Dokumen · VII
Riston Situmorang, OSC: Teks Liturgis Bukanlah Teks Kitab Suci
Karya Ilmiah · 2018
Riston Situmorang – Teks Liturgis Bukanlah Teks Kitab Suci – Nola Edisi 05, September – Oktober 2015 | 1 TEKS LITURGIS BUKANLAH TEKS KITAB SUCI Riston Parlindungan Situmorang, O.S.C.
Dokumen · VII
Isi dokumen
Riston Situmorang – Teks Liturgis Bukanlah Teks Kitab Suci – Nola Edisi 05, September – Oktober 2015 | 1 TEKS LITURGIS BUKANLAH TEKS KITAB SUCI Riston Parlindungan Situmorang, O.S.C.
Judul di atas barangkali akan membuat kita mengerenyitkan dahi sambil bertanya: “Bagaimana mungkin?”, atau mungkin bisa lebih parah, kita akan mengatakan: “Anathema sit”. Tapi nanti dulu! Bagaimana kalau judul tadi diubah menjadi “Teks Liturgis tidak hanya berasal dari Kitab Suci”? Agaknya, pernyataan yang barusan bisa lebih netral kalau tidak mau disebut menyejukkan. Kita tahu bahwa dalam hidup beriman sebagai Katolik, Gereja mempunyai tiga elemen yang sangat fundamental. Selain Kitab Suci, Gereja juga diwarisi oleh Tradisi dan Magisterium. Ketiga elemen tersebut bisa juga “mengejahwantah” melalui formula dan tindakan ritual dalam Liturgi. Itu sebabnya teks Liturgis tidak sama dengan teks Kitab Suci. Teks Liturgis memang bersumber dari Kitab Suci tetapi juga berasal dari sumber-sumber lain seperti teks Patristik, buku-buku Liturgis, teks Konsili, teks Teologis, Ekklesiologis, Kristologis-Pneumatologis, dan lain-lain. Jadi jangan pernah menyamakan teks Liturgis dengan teks Kitab Suci karena kedua teks tersebut tidak akan pernah sama sekurang-kurangnya karena dua hal yakni forma dan isi perayaan. Forma atau bentuk perayaan berasal dari Liturgi Sinagoga sedangkan isi perayaan berasal dari struktur perayaan yang ditentukan oleh Kuasa Mengajar dari yang berwenang.
Liturgi Sabda yang terekspresikan dalam bacaan-bacaan Kitab Suci mengalami perubahan aksentuasi perayaan yang dapat ditemukan dalam Leksionarium. Ada pergerakan tekanan dari Gereja Sinagoga menjadi Misteri Paskah. Dengan kata lain, yang menjadi lebih penting dalam perayaan saat ini adalah Misteri penyelamatan Kristus yang berpuncak pada Misteri Paskah. Selain itu, ada juga perubahan aksentuasi teks yakni dari teks Biblis menjadi teks Biblis-Liturgis. Perubahan ini dapat terlihat dengan jelas dalam tiga proses yakni: 1. Incipit yakni perubahan yang terjadi pada bagian awal perikop Biblis dengan “memotong” beberapa kata dan atau menambahkan dengan kata-kata baru yang lain dalam Leksionarium. Perubahan yang sangat sering terjadi pada incipit adalah dengan menambahkan kata-kata “In illo tempore” atau “Pada suatu ketika”. Sebagai contoh, kita dapat melihat Injil Mrk 9: 2-13. Pada ayat 2 dimulai dengan kata-kata: "Setelah 6 hari”, dan diganti menjadi “Pada suatu ketika” dalam Leksionarium. Bagi para ahli Kitab Suci, ungkapan “Setelah enam hari” itu sangat penting karena menciptakan paralelisme dengan Kitab Keluaran yang dilukiskan dalam peristiwa Musa naik ke gunung Sinai. Secara substansial, ada paralelisme antara Musa dan Yesus yaitu Teofania di gunung Sinai dengan Transfigurasi di gunung yang tinggi. Namun, jika kata-kata "enam hari” dihapus dan ditambahkan “Pada suatu ketika”, paralelisme sudah kehilangan arti. Tidak ada hubungan lagi di antara episode Musa dan Yesus. Pengubahan incipit dalam konteks ini menghilangkan relasi dua episode yang sangat berhubungan sejak awal
Riston Situmorang – Teks Liturgis Bukanlah Teks Kitab Suci – Nola Edisi 05, September – Oktober 2015 | 2 pembuatan teks Biblis. Akan tetapi, pengubahan dalam incipit ini ternyata bukanlah sebuah kebetulan saja karena memang disengaja. Tema dalam Minggu kedua Prapaskah tahun B bukan tentang dimensi ilahi Yesus melainkan tentang peristiwa kebangkitan Kristus sebagai model kebangkitan di masa yang akan datang. Melalui teks Biblis-Liturgis, kita merayakan misteri Kristus sebagai pusat dari perayaan Ekaristi.
2. Explicit yaitu “pemotongan” beberapa kata dan atau menambahkan dengan kata-kata baru yang lain pada bagian akhir dari perikop Biblis dalam Leksionarium. Sebanyak 60 persen pengubahan teks yang dilakukan dalam teks Biblis-Liturgis, menurut ahli Kitab Suci sangat jelek karena “mengacaukan” profil esegetik dalam analisi literer. Akan tetapi, pengubahan tersebut termasuk pemilihan bacaan-bacaan sebenarnya sudah diatur sedemikian rupa untuk mengarahkan pada tema-tema liturgis sepanjang tahun Liturgi yang mungkin sering tidak sejalan dengan tema-tema Biblis. Sebagai contoh, kita dapat mendalami bacaan Injil Mrk 9: 38-48 yakni Minggu Biasa pekan XXVI tahun B dalam Leksionarium. Kalau melihat bagan bacaan tersebut dalam Kitab Suci maka terdapat dua perikop yang berbeda yakni ayat 38-41 tentang seorang yang bukan murid Yesus mengusir setan dan ayat 42-50 tentang siapa yang menyesatkan orang – tentang garam. Akan tetapi Injil Mrk 9: 38-48 justru mau menghilangkan tema tentang garam dan menekankan tema orang asing dan penyesatan. Itu sebabnya ayat 49-50 dalam teks Biblis dihilangkan dalam teks Biblis-Liturgis.
3. Sectio aut additio pericopes yaitu “pemotongan” atau penambahan beberapa ayat dalam suatu perikop Biblis ke dalam teks Biblis-Liturgis sehingga mengubah tema bacaan menjadi liturgis. Sebagai contoh, kita melihat bacaan pertama pada hari Raya Hati Kudus Yesus tahun B yakni Hosea 11:1b. 3-4, 8c-9. Teks Biblis yang asli seharusnya Hosea 11: 1-11. Pemotongan ayat 1a, 2, 5-7, dan ayat 8ab tentu saja bukannya tidak disengaja. Pemotongan beberapa ayat tersebut untuk menghindari tema-tema yang mungkin muncul dari beberapa ayat yang dihilangkan itu seperti pemujaan Baal, Tuhan yang marah seperti singa, pertobatan, amarah dan pedang dan lain-lain. Sebaliknya tema yang ingin diangkat adalah Kasih Allah kepada bangsa Israel seperti kasih seorang Bapa kepada anaknya. Kasih itu lahir dari hati dan bukan karena kemarahan.
Dari ketiga proses perubahan dari teks Biblis yang asli menjadi teks Biblis-Liturgis yakni incipit, explicit, sectio aut additio pericopes, kita dapat melihat dengan jelas bahwa teks liturgis bukanlah teks Kitab Suci. Para ahli Kitab Suci mungkin bisa “marah” karena teks biblis seolah-olah dengan mudahnya diubah oleh para ahli Liturgi. Sama sekali tidak! Acuan dasar Ordo Lectionum Missae telah mengatur segalanya. Mgr. Renato de Zan, seorang
Riston Situmorang – Teks Liturgis Bukanlah Teks Kitab Suci – Nola Edisi 05, September – Oktober 2015 | 3 Profesor lulusan doctoral Kitab Suci Biblicum dan akhirnya lulusan doctoral Liturgi Sant’Anselmo, salah satu anggota penasehat Paus Benedictus XVI dan Paus Fransiskus dalam bidang Kitab Suci, pernah mengatakan semua bidang keilmuan lain termasuk Kitab Suci mengabdi kepada Liturgi sebab merujuk pada SC 10: “Liturgi adalah puncak dan sumber kehidupan Gereja”. Oleh karena itu, setiap perayaan liturgis merupakan kegiatan suci yang sangat istimewa. Tidak ada tindakan Gereja lainnya yang menandingi daya dampaknya dengan dasar yang sama serta dalam tingkatan yang sama (bdk SC 7). Sumber Bacaan:
Ordo Lectionum Missae Renato de Zan, I Molteplici Tesori Dell'Unica Parola *** © Krosier Indonesia 2015