Dokumen · VII

Riston Situmorang, OSC: Kritik Teks Liturgis Ritus Damai

Karya Ilmiah · 2018

Riston Situmorang – Kritik Teks Liturgis: Ritus Damai – Nola Edisi 02 Maret – April 2017 | 1 KRITIK TEKS LITURGIS: RITUS DAMAI Riston Situmorang, OSC Ritus damai di beberapa tempat menjadi perbincangan hangat seiring dengan munculnya berbagai pertanyaan dan kebingungan mengenainya.

Dokumen · VII

Isi dokumen

Riston Situmorang – Kritik Teks Liturgis: Ritus Damai – Nola Edisi 02 Maret – April 2017 | 1 KRITIK TEKS LITURGIS: RITUS DAMAI Riston Situmorang, OSC Ritus damai di beberapa tempat menjadi perbincangan hangat seiring dengan munculnya berbagai pertanyaan dan kebingungan mengenainya. Persoalan boleh atau dak rupa‐rupanya masih menjadi perha an utama bagi sebagian besar umat walaupun dalam konteks liturgi, penjelasan atau katakese tentang ritus damai ini sesungguhnya jauh lebih pen ng. Bolehkah salam damai dipindahkan tempatnya yakni sebelum ritus persembahan? Bolehkah salam damai dihilangkan demi mengurangi kegaduhan yang terjadi karenanya? Masih bolehkah salam damai diiringi dengan nyanyian damai? Apakah umat masih boleh mengucapkan doa damai bersama‐sama dengan imam selebran utama? Dan ada banyak pertanyaan lain yang muncul dengan berbagai prak k yang sangat bervariasi di paroki masing‐masing.

Ritus damai dalam tata cara Roma Katolik terdiri dari 4 elemen yakni doa, salam, ajakan, dan tata gerak damai. Keempat elemen ini adalah satu kesatuan utuh yang dak bisa dipisahkan satu sama lain. Akan tetapi, ajakan dan tata gerak damai dalam ritus damai ini daklah mutlak diadakan apalagi hanya untuk misa harian (de feriis). Ritus damai termasuk saling bersalaman ditempatkan persis setelah Bapa Kami pada Ritus Komuni dalam Misa sehingga dak dapat dipindahkan dalam ritus persembahan sebagaimana dalam ritus ambrosian.

• Doa Damai Terjemahan doa damai edisi Indonesia dalam Tata Perayaan Ekaris (TPE) tahun 2005 adalah: “Saudara‐saudari, Tuhan Yesus Kristus, Engkau bersabda kepada para Rasul, "Damai Ku nggalkan bagimu, damai‐Ku Kuberikan kepadamu.” Maka marilah kita mohon damai kepada‐Nya. Tuhan Yesus Kristus, jangan memperhitungkan dosa kami, tetapi perha kanlah iman Gereja‐Mu, dan restuilah kami supaya hidup bersatu dengan rukun sesuai dengan kehendak‐Mu. Sebab Engkaulah pengantara kami kini dan sepanjang masa”. Lalu umat menjawab: “Amin”. Doa damai ini pertama kali dipakai pada awal abad ke‐11. Doa ini dulunya dianggap sebagai persiapan individual imam sebelum komuni. Akan tetapi, saat ini doa damai tersebut diucapkan dengan suara lantang sambil merentangkan tangan. Terjemahan versi bahasa Indonesia ini memiliki beberapa kekeliruan yakni:  Tidak ada kata fratres atau saudara‐saudari dalam terjemahan asli. Dan kata saudara saudari di awal doa damai sebagai suatu sapaan kepada umat dak tepat karena doa damai ini adalah doa yang dibawakan imam kepada Tuhan dan bukan suatu dialog antara imam dan umat.

Riston Situmorang – Kritik Teks Liturgis: Ritus Damai – Nola Edisi 02 Maret – April 2017 | 2  Tidak ada kata‐kata “Maka marilah kita mohon....” dalam teks asli. Ajakan marilah ini terkesan mengajak umat untuk berdoa bersamasama. Di satu sisi, umat dak salah kalau mengucapkan doa ini karena diajak oleh imam. Di sisi lain, imam juga dak salah karena memang tertulis demikian. Yang perlu diperbaiki adalah teks terjemahan yang sesuai dengan teks asli sehingga dak mengundang umat untuk mengucapkan doa damai yang sejak sekian lama sudah salah kaprah. Bahkan banyak umat sudah hafal terjemahan doa damai yang keliru ini.

 Tidak tepat pula doa ini dibawakan oleh umat. Memang doa damai bukan doa presidensial tetapi doa ini dibawakan oleh imam sebagai doa memohon damai yang berasal dari Tuhan. Doa ini diawali dengan suatu sapaan kepada Yesus Kristus yang berdoa juga untuk umat. Sebagai jawaban, barulah umat menjawab dengan. “Amin”.

 Bagian akhir atau doksologi dari doa damai ini juga dak diterjemahkan dengan tepat sebab bukan menunjuk sebagai pengantara melainkan Yesus yang hidup dan meraja.  Kata 'respicias' seharusnya diterjemahkan dengan memperha kan dan bukan memperhitungkan.

Doa damai dalam Misale Romanum 2008 adalah Domine Iesu Christe, qui dixis Apostolis tuis: Pacem relinquo vobis, pacem meam do vobis: ne respicias peccata nostra, sed fidem Ecclesiae tuae; eamque secundum voluntatem tuam pacificare et coadunare digneris. Qui vivis et regnas in sǽcula sǽculorum. Terjemahan yang kurang lebih mendeka teks asli adalah: “Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah bersabda kepada para rasul‐Mu: Damai‐Ku Ku nggalkan bagimu, damai‐Ku Kuberikan kepadamu: janganlah memperha kan dosa kami, tetapi iman Gereja‐Mu; dan berkenanlah mendamaikan serta menyatukannya menurut kehendak‐Mu. Engkau yang hidup dan meraja sepanjang segala abad” (terjemahan dak resmi). Dalam doa damai ini, terdapat anamnesis yang disebut sebagai pewartaan dan janji damai yang berasal dari Kristus. Selain itu, ada juga epiklesis yang memohon kesatuan dan damai bagi Gereja. Hal ini juga berlaku secara khusus untuk mempersatukan umat dalam perayaan Ekaris .

• Salam Damai Salam yang dimaksud bukanlah bersalam‐salaman melainkan sapaan atau kata‐kata damai yang diucapkan oleh imam selebran kepada umat. Damai yang berasal dari Kristus dibagikan kepada umat yang hadir dalam misa. Pax Domini sit semper vobiscum atau Semoga damai Tuhan selalu bersamamu. Landasan biblisnya dapat dilihat dalam Yoh 20: 19. 21 yakni: “Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah‐tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”; Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seper Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu”. Ada dua kata yang hilang dalam terjemahan TPE 2005 yakni kata sit (bentuk conjunc vus yang dapat diterjemahkan dengan kata “semoga”) dan semper yang dapat diterjemahkan dengan kata “selalu” atau “senan asa”.

Riston Situmorang – Kritik Teks Liturgis: Ritus Damai – Nola Edisi 02 Maret – April 2017 | 3 • Ajakan Damai Ajakan atau undangan damai yang diucapkan oleh diakon atau imam selebran (kalau dak ada diakon) dengan kata‐kata: offerte vobis pacem atau “Marilah saling menyatakan salam damai (TPE 2005). Rubrik menuliskan pro opportunitate pada saat ritus ini yakni dilakukan bila perlu atau bila dibutuhkan.

Tata Gerak Damai Ta t a g e ra k y a n g dimaksud adalah saling memberikan salam damai sebagai ciri khas tata gerak damai di Indonesia secara umum. Tata gerak damai bisa didasarkan pada kata‐kata S a n t o Yu stin u s d a l a m Apologia I, 65; 67 yang pertama kali memakai is lah “tanda damai” dalam Misa, yang juga diku p oleh Katekismus Gereja Katolik no 1345 yakni “Sesudah kami menyelesaikan doa‐doa, kami saling memberi salam dengan ciuman”. Ciuman damai dihubungkan dengan beberapa sumber biblis yang dipakai sebagai dasar dari ritus damai:

o Rm 16: 16 Bersalam‐salamlah kamu dengan cium kudus. Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus. o 1 Kor 16: 20 Salam kepadamu dari saudara‐saudara semuanya. Sampaikanlah salam seorang kepada yang lain dengan cium kudus. o 1 Tes 5: 26 Sampaikanlah salam kami kepada semua saudara dengan cium yang kudus.

o 1 Pet 5: 14 Berilah salam seorang kepada yang lain dengan cium yang kudus. Damai sejahtera menyertai kamu sekalian yang berada dalam Kristus. Amin.

Selama beberapa abad, tata gerak damai dilakukan dengan cara cium damai atau dalam bahasa indonesia cipika‐cipiki damai, tetapi dak berlaku untuk para katekumen menurut Tradisi Apostolik. Ordo Romanus I menyatakan bahwa tata gerak damai diberikan secara hirarkis. Sekitar abad ke‐9, selebran utama mencium altar sebagai simbol damai yang berasal dari Kristus, lalu disampaikan pada diakon kemudian dilanjutkan oleh subdiakon dan beberapa klerus lain serta umat yang hadir.

Dalam Misale Romawi edi o typica ter a 2008, cara saling memberikan salam damai ditetapkan oleh Konferensi Wali Gereja masingmasing sesuai dengan kekhasan dan kebiasaan masing‐masing bangsa. Penetapan itu membutuhkan recogni o dari Takhta Apostolik. Ritus damai ini dimaksudkan untuk memohon damai dan kesatuan bagi Gereja sendiri dan bagi seluruh umat manusia, sedangkan umat beriman, menyatakan persekutuan

Riston Situmorang – Kritik Teks Liturgis: Ritus Damai – Nola Edisi 02 Maret – April 2017 | 4 jemaat dan cinta kasih satu sama lain sebelum dipersatukan dalam Tubuh Kristus (bdk. PUMR 82, 390 dan bdk. Redemp onis Sacramentum no. 72). Akan tetapi, perlulah mempertahankan kebiasaan seturut Ritus Romawi, untuk saling menyampaikan salam damai menjelang komuni. Sesuai dengan tradisi Ritus Romawi, kebiasaan ini bukanlah dimaksudkan sebagai rekonsiliasi atau pengampunan dosa, melainkan mau menyatakan damai, persekutuan dan cinta sebelum menyambut Ekaris Mahakudus (RS no. 71). Dengan persetujuan Paus Fransiskus, pada tanggal 8 Juni 2014, Kongregasi Ibadat Ilahi dan Tata Ter b Sakramen, yang ditandatangani oleh prefeknya Kardinal Antonio Canizares Llovera, dan Sekretarisnya, Uskup Arthur Roche, mengirim surat edaran kepada Konferensi para Uskup untuk mengatur beberapa hal berkaitan dengan “salam damai” dalam Misa:

o Tidak ada pengantar dalam “lagu salam damai” menurut Ritus Romawi. o Para umat beriman seyogyanya saling memberikan salam ‐damai hanya kepada orang orang yang ada di dekatnya dan dengan cara yang pantas. o Imam boleh memberikan salam damai kepada para pelayan, namun dak meninggalkan pan imam agar jalannya perayaan jangan terganggu.

o Dalam tradisi Romawi, memang dak ada lagu atau nyanyian “salam damai” karena waktu untuk ritus ini sangat singkat dan saling memberikan salam damai bagi orang yang dekat‐dekat saja.

Demikianlah penjelasan ritus damai ini, semoga bisa bermanfaat untuk prak k kita di tempat masing‐masing. Bukan saja untuk melaranglarang nyanyian damai tetapi untuk lebih mendekatkan makna simbolis dari ritus damai yang lebih menekankan aspek persiapan untuk menyambut Tubuh Kristus.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Liturgi edisi Januari 2017 *** © Krosier Indonesia 2017