Duc In Altum karena Covid-19

Fr. Bagas Aryo Sadewo, OSC

Covid-19 ini merepotkan. Setidaknya, hal itulah yang dirasakan oleh banyak orang. Mulai dari biaya tes antigen untuk setiap perjalanan atau urusan tertentu, ditambah dengan protokol kesehatan yang ketat, dsb. banyak orang kerepotan untuk menyesuaikan diri dengan  ini. Para novis juga mengalami hal yang kurang-lebih sama, termasuk saya.

            Pada Rabu, 9 Maret 2022, beberapa novis tahun pertama terkena demam. Awalnya, saya mengira mereka hanya terkena demam biasa. Namun, pada keeesokan harinya, novis yang sakit bertambah menjadi 8 orang. Saya mulai takut kalua-kalau saya akan terkena demam juga nantinya. Ketakutan saya menjadi kenyataan: saya jatuh sakit pada sore harinya. Karena mengetahui saya dan 8 teman seangkatan saya demam, novisiat segera menerapkan isolasi mandiri untuk semua penghuninya. Esoknya kami test antigen dan kami dinyatakan positif Covid-19. Isolasi mandiri yang kami lakukan lagi berjalan selama sekitar 10 hari. Setelah rentang waktu tersebut, kami tes swab antigen, dan beberapa orang ternyata masih positif Covid-19. Isolasi mandiri kami kembali dilanjutkan. Akhirnya, pada 28 Maret 2022 kami dapat beraktivitas kembali seperti biasa. Segala rutinitas kami, mulai dari misa hingga makan bersama, segala kebersamaan kami akhirnya dapat dilakukan kembali.

            Novisiat tentu mengalami kerugian yang cukup besar karena ini. Biaya besar harus dikeluarkan agar dapat menunjang proses isolasi mandiri, mulai dari swab antigen, masker yang banyak, obat-obatan, hingga diisinfektan. Rutinitas harian yang mendukung proses formasi pun terpaksa harus dihentikan untuk sementara waktu akibat penyakit ini. Memang, penyakit ini merugikan kami. Akan tetapi, saya  menyadari bahwa meskipun penyakit ini menjadi batu sandungan bagi novisiat dan menghalangi kami untuk menikmati kebersamaan, ia tetap memiliki andil bagi proses formasi. Bahkan, penyakit ini menjadi gerbang bagi novis, terutama saya, untuk duc in altum -bertolak ke tempat yang lebih dalam- dan berelasi dengan Allah dengan lebih baik.

            Di masa isolasi mandiri, saya dan teman-teman mengatur kegiatan kami secara mandiri; mulai dari bangun, mandi, makan, olahraga, hingga kegiatan rohani seperti ofisi dan doa. Hal ini sungguh menuntut kedewasaan diri. Pernah, saya memiliki dorongan tak baik untuk melalaikan doa ofisi. Namun, saya menyadari bahwa hal itu tidak dewasa, sehingga saya mengurungkan niat tersebut dan segera berdoa ofisi. Saya begitu bosan dengan kesendirian ini, tetapi karena isolasi mandiri mengharuskan saya melakukan segala aktivitas melulu sendirian, maka saya mulai sering introspeksi diri, melihat kondisi batin saya, segala hal baik dan kurang baik yang sudah saya lakukan, dan lain-lain. Singkatnya, isolasi mandiri membuat saya lebih sering berefleksi.

            Merenungi pengalaman ini, aku menyadari bahwa Covid-19 ini justru memberi saya waktu untuk merenungi diri sendiri, memperbaiki hal-hal yang masih kurang dari diri saya, dan menumbuhkan saya menjadi pribadi yang dewasa, yang mengetahui identitas diri dan merealisasikannya dalam keseharian. Saya melihat bahwa saya terlalu larut dalam kebersamaan antara saya dan teman-teman, sehingga saya lupa untuk melihat diri sendiri. Saya terlalu menekankan aspek kebersamaan, sehingga Saya tak sadar bahwa diri sendiri pun perlu ditemui, diajak bicara, dan diperbaiki. Hidup doa di dalam rutinitas pun menenggelamkan saya dalam suatu formalitas sehingga membuat saya melupakan identitas. Allah memberi kami, terutama saya, kesempatan isolasi mandiri ini, agar saya dapat memisahkan diri sejenak dari kebersamaan dan memperbaiki diri. Inilah mahaslara, inilah salib. Allah memasukkan saya ke dalam penderitaan, dan membiarkan saya bertemu Dia di dalam penderitaan. Setiap Jumat, saya selalu mengatakan perkataan Daud di dalam mazmurnya: “Janganlah Kau buang aku aku dari hadapanmu, janganlah Kau ambil roh-Mu yang Kudus dari padaku (Mzm. 51:13).” Sepintas, Allah membuang saya dengan memberi penyakit ini. Tetapi nyatanya Allah justru mendekap saya, dan memberi kesempatan bagi saya untuk menerima Roh-Nya, yaitu diri-Nya yang seutuhnya.

            Saya tak bisa menyangkal bahwa penyakit ini memiliki dampak negatif bagi saya, terutama bagi novisiat. Tetapi di sisi lain, penyakit ini patut disyukuri, karena telah menciptakan gerbang bagi novis untuk duc in altum – melihat diri mereka sendiri dan bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa secara mental. Saya pun bisa berkata bahwa penyakit ini memiliki andil dalam proses formasi saya. Maka seharusnya saya bersyukur telah terjangkit penyakit ini, sebab saya mempunyai waktu lebih banyak untuk berelasi dengan Allah yang hadir dalam diriku. Merasa marah, menyalahkan keadaan, atau bersedih bukanlah sikap yang patut. Dengan mensyukuri pengalaman ini, proses formasi yang kujalani selama isolasi mandiri dapat berbuah manis di dalam hidup sehari hari.

Saat isolasi mandiri,para novis melakukan segala rutinitas harian di dalam kamar.
(Dok. Novisiat)

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.