SAVED FROM…’ TO ‘SAVED FOR…’

Fr. Paulinus Daeli, OSC

Dua bulan yang lalu, tepatnya 11 Desember 2021, saya mengikuti salah satu seminar yang pembicaranya adalah Scott Hahn. Seminar ini dilaksanakan di Paroki St Thomas the Apostle, Phoenix. Scott Hahn adalah salah satu teolog besar Katolik ternama dari Amerika yang memiliki pandangan dan pengalaman yang mendalam terhadap Ekaristi. Ketika di bangku kuliah di Fakultas Filsafat Unpar, saya pernah mendengar namanya dan sedikit mempelajari tentang teologinya. Akan tetapi, saya belum pernah bertemu dengan orangnya secara langsung. Atas alasan inilah saya terdorong untuk langsung mengatakan ‘ya’ kepada salah seorang umat yang mengajak saya untuk menghadiri seminar Scott Hahn. Walaupun saya sadar bahwa Bahasa Inggris belum memadai untuk mendengar ceramahnya, namun saya memberanikan diri untuk datang menyaksikan. Setidaknya pernah bertemu orangnya dan lagi-lagi bisa fobar (foto bareng) dengannya.

(Doc. Fr. Paulinus Daeli, OSC)
Scott Hahn menandatangani buku Fr. Paul

Tema seminar tersebut adalah The Riches of our Faith. Sesuai dengan tema, seminar ini kurang lebih bertujuan untuk memperkenalkan kepada umat tentang kekayaan iman sebagai orang Katolik. Walaupun ada keterbatasan dalam bahasa, dalam tulisan ini saya hendak membagikan hal- hal yang saya pahami dari pemaparan Scott Hahn. Hal- hal tersebut adalah sebagai berikut.

Pertama, dalam seminar tersebut, Scott Hahn menjelaskan tentang iman sebagai dasar dari keyakinan umat Kristiani kepada Tuhan Allah. Dengan berdasar pada Ibrani 11:1-3, Scott Hahn mengatakan bahwa sebagai dasar dari keyakinan, iman bukan lagi perkara membuktikan apa yang diyakini. Lebih dari itu, iman adalah dasar dari segala sesuatu yang umat Kristiani lakukan. Artinya, iman menjadi kokoh tak tergoyangkan apabila umat Kristiani menghidupinya dengan sungguh-sungguh.

Kedua, ketika berbicara tentang iman, berarti kita berbicara tentang karya keselamatan. Dalam pemaparannya, Scott Hahn mengatakan bahwa karya keselamatan Allah dapat ditemukan dalam Kitab Suci. Dia menunjukkan bahwa peristiwa keselamatan itu nyata. Karenanya, tidak penting lagi untuk mempertanyakan apakah yang diyakini itu benar ada atau tidak. Dia meyakinkan bahwa kini, peristiwa keselamatan dapat dialami dalam perayaan Ekaristi. Gereja Katolik mengajarkan bahwa merayakan Ekaristi berarti ikut ambil bagian dalam perayaaan perjamuan para kudus di surga. Ini ini adalah tanda keselamatan kita.

Ini adalah iman kita. Itu sebabnya, dia mengajak kita untuk mengikuti perayaan Ekaristi dengan sungguh-sungguh. Karena dengan itu, iman kita semakin diperkaya. Itu sebabnya, dia mengajak kita untuk mengikuti perayaan Ekaristi dengan sungguh-sungguh. Karena dengan itu, iman kita semakin diperkaya.

Ketiga, Scoot Hann dalam pidatonya, menyampaikan bahwa pengurbanan yang dilakukan oleh Yesus membawa keselamatan bagi umat manusia. Dia menegaskan bahwa keselamatan tersebut bukan hanya mengacu pada ‘saved from…’ tetapi mengarah pada ‘saved for…’. Artinya, keselamatan yang diberikan Yesus mestinya diteruskan oleh umat beriman, berbuah dalam kehidupan umat beriman, dan membawa keselamatan kepada sesama. Kita diselamatkan untuk keselamatan sesama dan seluruh alam ciptaan. Iman kita membawa dampak bukan hanya pada diri sendiri, tetapi pada ciptaan Tuhan yang lain.

Dalam pemahaman ini, Ekaristi yang adalah karya pengurbanan Yesus, seharusnya membawa buah dalam kehidupan umat beriman. Scott Hahn mengajak kita umat beriman untuk merefleksikan pengalaman dua murid dalam perjalanan Emaus. Walaupun Yesus menemani mereka dalam perjalanan, namun karena kebingungan, mereka tidak mengenal-Nya hingga Yesus membuka ‘mata’ hati mereka. Itu sebabnya, Scott Hahn mengundang umat beriman untuk merefleksikan sejenak: Bagaimana dengan kita setelah merayakan Ekaristi? Apakah kita keluar dari perjamuan dan bingung? Atau ada keyakinan bahwa Yesus selalu mendampingi?

Menurut saya, tiga hal di atas dapat dijadikan sebagai bahan refleksi dalam waktu meditasi. Terus terang, pemahaman tentang iman (yang bukan berciri personal, tetapi juga komunal) memberi suatu inspirasi bagi saya sebagai orang beriman. Itu sebabnya, saya berterimakasih kepada komunitas Krosier di Phoenix yang memberikan saya kesempatan untuk mengikuti seminar ini dan juga kepada Neli yang mengajak saya serta membantu saya untuk memahami isi seminar The Riches of Our Faith.

Setelah seminar selesai, Scott Hahn mempromosikan beberapa bukunya kepada para audiens. Dari sepuluh buku yang dipromosikannya, ada 3 buku yang saya dapatkan dan tentunya menarik bagi saya, yaitu It is Right and Just : Why the Future of Civilization Depends on True Religion (Scott Hahn & Brandon McGinley, 2020), Reason to Believe : How to Understand, Explain, and Defend the Catholic Faith (Scott Hahn, 2007) dan Answering the New Atheism: Dismanting Dawkins’ case against God (Scott Hahn & Benjamin Wiker, 2008). Sebagai kenang-kenangan, saya juga meminta Scott Hahn untuk membubuhi tanda tangannya dalam buku tersebut.

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.