Dokumen · VII

Riston Situmorang, OSC: Kritik Teks Liturgis Per Christum Dominum Nostrum

Karya Ilmiah · 2018

Riston S. - Kritik Teks Liturgis;Per Christum Dominum Nostrum – Nola Edisi 01, Jan.

Dokumen · VII

Isi dokumen

Riston S. - Kritik Teks Liturgis;Per Christum Dominum Nostrum – Nola Edisi 01, Jan. – Feb. 2016 | 1 KRITIK TEKS LITURGIS: PER CHRISTUM DOMINUM NOSTRUM Riston Situmorang, O.S.C.

Dalam setiap akhir doa, baik dalam doa liturgis maupun doa devosional serta doa personal, secara spontan -bahkan lebih sering karena latah- kita mengatakan: “Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami”, atau sering dengan rumusan yang lebih singkat: “Demi Kristus Tuhan kami”. Kalau kita mau mencermati dengan lebih sadar dan akurat, rumusan di akhir doa kita tersebut, terasa ada yang janggal. Pertanyaan yang segera muncul adalah: “Apakah kita berdoa sungguh “demi” atau “untuk” Kristus? Atau kita berdoa untuk diri kita sendiri? Bukankah yang kita maksud adalah bahwa kita berdoa melalui Kristus? Lalu kepada siapa doa kita mohonkan dan kita tujukan?

Sangatlah baik mendalami dan mengetahui asal-usul serta struktur doa yang kita ucapkan. Biasanya, orang yang tidak tahu “asal” akhinya “ngasal” termasuk dalam hal berdoa. Dalam doa Liturgis, per Christum Dominum nostrum dalam berbagai kesempatan diterjemahkan dengan “Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami”. Terjemahan ini tidak tepat karena dua hal. Yang pertama, terjemahan dari “Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami” kalau diubah menjadi bahasa Latin adalah: pro Christo Domino, Mediatori nostro. Atau versi singkatnya “Demi Kristus Tuhan kami” adalah terjemahan dari pro Christo Domino nostro. Dengan demikian, terjemahan yang paling tepat dari per Christum Dominum nostrum adalah melalui Kristus Tuhan kami atau dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami. Yang kedua, kata “demi” masih terbuka untuk selalu diperdebatkan. “Demi” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai lima (5) arti yaitu: untuk (kepentingan), lepas/per, tatkala/pada ketika/segera setelah, atas nama (Tuhan, untuk bersumpah), dan sebagai/seperti (untuk membandingkan). Dari beberapa arti yang disebutkan, jika kata “demi” diartikan “untuk” maka tidak tepat karena kita berdoa bukan untuk Kristus. Kita berdoa bukan untuk menambah kemuliaan Kristus melainkan berguna untuk keselamatan kita. Kita memuliakan Tuhan agar kita dikuduskan (bdk. Prefasi Umum IV). Selain itu, jika kata “demi” diartikan “atas nama” juga tidak tepat karena kita berdoa bukan atas nama atau mewakili Kristus. Kita bersyukur, memuji dan memuliakan Tuhan atas nama kita sendiri sebagai umat yang berfungsi dalam tindakan glorificatio.

Per Christum Dominum nostrum sebagai bagian utuh dari Doa Konsekrasi ternyata sudah dipakai di Roma sejak St. Hippolitus (218) dalam Traditio yang selalu dibuka dengan dialog tradisional: “Tuhan bersamamu” dan seterusnya. Bagian kedua yakni rumusan panjang setelah dialog, oleh St. Siprianus disebut dengan Prefasi sedangkan dalam buku liturgis Gallican dinamai Immolatio atau Contestatio dan dalam Ritus Hispanica disebut dengan Illatio yang pada intinya menekankan misteri penebusan.

Riston S. - Kritik Teks Liturgis;Per Christum Dominum Nostrum – Nola Edisi 01, Jan. – Feb. 2016 | 2 Tema fundamental dari Prefasi adalah Kurban Kristus, yang hadir dalam bingkai pujian, syukur dan berkat dari Allah, karena Ia sendiri telah menyatakannya dengan sungguh-sungguh dalam Perjamuan malam terakhir: “gratias egit, benedixit”, yang telah diwariskan kepada para Rasul. Pada bagian awal Prefasi, selebran utama menyatakan doa yang berisi tema teologis yakni: pemuliaan Allah, Tuhan, Bapa, dalam kebesaran sifat ilahi-Nya. Bagian berikutnya adalah tema Kristologis yakni Yesus Kristus sebagai Penebus dan Mediator. Konsep Prefasi bagian ini kadang-kadang dinyatakan dengan ringkas dalam kalimat sederhana: per Christum Dominum nostrum yang merupakan bagian dari embolisme.

Dalam analisis atas Prefasi, A. M. Triacca, seorang ahli liturgi mengatakan bahwa per Christum Dominum nostrum adalah bagian adiunctum dari mediatio Christi yakni ciri atau bagian yang berhubungan erat dengan mediasi Kristus sendiri. Doa-doa kita diarahkan kepada Bapa melalui mediasi Kristus Tuhan sebagai pemenuhan karya penyelamatan-Nya. Ahli liturgi yang lain, M. Auge mengatakan bahwa konklusi dari doa Prefasi selalu menyebutk Kristus sebagai Sang mediator. Rumusan ini mengandung implikasi dari anamnesis dan pengakuan iman kita. Bentuk konklusi yang paling singkat dari doa romawi adalah per Christum Dominum nostrum. Doa ini berarti kita bersyukur, kita memuji, kita memohon melalui Kristus Tuhan kita yang dengan pengantaraan Dia, bersama dengan Dia dan dalam Dia, kita berdoa kepada Allah. Kalau doa diarahkan kepada Bapa, maka kita mengatakan: “Dengan pengantaraan Tuhan kami Yesus Kristus Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa”. Kalau doa diarahkan kepada Bapa, tetapi pada akhir doa disebut juga Putra: “Sebab Dialah yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa”. Kalau doa diarahkan kepada Putra: “Sebab Engkalah Tuhan, pengantara kami yang bersama dengan Bapa, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah sepanjang segala masa”. (PUMR no 54)

Kalau kita melihat dari sudut pandang yang lebih luas, ekspresi yang paling maksimal dari sentralitas Kristus dalam perayaan Liturgi par excellence adalah Perayaan Ekaristi. Dalam Perayaan Ekaristi, Kristus hadir secara khusus sebagai imam dalam wajah yang melayani dengan mengurbankan diri kepada Bapa dalam persekutuan dengan Roh Kudus. Kurban Kristus sebagai tindakan Gereja yakni yang berasal dari umat Allah dipersatukan dengan kurban Kristus sendiri.

Konsili di Hippo tahun 393 dan juga Konsili di Kartago tahun 397 menetapkan: “Et cum altari assistitur, semper ad Patrem dirigatur oratio”, dan ketika berdiri dekat atau melayani di altar, doa selalu diarahkan kepada Bapa. Bapa adalah tujuan dari setiap doa, yang kepada-Nya kita berdoa melalui Putra-Nya. Memang doa yang dimaksudkan di sini adalah doa pada saat Doa Ekaristi, artinya secara khusus dalam doa liturgis saja tidak termasuk doa devosional atau doa personal. Kita berdoa dan memuji Allah sebagai Bapa

Riston S. - Kritik Teks Liturgis;Per Christum Dominum Nostrum – Nola Edisi 01, Jan. – Feb. 2016 | 3 sebagaimana Yesus berdoa dan mengajarkannya kepada para rasul. Yesus mengajarkan doa “Bapa Kami” kepada kita para pengikut-Nya sehingga kita pun berani mengarahkan doa kita kepada Allah sebagai “Abba”, Bapa (Luk 18:7). Selain itu, Yesus sendiri memperkenankan para rasul berdoa kepada-Nya (Yoh 14: 14). Yesus adalah Sang Mediator manusia kepada Bapa-Nya (1 Tim 2:5). Yesus pernah berjanji akan mendoakan para rasul-Nya kepada Bapa (Yoh 14: 16).

Pertanyaan terakhir adalah: “Kalau mengatakan {demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami} kurang tepat, lalu mengapa dalam buku liturgis ditulis demikian?” Akan ada banyak perubahan dalam buku-buku liturgis di masa mendatang. Selain karena Liturgia semper reformanda (Liturgi selalu diperbarui), akan tetapi ada banyak terjemahan yang lama justru mengaburkan kalau tidak mau disebut mengkhianati teks asli sekurang-kurangnya secara liturgis. Harapannya adalah terjemahan-terjemahan yang ada tidak membuat bias makna dan arti yang sebenarnya. Mari sedapat mungkin tetap setia pada teks asli. Sambil menunggu terjemahan yang baru disahkan, sangatlah tepat untuk menghindari semampu mungkin ungkapan dan terjemahan yang keliru. Semoga analisis terhadap salah satu teks liturgis ini bisa membantu dan bukan mengganggu kita dalam berdoa. Marilah membiasakan yang benar dan bukan membenarkan yang sudah biasa. Semoga! *** © Krosier Indonesia 2016