KOMUNITAS NOVISIAT PRATISTA: MENINGKATKAN MUTU HIDUP RELIGIUS

Kfr. Vincentius JuanNovelino Mage, OSC

Tepat pada Rabu, 22 Juli 2021, saya hadir dan hidup berkomunitas di Novisiat untuk menjadi Socius. Pengalaman sekitar 11 bulan ini tentu penuh dengan berbagai macam dinamika kehidupan. Perutusan untuk menjadi socius menjadi suatu pembelajaran bagi saya karena saya hadir bukan serta merta sebagai pribadi yang sudah berpengalaman sebagai pendamping dalam formasi. Saya merasa perlu mengawali perutusan ini dari “titik nol”. Dalam hal ini, saya berusaha untuk bisa bekerja sama dengan formator yang lain dan belajar dari yang berpengalaman. 

Lebih lanjut, saya sungguh merasakan kedalaman hidup doa baik secara personal maupun komunal. Kehidupan doa secara personal yang saya lakukan lebih pada bagaimana saya untuk mengungkapkan segala macam intensi pribadi melalui devosi. Secara khusus saya mencintai devosi kepada Bunda Maria. Saya percaya bahwa melalui perantaraan Bunda Maria, pasti segalanya akan berjalan dengan baik sesuai dengan kehendak-Nya. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan dalam Lukas 1:38: “Terjadilah PadaKu Menurut PerkataanMu (Fiat Mihi Secundum Verbum Tuum).” Adapun dalam pengalaman hidup doa bersama, saya merasa bahwa ibadat harian bagian dari rutinitas yang harus dihidupi sebagai Crosier. Oleh karena itu, saya merasa bahwa mutu hidup religius terletak pada hidup doa dan hidup bersama yang sungguh menjadi kekuatan.  

Lantas, bagaimana pengalaman hidup bersama yang saya alami selama ini? Pengalaman hidup bersama yang saya rasakan adalah lebih kepada soal hadir bersama ketika saling memberikan arah dan makna hidup. Di samping itu, saya merasakan dukungan yang kuat, baik dalam tim formator maupun dengan para pastor yang lain di Priorat Pratista. Saya merasakan pengalaman hidup bersama ini sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran diri akan identitas dan arahan apa yang harus diperhatikan untuk sekarang ini dan yang akan datang. Banyak pembelajaran dan makna kehidupan yang saya dapatkan dari para pastor dan juga melalui sharing pengalaman-pengalaman yang mereka alami. Saya juga merasa bersyukur bahwa ada rasa pengertian dari para pendamping saya, yakni Pst. Fredy, Pst. Nana, Pst. Felix, dan Pst. Postinus serta melalui doa-doa dari komunitas. Mereka membantu saya dalam proses penyelesaian yang menjadi prioritas dalam hidup saya waktu itu, yakni tugas Ad Audiendas dengan proses persiapan presentasinya dan beberapa tugas berkaitan dengan kuliah lapangan. Tentu saya tidak akan menyia-nyiakan pengertian dan kepercayaan mereka karena saya merasa bahwa ini adalah waktu yang baik untuk menyelesaikannya hasil yang maksimal. 

Terkait dengan tugas saya sebagai socius, kiranya penting untuk mengomunikasikan dan terbuka terhadap rekan se-tim agar apa yang dibicarakan selaras dan sesuai dengan apa yang diharapkan. Segala rencana-rencana dan pembelajaran untuk menumbuhkembangkan para novis (terlebih mendidik secara penuh selama 2 tahun tanpa adanya kuliah) masih dalam tahap proses pembelajaran untuk diri saya. Tentu saya belajar dari tim formator yang berpengalaman, yakni Pst. Fredy, Pst. Nana, dan Pst. Felix. Di samping itu, saya dan para formator yang lain merundingkan kesepakatan untuk menentukan jadwal-jadwal yang baik bagi para novis. Prinsipnya adalah demi bonum commune (kebaikan bersama). 

Secara pribadi, saya berupaya untuk membuat sebuah target atau rencana-rencana kedepan akan hal-hal yang perlu saya kembangkan dalam diri. Tahap observasi dan adaptasi masih saya alami dan hidupi untuk mengenal secara utuh akan apa yang menjadi tanggung jawab pribadi sebagai Crosier, lebih-lebih sebagai formator. Tahap ini saya lalui dengan beberapa kegiatan seperti mengikuti webinar-webinar tentang formasi, secara kreatif mencari waktu luang untuk mengupgrade kemampuan dan rencananya saya akan mengikuti kursus formator secara penuh dan utuh. 

Saya percaya bahwa peran Allah begitu besar hadir dalam diri saya melalui komunitas yang menghidupkan. Saya membutuhkan kehadiran sesama saya di dalam kehidupan ini. Hal yang penting juga untuk meningkatkan mutu hidup religius saya adalah soal bagaimana saya membawakan diri secara natural dan otentik. Melalui proses pendampingan ini juga, saya harus bisa melihat gaya zaman anak sekarang (para formandi) agar mampu memperlakukan mereka sebagaimana mestinya. Intinya membawa mereka kepada sebuah kesadaran penuh akan identitas diri sebagai crosier. 

 

 

 

 
 

 

 

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.