Dokumen · VII

Riston Situmorang, OSC: Kritik Teks Liturgis Oratio Fidelium Seu Universalis 1

Karya Ilmiah · 2018

Riston Situmorang – Kritik Teks Liturgis: Oratio Fidelium Seu Universalis – Nola Edisi 02, Maret – April 2016 | 1 KRITIK TEKS LITURGIS: ORATIO FIDELIUM SEU UNIVERSALIS Riston Situmorang OSC Ada kesan bahwa “orang Katolik” susah untuk memimpin doa.

Dokumen · VII

Isi dokumen

Riston Situmorang – Kritik Teks Liturgis: Oratio Fidelium Seu Universalis – Nola Edisi 02, Maret – April 2016 | 1 KRITIK TEKS LITURGIS:

ORATIO FIDELIUM SEU UNIVERSALIS Riston Situmorang OSC Ada kesan bahwa “orang Katolik” susah untuk memimpin doa. Dalam doa umat spontan, biasanya tak sedikit orang yang menolak dengan berbagai alasan. Akan tetapi, di sisi lain, ada umat yang bisa berdoa panjang, tanpa teks, keluar dari dalam hati dan penuh penghayatan. Orang-orang demikian kalau diberi kesempatan, akan berdoa dengan sungguh-sungguh dan bisa sangat lama. Isi doanya biasanya mengungkapkan rasa syukur termasuk permohonan baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Strukturnya bebas sejauh menyentuh dengan rangkaian kata yang bagus dan memikat. Untuk berdoa dalam berbagai kesempatan seperti kegiatan lingkungan, pesta ulang tahun, pesta kelahiran, perpisahan dan lain-lain, kita memang membutuhkan orang-orang yang berani agar tidak terjadi lagi saling “tunjuk-menunjuk” untuk memimpin doa. Akan tetapi, untuk membawakan doa umat secara liturgis, kita membutuhkan umat yang mau berdoa serta memahami makna dan struktur doa seperti yang ada dan tertulis dalam Misa atau kegiatan liturgi lainnya. Doa umat dalam Misa mempunyai struktur dan formulasi yang khas yang tidak bisa disamakan dengan doa di berbagai tempat dan dalam kesempatan lain.

Doa umat beriman adalah permohonan kepada Allah sebagai ritus yang menutup rangkaian ritus dalam Liturgi Sabda. Sacrosanctum Concilium no 53 mengatakan: “Hendaknya sesudah Injil dan homili, terutama pada hari Minggu dan hari raya wajib diadakan lagi “Doa Umat” atau “Doa kaum beriman”, supaya bersama dengan Umat dipanjatkanlah doa-doa permohonan bagi Gereja kudus, bagi para pejabat pemerintah, bagi mereka yang sedang tertekan oleh pelbagai kebutuhan, dan bagi semua orang serta keselamatan seluruh dunia”. Dengan demikian, urutan doa umat adalah:

 Untuk keperluan Gereja universal seperti untuk Paus, para Uskup dan Gembala Gereja, misionaris, kesatuan orang-orang Kristiani, panggilan imam dan religus dan lain-lain.  Untuk bangsa dan negara seperti perdamaian, bagi para penguasa negara, pejabat pemerintahan, pemilihan umum, kenyamanan publik, kesejahteraan serta keselamatan dunia dan sebagainya.

 Untuk orang-orang yang menderita karena berbagai kesulitan seperti penindasan, kelaparan, ditawan dan seterusnya.

 Untuk umat beriman setempat atau yang hadir dalam Misa yang bersangkutan. 36

Riston Situmorang – Kritik Teks Liturgis: Oratio Fidelium Seu Universalis – Nola Edisi 02, Maret – April 2016 | 2 Dalam tradisi para rasul, doa umat beriman atau oratio fidelium bukanlah doa yang dikhususkan untuk perayaan liturgis melainkan doa umat Kristiani secara umum sebagaimana dikatakan St. Paulus kepada Timotius: “Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Tim 2: 1-4).

St. Yustinus Martir menghubungkan doa umat beriman dengan peristiwa baptis yang biasanya dirayakan pada hari Minggu. Doa umat beriman disebut juga oratio communi atau doa bersama dalam dua bentuk. Bentuk pertama karena setelah pembaptisan, dipanjatkan doa permohonan secara bersama dan bentuk kedua permohonan-permohonan yang bersifat umum dilambungkan setelah bacaan dan homili. St. Agustinus menyebut ungkapan yang bervariasi untuk menyebut doa umat beriman seperti orationes Ecclesiæ atau Doa-doa Gereja dan orationes quotidianæ atau Doa-doa harian. Disebut demikian karena doa-doa tersebut adalah doa-doa yang dimiliki dan akan terus dimiliki oleh Gereja dari awal sampai akhir dunia. Doa umat beriman juga disebut dengan oratio universalis karena doa ini bukanlah doa untuk pribadi melainkan doa untuk semua orang dan bersifat universal. Isi doanya selaras dengan kebutuhan Gereja dan didoakan secara universal.

Ada tiga (3) forma Doa Umat berdasarkan strukturnya:

 Forma plena atau bentuk penuh atau lengkap yang didahului dengan formulasi: oremus pro...ut... (marilah kita berdoa untuk...supaya/semoga...).

 Forma brevis atau bentuk singkat yang didahului dengan formulasi: oremus ut... (marilah kita berdoa agar/sehingga...).

 Forma brevior atau bentuk yang lebih singkat yang didahului dengan formulasi: oremus pro… (marilah kita berdoa bagi…).

Litani orang Kudus yang masuk dalam Liturgi Roma Katolik di akhir abad ke-5 sejatinya mempunyai struktur yang kurang lebih sama dengan doa umat. Itu sebabnya dalam beberapa perayaan besar seperti Sakramen Baptis atau Sakramen Tahbisan, doa umat beriman dibawakan dalam bentuk Litani kepada orang Kudus.

Pertanyaannya adalah bukankah dalam Doa Ekaristi (yang sudah biasa dianggap sebagai Doa Syukur Agung/ DSA), kita juga berdoa untuk Paus, Uskup, orang yang hidup dan yang telah meninggal? Bukankah ini suatu bentuk pengulangan yang tidak perlu: dalam doa umat dan dalam DSA? Dalam DSA, kita sebenarnya berdoa bukan untuk Paus, Uskup dan lain-lain. Kita 38

Riston Situmorang – Kritik Teks Liturgis: Oratio Fidelium Seu Universalis – Nola Edisi 02, Maret – April 2016 | 3 berdoa dalam kesatuan dengan seluruh Gereja, dan seluruh Gereja adalah Gereja yang berziarah yakni Gereja Surgawi dan Gereja yang sedang berjuang bersama jiwa-jiwa di api penyucian. Jadi, kita berdoa dalam persatuan dengan Paus dan bukan untuk Paus, bersama dengan Uskup dan bukan untuk Uskup dan seterusnya. Kita berdoa dalam persatuan bersama santo-santa di surga, bersama Santa Perawan Maria, bersama Santo Yosep, bersama para rasul, bersama para martir, bersama jiwa-jiwa suci dalam purgatori. Sedangkan dalam Doa Umat, Gereja berdoa untuk dunia termasuk untuk Paus, para Uskup dan seterusnya. Doa umat beriman dibawakan oleh umat kaum beriman yakni lektor, akolit atau siapa saja yang bertugas. Waktu mendoakan doa umat secara spontan, umat mendoakan “untuk kami”. Doa tersebut bukanlah doa yang dimaksud. Doa umat adalah doa yang dimohonkan untuk orang lain. Sebab doa untuk diri sendiri adalah doa yang egois sedangkan doa Gereja adalah doa untuk orang lain. Bila imam memulai dengan “Marilah kita panjatkan doa-doa kita kepada Allah yang Mahakuasa” dan seseorang berkata: “Saya ingin berdoa kepada Bunda Maria” atau kepada Yesus Kristus itu bukan maksudnya. Jelas-jelas kita berdoa untuk Allah Bapa, jadi ternyata kita tidak memperhatikan kata-kata yang diucapkan oleh imam pada bagian awal.

PUMR 71 mengatakan bahwa Imam selebranlah yang memimpin doa umat dari tempat duduknya. Secara singkat ia sendiri membukanya dengan mengajak umat berdoa, dan menutupnya dengan doa. Ujud-ujud yang dimaklumkan hendaknya dipertimbangkan dengan matang, digubah secara bebas tetapi sungguh cermat, singkat, dan mengungkapkan doa seluruh jemaat. Menurut ketentuan ujud-ujud doa umat dibawakan dari mimbar atau tempat lain yang serasi, entah oleh diakon, solis, lektor entah oleh seorang beriman lainnya. Petugas pembaca doa umat tidak menyapa langsung dengan kata “Ya Bapa” karena Imam selebranlah yang mengawali dan menyapa Bapa. Selain itu doa juga harus cermat berarti umat harus memahami kepada siapa harus berdoa dan tidak ada gunanya berdoa dalam bentuk katakese atau kesaksian iman yang panjang-panjang. Doa spontan yang paling bagus adalah doa anak-anak kecil yang berdoa supaya orang tuanya tidak “berantem” lagi. Formulasi yang demikian justru sebuah kebebasan berdoa yang bijaksana dan dengan bahasa sederhana tetapi mengekspresikan intensi untuk orang lain: oratio fidelium tetapi sekaligus universal. *** © Krosier Indonesia 2016 39