Dokumen · VII
Riston Situmorang, OSC: Tata Gerak Menghormat Dan Maknanya Dalam Misa
Karya Ilmiah · 2017
Riston Situmorang – Tata Gerak “Menghormat” dan Maknanya … – Nola Edisi 04, Juli – Agustus 2018|1 TATA GERAK “MENGHORMAT” DAN MAKNANYA DALAM MISA Riston Situmorang, O.S.C.
Dokumen · VII
Isi dokumen
Riston Situmorang – Tata Gerak “Menghormat” dan Maknanya … – Nola Edisi 04, Juli – Agustus 2018|1 TATA GERAK “MENGHORMAT” DAN MAKNANYA DALAM MISA Riston Situmorang, O.S.C.
Pengantar Setiap tata gerak dan sikap tubuh yang dilakukan dalam Misa tentu saja memiliki aturan dan cara tertentu dengan berbagai makna yang berbeda pula. Sikap tubuh yang seragam menandakan kesatuan seluruh umat yang berhimpun untuk merayakan Liturgi kudus. Prinsip unitas dalam Liturgi mencerminkan dan membangun sikap batin umat yang sama selama perayaan berlangsung. Oleh karena itu, sangat baiklah untuk mengupayakan tata gerak yang tepat dan seragam agar makna aneka bagian perayaan dapat dipahami secara penuh. Sebab, tata gerak yang demikian akan memancarkan keindahan dan sekaligus nobilis simplicitas (kesederhanaan yang anggun). Semuanya itu dilakukan agar umat semakin berpartisipasi dalam Liturgi dan umat pada akhirnya memperoleh kesejahteraan rohani atau buah-buah rohani dari Misa (bdk. Pedoman Umum Misale Romawi atau PUMR 45). Syukur-syukur melalui tata gerak dan sikap tubuh yang berlaku, umat dapat sampai pada Allah dan mengalami kemuliaan-Nya. Maka, pada kesempatan ini, sekurang-kurangnya kita akan membahas tiga tata gerak “menghormat” dan maknanya dalam Misa. Genuflectit (berlutut)
Tata gerak menghormat yang pertama adalah berlutut. Berlutut merupakan tata gerak penghormatan yang paling tinggi sebab diarahkan kepada Tuhan melalui rupa materia sacramenti (materi sakramen) Ekaristi yakni roti dan anggur yang adalah Tubuh dan Darah Kristus sendiri.
Penghormatan kepada Sakramen Mahakudus dengan berlutut adalah simbol iman yang rendah hati atas Allah yang Mahatinggi. Di samping itu, berlutut dikhususkan untuk menghormati Salib Suci yang digunakan dalam Liturgi Jumat Agung Mengenang Sengsara Tuhan. Salib ini dihormati dengan berlutut mulai dari penghormatan meriah dalam Liturgi Jumat Agung sampai sebelum memasuki Misa Malam Paskah (bdk. PUMR 274).
Berlutut adalah tindakan iman yang mendalam akan Misteri Paskah, sekaligus menandakan kerinduan umat untuk hadir dalam misteri wafat dan kebangkitan Kristus. Gerak berlutut merupakan bentuk perendahan diri karena kita hadir di hadapan Tuhan. Seperti kata Paulus: “Supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan’, bagi
Riston Situmorang – Tata Gerak “Menghormat” dan Maknanya … – Nola Edisi 04, Juli – Agustus 2018|2 kemuliaan Allah Bapa!” (Fil 2:10-11). Kita pun melakukannya untuk meniru kesengsaraan Kristus ketika disalib, supaya boleh mengalami anugerah kebangkitan-Nya. Sikap ini mengajar kita untuk hidup sehari-hari seperti yang dilakukan Kristus. Kita diantar untuk bersatu dalam persembahan diri dan kurban-Nya yang suci (bdk. C.H. Suryanugraha, Rupa dan Citra: Aneka Simbol dalam Misa, hlm. 118-121).
Dalam Misa, imam berlutut sebanyak tiga kali, yaitu pada saat konsekrasi sesudah memperlihatkan hosti dan sesudah menunjukkan piala, serta sebelum imam menyambut Tubuh Kristus. Sedangkan umat berlutut hanya satu kali yakni pada saat konsekrasi, kecuali kalau ada masalah kesehatan atau tempat Misa tidak mengizinkan, entah karena banyaknya umat yang hadir, entah karena sebab-sebab lain. Mereka yang tidak berlutut pada saat konsekrasi hendaknya membungkuk khidmat pada saat imam berlutut sesudah konsekrasi. Akan tetapi, kalau umat sudah terbiasa berlutut sejak sesudah ritus Kudus sampai dengan akhir Doa Syukur Agung, kebiasaan ini seyogyanya dipertahankan (bdk.
PUMR 43).
Pada saat ritus penghormatan altar yakni setelah perarakan masuk dan sebelum perarakan keluar, kalau di panti imam ada tabernakel dengan Sakramen Mahakudus di dalamnya, maka imam, diakon, dan pelayan-pelayan lain selalu berlutut pada saat mereka tiba di depan altar dan pada saat akan meninggalkan panti imam. Tetapi dalam Misa sendiri mereka tidak perlu berlutut. Para pelayan yang membawa salib perarakan atau lilin, tindakan berlutut diganti dengan menundukkan kepala. Pada ritus Syahadat khususnya pada saat mengucapkan: “Ia dikandung dari Roh Kudus ... menjadi manusia”, seluruh umat berlutut pada Hari Raya Kabar Sukacita dan pada Hari Raya Natal. Berlutut juga dilakukan di luar perayaan Ekaristi setiap kali lewat di depan Sakramen Mahakudus kecuali kalau mereka sedang dalam perarakan. Bahkan, saat kita masuk ke gedung gereja, sesudah membuat tanda salib dengan air suci, biasanya kita berlutut sejenak untuk menghormati Sakramen Mahakudus dalam tabernakel, lalu duduk dan berdoa secara pribadi (bdk. Caeremoniale Episcoporum atau CE 68 dan 72; lihat juga PUMR 137 dan 274).
Profunda inclinatione (membungkuk khidmat)
Tata gerak menghormat yang kedua adalah membungkuk khidmat. Membungkuk khidmat atau membungkukkan badan merupakan tanda penghormatan kepada orang atau
Riston Situmorang – Tata Gerak “Menghormat” dan Maknanya … – Nola Edisi 04, Juli – Agustus 2018|3 barang yang merupakan representasi pribadi tertentu. PUMR 275b menjelaskan bahwa membungkuk khidmat dapat dilakukan pada saat: (1) menghormati altar sebagai simbol Kristus. Altar adalah pusat selama Misa berlangsung dan menjadi simbol tempat terjadinya peristiwa transubstansiasi yakni roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus sendiri. Pada saat ritus penghormatan altar (baik di awal maupun di akhir), seluruh umat ikut menghormati altar bersama para pelayan liturgis yang lain dengan membungkuk khidmat dan bukan pada saat imam mencium altar; (2) sebelum memaklumkan Injil, waktu mengucapkan doa ke arah Altar: “Sucikanlah hati dan budiku, ya Allah yang mahakuasa...”; (3) dalam syahadat, waktu mengucapkan kata-kata: “Ia dikandung dari Roh Kudus… dan Ia menjadi manusia”; (4) dalam persiapan persembahan, waktu mengucapkan doa: “Dengan rendah hati dan tulus…”; (5) dalam Kanon Romawi pada kata-kata: “Allah yang mahakuasa, utuslah malaikat-Mu...”. Membungkuk juga dilakukan oleh diakon waktu minta berkat kepada imam sebelum mewartakan Injil. Kecuali itu, imam juga parum se inclinat (membungkuk sedikit) waktu mengucapkan kata-kata Tuhan pada saat konsekrasi: “Terimalah…”.
Caput inclinat (menundukkan kepala)
Tata gerak menghormat yang ketiga adalah menundukkan kepala. Menundukkan kepala merupakan tata cara penghormatan yang dapat dilakukan waktu mengucapkan nama Tritunggal Mahakudus, nama Yesus, nama Santa Perawan Maria, dan nama santo/santa yang diperingati dalam Misa yang bersangkutan. Selain itu, menundukkan kepala sebagai ganti berlutut dapat dilakukan juga bagi para pelayan yang membawa salib perarakan atau lilin pada saat perarakan masuk (bdk. PUMR 274 dan 275a). Kalau berlutut engsel-nya ada di lutut dan membungkuk khidmat di pinggang sehingga badan membentuk 90 derajat, maka menundukkan kepala engsel-nya ada di leher.
Penutup Demikianlah penjelasan singkat mengenai tiga tata gerak “menghormat” dalam Misa. PUMR 43 menegaskan bahwa sesuai dengan ketentuan hukum, Konferensi Uskup boleh menyerasikan tata gerak dan sikap tubuh dalam Tata Perayaan Ekaristi dengan ciri khas dan tradisi sehat bangsa setempat. Namun, hendaknya Konferensi Uskup menjamin bahwa penyerasian itu selaras dengan makna dan ciri khas bagian perayaan Ekaristi yang bersangkutan.
Riston Situmorang – Tata Gerak “Menghormat” dan Maknanya … – Nola Edisi 04, Juli – Agustus 2018|4 Semoga penjelasan ini dapat bermanfaat bagi umat dan semoga Misa sungguh berbuah dan bermakna dalam hidup kita sehari-hari karena persitiwa santifikasi manusia dan glorifikasi Allah sungguh terjadi. Santo Thomas Aquinas pernah berkata bahwa tata gerak dan sikap tubuh secara eksternal adalah mediasi jiwa untuk menghormati dan memuliakan Tuhan. Oleh karena itu, marilah kita mengupayakan untuk melakukan tata gerak dan sikap tubuh yang tepat sebagai ekspresi iman kita akan Tuhan. *** © Krosier Indonesia 2018