedua adalah mendalami sejarah liturgi secara khusus dan sejarah Gereja secara umum. Bagaimanapun, pembabakan sejarah liturgi itu penting untuk mengetahui gejolak dan berbagai alasan perubahan tindakan liturgis yang terjadi. Gagasan munculnya ritus tertentu terjadi karena kebutuhan yang mendesak pada saat itu dan sekarang dimaknai secara baru berdasarkan konsep dan konteks liturgis. Misalnya, Perarakan Masuk baru

Riston Situmorang – Ad Fontes Liturgici – Nola Edisi 05, September – Oktober 2016 | 3 muncul pada abad keempat pada masa Kaisar Konstantinus sekitar tahun 313 M, ketika kekristenan tidak lagi menjadi hal yang dilarang. Kebutuhan akan Perarakan Masuk muncul karena sakristi dibangun di bagian depan gereja sehingga para pelayan liturgi berarak dari depan gereja menuju altar.

Prosesi di awal ini rupanya sekarang menjadi simbol solemnitas dalam suatu Perayaan Ekaristi. Perarakan Masuk menjadi ritus yang menampilkan kemegahan dan kemeriahan suatu perayaan untuk menampilkan Kristus yang hadir dalam persona Imam selebran yang berarak bersama para pelayan liturgi. Perarakan Masuk saat ini menjadi awal dimulainya Perayaan Ekaristi, baik perarakan meriah, biasa, maupun sederhana.  Ad fontes: tindakan liturgis Cara berikutnya adalah memahami ritual atau tindakan liturgis yang dilakukan. Mengapa umat harus berdiri, berlutut, dan seterusnya, semua ada maknanya. Mengapa dalam misa tahbisan presbiter/imam, ada saat hening? Mengapa harus ada ritus Salam Damai antara para imam dengan imam baru sebagai tanda kesatuan presbiteral? Semua ada makna dan maksudnya. Kalau kita mengetahui makna dari simbol ini dengan baik, mungkin kita akan berpikir dua kali untuk menghilangkan ritus ini sebagaimana sering terjadi dalam beberapa tahbisan di negeri kita ini.

Dalam Misa Krisma atau Misa Minyak, dua inti dari perayaan: pembaruan janji imamat dan liturgi pemberkatan minyak. Maka, penghormatan akan ketiga minyak pun mendapat tempat yang lebih selain janji imamat. Kedua ritus inilah yang menjadi kekhasan Misa Krisma. Oleh karena itu, ada pemberkatan tiga minyak oleh uskup, secara berurutan: Minyak Pengurapan Orang sakit (Oleum Infirmorum/OI), Minyak Katekumen (Oleum Catechumenorum/OC), dan Minyak Krisma (Oleum ad Sanctum Chrisma/SC). Diawali dengan perarakan tiga minyak yang diiringi lagu “O Redemptor, sume carmen”. Sesampainya di depan altar, para diakon (atau imam yang bertugas) memberikan tiga minyak itu kepada uskup sambil menyebutkan nama masing-masing. Selanjutnya, ketiga minyak itu ditempatkan pada meja yang pantas dan dapat dilihat umat. Keagungan martabat minyak-minyak suci itu ditampilkan kembali pada bagian akhir Misa. Lagu “O Redemptor” juga dinyanyikan kembali. Ketiga bejana minyak suci itu dibawa dalam pera-rakan keluar diikuti iringan para imam dan uskup. Dupa juga digunakan lagi. Asap yang membumbung dan aroma wanginya menandakan kehadiran ilahi. Kalau kita memahami makna yang mendalam dari tindakan liturgis ini, bukankah kita semakin sadar dan tidak semaunya menghilangkan ritus ini?

Riston Situmorang – Ad Fontes Liturgici – Nola Edisi 05, September – Oktober 2016 | 4  Ad fontes: teks liturgis Cara selanjutnya adalah memahami teks liturgis dengan tepat. Dengan membaca dan mendalami teks liturgis dengan sepenuh hati, kita secara tidak sadar “tersergap” ke dalam kekayaan imani yang sudah terjadi beribu tahun yang lalu. Ada nuansa “sakral” yang bisa kita rasakan. Setiap teks liturgis yang kita doakan sesungguhnya bersumber dari teks biblis, patrologis, teologis, magisterium Gereja yang sudah dan terus dirawat dalam perayaan liturgis. Maka, menerjemahakan teks liturgis haruslah tepat agar maksud awal dari apa yang dimaksud tidak hilang. Ada permainan kata untuk sebutan penerjemah dalam bahasa Italia: traduttore non traditore (menerjemahkan bukan menghianati). Harapannya, kita tidak menghianati teks asli pada saat menerjemahkannya. Itu sebabnya, prinsip terjemahan jangan pernah diabaikan agar teks yang kita doakan dan iman yang berisi di dalamnya tepat dan sesuai dengan apa yang dimaksud oleh Gereja.

Salah satu contoh adalah Missale Romanum (MR) yang saat ini sedang dituntaskan penerjemahannya. MR edisi Latin hanya dalam bentuk satu buku yang digunakan oleh Imam selebaran dalam Misa. Ada 4 bagian dalam MR yaitu Instituto Generalis Missale Romanum, Calendarium, Ordo Missae, dan Sacramentarium. Dalam bahasa Indonesia, buku Misale Romawi itu terpisah-pisah, yakni Tata Perayaan Ekaristi, Pedoman Umum Misale Romawi, Kalender Liturgi, dan Mencari Pesan Harian. MR edisi Latin terakhir adalah MR 2008 yang melengkapi MR 1970 (editio typica prima), MR 1975 (editio typica secunda), MR 2002 (editio typica tertia). MR 2008 disebut sebagai edisi reimpressio emendata yaitu edisi yang mengubah bagian-bagian tertentu dari MR 2002 dan bagian-bagian penting ditekankan kembali. Sedangkan itu, Indonesia memiliki TPE 1979 (sebagai terjemahan Ordo Missae dari MR 1970) dan TPE 2005 (sebagai terjemahan Ordo Missae dari MR 2002).

Terjemahan awal Tata Perayaan Ekaristi berdasarkan dokumen Comme le prevoit (1969). Salah satu tuntutan untuk membuat terjemahan buku-buku liturgi adalah menggunakan terjemahan dengan padanan dinamis atau terjemahan idiomatis, jadi bukan terjemahan harafiah atau kata per kata. Akan tetapi, perkembangan berikutnya, pedoman terjemahan mengikuti dokumen yang selanjutnya, yakni menurut instruksi Liturgiam Authenticam (LA). LA menganjurkan agar kita membuat hanya terjemahan teks asli tanpa memasukkan semua unsur tambahan. Prinsip utama adalah menerjemahkan secara harafiah. Kalau terjemahan harafiah sulit dimengerti, bolehlah “membahasakan” kembali dengan mempertahankan makna asli dari teks yang asli.

 Ad fontes: para ahli liturgi Cara yang terakhir adalah mendalami dan mempertimbangkan pendapat dan penjelasan para ahli liturgi yang pernah ada. Bagaimanapun, studi dan hidup mereka atas liturgi dalam banyak hal memberi pencerahan akan makna simbol dan ritus tertentu. Ada

Riston Situmorang – Ad Fontes Liturgici – Nola Edisi 05, September – Oktober 2016 | 5 banyak ahli yang hidup sesuai zaman dan aliran masing-masing: Lambert Beauduin, Emanuele Caronti, Romano Guardini, Maurice Festugière, Odo Casel, Cipriano Vagaggini, Sarvatore Marsili, Ludovico Muratori, Prosper Gueranger, dan lain-lain. *** © Krosier Indonesia 2016