Dokumen · VII

Riston Situmorang, OSC: Bacaan Injil

Karya Ilmiah · 2018

Riston Situmorang – Bacaan Injil – Nola Edisi 03, Mei – Juni 2017 | 1 BACAAN INJIL Riston Situmorang, O.S.C. “Bacaan Injil” adalah puncak atau bagian yang paling penng dalam Liturgi Sabda.

Dokumen · VII

Isi dokumen

Riston Situmorang – Bacaan Injil – Nola Edisi 03, Mei – Juni 2017 | 1 BACAAN INJIL Riston Situmorang, O.S.C.

“Bacaan Injil” adalah puncak atau bagian yang paling penng dalam Liturgi Sabda. Pada saat ritus “Bacaan Injil”, Sabda Allah dibacakan di ambo oleh diakon kepada umat beriman. Kalau dak ada diakon, konselebran dapat membacakannya; atau kalau diakon dan konselebran dak ada, maka selebran utama yang membacakan Injil. Melalui Sabda Allah yang diwartakan, Kristus sendiri hadir di tengah‐tengah umat beriman (bdk. Sacrosanctum Concilium no. 33; juga bdk. PUMR no. 55). Keismewaan ritus “Bacaan Injil” ini terlihat jelas dari beberapa rangkaian “seremoni” atau beberapa elemen yang mendukungnya:

Buku Liturgisnya Elemen pertama adalah buku liturgis yang secara khusus dipakai dalam pembacaan Injil yakni Evangeliarium. Evangeliarium mendapat tempat utama dan menjadi simbol Kristus pada saat pewartaan Sabda. Maka, dak tepatlah menggan peran Evangeliarium dengan buku Kitab Suci biasa atau “selembaran” misa yang sering dipakai di beberapa paroki. Berkat untuk Pembaca Injil Elemen kedua adalah berkat sebelum membaca Injil. Diakon yang akan memaklumkan Injil, menghadap selebran utama, sambil membungkuk hikmat memohon berkat. Diakon mengatakan: “Bapa, mohon berkat” dan selebran utama memberkanya dengan mengatakan: “Semoga Tuhan menyucikan ha dan budi saudara supaya dapat mewartakan Injil‐Nya dengan baik: dalam nama Bapa Putra dan Roh Kudus”. Diakon membuat tanda salib sambil berkata: “Amin”.

Akan tetapi, kalau dak ada diakon, selebran utama setelah mengisi pedupaan dan memberkanya, membungkuk hikmat ke arah altar (bukan ke arah Salib atau tabernakel) sambil berdoa dalam ha: “Sucikanlah ha dan budiku, ya Allah yang mahakuasa, supaya aku dapat mewartakan InjilMu dengan baik”. Doa sekreta ini sering disebut dengan “rumusan purifikasi” yang berasal dari teks abad pertengahan sekitar abad ke‐13. Bila diadakan misa konselebrasi, Imam selebran utama tetap yang mengisi pedupaan dan memberkanya, sedangkan imam konselebran membungkuk hikmat ke arah altar, mendoakan rumusan purifikasi, lalu membacakan Injil tanpa harus membungkuk ke arah Imam selebran utama dan tanpa meminta berkat terlebih dahulu.

Riston Situmorang – Bacaan Injil – Nola Edisi 03, Mei – Juni 2017 | 2 Prosesi dan Pendupaan Martabat Sabda Allah melalui bacaan‐bacaan, mazmur tanggapan, bait pengantar Injil, homili, doa permohonan dan secara khusus Bacaan Injil menampilkan Kristus yang sedang mengajar.Elemen kega adalah Prosesi dan Pendupaan. Diakon berarak menuju ambo tempat pembacaan Injil. Ambo adalah tempat yang utama pada saat Liturgi Sabda. Sabda Allah dibacakan di ambo dan bukan di tempat lain. Martabat Sabda Allah melalui bacaan‐bacaan, mazmur tanggapan, bait pengantar Injil, homili, doa permohonan dan secara khusus Bacaan Injil menampilkan Kristus yang sedang mengajar. Dalam konteks ini, munus docendi yakni tugas mengajar Kristus terekspresikan dari ambo.

Prosesi atau perarakan disertai oleh misdinar pembawa pedupaan dan lilin bernyala. Setelah pembacaan Injil selesai, kalau Perayaan Ekaris dipimpin oleh Uskup, diakon atau imam pembaca Injil mencium Evangeliariun atau membawa Evangeliarium kepada uskup untuk dicium. Dalam perayaan meriah, setelah membuat tanda salib pada dahi, mulut, dan dadanya sendiri, diakon atau imam mendupai Evangeliarium sebanyak ga kali dua. Salam di Awal Bacaan Elemen berikutnya adalah salam di awal bacaan. Pembacaan Injil diawali dengan seruan: “Tuhan bersamamu” dan dijawab dengan: “dan bersama rohmu”. Menurut Caeremoniale Episcoporum no 141, pada saat Diakon mengatakan Dominus vobiscum, tangannya terkatup. Tata gerak terkatup ini menyimbolkan model yang khas seorang diakon “yang sedang mendengarkan dengan saleh”. Tekanannya bukan pada tata gerak tangan dan salamnya melainkan pada Injil Kristus yang sedang berbicara melalui diakon atau imam yang membacakannya.

Aklamasi atau Seruan Elemen selanjutnya adalah aklamasi. Bacaan Injil diawali dengan membacakan atau menyanyikan: Leco sanc Evangelii secundum N., (Inilah Injil Yesus Kristus menurut..) dan menyebutkan nama Injil yang sesuai dengan hari yang bersangkutan dalam tahun liturgi dan dijawab umat dengan kata‐kata: Gloria bi, Domine (TPE 2005: Dimuliakanlah Tuhan). Selain itu, ada gradasi aklamasi atau seruan yang diucapkan oleh umat yaitu semakin memuncak pada bacaan Injil yang sudah dimulai dari bacaan I dan bacaan II. Pada saat lektor pembaca bacaaan I dan bacaan II mengatakan “Verbum Domini” (TPE 2005: Demikianlah Sabda Tuhan), aklamasi dari umat sebagai jawaban adalah “Deo Graas” (Syukur kepada Allah). Akan tetapi pada saat diakon atau imam pembaca Injil mengatakan “Verbum Domini” (TPE 2005: Demikianlah Injil Tuhan), jawaban aklamasi dari umat adalah “Laus Tibi, Christe” (TPE 2005:

Riston Situmorang – Bacaan Injil – Nola Edisi 03, Mei – Juni 2017 | 3 Terpujilah Kristus). Di samping gradasi kata‐kata dalam aklamasi atau seruan, terdapat pula gradasi yang semakin meningkat dalam hal melodi yang dibawakan.

Tanda Salib dan Ciuman Setelah umat menjawab et cum spiritu tuo, sambil mengatakan Inilah Injil Yesus Kristus menurut…, diakon atau imam membuat tanda salib dengan ibu jari pada Evangeliarium. Kemudian diakon atau imam membuat tanda salib dengan ibu jari pada dahi, mulut, dan dadanya sendiri. Setelah Injil selesai dibacakan, diakon atau imam mengecup Evangeliarium sambil berkata: “Semoga karena pewartaan Injil ini, dileburlah dosa‐dosa kami”. Sikap Tubuh Pada saat Bacaan I dan Bacaan II, umat duduk mendengarkan Sabda Allah, sedangkan pada saat pembacaan Injil, umat mendengarkannya dengan berdiri. Berdiri di sini sebagai tanda hormat dan kemuliaan.

Sumber:

C. H. Suryanugraha, Lakukanlah Ini: Sekitar Misa Kita, Bandung: SangKris, 2005. Komisi Liturgi KWI., Pedoman Umum Misale Romawi, Ende: Nusa Indah, 2013. Vincenzo Raffa, Liturgia Eucarisca: Mistagogia della Messa dalla storia e dalla teologia alla pastorale praca, 1998.

Tulisan ini pernah dimuat di Komunikasi edisi Februari 2017 *** © Krosier Indonesia 2017