Dokumen · VII
Riston Situmorang, OSC: Ritus Penutup
Karya Ilmiah · 2018
Riston Situmorang – Ritus Penutup – Nola Edisi 06, November – Desember 2016 | 1 RITUS PENUTUP* Riston Situmorang, O.S.C. Ritus Penutup adalah bagian akhir setelah Ritus Pembuka, Liturgi Sabda, dan Liturgi Ekaristi yang menutup seluruh rangkaian Misa atau Perayaan Ekaristi.
Dokumen · VII
Isi dokumen
Riston Situmorang – Ritus Penutup – Nola Edisi 06, November – Desember 2016 | 1 RITUS PENUTUP* Riston Situmorang, O.S.C.
Ritus Penutup adalah bagian akhir setelah Ritus Pembuka, Liturgi Sabda, dan Liturgi Ekaristi yang menutup seluruh rangkaian Misa atau Perayaan Ekaristi. Imam mengajak umat untuk terus memuji dan memuliakan Allah dalam hidup sehari-hari. Umat diutus untuk mewartakan cinta kasih Allah kepada dunia. Ritus Penutup bukan sekedar untuk membubarkan umat, melainkan hendak menekankan makna “pengutusan” yakni tugas misioner yang harus dilakukan oleh umat di tengah dunia. Umat yang telah bersatu dengan Kristus melalui santapan tubuh-Nya, diutus untuk mewartakan kabar gembira dan keselamatan kepada semua orang. Itu sebabnya, unsur yang paling penting dalam ritus ini adalah Berkat dan Pengutusan.
Dalam PUMR no 90, dapat dikatakan bahwa Ritus Penutup terdiri dari Salam, Berkat, Pengutusan, Penghormatan Altar, dan Perarakan Keluar. Jika diperlukan, Imam dapat memberikan amanat atau pesan singkat yang dibutuhkan oleh komunitas umat beriman.
Imam sebaiknya menghindari amanat yang bertele-tele sehingga pesan yang disampaikan dapat dengan mudah diingat umat dan dibawa pulang. Pada bagian ini (dan bukan pada saat Homili), dapat dijadikan sebagai kesempatan bagi awam (termasuk suster/bruder/frater)
untuk berbicara mengenai kesaksian hidup atau membagikan pengalaman mereka khususnya kepada umat yang hadir.
Tempat yang paling ideal untuk pengumuman adalah setelah Ritus Komuni, yakni sebelum amanat singkat. Isi dari pengumuman sebaiknya menyangkut kebutuhan bersama seperti pengumuman penerimaan sakramen-sakramen, perhimpunan dana untuk pembangunan, korban bencana alam atau proyek khusus dan pengumuman perkawinan. Akan tetapi, amanat singkat seperti halnya pengumuman bersifat tidak wajib dalam perayaan Ekaristi sehingga bukanlah suatu keharusan. Salam dan Berkat Ritus ini diawali dengan salam oleh imam selebran: “Tuhan bersamamu”, umat menjawab: Dan bersama rohmu”. Setelah itu imam memberi berkat kepada umat dengan menggerakkan tangan dalam bentuk tanda salib dan umat membuat tanda salib besar pada dirinya dan menjawab “Amin”. salam atau dialog antara imam dan umat hendak
Riston Situmorang – Ritus Penutup – Nola Edisi 06, November – Desember 2016 | 2 mengungkapkan iman Gereja bahwa Tuhan sungguh hadir dan menyertai umat-Nya. Berkat dapat dilakukan dengan tiga cara:
Berkat sederhana. Berkat Tuhan yang disampaikan dengan cara sederhana yaitu sesudah dialog salam, imam langsung memberikan berkat Tuhan dengan menyebut nama Allah Tritunggal: Benedicat vos omnipotens Deus, Pater, et Filius, et Spiritus Sanctus (Semoga Allah yang mahakuasa memberkati Saudara sekalian, Bapa dan Putra dan Roh Kudus).
Berkat meriah. Berkat ini digunakan pada pesta-pesta yang besar. Ordo Missae menyiapkan beberapa formulasi Berkat yang dapat ditemukan di bagian akhir ritus dalam Misa. Ciri khas Berkat ini ditandai dengan rumusan tiga permohonan yang diakhiri dengan rumusan Tritunggal. Berkat ini berasal dari Liturgi Occidental khususnya Ritus Gallikan atau Ritus Hispanik. Awalnya, Berkat ini digunakan oleh Uskup sebelum pemecahan roti untuk memisahkan umat yang tidak menerima komuni sehingga mereka tidak berada di dalam gereja selama pembagian komuni. Dalam TPE 2005, disediakan 15 alternatif berkat meriah yang disesuaikan dengan masa liturgi.
Berkat dengan oratio super populum (doa atas umat). Berkat ini khas Romawi: Imam berdoa kepada Allah dengan doa dan permohonan agar Allah memberkati umatnya. Dalam TPE 2005, disediakan 41 alternatif “Doa untuk Umat” yakni satu doa disatukan langsung pada ritus penutup dan 40 yang lain pada bagian lampiran setelah Berkat Meriah.
Pengutusan Dalam PUMR 168 dikatakan: “Langsung sesudah berkat, imam mengatupkan tangan dan berkata : Perayaan Ekaristi sudah selesai. Umat menjawab : Syukur kepada Allah. Kemudian imam melanjutkan: Pergilah! Saudara diutus, dan umat menjawab: Amin.” Pengutusan dinyatakan oleh Diakon dengan ungkapan “Ite missa est”. Kata Misa sendiri berasal dari ungkapan “Ite missa est” ini. Missa est bisa berarti dua hal: yang pertama, Misa atau perayaan Ekaristi telah selesai atau yang kedua, tugas perutusan untuk mewartakan apa yang telah dirayakan dalam misa tersebut. Missa est dalam bahasa Latin adalah bentuk participium perfectum passivum femininum yang berarti diutus/dikirim yang berasal dari kata mittere, berarti mengirim/mengutus. Ada tiga tambahan rumusan yang ditawarkan oleh Missale Romawi 2008 yang dijawab oleh umat dengan kata-kata: Deo gratias (Syukur kepada Allah). Ketiga rumusan tersebut adalah:
Ite, ad evangelium Domini annuntiandum (Pergilah, untuk mewartakan Injil Tuhan) Ite in pace, glorificando vita vestra Dominum (Pergilah dalam damai, sambil memuliakan Tuhan dengan hidupmu).
Ite in pace (Pergilah dalam damai)
Riston Situmorang – Ritus Penutup – Nola Edisi 06, November – Desember 2016 | 3 Penghormatan Altar dan Perarakan Keluar Ada dua cara ritus Penghormatan Altar. Yang pertama, imam selebran bersama diakon, jika ada, mengecup altar (imam konselebran tidak perlu) (bdk. PUMR 186 dan 251). Saat penghormatan altar: imam dan diakon mencium altar; kemudian mereka bersama para pelayan yang lain membungkuk khidmat ke arah altar. Setelah itu imam menuju ke depan altar dan menghormati altar itu sekali lagi dengan cara membungkukkan badan atau berlutut (jika ada Sakramen Mahakudus dalam tabernakel di belakang altar). Setelah itu, menyusul Perarakan Keluar baik secara sederhana maupun meriah. Susunan perarakan ini sama dengan pada saat Perarakan Masuk. Pada saat ritus ini berlangsung, dapat diiringi dengan nyanyian yang sesuai.
* Tulisan ini telah dimuat di Majalah Liturgi, Volume 27 no 4, 2016, hlm. 41-43. Sumber:
Komisi Liturgi KWI. 2002. Pedoman Umum Misale Romawi. Ende: Nusa Indah. Suryanugraha. C.H. 2003. Lakukanlah Ini Sekitar Misa Kita. Bandung: SangKris *** © Krosier Indonesia 2016