Dokumen · VII
Riston Situmorang, OSC: Perarakan Masuk
Karya Ilmiah · 2018
Riston Situmorang – Perarakan Masuk – Nola Edisi 03, Mei – Juni 2016 | 1 PERARAKAN MASUK Riston Situmorang, O.S.C. Awal perayaan Ekaristi dimulai pada saat perarakan masuk, bukan dimulai dengan nyanyian atau tanda salib.
Dokumen · VII
Isi dokumen
Riston Situmorang – Perarakan Masuk – Nola Edisi 03, Mei – Juni 2016 | 1 PERARAKAN MASUK Riston Situmorang, O.S.C.
Awal perayaan Ekaristi dimulai pada saat perarakan masuk, bukan dimulai dengan nyanyian atau tanda salib. Perarakan masuk selalu menjadi unsur pertama dari Ritus Pembuka. Tujuan seluruh bagian dari Ritus Pembuka ini adalah mempersatukan umat dan mempersiapkan mereka untuk mendengarkan Sabda Allah dengan penuh perhatian dan merayakan Ekaristi dengan layak. Umat dipersatukan satu sama lain, dipersatukan dengan Gereja di seluruh dunia dan juga dipersatukan dengan Allah sendiri. Umat bersatu dibawah pimpinan Kristus. Persatuan umat dalam satu kesatuan paroki bersifat unitas dan dalam satu kesatuan Gereja yang luas bersifat universal.
Para pelayan liturgi mengadakan persiapan di sakristi dengan berdoa bersama sebelum memulai perarakan masuk. Sebelum berarak bersama, petugas pedupaan menghadap selebran utama. Selebran utama mengisikan dupa ke dalam pedupaan (turibulum), memberi berkat tanda salib untuk pedupaan yang sudah mengepulkan asap yang sudah beraroma itu tanpa mengucapkan sesuatu. Tindakan pertama selebran utama sebagai pemimpin perayaan ini menandai dimulainya perarakan masuk, awal Perayaan Ekaristi. Dengan demikian, bukan petugas pedupaan yang mengisikan dupa, bukan koster bukan Diakon, bukan imam konselebran melainkan selebran utama.
Perarakan masuk baru muncul pada abad keempat pada masa Kaisar Konstantinus sekitar tahun 313 M, ketika kekristenan tidak lagi menjadi hal yang dilarang. Kebutuhan akan perarakan masuk muncul karena sakristi dibangun di bagian depan gereja sehingga para pelayan liturgi berarak dari depan gereja menuju altar. Ada tiga bentuk perarakan masuk:
Perarakan meriah Pada awalnya perarakan meriah dilakukan dalam Misa yang dipimpin oleh Paus dan semakin populer di tahun 701. Dalam Misa, selebran utama bertindak sebagai in persona Christi (pribadi Kristus) dan in persona Ecclesiae (pribadi Gereja) sehingga pada saat perarakan masuk, selebran utama adalah simbol Kristus yang datang dan hadir yang disambut oleh seluruh umat.
Urutan perarakan meriah adalah sebagai berikut: 1) Pembawa pedupaan dan dupa dengan asap yang membubung; 2) Pembawa salib pancang dengan corpus Kristus; 3) Pembawa lilin pengapit salib; 4) Putra altar lain; 5) Petugas bacaan/Lektor; 6) Para pelayan pembagi komuni; 7) Diakon pembawa Evangeliarium; dan 8) Selebran utama. Pada Misa yang dipimpin oleh Uskup, perarakan dapat semakin panjang dengan beberapa petugas
Riston Situmorang – Perarakan Masuk – Nola Edisi 03, Mei – Juni 2016 | 2 khusus seperti petugas pembawa mitra, pembawa tongkat, pembawa vimpa, pembawa teks dan seremoniarius.
Dalam perarakan yang dipimpin oleh Uskup, simbol-simbol yang dibawa seperti salib, lilin bernyala, tongkat, mitra dan lain-lain menunjukkan martabat dan fungsi Imam Agung sebagai pemimpin dalam perayaan Ekaristi. Dia adalah Kristus yang hadir di sini dan saat ini. Salib pancang, bila tidak ada salib utama dalam gereja, ditempatkan di dekat/sekitar altar sebagai tanda penghormatan akan altar yakni simbol Kristus dan pusat selama perayaan Ekaristi. Lilin prosesi yang bernyala yang juga ditempatkan di dekat/sekitar altar adalah simbol sukacita selama melakukan ritus kurban di atas altar. Evangeliarium yang dibawa dalam perarakan masuk ditempatkan di atas altar. Hal ini menjadi simbol kesatuan antara dua ritus utama dalam Misa yakni Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi, sebelum diarak ke ambo untuk dibacakan.
Perarakan Biasa dengan Lagu Perarakan biasa dilakukan oleh imam sebagai selebran utama bersama satu atau dua pelayan altar (misdinar) tanpa unsurunsur pendukung seperti layaknya dalam cara meriah. Baik perarakan meriah, maupun perarakan biasa diiringi dengan nyanyian pembuka. Nyanyian pembuka bertujuan untuk membuka Misa, membina kesatuan umat yang berhimpun, mengantar masuk ke dalam misteri masa liturgi atau pesta yang dirayakan, dan mengiringi perarakan imam beserta pelayan liturgis lainnya.
Perarakan Sederhana Tanpa Lagu Perarakan sederhana dilakukan dari sakristi menuju altar oleh oleh imam sebagai selebran utama bersama satu atau dua pelayan altar, atau bahkan, selebran utama hanya sendirian memasuki ruang perayaan. Dalam cara sederhana tidak ada nyanyian. Karena tidak ada nyanyian pembuka, antiphon pembuka dapat dibawakan oleh seluruh umat, beberapa dari mereka atau selebran utama sendiri.
Tulisan ini pernah dipublikasi di Majalah Keuskupan Bandung “Komunikasi” Edisi Januari 2016. *** © Krosier Indonesia 2016