Dokumen · VII
Riston Situmorang, OSC: Tanda Salib Pada Awal Kidung Zakharia
Karya Ilmiah · 2018
Riston S.– Tanda Salib Pada Awal Kidung Zakharia dan Kidung Maria – Nola Edisi 05, September-Oktober 2017 | 1 TANDA SALIB PADA AWAL KIDUNG ZAKHARIA DAN KIDUNG MARIA Riston P. Situmorang, O.S.C.
Dokumen · VII
Isi dokumen
Riston S.– Tanda Salib Pada Awal Kidung Zakharia dan Kidung Maria – Nola Edisi 05, September-Oktober 2017 | 1 TANDA SALIB PADA AWAL KIDUNG ZAKHARIA DAN KIDUNG MARIA Riston P. Situmorang, O.S.C.
Menanggapi Relik Sebagaimana diamanatkan oleh Relik Kapitel Provinsi Sang Kristus Indonesia 2016 dengan tema:
“Bersama menjadi Sakramen Kehidupan”, Dewan Provinsi menugaskan KOMLIT untuk mengejawantahkan hasil Relik no 4b khususnya berkaitan dengan penghayatan liturgi yang solemn (agung). Oleh karena itu, setelah sekian lama menunggu, Komlit SangKristus pada akhirnya bisa menerbitkan buku Perayaan Liturgi Krosier (buku merah) sebagai pengganti “buku kuning”
kecil yang biasanya dipakai untuk offisi pagi dan sore pada masa-masa khusus OSC dan Peringatan Misteri Salib Suci setiap Jumat. Seiring dengan penerbitan buku Perayaan Liturgi Krosier, tata cara dan petunjuk beribadat pun dilampirkan pada halaman 216. Ada beberapa perubahan yang kita lakukan yang tentu saja berdasarkan aturan resmi Gereja. Di samping itu, prinsip liturgia semper reformanda juga menjadi acuan agar di dalam komunitas krosier dimana pun berada, kita dapat berliturgi dengan lebih semarak dan lebih solemn (agung). Salah satu perubahan yang nyata adalah membuat tanda salib di awal kidung Zakharia dalam Ibadat pagi dan di awal kidung Maria dalam Ibadat sore.
Perlukah Tanda Salib?
Kita bisa saja berpendapat bahwa membuat tanda salib pada liturgia horarum (liturgi harian) atau sering kita sebut dengan istilah ibadat harian khususnya dalam laudes (ibadat pagi) dan vesper (ibadat sore), adalah tindakan yang kontra-produktif. Kita tahu bahwa sejak Konsili Vatican II, ritus membuat tanda salib baik pada Liturgi Sakramen, Liturgi Sakramentali, dan Liturgi Harian jelas-jelas mengalami pengurangan yang cukup signifikan yakni cukup membuat tanda salib dua kali saja: di bagian awal dan bagian akhir perayaan. Hanya saja, perlu diingat bahwa ada tambahan yakni membuat 3 tanda salib kecil pada Perayaan Ekaristi khususnya pada ritus “Bacaan Injil”. Bacaan Injil menjadi puncak dari Liturgi Sabda. Itu sebabnya, ada beberapa bentuk penghormatan yang secara istimewa pada ritus tersebut dan salah satunya adalah dengan membuat tanda salib. Hal yang sama juga terjadi dalam Liturgi Harian yakni membuat
Riston S.– Tanda Salib Pada Awal Kidung Zakharia dan Kidung Maria – Nola Edisi 05, September-Oktober 2017 | 2 tanda salib pada saat membacakan Injil. Akan tetapi, jika kita perhatikan dengan baik, kita tidak pernah menemukan ritus bacaan Injil dalam Liturgi Harian. Satu-satunya ritus bacaan Injil yang kita temukan adalah pada saat menyanyikan kidung Zakharia dan kidung Maria. Institutio Generalis De Liturgia Horarum 1971 (diterjemahkan dengan Pedoman Ibadat Harian) nomor 138 menjelaskan bahwa kidung-kidung dari Injil yaitu Benedictus (kidung Zakharia), Magnificat (kidung Maria), dan Nunc Dimittis (kidung Simeon) didaraskan secara meriah dan penuh hormat, sebagaimana layaknya pada teks Injil. Hal ini dipertegas lagi oleh Pedoman Ibadat Harian no. 266 b: “Semua membuat tanda salib dari dahi ke dada dan dari bahu kiri ke kanan pada permulaan kidung Zakharia, kidung Maria dan kidung Simeon”. Dengan demikian, perlulah membuat tanda salib sesuai anjuran pedoman yang berlaku. Tradisi Gereja dan Pendapat Para Ahli Kehidupan berliturgi saat ini, bagaimanapun, tidak bisa dilepaskan dari tradisi yang telah dihidupi oleh Gereja selama berabad-abad. Beberapa pandangan ahli yang mendukung berikut ini dapat dijadikan pendasaran terhadap praktik membuat tanda salib di awal kidung Zakharia dalam ibadat pagi dan kidung Maria dalam ibadat sore:
Vincenzo Raffa, seorang ahli liturgi dan pernah menjabat sebagai sekretaris komisi yang membahas tentang Reformasi Brevir menegaskan bahwa Benedictus (kidung Zakharia) dan Magnificat (kidung Maria) memiliki martabat dan keagungan yang sama dengan bacaan Injil dalam Misa. Oleh karena itu, penghormatan yang sama dengan membuat tanda salib pada ritus tersebut adalah tindakan yang pantas. Jungmann mempertegas gagasan ini dengan mengatakan bahwa ritus yang setara dengan bacaan Injil dalam Misa seperti kidung Zakharia dan kidung Maria memiliki kedudukan yang sama dan dapat dihormati dengan yang sama pula (bdk. Jungmann, Missarum Sollemnia I, 107). Bahkan Pedoman Ibadat Harian no. 261 menambahkan bahwa tidak hanya dengan membuat tanda salib saja tetapi juga selama kidung Zakharia dan kidung Maria dinyanyikan, altar dapat didupai. Tindakan simbolis ini mau memperlihatkan bahwa kidung Zakharia dan kidung Maria mendapatkan perlakuan yang khusus. Kendati dalam sejarah liturgi, tindakan membuat tanda salib pernah hilang akan tetapi sampai sekarang ritus tersebut dipertahankan sebagai kekayaan Gereja (bdk. M. Righetti, Storia Liturgica I, 372-373).
Kidung Zakharia dan kidung Maria pertama kali dikidungkan dalam offisi sejak dimasukkan dalam Regula St. Benediktus yang dipopulerkan oleh Amalarius sekitar tahun 850 dalam offisi romawi kuno (bdk. Amalario, Offisi IV, 7, 19). Dalam offisi tersebut fungsi kidung Zakharia dan kidung Maria adalah sebagai suatu pemuliaan, madah syukur, dan pujian bagi
Riston S.– Tanda Salib Pada Awal Kidung Zakharia dan Kidung Maria – Nola Edisi 05, September-Oktober 2017 | 3 Allah demi penebusan manusia. Origenes berkata bahwa benedictus secara khusus merupakan kemuliaan akan Kristus sebagai Fajar Timur yang menerangi orang-orang yang berada dalam kegelapan dan dalam bahaya kematian. Dengan membuat tanda salib pada kata-kata awal: Benedictus Dominus, Deus Israel (Terpujilah Tuhan, Allah Israel), kita mengenangkan Kristus, Sang Terang, yang menang atas kuasa maut (bdk. Patrologia Greca 12, 513-515). Magnificat secara khusus merupakan kidung Maria yang dalam arti tertentu menghadirkan semua orang yang diselamatkan dan diberkati oleh Allah. St. Beda berkata bahwa sangat baik menyanyikan kidung Maria setiap hari pada ibadat sore dalam Gereja secara teratur. Karena dengan demikian, kita diingatkan akan misteri inkarnasi sebagai bentuk cinta kasih Allah pada manusia (bdk. Corpus Christianorum, series Latina 122, 30). Dengan membuat tanda salib pada kata-kata awal: Magnificat anima mea Dominum (sejak lama diterjemahkan dengan Aku mengangungkan Tuhan), kita mengenangkan penderitaan Kristus sekaligus tanda penerimaan akan Yesus yang menjadi manusia dan berkurban untuk kita. Dengan membuat tanda salib, kita sebagai manusia ikut berpartisipasi atas penderitaan-Nya, siap merangkul sengsara-Nya dan berbagi penderitaan dalam dan dengan Kristus. Dengan demikian, pada akhirnya kita juga siap untuk ikut bangkit bersama Kristus.
Demi Unitas dan Universalitas Liturgi Demikian penjelasan singkat tentang perubahan ritus pada saat awal menyanyikan kidung Zakharia dan kidung Maria. Berangkat dari menanggapi relik kapitel untuk membarui tata cara berliturgi yang lebih solemn (agung) termasuk dalam offisi krosier, semoga kita semakin tercerahi oleh tradisi Gereja yang sarat makna. Sebenarnya praktik membuat tanda salib ini secara universal berlaku sama dan dilakukan oleh siapapun di seluruh penjuru dunia. Di samping itu, prinsip unitas juga perlu karena sikap tubuh yang seragam menandakan kesatuan seluruh jemaat yang berhimpun untuk merayakan Liturgi kudus. Sebab sikap tubuh yang sama mencerminkan dan membangun sikap batin yang sama pula (bdk. PUMR 42). *** *** © Krosier Indonesia 2017