Dokumen · VII
Riston Situmorang, OSC: Tiga Saat Hening Dan Maknanya Dalam Misa
Karya Ilmiah · 2018
Riston Situmorang – Tiga Saat Hening dan Maknanya Dalam Misa – Nola Ed. 01, Januari-Februari 2018 | 1 TIGA SAAT HENING DAN MAKNANYA DALAM MISA Riston Situmorang, O.S.C.
Dokumen · VII
Isi dokumen
Riston Situmorang – Tiga Saat Hening dan Maknanya Dalam Misa – Nola Ed. 01, Januari-Februari 2018 | 1 TIGA SAAT HENING DAN MAKNANYA DALAM MISA Riston Situmorang, O.S.C.
Salah satu unsur atau bagian dalam misa yang mungkin sering terlupakan adalah saat hening.
Sacrosanctum Concilium (SC) no. 30 menegaskan bahwa saat hening adalah salah satu cara untuk meningkatkan keikutsertaan aktif umat beriman selain aklamasi, jawaban-jawaban, pendarasan mazmur, antifon-antifon, lagu-lagu, tata gerak dan sikap tubuh. Beberapa kesempatan dalam Misa hendaknya diadakan saat hening. Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) no. 45 mengatakan bahwa saat hening juga merupakan bagian perayaan, tetapi arti dan maksudnya berbeda-beda menurut makna bagian yang bersangkutan. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, kita akan mendalami sekurang-kurangnya tiga saat hening dalam misa untuk membantu penghayatan iman kita akan Liturgi Ekaristi.
1. Sesudah homili Saat hening yang pertama adalah saat sesudah homili. Istilah yang dipakai adalah brevia momenta silentii (saat hening sejenak). Saat hening ini merupakan kesempatan bagi umat untuk meresapkan sabda Allah. Dengan bantuan Roh Kudus, umat beriman dapat memahami dan menyadari Allah yang sedang bersabda dalam homili (bdk. PUMR 56). Pada hari Minggu dan pesta-pesta wajib, homili harus diadakan dalam semua Misa yang dihadiri oleh umat, dan hanya boleh ditiadakan kalau ada alasan berat. Sangat dianjurkan, supaya homili juga diberikan pada hari-hari lain, terutama pada hari-hari biasa dalam Masa Adven, Prapaskah, dan Paskah. Begitu pula pada pesta dan kesempatan-kesempatan lainnya yang dirayakan dengan dihadiri oleh banyak umat. Saat hening sejenak diperlukan umat beriman untuk merenungkan homili yang dibawakan oleh imam termasuk pada masa-masa khusus tersebut (bdk. PUMR 66). Bacaan-bacaan dari Kitab Suci dan nyanyian-nyanyian tanggapannya merupakan bagian pokok dari Liturgi Sabda, sedangkan homili, syahadat, dan doa umat memperdalam Liturgi Sabda dan menutupnya. Liturgi Sabda haruslah dilaksanakan sedemikian rupa sehingga mendorong umat untuk merenungkan misteri penebusan dan keselamatan sebab dalam bacaan, yang diuraikan dalam homili, Allah sendiri bersabda kepada umat-Nya. Oleh karena itu, 21
Riston Situmorang – Tiga Saat Hening dan Maknanya Dalam Misa – Nola Ed. 01, Januari-Februari 2018 | 2 saat hening di sini diperlukan untuk menghindari setiap bentuk ketergesa-gesaan yang dapat mengganggu permenungan yang sedang dilakukan oleh umat beriman (bdk. PUMR 55, 66, 136). Saat hening sesudah homili adalah saat yang tepat untuk merenungkan bacaan-bacaan pada hari yang bersangkutan secara khusus ritus bacaan Injil sebagai puncak dari Liturgi Sabda. Selama kurang lebih satu atau dua menit, umat beriman merenungkan: apa pesan yang disampaikan Allah melalui homili? Tuhan berbicara apa dalam hidupku? Dengan demikian, saat hening di sini bisa menjadi sarana untuk mengaktifkan kembali pikiran, imajinasi, perasaan, emosi dan lain-lain agar umat beriman mampu mengenali apa yang Kristus inginkan dan dapat melakukannya dalam hidup kita selanjutnya.
Maka saat hening sesudah homili juga bisa mengasah dimensi intelektualitas umat beriman yakni pemahaman akan Sabda Allah yang diwartakan dalam bacaan-bacaan dan dijelaskan dalam homili; menstimulasi dimensi spiritualitas umat beriman yakni mampu menangkap dengan hati kehendak Allah dan misteri penyelamatan-Nya; menyatukan serta menyempurnakan kedua dimensi tersebut dalam realitas atau dimensi sosial. Selain itu, saat hening sangat tepat dilaksanakan sesudah bacaan pertama dan sesudah bacaan kedua.
Makna saat hening di sini adalah untuk memberikan kesempatan kepada umat beriman untuk merenungkan sebentar sabda Tuhan yang telah mereka dengar (bdk.
PUMR 56, 128, 130). Saat hening di sini juga dapat mengingatkan umat beriman akan peristiwa Emaus yaitu pada saat hati para murid berkobar-kobar waktu mendengarkan Yesus.
2. Sesudah komuni Saat hening yang kedua adalah saat sesudah pembagian tubuh dan darah Kristus selesai. Istilah yang dipakai adalah sacrum silentium (keheningan yang suci). Pada saat tersebut sebaiknya imam dan umat beriman berdoa sejenak dalam keheningan (bdk. PUMR 88, 164). Saat hening di sini dibutuhkan oleh umat beriman agar berdoa demi kesatuan dengan Kristus melalui tubuh dan darah-Nya yang baru saja disantap.
Saat hening sesudah komuni adalah saat yang baik untuk menyiapkan diri sebab melalui santapan rohani, umat beriman dapat menjadi alter Christus dalam kehidupan nyata. Kalau sesudah homili, saat hening diarahkan pada persatuan pribadi dengan Sabda Allah, maka sesudah komuni, saat hening diarahkan pada ucapan syukur atas “santapan surgawi”, pujian, 22
Riston Situmorang – Tiga Saat Hening dan Maknanya Dalam Misa – Nola Ed. 01, Januari-Februari 2018 | 3 permohonan, doa-doa, dan lain-lain yang disatukan dengan Kristus yang bersemanyam di dalam hati kita masing-masing. Dengan kata lain, saat hening sesudah komuni adalah saat berdialog secara pribadi dengan Tuhan yang sudah datang dan tinggal di hati kita melalui tubuh dan darah-Nya yang telah kita santap.
3. Pada saat-saat khusus Saat hening yang ketiga adalah saat-saat khusus lain dalam Misa selain sesudah homili (termasuk sesudah bacaan-bacaan) dan sesudah komuni dengan beberapa variasi istilah yang dipakai. Beberapa saat-saat khusus tersebut adalah sebagai berikut:
Sebelum pernyataan tobat bermakna mawas diri bagi umat beriman. Saat hening (brevem pausam silentii) di sini berguna untuk menyesali dan mengakui dosa dan kesalahan yang telah dilakukan oleh umat beriman sehingga layak dan pantas merayakan Misa. Sesudah ajakan untuk doa pembuka. Makna hening (omnes una cum sacerdote parumper silent) di sini untuk mengajak umat berdoa dalam hati khususnya intensi-intensi pribadi. PUMR 54 menegaskan: “Kemudian, imam mengajak umat untuk berdoa. Lalu semua yang hadir bersama dengan imam hening sejenak untuk menyadari kehadiran Tuhan, dan dalam hati mengungkapkan doanya masing-masing. Kemudian, imam membawakan doa pembuka yang lazim disebut collecta, yang mengungkapkan inti perayaan liturgi hari yang bersangkutan”.
Sesudah ajakan untuk doa sesudah komuni. Makna hening (breve spatium silentii) di sini untuk bersyukur atas santapan rohani yang sudah dilakukan dan mempersatukan pujian dan syukur tersebut dengan doa Gereja.
Bahkan sebelum perayaan Ekaristi, dianjurkan agar keheningan dilaksanakan dalam gereja, di sakristi, dan di area sekitar gereja, sehingga seluruh umat dapat menyiapkan diri untuk melaksanakan ibadat dengan cara yang khidmat dan tepat (bdk. PUMR 45). Makna hening (sacrum silentium) di sini untuk menyiapkan diri kita secara batin agar siap mendengarkan Sabda Allah dan bertemu dengan-Nya. Keheningan secara eksterior diubah menjadi interior agar suasana doa dan situasi tenang tetap terjadi sehingga segala distraksi dapat dihindari. Dengan demikian, saat hening dapat digunakan oleh umat beriman untuk berdoa secara pribadi di hadapan Allah.
*** © Krosier Indonesia 2018 24