Salib Napas Kehidupan

By: Fr. Duen Ginting, OSC

            “Crux fidelis…, inter omnes…,” lagu yang dibawakan oleh para Frater Skolastikat Ordo Salib Suci itu mengalun lembut mengawali Pesta Salib yang konon katanya menjadi salah satu Hari Raya paling penting bagi Para Saudara Salib Suci. Seperti tahun sebelumnya, perayaan besar ini kembali dilakukan dalam keterbatasan akibat pandemi. Kendati demikian, tampaknya perayaan yang ditayangkan secara langsung di Youtube oleh Tim Komsos Bandung ini masih disambut antusias oleh banyak orang.

            Tema Pesta Salib tahun ini mungkin terasa sedikit aneh. Mengapa salib yang adalah simbol penderitaan, bernuansa kematian, kesuraman, dan hukuman itu menjadi napas kehidupan? Bagi banyak orang beriman pun, salib kerap kali dimaknai sebagai sebuah kepedihan dan kesedihan. Lantas, mengapa tema Pesta salib tahun ini justru Salib: Napas Kehidupan?

“Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.“ (1Kor. 1:22–24)

            “ Salib itu adalah ketakterbatasan kasih,” kata Pastor Rudi dalam Oratio Crucis-nya. Terkait dengan hal itu, mengutip pernyataan Mgr. Anton (Uskup Keuskupan Bandung), Pst. Rudi juga menyebutkan bahwa “bukan hanya melayani, tapi memberi nyawa”. Memberi nyawa itu memang seolah sia-sia karena tidak mengharapkan imbalan. Memberi nyawa itu berarti pengorbanan. Metafor “memberi nyawa” tentu saja tidak harus dimaknai secara konotatif mati demi orang lain. Lebih dari itu, “memberi nyawa” berarti memberi diri sehabis-habisnya dan secara total kepada orang lain.

            Akhirnya, semua itu tidak bisa dilakukan dalam kondisi keterpaksaan. Salib bukan lagi dimaknai sebagai penderitaan. Bukan lagi sebagai kebodohan. Bukan juga sebagai batu sandungan. Salib itu menjadi pengorbanan yang menunjukkan bukti cinta. Salib itu menjadi napas kehidupan yang memberi hidup dan cinta. In cruce salus.

Pst. F.X Rudiyanto Subagio, OSC
Pst. F.X Rudiyanto Subagio, OSC memberikan Oratio Crucis pada Pesta Salib 2021 di Kapel Kabar Gembira Maria Priorat Sultan Agung dengan Tema “Salib: Napas Kehidupan”
Pst.  Bogaartz, OSC
Pst. Fons Bogaartz, OSC yang merayakan 60 Tahun Profesi sebagai Biarawan OSC
Pst. Agustinus Agung Riyanto, OSC
Pst. Agustinus Agung Riyanto, OSC sebagai Provinsial Ordo Salib Suci Sang Kristus Indonesia memimpin Ibadat Hari Raya Pemuliaan Salib Tuhan

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.